Series
91
____
Matahari Gangneung ternyata nggak main-main.
Baru jam sebelas pagi, kulitku rasanya udah mau terbakar. Angin laut yang tadinya terasa romantis, sekarang cuma bikin rambutku lengket kena keringat. Aku menepuk-nepuk wajah, menatap papan nama kayu di depanku: Wave & Bean.
Yaudah, masuk aja. Butuh kafein dan AC.
Aku menarik pintu kaca itu. Agak berat. Saat aku berhasil membukanya, bel pintu berbunyi nyaring, dan aku hampir tersandung kaki sendiri karena seekor kucing oranye gendut tiba-tiba lewat di depan pintu.
"Wah, hati-hati! Dia nggak suka diinjak," sebuah suara terdengar dari dalam.
Aku buru-buru menstabilkan diri, napasku ngos-ngosan karena malu.
Di balik meja kasir yang terbuat dari kayu utuh, ada seorang pria. Dia sedang mengelap tangan dengan lap kain, memakai kaos putih lengan panjang yang digulung sampai siku dan apron linen berwarna sage green.
Interior kafenya didominasi warna kayu dan putih, dengan tanaman hias yang menggantung di dekat jendela. Suasananya tenang, cuma terdengar suara mesin kopi dan alunan lagu jazz pelan.
Dia menatapku, lalu sudut bibirnya naik sebelah. "Kamu orang Seoul, ya?"
Aku mengedip, lupa kalau aksen atau penampilanku mungkin terlalu mencolok. "Kelihatan banget ya?"
"Kelihatan dari cara kamu natap mesin kopinya kayak alien yang baru turun dari UFO," jawabnya santai, matanya berbinar jahil. "Dan dari kopermu yang rodanya bunyi kretek-kreket dari tadi di jalan."
Aku menatap kopercu yang memang kuseret dari tadi. Oke, pria ini menyebalkan.
"Americano dingin. Yang paling besar," kataku datar, berjalan ke kasir dan mengabaikan godaannya. "Aku butuh kafein buat ngubur rasa penatku."
Pria itu tertawa. Tawanya nggak dibuat-buat, bener-bener terdengar amused. "Nama aku Ji-hoon. Dan tenang aja, Seoul-ssi. Kopi di sini nggak seburuk itu kok. Nggak perlu sampai ngubur rasa penat, cukup buat bikin kamu senyum dikit hari ini."
Aku mendengus pelan. Pria lokal dan pesona murahan mereka.
Dia meracik kopinya dengan gerakan yang cepat tapi elegan. Aku memperhatikan tangannya yang terampil menekan portafilter, menuang es batu, dan menyiramkan kopi hitam pekat. Aroma kopinya... wah, ini beda. Wanginya lebih kuat dan ada hint fruity yang bikin hidungku kaget.
"Ini. Special blend," katanya, menyodorkan gelas plastik besar.
Aku mengambilnya. "Berapa?"
"Lima ribu won."
Aku mengeluarkan uang kertas, memberinya. Saat jari kami bersentuhan, tangannya hangat. Agak kasar, mungkin karena sering pegang mesin kopi dan biji kopi. Aku buru-buru menarik tangan, berbalik badan mencari tempat duduk.
Aku memilih meja di sudut dekat jendela besar yang menghadap langsung ke pantai. Aku duduk, membuka laptop, dan mengambil sedotan.
Sruput.
Mataku langsung membelalak.
Ini... enak banget. Kopinya nggak terlalu pahit, ada rasa manis alami yang seger, dan dinginnya pas. Aku yang tadinya cuma mau ngubur rasa penat, malah duduk tegak karena kaget.
Tiba-tiba, sebuah piring kecil diletakkan di mejaku. Isinya sebuah cookie berbentuk kucing oranye.
Aku menoleh. Ji-hoon sudah berdiri di samping mejaku, menyandarkan tangannya di sandaran kursi kosong.
"Kopi gratis buat yang pertama kali datang," katanya, senyumnya masih terpasang menyebalkan itu. "Tapi ada syaratnya."
Aku menelan ludah, menatap cookie itu, lalu menatap matanya. "Syarat apa?"
Dia mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, suaranya turun jadi hampir bisikan.
"Jangan duduk di meja ini lagi. Meja ini reserved."
Aku ternganga. "Reserved? Tapi tadi nggak ada tulisannya! Lagipula kafe ini sepi!"
Ji-hoon hanya tersenyum tipis, menatap ke arah jendela di belakangku. "Iya, sepi. Tapi kucingku baru aja muntah di bawah meja itu lima menit lalu. Aku belum sempat ngepel."
Aku langsung melompat dari kursi, menatap noda aneh di bawah meja yang tadinya nggak kulihat karena gelap.
Saat aku menoleh lagi buat marah, Ji-hoon sudah berjalan balik ke kasir, meninggalkan aku yang berdiri kaku dengan cookie kucing di tangan.
Sial. Aku benci Gangneung.
???
Share this novel