BAB 10: Dua Bulan

Romance Series 91

____

Aku menatap foto itu selama lima menit penuh.

Jari-jariku masih gemetar di atas keyboard. Laptopku sudah terbuka, artikel setengah jadi, tapi otaku cuma bisa fokus ke satu hal: senyum Ji-hoon di sebelah perempuan berjaket denim itu. Soo-jin.

Oke, Seo-ah. Tenang. Jangan overthinking. Ingat, ini bukan urusanmu.

Tapi aku nggak bisa. Aku udah terlanjur penasaran.

____

Jam sebelas pagi, kafe agak sepi. Ji-hoon sedang mengelap meja di dekat jendela. Aku memberanikan diri, menutup laptop, dan berjalan ke kasir.

"Ji-hoon."

Dia mendongak. "Ya?"

Aku menunjuk ke arah dinding belakangnya. "Siapa Soo-jin?"

Dia mengikuti arah jariku, lalu tertawa. Tawa yang lepas, bukan tawa canggung. "Oh. Itu adikku."

Aku ternganga. "Adikmu?"

"Iya. Soo-jin. Dua tahun lebih muda dariku. Dia sekarang tinggal di Melbourne, kuliah S2 di sana," jawabnya santai, seperti sedang ngomongin cuaca. "Foto itu diambil dua tahun lalu, waktu dia masih di Seoul sebelum berangkat ke Australia."

Aku merasa bodoh banget. Rasanya pengen ngilang aja dari muka bumi.

"Kenapa... kamu kelihatan tegang waktu ketemu dia di depan guesthouse malam itu?" tanyaku pelan, mencoba menyelamatkan harga diriku yang udah hancur lebur.

Ji-hoon berhenti ngelap meja, menatapku. "Aku nggak ketemu dia malam itu. Dia nggak ke sini."

Loh.

"Tapi aku lihat—"

"Kamu lihat siapa?"

Aku terdiam. Otakku memutar ulang kejadian malam itu. Perempuan berjaket denim, melambaikan tangan ke Ji-hoon, Ji-hoon yang pucat...

"Perempuan berjaket denim. Di seberang jalan, dekat dermaga tua."

Ji-hoon mengerjap. Lalu dia tertawa lagi, lebih keras dari tadi. "Oh! Itu mungkin Hye-jin, temannya Soo-jin. Mereka memang mirip. Hye-jin sekarang tinggal di Seoul. Mungkin dia lagi liburan ke sini."

Aku menepuk jidatku pelan. Han Seo-ah, detektif amatir.

"Jadi... kamu nggak kehilangan siapa-siapa di Seoul?" tanyaku, tanpa sadar.

Ji-hoon menatapku, senyumnya agak memudar. "Kehilangan di sini bukan berarti meninggal atau putus cinta, Seo-ah. Kadang kehilangan itu cuma... seseorang yang pindah jauh. Yang nggak bisa kamu temui lagi setiap hari."

Dia menatap foto Soo-jin sebentar. "Aku kehilangan adikku. Dia pergi ke Australia, dan aku cuma bisa video call dua minggu sekali. Waktu zone-nya beda empat jam. Kadang aku kangen banget, tapi nggak bisa ngapa-ngapain."

Dadaku terasa sesak. Bukan karena sedih, tapi karena... aku merasa dekat dengannya. Aku mengerti perasaan itu. Rasanya seperti kehilangan Min-ho, bukan karena dia meninggal, tapi karena dia memilih untuk pergi dari hidupku.

"Maaf," kataku pelan. "Aku... penasaran aja."

"Nggak apa-apa," jawabnya, tersenyum lagi. "Lain kali kalau mau jadi detektif, tanya langsung ke orangnya. Jangan nguping dari jendela."

Aku melotot. "Kamu tahu?!"

"Seo-ah, kamarmu di guesthouse itu persis di depan kafe. Dan jendelamu menghadap ke sini. Aku lihat kamu ngintip dari jendela waktu aku lagi main gitar."

Aku pengen mati aja.

____

Sore itu, kami jalan-jalan ke Anmok Coffee Street. Ji-hoon ajak aku nyobain kopi dari beberapa kafe lain—yang menurutnya "layak dicoba meski bukan Wave & Bean". Aku protes, tapi dia cuma nyengir.

"Barista yang baik harus bisa apresiasi kopi barista lain," katanya sok bijak.

Kami duduk di bangku kayu di pinggir pantai, minum kopi dari kafe sebelah, dan ngobrol soal hal-hal random. Soal kucing, soal makanan favorit, soal film yang kami suka. Ngobrol yang ringan, tanpa beban, tanpa drama.

Pertama kalinya dalam beberapa bulan, aku merasa... nyaman. Nyaman sama seseorang. Nyaman jadi diriku sendiri.

"Minggu depan genap sebulan kamu di sini," kata Ji-hoon tiba-tiba, menatap laut.

"Iya."

"Kamu bilang dua bulan, kan?"

"Iya."

Dia diam sebentar. "Dua bulan itu sebentar, ya."

Aku nggak jawab. Karena aku juga baru sadar. Dua bulan itu sebentar. Dan aku nggak tahu kenapa, tapi tiba-tiba... aku nggak mau waktu ini cepat-cepat habis.

____

Malamnya, aku kembali ke kamar, membuka laptop buat ngecek email.

Ada satu email baru. Dari bosku di Seoul.

Subjeknya: "Seo-ah, ada proyek besar. Kamu harus balik minggu depan."

Jantungku berhenti sedetik.

Minggu depan?

Padahal cutiku masih tiga minggu lagi.

Aku membuka email itu, dan mataku langsung panas.

???

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience