Series
91
____
"Aturan nomor berapa yang baru aja kamu langgar, Seoul-ssi?"
Aku menatapnya datar, meski jantungku lagi demo. "Aturan nomor satu: nggak usah ngomong sama orang yang lagi mau makan ramen."
Dia tertawa, membuka pintu minimarket dan membiarkannya tetap terbuka buatku. "Hujan, lho. Payungmu kecil banget, nggak bakal muat buat dua orang."
Aku menengok ke atas. Benar. Gerimis. Langit Gangneung yang tadi sore mendung, sekarang nangis pelan. Angin laut yang tadinya hangat, sekarang terasa menusuk kulit.
Aku membuka payung lipatku. Payung warna kuning cerah yang ku-beli di Seoul dan nggak pernah kepakai karena menurutku terlalu mencolok. Tapi sekarang, warna ini satu-satunya pelindungku.
"Payungmu kecil," komentar Ji-hoon yang tiba-tiba udah jalan di sampingku. Dia nggak bawa payung, cuma menarik tudung hoodie abu-abunya sampai menutupi sebagian rambutnya.
"Kamu nggak punya payung?"
"Aku tinggal di sini. Hujan itu teman, bukan musuh. Lagipula, kalau aku bawa payung, nanti kamu ngira aku stalker," katanya sok bijak.
"Dasar norak," celetukku, tapi tanpa sadar aku menggeser payungku sedikit ke arahnya biar bahunya nggak basah kuyup.
Dia menatapku, lalu tersenyum tipis. Bukan senyum menggoda yang biasa dia pakai di kafe, tapi senyum... hangat. Tulus. "Makasih, Seoul-ssi."
Kami berjalan menyusuri trotoar yang mengarah ke pantai. Jalanan ini yang kulewati waktu pertama kali sampai. Pohon-pohon pinus di kiri kanan bergoyang pelan, daunnya basah mengkilap kena air hujan. Suara ombak terdengar lebih keras dari biasanya, seolah menyambut kami.
"Kamu ngapain di minimarket?" tanyaku, mencoba terdengar casual meski fokusku terbagi antara jalan licin dan bahunya yang kadang nggak sengaja nyentuh payungku.
"Beli churu. Doraeji lagi moody kalau nggak dikasih cemilan. Dia nggaruk-garuk pintu kafe dari tadi."
"Kucingmu manja."
"Dia cuma butuh perhatian. Kayak seseorang yang baru pindah ke kota ini dan pura-pura nggak kesepian," balasnya pelan.
Aku tersentak. Menoleh menatapnya. Tapi dia cuma menatap ke depan, main-mainin tali hoodie-nya.
"Kamu... ngomongin aku?"
"Aku ngomongin kucingku. Jangan narsis, Seoul-ssi," dia tertawa kecil.
Kami sampai di persimpangan jalan menuju pantai Gyeongpo. Hujan mulai reda, menyisakan aroma tanah basah dan garam laut. Suasana di sekitar kami tenang. Hanya ada suara langkah kaki kami dan deburan ombak. Pertemanan kami, yang tadinya cuma berupa saling ejek di kafe, rasanya mulai berubah jadi sesuatu yang lebih... nyaman.
"Seo-ah," panggilnya. Kali ini dia nggak pakai embel-embel 'Seoul-ssi'.
"Kenapa?"
"Besok pagi, datang ke kafe jam enam."
"Nggak mau. Aku bangun siang."
"Jam enam. Sebelum matahari terbit. Ada yang mau kutunjukkan."
"Rahasia?"
"Bukan rahasia. Kejutan. Kalau kamu nggak datang, aku akan kirim Doraeji ke kamarmu buat manggil kamu."
Kami sampai di depan Seaside Guest-house. Aku menutup payungku, menepuk-nepuk nya biar kering.
"Ya sudah. Makasih payungnya... eh, makasih udah numpang payung," koreksi ku.
Ji-hoon mengangguk. Dia berbalik badan, melambaikan tangan tanpa menoleh. "Sampai besok, Seo-ah. Jangan lupa ramen mu."
Aku masuk ke halaman guest-house. Tapi saat aku menoleh ke belakang, ingin memastikan dia sudah pergi, aku melihatnya berdiri di seberang jalan.
Dia nggak langsung pulang.
Dia menatap ke arah selatan pantai, ke arah dermaga tua yang sudah ditutup. Dan di sana, di bawah lampu jalan yang remang, berdiri seorang perempuan berjaket denim. Perempuan itu menatap lurus ke arah Ji-hoon.
Ji-hoon terlihat pucat. Bahunya tegang.
Perempuan itu tersenyum, melambaikan tangan, dan berjalan cepat ke arahnya.
Jantungku tiba-tiba terasa dingin, mengabaikan sisa ramen yang harus ku masak.
Siapa perempuan itu?
???
Share this novel