Series
91
____
Malam itu aku nggak bisa tidur.
Bukan karena ramen kari pedas yang bikin perutku panas. Bukan karena suara ombak yang terlalu keras. Tapi karena gambar itu terus berputar di kepalaku seperti GIF yang nggak bisa di-pause.
Perempuan berjaket denim. Senyumnya. Cara dia melambaikan tangan ke Ji-hoon seolah mereka sudah saling kenal sangat lama. Dan wajah Ji-hoon yang tiba-tiba pucat, bahunya tegang, seperti orang yang baru saja melihat hantu.
Atau mantan.
Aku memeluk bantal, menatap langit-langit kamar.
Han Seo-ah, ini bukan urusanmu. Ingat aturan nomor satu.
Tapi otakku nggak mau dengar. Otakku sibuk bikin skenario. Mungkin dia mantannya dari Seoul. Mungkin dia alasan Ji-hoon pulang ke Gangneung. Mungkin dia "seseorang yang hilang" yang Eomma bicarakan.
Aku membalikkan badan, menenggelamkan wajah ke bantal.
Tidur, Seo-ah. Tidur.
____
Jam 5:45 pagi, alarm ponselku berbunyi.
Aku mematikannya dengan kasar, lalu menatap langit-langit selama tiga puluh detik penuh, mempertanyakan keputusan hidupku. Kenapa aku setuju bangun sepagi ini? Oh ya, karena seorang barista menyebalkan bilang akan menunjukkan sesuatu.
Aku menyeret diri ke kamar mandi, cuci muka, pakai hoodie yang sama dengan kemarin karena aku malas mikirin outfit, dan turun ke bawah.
Eomma pemilik guesthouse sudah bangun, duduk di dapur minum teh. "Pagi, Seo-ah-ya. Mau sarapan?"
"Nggak, Eomma. Aku mau jalan sebentar," jawabku sambil mengikat tali sepatu.
Dia tersenyum tahu. "Ke Wave & Bean?"
Aku terdiam. "Kok tahu?"
"Karena kamu pakai hoodie yang sama dengan kemarin, dan rambutmu belum disisir. Kamu cuma rapi kalau mau ketemu seseorang yang bikin kamu gugup."
Aku membuka mulut, menutupnya lagi, lalu keluar tanpa menjawab. Dari dalam, aku dengar Eomma tertawa kecil.
____
Wave & Bean sudah buka. Lampu dalamnya hangat, kontras dengan langit subuh yang masih biru gelap. Ji-hoon sedang di balik meja, menyiapkan sesuatu. Saat melihatku masuk, dia tersenyum.
"Pagi. Kamu datang. Aku kira kamu bakal kirim pesan 'batal, aku tidur lagi'."
"Aku hampir," akuku jujur. "Apa yang mau kamu tunjukkan?"
Dia mengambil dua gelas kopi to go, mengangguk ke arah pintu belakang. "Ikut."
Kami keluar lewat pintu belakang kafe yang langsung menghadap ke pantai. Tapi Ji-hoon nggak berhenti di pasir. Dia mengajakku jalan ke kiri, menyusuri pantai, melewati batu-batu karang yang licin kena embun.
"Lambat-lambat," katanya, mengulurkan tangan ke belakang tanpa menoleh. "Batuannya licin."
Aku ragu sedetik, lalu memegang tangannya. Tangannya hangat, kasar, dan kuat. Dia menuntunku melewati karang-karang itu dengan hati-hati, sampai kami sampai di sebuah batu besar yang datar, menghadap langsung ke Laut Timur.
"Duduk," katanya.
Kami duduk berdampingan. Dia memberiku satu gelas kopi. Aromanya hangat, bercampur dengan udara laut yang dingin.
"Tunggu sebentar," katanya pelan.
Dan kemudian aku melihatnya.
Matahari terbit.
Perlahan, dari balik cakrawala laut, cahaya oranye keemasan mulai muncul. Langit berubah dari biru gelap menjadi ungu, lalu pink, lalu jingga. Laut yang tadinya hitam berubah menjadi emas, permukaannya berkilauan seperti ditaburi glitter.
Aku sampai lupa napas.
"Indah banget," bisikku tanpa sadar.
Ji-hoon menatapku, bukan matahari. "Iya," katanya pelan. "Indah banget."
Aku menoleh, dan mata kami bertemu. Ada sesuatu di tatapannya yang bikin perutku terasa aneh. Hangat. Lembut. Seperti sunrise yang baru saja kulihat, tapi versi manusia.
Aku buru-buru mengalihkan pandangan ke laut, tapi aku nggak bisa menahan senyumku. Senyum yang lebar, tulus, yang muncul begitu saja tanpa kupaksa.
"Kamu senyum," kata Ji-hoon tiba-tiba.
"Hah? Ya iyalah. Mataharinya bagus."
"Bukan itu." Dia menatapku serius. "Kemarin-kemarin kamu kalau senyum, selalu setengah. Kayak dipaksa. Tapi barusan... itu senyum beneran."
Aku terdiam. Jari-jariku meremas gelas kopi.
Dia benar. Aku baru sadar. Sudah berapa lama aku nggak senyum beneran? Sejak putus sama Min-ho? Atau bahkan sebelum itu? Di Seoul, senyumku selalu senyum profesional—senyum buat bos, senyum buat klien, senyum buat teman yang nanya "kamu oke?" padahal aku nggak oke.
Tapi senyum barusan? Itu senyum yang datang dari dalam. Yang bikin pipiku pegal karena otot-ototnya sudah lama nggak dipakai.
"Makasih," kataku pelan, tanpa menatapnya. "Udah ngebangunin aku jam enam pagi buat ini."
Dia nggak jawab. Tapi dari sudut mataku, aku lihat dia juga tersenyum.
____
Kami kembali ke kafe sekitar jam tujuh. Matahari sudah tinggi, dan kafe mulai ramai. Ji-hoon langsung sibuk di balik mesin kopi, dan aku duduk di meja sudutku, membuka laptop.
Tapi sebelum aku mulai mengetik, mataku menangkap sesuatu di dinding belakang kasir.
Foto-foto polaroid yang ditempel dengan selotip washi tape. Foto-foto kafe, pantai, Doraeji, pelanggan-pelanggan.
Dan satu foto yang bikin darahku berhenti mengalir.
Foto Ji-hoon, tersenyum lebar, merangkul seorang perempuan. Perempuan berjaket denim. Perempuan yang sama yang kulihat semalam di depan guesthouse.
Di bawah foto itu, ada tulisan tangan kecil: "Ji-hoon & Soo-jin, Summer 2024."
Dua tahun lalu.
Tanganku gemetar di atas keyboard.
Siapa Soo-jin?
???
Share this novel