Series
91
____
Pagi itu aku bangun tanpa alarm.
Ini aneh. Di Seoul, aku selalu bangun karena alarm yang berisik, atau karena suara tetangga yang lagi ribut, atau karena suara mobil di jalan raya. Tapi di sini? Aku bangun karena... cahaya matahari.
Cahaya matahari yang masuk lewat jendela kamar, menyinari wajahku pelan-pelan, seperti tangan yang lembut.
Aku meregangkan tubuh, lalu menoleh ke jendela.
Pantainya masih sepi. Langit berwarna pink pucat, dan lautnya tenang, nggak bergelombang seperti kemarin. Ada beberapa orang yang jogging di pinggir pantai, dan seekor anjing kecil yang lagi ngejar-ngejar ombak.
Aku tersenyum.
Ini dia yang kucari.
Setelah mandi dan sarapan roti selai kacang di dapur guesthouse, aku memutuskan buat explore Gangneung.
Di depan guesthouse, ada tempat sewa sepeda. Aku menyewa satu—sepeda kota warna krem yang keranjangnya terbuat dari rotan. Sopir taksi kemarin bilang, "Naik sepeda itu cara terbaik buat nikmati Gangneung."
Dan ternyata, dia benar.
Aku mengayuh pelan menyusuri jalan di pinggir Pantai Gyeongpo. Di kiri-kanan, ada pohon-pohon pinus yang tinggi, daunnya bergoyang pelan kena angin. Di kanan, laut biru membentang luas. Di kiri, deretan kafe-kafe kecil dengan papan nama lucu-lucu.
Aku berhenti di sebuah kafe yang jual es kopi susu. Pesen satu, duduk di bangku kayu di depan, dan cuma... diam.
Nggak ngecek email. Nggak mikirin deadline. Nggak mikirin Min-ho.
Cuma denger suara ombak, suara angin di daun pinus, dan suara sepeda yang lewat.
Oh. Jadi begini rasanya hidup pelan-pelan.
____
Siangnya, aku jalan ke Jungang Market, pasar tradisional yang direkomendasikan di blog.
Di sana, aku makan dakgalbi (ayam bumbu pedas) yang pedasnya nampol, terus beli tteokbokki buat cemilan sore. Aku juga beli kaos kaki motif kucing—nggak tahu kenapa, tapi lucu banget—dan sebuah gantungan kunci berbentuk kerang.
"Kamu turis ya?" tanya penjual kaos kaki, seorang ajumma ramah.
"Bukan turis. Cuma... liburan," jawabku.
Dia tersenyum. "Gangneung itu tempat yang bagus buat liburan. Lautnya bisa nyembuhin hati yang lagi sakit, lho."
Aku terdiam sebentar.
Dia tahu darimana?
"Tapi hati-hati," tambahnya sambil berbisik, matanya berbinar jahil. "Di sini juga ada pria-pria tampan yang bisa bikin hati sakit lagi."
Aku tertawa, pura-pura nggak ngerti. "Saya nggak cari pacar, ajumma."
Dia tertawa juga. "Belum tentu, dear."
____
Sore itu, aku kembali ke pantai, tapi bukan ke Wave & Bean. Aku mampir ke pantai yang lebih sepi, duduk di pasir, dan nonton sunset.
Langitnya... gila.
Jingga, pink, ungu, dan emas bercampur jadi satu. Matahari turun pelan-pelan ke laut, seperti bola api raksasa yang mau tidur. Aku sampai lupa buat foto. Cuma duduk, nonton, dan ngerasa... damai.
"Enak ya, kalau cuma duduk diam begini."
Aku menoleh.
Ji-hoon.
Dia duduk di pasir beberapa meter dariku, pakai kaos hitam dan celana pendek, nggak pakai apron seperti tadi siang. Di tangannya ada sebuah buku, dan di sebelahnya ada... Doraeji, kucing oranye yang kemarin.
"Kamu ngikutin aku?" tanyaku, setengah bercanda setengah curiga.
Dia tertawa. "Nggak. Ini tempat favoritku. Kamu yang ngikutin aku."
Aku mendengus. "Kafe-nya aja beda."
"Iya, tapi pantainya sama," jawabnya santai, lalu menepuk pasir di sebelahnya. "Mau duduk? Nggak gigit kok."
Aku ragu sebentar, lalu duduk. Jarak kami cukup jauh, tapi cukup dekat buat ngobrol tanpa harus teriak.
"Kamu tinggal di sini terus?" tanyaku.
"Sejak dua tahun lalu," jawabnya, matanya menatap laut. "Dulu aku di Seoul. Kerja di kantor besar, gaji gede, tapi... aku nggak bahagia. Jadi aku pulang. Ngurus kafe keluarga."
Aku menatapnya. Ini pertama kalinya dia ngomong serius tanpa bercanda.
"Kamu nggak nyesel?"
Dia tersenyum tipis. "Kadang. Tapi kebanyakan, nggak."
Kami diam sebentar. Cuma denger suara ombak.
"Seo-ah," katanya tiba-tiba, nadanya pelan. "Kamu ke sini buat apa?"
Aku menelan ludah. "Buat... liburan."
Dia menatapku, matanya tajam tapi lembut. "Cuma itu?"
Aku nggak jawab. Aku cuma menatap laut, berharap dia nggak nanya lagi.
Dan dia nggak nanya.
____
Malam itu, aku ngobrol sama eomma pemilik guesthouse sambil bantu dia cuci piring.
"Eomma, kafe Wave & Bean itu punya siapa?" tanyaku, pura-pura casual.
"Oh, itu punya keluarga Kang. Ji-hoon yang ngurus sekarang," jawabnya sambil ngelap piring. "Anak baik dia. Rajin, sopan."
"Dia... dulunya dari Seoul juga ya?"
Eomma mengangguk. "Iya. Dua tahun lalu dia pulang. Waktu itu dia kelihatan... capek banget. Kayak kamu sekarang."
Aku terdiam.
"Kenapa dia pulang?" tanyaku, suaraku pelan.
Eomma berhenti ngelap piring, menatapku sebentar. Lalu dia bilang sesuatu yang bikin jantungku berhenti sedetik.
"Soalnya dia kehilangan seseorang di Seoul, Seo-ah-ya."
Aku menatapnya, nggak bisa ngomong.
"Siapa?" tanyaku akhirnya.
Eomma tersenyum sedih. "Itu cerita yang harus kamu tanya sendiri ke dia."
???
Share this novel