Series
91
____
Seoul itu bising.
Bukan cuma suara klakson taksi yang klakson-klakson seenaknya di persimpangan Gangnam, atau teriakan orang-orang yang buru-buru masuk kereta bawah tanah di stasiun City Hall yang bikin kuping sakit. Tapi isinya. Isi kepala orang-orangnya yang selalu berlari, seolah-olah kalau mereka berhenti sebentar aja, dunia bakal runtuh.
Termasuk aku.
Han Seo-ah. Umur dua puluh empat tahun, dengan gelar "perempuan yang hidupnya berantakan" yang nggak pernah kusebutkan di depan umum. Karena kalau kusebutkan, artinya aku harus mengakui. Dan aku belum siap buat itu.
____
Pagi itu, aku duduk di depan laptop di meja kerjaku yang sempit di perusahaan kecil tempatku bekerja sebagai editor konten. Layar di depanku menampilkan draf artikel tentang "10 Tempat Instagrammable di Seoul" yang harus selesai hari ini. Padahal, aku sendiri nggak pernah punya waktu buat mengunjungi tempat-tempat itu.
"Seo-ah-ssi, artikelnya sudah selesai?"
Suara bosku, Pak Choi, muncul dari balik partisi. Nadanya datar, tapi aku tahu itu bukan pertanyaan. Itu tagihan.
"Sebentar lagi, Pak. Saya tinggal edit bagian akhir," jawabku, berusaha terdengar ceria. Padahal, mataku rasanya kayak ditusuk-tusuk jarum.
"Oke. Jangan lama-lama ya. Klien nunggu."
Aku mengangguk, meski dia sudah nggak bisa lihat.
Jari-jariku mengetuk keyboard dengan cepat, tapi otakku terasa lemot. Sudah tiga hari ini aku kurang tidur. Bukan karena ngerjain tugas sampai tengah malam, tapi karena... yah, karena hidupku rasanya lagi kacau.
Hubunganku dengan Min-ho berakhir dua minggu lalu.
Bukan karena ada orang ketiga. Bukan karena kami bertengkar hebat. Tapi karena... yah, karena kami sama-sama lelah. Dia sibuk dengan kariernya di bidang keuangan, aku sibuk dengan pekerjaan yang nggak pernah selesai. Kami bertemu cuma seminggu sekali, itu pun kalau lagi nggak ada deadline. Dan setiap kali bertemu, yang kami bicarakan cuma keluhan.
"Kita kayak dua orang asing yang kebetulan punya label 'pacaran'," katanya waktu itu. Di kafe yang sama tempat kami pertama kali bertemu, tiga tahun lalu.
Aku nggak nangis. Aku cuma mengangguk dan bilang, "Mungkin kamu benar."
Dan sejak saat itu, kami resmi jadi mantan.
Tapi bukan cuma itu.
Pekerjaanku juga rasanya makin berat. Bukan karena tugasnya yang susah, tapi karena... aku kehilangan semangat. Dulu, waktu pertama kali masuk ke perusahaan ini, aku excited. Aku pikir aku bakal jadi editor konten yang keren, yang bikin artikel-artikel menarik, yang viral, yang dibaca banyak orang.
Tapi kenyataannya? Aku cuma jadi mesin ketik. Nulis artikel yang sama, dengan format yang sama, tentang hal-hal yang nggak terlalu kupeduliin. Dan setiap kali aku coba kasih ide yang beda, bosku bilang, "Nggak usah aneh-aneh, Seo-ah. Yang penting selesai."
Jadi, aku berhenti kasih ide. Aku cuma nulis apa yang disuruh. Dan pelan-pelan, aku kehilangan rasa suka pada pekerjaanku.
"Sudah selesai?"
Aku mengangkat kepala. Bosku berdiri di depan mejaku, menatap layar laptopku.
"Sudah, Pak. Tinggal kirim ke email klien," jawabku.
"Bagus. Kirim sekarang ya."
Aku mengangguk, lalu mengirim email itu. Setelah itu, aku bersandar di kursi, menghela napas panjang.
"Seo-ah," kata bosku, nadanya sedikit lebih lembut. "Kamu kelihatan lelah. Kamu nggak apa-apa?"
Aku tersenyum, senyum yang kupaksakan. "Nggak apa-apa, Pak. Cuma kurang tidur."
Dia mengangguk, lalu bilang, "Kamu punya sisa cuti yang banyak, kan? Kalau butuh istirahat, ambil aja. Nggak apa-apa kok."
Aku terdiam.
Cuti?
Sudah berapa lama aku nggak ambil cuti? Setahun? Dua tahun? Aku bahkan nggak ingat kapan terakhir kali aku liburan. Waktu kecil, aku sering liburan ke pantai sama keluarga. Tapi sekarang? Liburanku cuma tidur di kamar di hari Minggu.
"Boleh, Pak. Mungkin... saya butuh liburan sebentar," kataku, tanpa pikir panjang.
"Bagus. Ambil aja dua minggu. Atau sebulan kalau perlu."
Dua minggu? Sebulan?
Otakku langsung membayangkan diri terbaring di kamar, nonton drakor seharian, makan mi instan, dan nggak ngapa-ngapain. Tapi... itu nggak cukup. Aku butuh lebih dari itu. Aku butuh pergi. Jauh dari Seoul. Jauh dari semua ini.
____
Malam itu, aku pulang ke apartemen studiku yang kecil di Mapo-gu. Apartemen ini cuma seukuran kamar tidur, dengan dapur mini dan kamar mandi yang pintunya susah ditutup. Tapi setidaknya, ini tempatku. Tempat di mana aku bisa jadi diriku sendiri, tanpa harus pura-pura baik-baik saja.
Aku merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit yang catnya mulai mengelupas.
Ponselku bergetar. Notifikasi Instagram.
Aku membuka aplikasi itu, dan... oh, tentu saja.
Mantan pacarku, Min-ho, baru aja memposting foto. Dia di sebuah kafe, tersenyum lebar, dengan seorang perempuan di sebelahnya. Perempuan itu cantik, rambutnya panjang, dan mereka kelihatan... bahagia.
Caption-nya: "Akhirnya menemukan seseorang yang mengerti."
Aku menatap foto itu lama. Lalu, aku menutup aplikasi Instagram, melempar ponselku ke samping kasur.
"Ya sudahlah," gumamku.
Tapi dadaku terasa sesak. Bukan karena aku masih cinta sama Min-ho. Tapi karena... aku merasa gagal. Gagal dalam hubungan, gagal dalam pekerjaan, gagal dalam hidup.
Aku bangkit dari kasur, berjalan ke jendela, membuka tirai.
Di luar, Seoul masih bising. Mobil-mobil berlalu lalang, lampu-lampu gedung bersinar terang, orang-orang masih berjalan cepat di trotoar. Dunia terus berputar, nggak peduli kalau aku lagi hancur.
Dan tiba-tiba, aku tahu apa yang harus kulakukan.
Aku butuh pergi.
Bukan cuma liburan dua minggu di apartemen ini. Tapi pergi beneran. Ke tempat yang jauh dari Seoul. Ke tempat di mana aku bisa napas, bisa mikir, bisa... sembuh.
Aku membuka laptop, mengetik di Google: "Tempat liburan tenang di Korea Selatan."
Dan di halaman pertama, muncul nama itu: Gangneung
Kota pesisir di Provinsi Gangwon. Terkenal dengan pantai, kafe-kafe kecil, dan suasana musim panasnya yang tenang. Ada foto-foto pantai dengan pohon pinus, kafe dengan jendela besar menghadap laut, dan langit sunset berwarna jingga.
Jantungku berdebar.
Ini dia.
____
Keesokan paginya, aku ke kantor dan ngomong sama bosku.
"Pak, saya mau ambil cuti lebih lama. Dua bulan, kalau boleh."
Bosku mengangkat alis. "Dua bulan? Kamu mau ke mana?"
"Gangneung. Saya butuh waktu buat... mikir."
Dia menatapku sebentar, lalu mengangguk. "Oke. Tapi kamu harus tetap bisa dihubungi kalau ada darurat, ya."
"Tentu, Pak. Terima kasih."
____
Sore itu, aku duduk di kamar, mengepak tas.
Aku nggak bawa banyak. Cuma beberapa baju, laptop, buku catatan, dan kamera. Nggak perlu banyak-banyak. Aku cuma butuh dua bulan. Dua bulan buat napas, buat mikir, buat... entahlah. Aku sendiri nggak tahu apa yang kuharapkan dari perjalanan ini.
Yang jelas, aku butuh pergi.
Aku membuka aplikasi kereta, memesan tiket KTX dari Seoul ke Gangneung untuk lusa pagi. Dua jam perjalanan. Cukup buat aku mikir, atau tidur, atau nonton drama di ponsel.
Setelah itu, aku memesan guesthouse kecil di dekat Pantai Gyeongpo. Review-nya bagus, harganya terjangkau, dan yang paling penting: dekat pantai.
____
Malam itu, aku berbaring di kasur, menatap langit-langit.
Besok aku masih harus kerja, membereskan semua tugas yang tertunda. Lusa pagi, aku akan naik kereta ke Gangneung. Dan di sana, aku akan mulai hidup baru. Hidup yang lebih tenang, lebih sederhana, lebih... aku.
Tidak ada cinta.
Tidak ada hubungan baru.
Tidak ada drama.
Cukup aku, laptop, dan suara ombak.
Atau setidaknya, itu rencanaku.
Tapi aku nggak tahu, di Gangneung, ada seseorang yang sedang menunggu.
Semoga Kalian Suka????
Share this novel