BAB 6: Kopi Pertama

Romance Series 91

Pagi itu, aku kembali ke Wave & Bean.

Sebenarnya aku nggak berniat ke sana. Rencanaku pagi ini adalah duduk di pantai, membaca buku, dan pura-pura jadi tokoh utama novel yang hidupnya estetik. Tapi omongan Eomma semalam terus berputar di kepalaku seperti lagu yang stuck di otak.

Kehilangan seseorang di Seoul.

Siapa? Kekasih? Keluarga? Teman?

Aku mendorong pintu kaca kafe. Bel berbunyi tring.

Ji-hoon sedang berdiri di balik mesin espresso, sibuk dengan pitcher susu di tangannya. Saat mendengar bel, dia mendongak dan langsung tersenyum. Senyum yang sama seperti kemarin, yang bikin aku pengen lempar sandal.

"Pagi, Seoul-ssi. Berarti kamu ketagihan ya?"

Aku mengabaikan godaannya. Doraeji, si kucing oranye, sedang tidur di kursi dekat jendela. Aku mengelus kepalanya sebentar, mencari alasan buat nggak langsung ngobrol sama Ji-hoon, lalu duduk di meja sudut—meja yang kemarin katanya ada bekas muntahan kucing, tapi pagi ini sudah mengkilap bersih.

Aku membuka buku novelku, dan pura-pura membaca.

Lima menit kemudian, sebuah gelas kaca berisi es kopi susu dengan lapisan *foam* tebal diletakkan di depanku.

"Ini buat kamu. Gratis."

Aku menutup bukuku, menatap gelas itu, lalu menatapnya. "Kenapa?"

Ji-hoon menyandarkan tangannya di meja, menatapku dengan tatapan yang sok tahu. "Soalnya wajahmu kusut banget pagi ini. Kayak orang yang butuh disuapin biar nggak cemberut seharian."

Aku mendengus kesal. "Aku nggak cemberut. Dan aku nggak butuh disuapin."

"Yaudah, kalau nggak mau, aku minum sendiri aja—" Dia pura-pura mau mengambil gelas itu.

"Hey!" Aku buru-buru menarik gelas itu. "Siapa bilang nggak mau. Percuma dibuang."

Ji-hoon tertawa. Tawanya renyah, bikin beberapa pelanggan lain menoleh. "Nah, gitu dong. Minum. *Oat milk latte* resep baru. Dijamin bikin wajah kusutmu agak cerah dikit."

Aku mengambil sedotan, menusukkannya, dan minum.

Sruput.

Okay, aku harus akui. Ini enak. Sangat enak. Kopinya nggak terlalu asam, susunya creamy, dan ada sedikit hint gula aren yang pas. Tapi aku nggak bakal ngaku di depan dia.

"Gimana?" tanyanya, matanya berbinar menunggu pujian.

"Lumayan. Buat ukuran kafe pinggir pantai," jawabku datar, berusaha terdengar tidak terkesan.

Dia mendengus pelan, lalu duduk di kursi seberangku. Biasanya dia cuma berdiri, tapi kali ini dia duduk. Jarak kami cuma dipisahkan oleh meja kayu kecil ini.

"Kamu mikirin sesuatu ya semalam?" tanyanya tiba-tiba. Suaranya nggak lagi bercanda.

Jantungku berdegup kencang. "Nggak. Aku cuma mikirin... artikelku."

"Bohong." Dia menatap mataku langsung. "Kamu datang ke sini dengan wajah orang yang lagi cari jawaban atas pertanyaan yang nggak berani kamu ajukan."

Aku menelan ludah. Tatapannya terlalu dalam. Terlalu tajam. Aku buru-buru mengalihkan pandangan ke jendela.

"Kamu terlalu banyak imajinasi, Kang Ji-hoon," kataku, berdiri dan membereskan tasku. "Makasih kopinya. Aku mau balik ke guesthouse."

Aku berbalik badan, berjalan menuju pintu. Tapi baru dua langkah, suaranya terdengar lagi. Kali ini lebih pelan, tapi jelas banget sampai ke telingaku.

"Ngomong-ngomong, Seo-ah."

Aku berhenti, menoleh setengah badan.

Ji-hoon masih duduk di kursinya, menatapku dengan senyum tipis yang kali ini... nggak menyebalkan. Tapi terlihat sedikit lembut.

"Kalau kamu mau tahu soal aku," katanya pelan, "jangan tanya Eomma. Tanya langsung ke orangnya."

Kakiku terasa kaku.

Dia... tahu?

Aku nyaris lari dari kafe itu.

Jantungku berdetak kayak drum band marching. Kalimatnya terus terngiang-ngiang di kepalaku sampai aku berhasil masuk ke kamar guesthouse dan membanting pintu pelan-pelan.

Aku langsung merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit, dan menutup wajahku dengan bantal.

Gila. Han Seo-ah, kamu gila.

???

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience