Series
91
_____
Aku ke sini buat healing. Buat nyembuhin hati yang remuk redam karena Min-ho dan pekerjaan yang toxic. Bukan buat jadi detektif yang ngintip-ngintip masa lalu barista ganteng yang senyumnya menyebalkan.
Tapi... dia tahu. Dia tahu aku nanya-nanya soal dia ke Eomma. Cowok itu punya radar apa di kepala? Atau dia emang setipe sama orang yang suka nguping di Seoul?
Aku bangkit, duduk bersandar di kepala kasur, menatap jendela yang menghadap ke pantai. Dari sini, aku bisa lihat pohon-pohon pinus yang bergoyang pelan, dan di kejauhan, atap Wave & Bean yang berwarna coklat kayu.
Jangan, Seo-ah. Jangan lihat ke sana.
Aku buru-buru mengalihkan pandangan ke langit-langit lagi.
Aku berjalan ke kamar mandi, berdiri di depan cermin. Wajahku memang agak kusut, tapi bukan karena mikirin Ji-hoon. Ini karena kurang tidur dan kebanyakan mikirin deadline di Seoul. Pipiku agak kemerahan karena jalan jauh, dan rambutku berantakan kena angin laut.
"Dengar ya, Seo-ah," kataku pada pantulan diriku sendiri, menunjuk hidungku sendiri dengan jari telunjuk. "Kamu nggak datang ke Gangneung untuk jatuh cinta. Kamu datang ke sini buat nyembuhin diri. Buat mikir. Buat nulis artikel yang nggak bikin kamu pengen bunuh diri."
Aku mulai menghitung jari, membuat aturan absolut buat diriku sendiri di kepala. Ini penting. Aku butuh batasan yang jelas, biar nggak kebablasan kayak waktu sama Min-ho dulu.
Satu: Nggak akan nanya-nanya soal masa lalu Kang Ji-hoon lagi ke siapa pun. Bukan ke Eomma, bukan ke Min-ji (kalau ada), bukan ke kucing oranye itu, apalagi ke dia langsung.
Dua: Nggak akan ke Wave & Bean lebih dari sekali sehari. Kalau bisa, dua hari sekali. Atau tiga hari sekali. Atau... yah, pokoknya jangan tiap hari.
Tiga: Nggak akan biarkan senyum menyebalkan itu ngaruh ke detak jantungku. Kalau jantungku mulai berdetak aneh, langsung minum air putih dan tarik napas dalam-dalam.
Empat: Fokus. Kerja. Selesaikan artikel tentang "Hidden Cafes di Seoul" yang setengah jadi itu. Pulang ke Seoul jadi wanita karir yang sukses dan move on dari Min-ho dengan kepala tegak.
Lima: Nggak akan mikirin kalimat "jangan tanya Eomma, tanya langsung ke orangnya" itu lagi.
Sempurna. Rencana yang solid. Nggak ada celah. Aku merasa jauh lebih baik, rasanya kayak baru aja menang debat sama diri sendiri di pengadilan imajiner.
_____
Sore harinya, aku memutuskan untuk menghindari Pantai Gyeongpo dan Wave & Bean. Sebagai gantinya, aku jalan ke minimarket di ujung jalan buat beli es krim dan ramen.
Cuaca mulai mendung. Langit yang tadi siang cerah, sekarang berwarna abu-abu tebal. Angin laut terasa lebih dingin, bikin aku merinding. Aku memakai hoodie kebesaran warna abu-abu, menarik tudungnya sampai menutupi separuh wajahku. Invisible mode: on.
Aku masuk ke minimarket, disambut oleh suara bel pintu yang nyaring dan aroma roti segar dari rak di dekat pintu. Aku mengambil keranjang kecil, lalu mulai berkeliling.
Pertama, aku ke rak ramen. Aku memilih ramen rasa kari pedas—yang paling pedas, karena aku merasa butuh sesuatu yang bisa bikin lidahku mati rasa biar nggak mikirin hal-hal yang nggak perlu.
Kedua, aku ke freezer. Aku memilih es krim batang coklat. Yang paling besar. Karena aku merasa berhak atas sesuatu yang manis setelah hari yang menyebalkan.
Ketiga, aku ke rak cemilan. Aku mengambil chips rasa rumput laut dan sebuah botol air mineral. Pilihan yang sempurna buat menemani maraton drakor di kamar.
Aku berjalan ke kasir, merasa menang karena berhasil menahan diri buat nggak mampir ke kafe itu. Lihat, Seo-ah? Kamu bisa kok. Kamu kuat. Kamu mandiri. Kamu—
Pas aku lagi antri di kasir, sebuah tangan tiba-tiba menyodorkan sebungkus churu (cemilan kucing) ke kasir. Tangan itu memakai jam tangan kulit coklat yang familiar.
Aku menoleh pelan-pelan.
Ji-hoon berdiri di sebelahku. Dia pakai kaos abu-abu santai, rambutnya agak berantakan kena angin. Di tangannya ada sebuah kantong plastik dari Wave & Bean, mungkin isi biji kopi atau sesuatu.
Dia menatapku, lalu menatap tumpukan barang di keranjangku, lalu kembali ke mataku.
"Ramen kari pedas dan es krim?" dia berkomentar, nadanya santai banget. "Menu orang yang lagi patah hati atau orang yang lagi diet gagal?"
Aku mendengus, memeluk barangku erat-erat. "Aku nggak patah hati. Dan ini bukan diet."
"Oh, jadi kamu cuma nghindarin aku?"
Otakku langsung blue screen.
Ji-hoon tertawa pelan, membayar churu-nya, lalu berjalan ke pintu keluar. Tapi sebelum pergi, dia menoleh, menatapku dengan senyum miring yang bikin lututku lemas sedetik.
"Aturan nomor berapa yang baru aja kamu langgar, Seoul-ssi?"
Share this novel