Series
91
____
Pagi itu, aku bangun lebih awal dari biasanya.
Jam lima pagi. Matahari belum benar-benar terbit, tapi langit Seoul sudah mulai berwarna ungu kemerahan. Aku mandi cepat, memakai kaos oversized dan celana jeans, lalu menyeret kopercu ke pintu.
Apartemenku terlihat sama seperti kemarin. Berantakan, sempit, dan terasa seperti kotak sepatu yang kekecilan. Aku menatap sekeliling sebentar, lalu menggeleng.
"Nggak usah sentimental, Seo-ah," gumamku. "Dua bulan lagi juga balik."
Padahal, dalam hati, aku nggak yakin.
Stasiun Seoul sudah ramai meski masih pagi. Orang-orang berlalu-lalang dengan kopi di tangan, koper di punggung, dan wajah-wajah yang buru-buru. Aku membeli triangle kimbap di convenience store dan naik ke platform KTX.
Keretanya datang tepat waktu. Aku masuk, menemukan kursiku di dekat jendela, lalu menjatuhkan diri dengan napas lega.
Dua jam. Cuma dua jam, dan aku akan sampai.
____
Kereta mulai bergerak. Pelan-pelan, gedung-gedung tinggi Seoul menjauh, digantikan oleh pemandangan yang lebih hijau. Sawah, perbukitan, dan sesekali rumah-rumah kecil dengan genteng merah.
Aku membuka jendela—eh, nggak bisa. Jendela KTX memang nggak bisa dibuka. Tapi setidaknya, aku bisa melihat dunia di luar bergerak.
Aku memasukkan earphone ke telinga, memutar playlist "Summer Healing" yang kubuat semalam. Isinya lagu-lagu indie Korea yang tenang, yang biasanya nggak pernah kuputar karena "nggak cocok buat mood kerja".
Lagu pertama mulai bermain. Aku menyandarkan kepala ke jendela, memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, aku merasa... ringan.
____
Dua jam berlalu lebih cepat dari yang kukira.
"Stasiun berikutnya, Gangneung."
Aku membuka mata, menatap ke luar jendela. Dan di situ, aku melihatnya.
Laut.
Laut Timur yang biru, membentang luas, dengan cahaya matahari pagi yang memantul di permukaannya. Jantungku berdebar pelan. Aku sudah lama nggak melihat laut. Terakhir kali mungkin waktu SMP, liburan keluarga ke... ah, aku bahkan lupa ke mana.
Kereta berhenti. Pintu terbuka. Aku turun, menyeret kopercu, dan langkah keluar dari stasiun.
____
Udara Gangneung berbeda.
Lebih segar. Lebih lembap. Ada aroma garam yang bercampur dengan sesuatu yang manis—mungkin dari toko roti di seberang jalan. Anginnya pelan, tapi cukup buat bikin rambutku terbang berantakan.
Aku menarik napas dalam-dalam.
"Oke. Aku sampai."
Aku memesan taksi ke guesthouse. Sopirnya seorang bapak-bapak ramah yang langsung bertanya, "Pertama kali ke Gangneung?"
"Iya, Pak."
"Wah, pilihan yang bagus. Musim panas di sini indah. Kamu tinggal di mana?"
"Guesthouse di dekat Pantai Gyeongpo."
Dia tersenyum. "Oh, daerah yang bagus. Banyak kafe enak di sana. Kamu pasti suka."
Aku cuma mengangguk, pura-pura tahu. Padahal, aku bahkan belum buka Google Maps.
Taksi berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai berwarna putih dengan halaman kecil. Ada papan kayu bertuliskan "Seaside Guesthouse" dengan huruf yang sedikit miring, seperti ditulis tangan.
Aku membayar, lalu turun. Sopirnya melambaikan tangan sebelum pergi.
Aku berdiri di depan guesthouse, menatap bangunan itu. Ada sepeda tua disandarkan di pagar, pot-pot bunga di teras, dan suara... ombak.
Suara ombak.
Aku tersenyum kecil. Ini beneran terjadi.
Aku masuk, disambut oleh seorang wanita paruh baya yang ternyata pemilik guesthouse. Dia ramah, langsung memberiku kunci kamar, dan menunjukkan arah ke kamar lantai dua.
"Kamarnya di atas. Jendela menghadap laut. Kalau mau sarapan, ada roti dan kopi di dapur mulai jam tujuh pagi."
"Terima kasih, Eomma," kataku, refleks memanggilnya ibu. Dia tertawa.
Aku naik ke kamar, membuka pintu, dan...
Wow.
Kamarnya kecil, tapi bersih. Ada kasur single, meja kayu di dekat jendela, dan—sesuai janji—jendela besar yang langsung menghadap ke pantai. Aku bisa melihat pohon-pohon pinus, pasir putih, dan laut biru di kejauhan.
Aku menjatuhkan kopercu, lalu berjalan ke jendela, membukanya.
Angin laut langsung masuk, membawa aroma garam dan sesuatu yang hangat. Aku menutup mata, membiarkan angin itu menerpa wajahku.
"Oke, Gangneung. Aku di sini."
Aku duduk di tepi kasur, mengecek ponsel. Tidak ada pesan penting. Tidak ada notifikasi dari kantor. Tidak ada pesan dari Min-ho.
Hening.
Aku menghela napas, lalu memutuskan untuk keluar sebentar. Jalan-jalan ke pantai, cari udara segar, mungkin cari makan siang.
Aku turun, keluar dari guesthouse, dan mulai berjalan menyusuri jalan kecil yang mengarah ke pantai.
Di kiri-kanan, ada kafe-kafe kecil dengan papan nama yang lucu. Ada toko roti, toko souvenir, dan sebuah toko sepeda sewaan. Suasananya tenang, nggak se-chaotic Seoul.
Aku berjalan pelan, menikmati setiap langkah.
Dan di ujung jalan, di depan pantai, aku melihat sebuah kafe kecil dengan papan nama kayu bertuliskan:
"Wave & Bean"
Ada pohon palem palsu di depan pintu—yang jelas nggak akan tumbuh di Korea—dan seekor kucing oranye yang sedang tidur di teras.
Aku berhenti sejenak, menatap kafe itu.
"Boleh juga," gumamku. "Nanti aja ke sana."
Aku nggak tahu, di dalam kafe itu, seseorang sedang meracik kopi, dan sebentar lagi, hidupnya akan bertemu dengan hidupku.
Tapi untuk sekarang, aku cuma mau menikmati pantai.
Dulu.
???
Share this novel