BAB 6: Pesta Makan Malam Beracun

Fantasy Series 67

Ruang makan utama Mansion Rosewald begitu luas hingga suara garpu yang berdenting terdengar seperti gema di gua kosong. Dindingnya dihiasi lukisan leluhur keluarga dengan wajah-wajah kaku yang seolah menghakimi siapa saja yang duduk di meja panjang itu.

Di ujung meja, duduk Duke Valerius Rosewald. Pria berusia 50-an dengan janggut perak rapi dan mata tajam setajam elang. Dia tidak menyentuh makanannya. Dia hanya menatap tamu di seberangnya dengan dingin.

Di sebelah kanannya, duduk Lord Adrian, tersenyum tipis sambil memutar-mutar gelas anggur merahnya.
Di sebelah kiri, Lady Catherine (ibu tiri Elara) terlihat gelisah, tangannya gemetar memegang serbet.
Dan di tengah-tengah mereka, duduk Elara dengan semangat berlebihan, serta Kael Draven yang kini mengenakan jubah hitam bersih pinjaman (meski masih telanjang kaki).

"Jadi," buka Duke Valerius, suaranya berat dan berwibawa. "Ini adalah 'pahlawan' yang kau beli di arena, Elara? Seorang budak terkutuk dengan mata hitam, tanpa nama keluarga, tanpa status, dan... tanpa sepatu?"

Kael sedang memotong daging panggang di piringnya. Potongannya presisi, setiap irisan tebalnya sama persis hingga milimeter. Dia tidak menoleh saat menjawab.

"Sepatu adalah belenggu bagi mereka yang kakinya lemah, Tuan Duke," ucap Kael tenang, lalu memasukkan potongan daging ke mulut. Dia mengunyah perlahan, matanya terpejam sejenak. "Dagingnya agak alot. Sepertika sapi ini mati karena ketakutan. Atau mungkin... karena diberi sesuatu sebelum disembelih?"

Suasana langsung menegang.
Adrian menyipitkan mata. "Dia tahu?" batinnya. "Tidak mungkin. Racun Sleeping Death tidak berwarna dan tidak berasa bagi manusia biasa."

"Kau berbicara berani untuk seorang tamu yang seharusnya berterima kasih," sela Adrian lembut, namun nada sinisnya jelas terdengar. "Ayahku telah mengizinkanmu duduk di meja ini, padahal tempatmu seharusnya di kandang anjing bersama ras serupamu."

Elara mendesis pelan, "Waduh, dialogue antagonis klasik. Babak 2, adegan 1. Biasanya setelah ini si villain muda bakal kena malu deh."

Kael meletakkan pisau dan garpunya. Ting. Suaranya kecil, tapi terasa seperti ledakan di telinga semua orang. Dia mengangkat gelas anggur di depannya, menatap cairan merah pekat itu.

"Terima kasih?" Kael tertawa kecil, tawa yang kering dan tanpa humor. "Aku tidak butuh izin tikus untuk duduk di singgasana mereka. Dan soal ras..."
Dia meneguk anggur itu sampai habis dalam satu tegukan.
"...aku sudah memakan ras yang jauh lebih murni daripada darah encer kalian."

Wajah Duke Valerius memerah karena marah. "Berani sekali kau! Sebastian!"

"Tuan?" Kepala pelayan muncul dari bayangan.

"Usir makhluk ini dari meja makan! Berikan dia sisa makanan di dapur!" perintah Duke.

"Tunggu, Ayah!" Elara ikut campur, mengangkat tangan. "Ini kan baru appetizer dramanya! Belum ada plot twist-nya! Biarkan dia makan dulu, nanti baru diusir pas climax!"

Semua orang menatap Elara seperti melihat orang gila. Bahkan Lady Catherine menutup wajahnya malu.
"Elara, cukup!" bentak Adrian. "Kau mempermalukan keluarga dengan membawa sampah ini dan berbicara omong kosong!"

Kael tiba-tiba terbatuk kecil.

Mata Adrian berbinar. "Mulai bekerja," pikirnya puas. Racun Sleeping Death dosis tinggi itu seharusnya mulai melumpuhkan tubuh korban dalam 5 menit. Korban akan merasa lemas, mengantuk, lalu tidur selamanya.

"Wah, sepertinya efeknya mulai," gumam Adrian pura-pura khawatir. "Apakah Anda tidak enak badan, Tuan Draven? Mungkin anggur ini terlalu kuat untuk lambung budak?"

Kael menahan dadanya, wajahnya tampak meringis kesakitan. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.
"Sakit..." bisik Kael, suaranya parau. "Ada... api... di perutku..."

Elara panik setengah mati. "Loh? Kok beneran sakit? Ini bukan bagian naskah! Harusnya dia cuma pura-pura keracunan lalu sembuh ajaib! Kael! Jangan mati dulu, kita belum kiss scene!"

Kael tidak menjawab. Tubuhnya mulai bergetar hebat. Urat-urat hitam mulai muncul di leher dan tangannya yang pucat, menjalar seperti akar pohon berbisa. Matanya yang hitam pekat tiba-tiba berubah, pupilnya memanjang vertikal seperti reptil, dan bagian putih matanya menjadi merah darah.

"Hahaha!" Adrian tertawa lepas, tidak lagi menyembunyikan kebenciannya. "Akhirnya ketahuan! Racun Sleeping Death khusus untuk ras terkutuk! Kau pikir bisa lolos dari rencana Lord Adrian? Bodoh! Minumlah racunmu sendiri, monster!"

Duke Valerius hanya diam, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit. "Buang mayatnya ke lubang limbah setelah dia berhenti bernapas. Kita tidak perlu skandal kematian di meja makan."

Lady Catherine menjerit pelan, menutup mulutnya.

Di tengah tawa Adrian dan tatapan dingin Duke, tubuh Kael tiba-tiba berhenti bergetar.
Hening.

Asap hitam tebal mulai keluar dari pori-pori kulit Kael, membentuk aura gelap yang berputar-putar di sekeliling kursinya. Suhu ruangan turun drastis hingga embun beku terbentuk di gelas-gelas anggur.

Kael mengangkat kepalanya perlahan.
Senyumnya kembali. Tapi kali ini, itu bukan senyum manusia. Itu senyum iblis yang baru saja menemukan mainan baru.

"Rasa pedasnya..." gumam Kael, suaranya bergema ganda, seolah ada dua suara yang bicara bersamaan. "...lumayan. Hangat."

Adrian terdiam. Tawanya tercekat di tenggorokan. "A-apa? Kau... kau harusnya sudah mati! Itu racun tingkat Archmage!"

Kael berdiri perlahan. Kursi di belakangnya hancur menjadi debu hanya karena tekanan auranya. Dia menatap Adrian, lalu menatap Duke Valerius.

"Terima kasih untuk jamuannya, Tuan Duke. Tuan Adrian," ucap Kael sambil mengepalkan tangan. Asap hitam di tangannya memadat menjadi bola energi kecil yang berdenyut-denyut. "Racun kalian... Sleeping Death, ya? Di negeriku, ini disebut Hidangan Pembuka. Rasanya agak hambar, butuh lebih banyak lain kali."

Dengan gerakan santai, Kael membuka mulutnya dan menelan bola energi hitam hasil racun yang sudah ia padatkan itu.
Glek.

"Mungkin aku akan menyimpannya untuk hidangan penutup," tambah Kael sambil mengelus perutnya. "Sekarang, giliran aku membalas hidangan."

Kael menunjuk jari telunjuknya ke arah piring makan Adrian.
"Heavenly Demon Art: Corrosion of the Soul."

Szzzt!
Tanpa suara ledakan, makanan di piring Adrian?daging, sayur, bahkan piring porselen itu sendiri?tiba-tiba meleleh menjadi cairan hitam pekat. Cairan itu mendesis, mengeluarkan asap berbau belerang yang menyengat, lalu merembes ke meja kayu mahoni, menggerogoti kayu itu hingga berlubang dalam hitungan detik.

Adrian mundur ketakutan hingga jatuh dari kursinya. "A-apa itu?! Sihir apa ini?!"

"Bukan sihir," koreksi Kael dingin, melangkah mendekati Adrian yang terpojok. "Ini adalah realitas. Realitas bahwa kau mencoba membunuhku dengan racun murahan, dan sekarang... kau akan merasakan bagaimana rasanya jika racun itu berbalik arah ke sumbernya."

Kael membungkuk, wajahnya tepat di depan Adrian yang gemetar ketakutan.
"Aku tidak akan membunuhmu sekarang, Tuan Adrian. Itu terlalu mudah. Aku ingin kau tidur malam ini dengan kesadaran penuh bahwa setiap napas yang kau tarik... mungkin mengandung racun yang kubalikkan ke dalam udara ruangan ini. Atau mungkin tidak? Siapa tahu?"

Kael tertawa ringan, lalu menepuk pipi Adrian yang pucat pasi.
"Tidurlah nyenyak, Pewaris Duke. Mimpi indah tentang ular yang memakan dirimu dari dalam."

Kael kemudian berbalik, menatap Duke Valerius yang kini sudah berdiri, tangannya memegang gagang pedang sihir di pinggangnya, wajahnya penuh kewaspadaan.

"Dan Anda, Tuan Duke," sapa Kael sopan tapi menusuk. "Meja makan Anda kotor. Mungkin Anda perlu mengganti pelayan yang meracuni tamunya. Atau... mengganti seluruh keluarga Anda?"

Elara, yang dari tadi hanya melongo sambil memegang garpu yang masih ada dagingnya, tiba-tiba bertepuk tangan riang.
"WOW! Plot twist gila! Si korban racun malah jadiin racun itu power-up! Ini trope 'Poison Cultivation' langka! Kael, kamu keren banget sih! Nilai 100 buat aktingnya!"

Kael menoleh ke Elara, ekspresi mengerikannya sedikit melunak menjadi bingung. "Wanita... apakah otaknya benar-benar rusak? Atau dia satu-satunya waras di rumah orang gila ini?"

"Cepat, Kael! Ayo kita ke kamar! Aku punya camilan cokelat buat after-party!" ajak Elara sambil menarik lengan baju Kael.

Kael membiarkan dirinya diseret. Sebelum keluar ruangan, dia menoleh sekali lagi ke arah Duke dan Adrian yang masih terpaku ketakutan.

"Oh, satu hal lagi," ucap Kael sambil tersenyum miring. "Besok pagi, aku ingin sarapan yang lebih enak. Jika ada racun lagi... aku akan memastikan seluruh mansion ini menjadi kuburan massal sebelum matahari terbit. Selamat malam, Keluarga Rosewald."

Kael dan Elara meninggalkan ruang makan itu.
Pintu tertutup berat di belakang mereka.

Hening yang mencekam menyelimuti ruangan.
Adrian masih duduk di lantai, napasnya tersengal-sengal, menatap lubang menghitam di meja bekas makanan yang meleleh.
"Ayah..." suaranya gemetar. "Apa... apa itu? Kekuatan apa yang dimiliki makhluk itu?"

Duke Valerius melepaskan pegangannya dari pedang, keringat dingin mengalir di punggungnya. Dia menatap lubang itu dengan mata ngeri.
"Itu bukan kekuatan manusia, Adrian," bisik Duke pelan. "Itu adalah bencana. Kita baru saja mengundang badai ke dalam rumah kita."

"Haruskah kita panggil Guild Petualang? Atau Gereja Suci?" tanya Adrian panik.

"Tidak," jawab Duke tegas, meski hatinya ragu. "Jika kita lapor, mereka akan datang dan membunuh kita juga karena dianggap bersekongkol dengan iblis. Kita harus menyelesaikan ini sendiri. Dalam diam."

Duke menatap anaknya dengan tatapan dingin.
"Siapkan pembunuh bayaran kelas S. Bukan dari guild resmi. Dari pasar gelap. Habisi dia malam ini juga. Sebelum dia bangun dari tidurnya."

"Dan jika gagal?" tanya Adrian.

Duke Valerius menatap kegelapan di sudut ruangan, seolah melihat bayangan kematian sudah berdiri di sana.
"Maka bersiaplah. Karena besok pagi, Klan Rosewald mungkin sudah tidak ada lagi."

Di luar, angin malam berhembus kencang, membawa bisikan tawa samar dari kamar tamu di sayap timur. Tawa seorang Mad Demon yang baru saja menemukan taman bermain barunya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience