BAB 1: Dunia Baru

Fantasy Series 67

"KALIAN SEMUA ANJING KURAP!"

Jin Mu-Hwal meraung. Aura hitam pekat meledak dari tubuhnya, mencoba merobek kubah dimensi itu.

Tanah di sekitarnya hancur lebur. Batuan sebesar rumah terlempar ke angkasa. Ia mengayunkan pedangnya, menebas ruang kosong itu ratusan kali dalam sedetik.

TAK! TAK! TAK!

Pedangnya membentur sesuatu yang tak terlihat. Retakan muncul di kubah ungu itu, namun segera tertutup lagi oleh aliran darah ribuan korban ritual.

Tekanan di sekelilingnya semakin gila.

Tulang-tulang Jin Mu-Hwal mulai retak. Kulitnya terkelupas, terbakar oleh energi dimensi yang tidak stabil. Rasanya seperti seluruh tubuhnya diperas, ditarik, dan dicabik-cabik dari segala arah sekaligus.

"Sialan... SIALAN!"

Darah muncrat dari mulut, hidung, dan telinganya. Pandangannya mulai kabur. Namun, nyalanya menolak untuk padam.

Ia menatap Yeo-Rin untuk terakhir kalinya. Wanita itu menangis, namun tidak berhenti. Gwak menutup wajahnya, gemetar ketakutan.

"Bajingan..." desis Jin Mu-Hwal di tengah badai energi yang meremukkan tubuhnya.

"Kalian pikir dengan ini kalian bisa membunuhku? Kalian pikir dengan menghancurkan wadah, apinya akan mati?"

Tubuhnya mulai hancur menjadi partikel cahaya hitam. Dagingnya perlahan terkikis, tulang-belulangnya menjadi debu. Rasa sakitnya luar biasa, melebihi jutaan sembilu yang mengiris jiwa.

Namun, di tengah kehancuran total itu, Jin Mu-Hwal justru tertawa.

Ia tertawa. Tawa yang dimulai dari dada, lalu meledak ke seluruh ruangan, menggema menembus suara ledakan dimensi. Tawa seorang pria yang sudah kehilangan segalanya dan tidak punya apa-apa lagi untuk ditakuti. Penuh kegilaan, liar, dan kebencian murni.

"Baiklah! Jika ini takdir bodoh kalian! Maka dengarkan kutukanku!"

Dengan sisa tenaga terakhir, Jin Mu-Hwal mengumpulkan seluruh Gi yang tersisa di inti jiwanya. Bukan untuk menyerang, melainkan untuk menanam benih.

"Aku tidak akan mati! Jiwaku abadi dalam kebencian! Jika alam semesta ini menolakku, maka aku akan menghilang ke dalam kekosongan abadi! Dan suatu hari nanti... JANGAN HARAP AKU HILANG SELAMANYA! AKU AKAN KEMBALI, DAN AKAN MEMBAWA MALAPETAKA BAGI SELURUH MAKHLUK DI DUNIA INI!"

Matanya yang merah darah menatap lurus ke arah Yeo-Rin dan Gwak, menembus kekacauan dimensi.

"Siapkan leher kalian! Karena saat aku kembali, aku akan membuat kalian berharap kalian tidak pernah dilahirkan!"

"Aku akan menghancurkan segala hal yang kalian cintai, sama seperti kalian menghancurkan hidupku!"

BRAAAAK!

Kubah dimensi runtuh sepenuhnya. Ledakan dahsyat menelan puncak Gunung Cheon-Wol. Cahaya putih menyilaukan menelan segalanya, menghapus keberadaan Jin Mu-Hwal dari realitas dunia Murim.

Tidak ada mayat. Tidak ada sisa tubuh.

Sang Mad Demon telah musnah.

Atau setidaknya, begitulah kata mereka.

...

Gelap.

Hening.

Lalu, rasa sesak yang luar biasa di paru-paru.

"Haaahhh!!"

Sebuah tubuh terpentak bangun, menarik napas panjang dan dalam. Seolah baru saja diselamatkan dari tenggelam di dasar laut.

Jin Mu-Hwal membuka matanya lebar-lebar. Jantungnya berdetak kencang. Rasa sakit akibat penghancuran dimensi masih terasa samar di sekujur sarafnya.

"Di mana ini?" gumamnya.

Suaranya terdengar aneh. Lebih muda? Lebih halus?

Ia langsung meraba tubuhnya. Tangan, dada, kaki. Utuh. Tidak hancur. Tidak ada luka bakar dimensi.

Namun... ada yang berbeda. Sensasi energinya aneh. Aliran Gi-nya tersendat, digantikan oleh sesuatu yang asing, dingin, dan cair di dalam pembuluh darahnya.

Perlahan, Jin Mu-Hwal bangkit duduk.

Ia berada di sebuah ruangan sempit berdinding kayu lapuk. Bau apek dan kotoran hewan memenuhi hidung. Di sudut ruangan, terdapat jerami kering dan rantai besi yang terpasang di dinding.

"Penjara?" batinnya bingung. "Apakah aku gagal? Apakah jiwaku terjebak di neraka?"

Ia mencoba berdiri, namun kakinya goyah. Tubuhnya terasa lemah. Sangat lemah dibandingkan tubuh puncaknya dahulu.

Ini bukan tubuh seorang Dewa Bela Diri. Ini tubuh orang biasa, bahkan cenderung kurang gizi.

Tiba-tiba, pintu besi di depannya terbuka dengan bunyi berdecit nyaring.

Cahaya silau dari luar masuk, memaksa Jin Mu-Hwal menyipitkan mata.

Seorang pria bertubuh besar dengan cambuk di tangan masuk, disertai dua penjaga lain.

Mereka mengenakan seragam aneh, bukan baju khas Murim. Bahannya terlihat kasar, warnanya abu-abu kotor.

"Hei, Budak Nomor 734!" bentak pria besar itu dengan bahasa yang aneh.

Namun entah mengapa, Jin Mu-Hwal bisa memahaminya dengan sempurna.

"Bangun! Jangan pura-pura mati! Maju ke barisan atau mau dicambuk sampai kulitmu mengelupas?!"

Budak?

Jin Mu-Hwal mengerutkan kening. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah pria itu.

Dan saat itulah, si penjaga besar terhenti langkahnya.

Matanya membelalak. Wajahnya pucat pasi. Cambuk di tangannya hampir jatuh ke lantai.

Ia menatap Jin Mu-Hwal dengan ekspresi campuran antara takut, jijik, dan kebingungan total.

"A-Apa... apa yang terjadi pada matamu?" tanya penjaga itu, suaranya bergetar hebat.

"Dan rambutmu... kenapa sehitam itu? Seperti malam tanpa bintang! Seperti... seperti lubang maut!"

Jin Mu-Hwal bingung. Ia menoleh ke samping.

Di sana, terdapat genangan air kotor yang memantulkan bayangan samar wajahnya.

Di pantulan itu, terlihat sosok seorang pemuda berusia sekitar tujuh belas tahun. Wajahnya tampan namun pucat pasi, dengan bekas-bekas luka cambuk di pipi dan lengan.

Namun yang paling mencolok dan mengerikan adalah...

Rambutnya. Hitam pekat. Legam tanpa cahaya, seperti malam tanpa bintang.

Matanya. Juga hitam pekat. Dalam, gelap, dan menyerap segala cahaya di sekitarnya.

Di dunia ini, di benua Vorthas, semua orang memiliki rambut berwarna perak, emas, merah, atau biru. Mata mereka bersinar dengan berbagai warna elemen yang indah.

Tidak ada seorang pun, dalam sejarah ribuan tahun, yang memiliki rambut dan mata hitam pekat seperti lubang maut.

Warna itu dianggap sebagai Warna Kutukan. Warna Kekosongan. Warna Iblis Purba yang sudah terlupakan.

Penjaga itu mundur selangkah ketakutan, tangannya gemetar membuat tanda perlindungan di dadanya.

"K-Kau... monster apa kau?!" teriaknya panik.

"Kenapa warna matamu seperti itu? Apakah kau terkena wabah kegelapan kuno?!"

Jin Mu-Hwal menatap tangannya sendiri yang pucat, lalu perlahan menyentuh helai rambut hitamnya.

Perlahan, sudut bibirnya terangkat.

Bukan senyum bingung, melainkan seringai miring yang sangat familiar. Seringai yang dahulu pernah mengguncang seluruh jagat raya Murim.

Senyum arogan. Senyum gila.

"Hitam?" gumamnya pelan.

Ia merasakan aliran energi asing di tubuhnya mulai berdenyut kencang seiring dengan detak jantung barunya.

"Jadi di negeri ini, warna asliku dianggap aneh dan menakutkan, ya?"

Ia mendongak perlahan. Menatap penjaga itu dengan tatapan yang berubah total.

Meskipun tubuhnya kini lemah, tekanan mental seorang Raja Iblis yang pernah membunuh jutaan musuh tetaplah ada.

Udara di ruangan sempit itu seketika menjadi berat dan mencekam.

"Hei, Tuan Penjaga," ucap Jin Mu-Hwal.

Suaranya rendah, tenang, namun penuh dengan ancaman mematikan yang terkendali.

"Kau bertanya kenapa mataku hitam?"

Langkah kakinya maju satu langkah kecil.

Penjaga itu refleks mundur dua langkah, keringat dingin mengucur deras membasahi punggungnya.

"Karena di dunia asalku," bisik Jin Mu-Hwal, matanya berkilat jenaka namun tajam menusuk jiwa,

"warna hitam adalah warna yang aku pilih secara khusus. Agar darah musuh-musuhku yang membasahi tubuhku... tidak terlihat terlalu berantakan."

Ia tertawa kecil. Tawa yang sama persis dengan tawanya di puncak Gunung Cheon-Wol sebelum langit runtuh.

"Dan sepertinya... di dunia baru ini, aku punya banyak sekali pekerjaan bersih-bersih yang harus dilakukan."

Dan dunia ini... belum siap menghadapi seseorang yang membawa neraka dalam sepasang mata hitamnya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience