Series
67
Jam dinding raksasa di lorong utama Mansion Rosewald berdentang dua belas kali.
Bung... Bung...
Suaranya berat, bergema di seluruh sudut bangunan batu itu, seolah menandai berakhirnya hari dan dimulainya sesuatu yang jauh lebih gelap.
Bagi Duke Valerius dan Lord Adrian, tengah malam ini adalah waktu eksekusi. Mereka telah mengirim "The Silent Fangs", sebuah kelompok pembunuh bayaran kelas S yang terkenal kejam bahkan di kalangan kriminal bawah tanah. Lima orang ahli pembunuhan, masing-masing mampu menghabisi satu kompi tentara dalam diam. Target mereka sederhana: Masuk kamar tamu sayap timur, potong leher "Kael Draven", dan bawa kepalanya sebagai bukti sebelum fajar menyingsing.
Mereka bergerak seperti asap. Tanpa suara langkah, tanpa desahan napas. Mereka menyusup melalui atap, memotong kaca jendela dengan alat khusus, dan meluncur masuk ke koridor gelap.
"Target terkonfirmasi tidur," bisik pemimpin mereka, seorang pria bertopeng serigala bernama Grom, melalui sihir bisikan. "Satu penjaga wanita (Elara) ada di kamar sebelah. Abaikan dia. Fokus pada si mata hitam."
"Mengerti," jawab empat suara lainnya serempak.
Mereka sampai di depan pintu kamar tamu mewah bercat emas itu. Grom memberi isyarat tangan. Satu, dua, tiga...
Pintu didorong perlahan. Tidak terkunci. Bodoh. Sang target terlalu percaya diri.
Grom masuk pertama, belati beracun di tangan kanan siap menusuk jantung siapa pun yang ada di ranjang besar berlapis sutra itu.
"Ditemukan," gumamnya.
Ranjang itu kosong.
Selimut tersingkap rapi. Bantal tertata sempurna. Tidak ada tanda-tanda perlawanan. Tidak ada Kael Draven.
"Terjebak?" salah satu anggota tim bertanya, suaranya tegang.
"Tidak," jawab Grom, matanya menyapu ruangan dengan waspada. "Dia tahu kita datang. Mungkin dia lari..."
"Lari? Ke mana?"
Suara itu bukan berasal dari mulut manusia. Suara itu terdengar dari langit-langit, tepat di atas kepala mereka, bergema seolah berasal dari segala arah sekaligus.
Kelima pembunuh itu serentak mendongak.
Di sana, tergantung terbalik seperti kelelawar raksasa, duduklah Kael Draven. Dia mengenakan jubah tidur sutra berwarna merah marun (milik Duke Valerius yang 'dipinjam' paksa), memegang sebuah gelas anggur yang penuh hingga setengahnya. Wajahnya tenang, bahkan sedikit bosan.
"Kalian datang jauh-jauh di jam segini," ucap Kael santai, memutar-mutar gelas anggurnya hingga cairan merah itu berputar tanpa tumpah sedikitpun meski posisinya terbalik. "Padahal aku baru saja menemukan bahwa anggur tua ratusan tahun ini memiliki sisa rasa kayu ek yang sangat nikmat. Apakah kalian ingin bergabung? Atau kalian lebih suka menjadi hiasan dinding?"
Grom menggeram, harga dirinya terluka. "Bunuh dia! Serbu!"
Tanpa aba-aba, kelima pembunuh itu melesat maju. Belati, racun, dan sihir bayangan ditembakkan bersamaan ke arah Kael.
Serangan sempurna. Mustahil dihindari dari posisi terbalik.
Krak!
Gelas anggur di tangan Kael pecah. Tapi bukan karena terkena serangan. Kael menjatuhkannya sendiri.
Saat pecahan kaca menyentuh lantai, waktu seolah melambat bagi para pembunuh itu.
"Heavenly Demon Art: Domain of the Shattered Mirror."
Bukan ledakan besar. Bukan api atau es.
Tiba-tiba, bayangan di ruangan itu bergerak sendiri. Bayangan dari lemari, bayangan dari tirai, bahkan bayangan tubuh para pembunuh itu sendiri, terlepas dari objeknya dan berubah menjadi bilah-bilah hitam tajam.
"Apa ini?!" teriak salah satu pembunuh saat bayangannya sendiri menusuk kakinya. Darah hitam muncrat.
"Ini bukan sihir," koreksi Kael yang kini sudah berdiri tegak di lantai, langkahnya ringan menari di antara hujan serangan musuh. "Ini adalah seni bela diri. Seni membuat kalian menyadari bahwa cahaya pun bisa membunuh jika aku menginginkannya."
Kael tidak menggunakan pedang. Dia hanya menggunakan jari-jarinya, menepis setiap serangan dengan gerakan elegan, seolah sedang mengusir lalat yang mengganggu saat dia menikmati minum anggur.
Sret. Sret. Tung.
Setiap tepisan tangannya menghasilkan gelombang kejut tak terlihat yang merobek armor kulit para pembunuh, mematahkan tulang mereka, namun tidak membunuh mereka seketika.
"Sakit?" tanya Kael pada Grom yang kini tergeletak, kedua lengan patah bersudut aneh. "Itu baru seperseratus dari rasa sakit yang akan kau rasakan jika aku benar-benar murka. Tapi untungnya bagimu... aku sedang dalam suasana hati baik malam ini. Aku baru saja selesai menelusuri catatan sejarah kuno di perpustakaan Duke ini. Ternyata, wilayah ini dulu adalah medan pertempuran besar antara ras iblis dan manusia lima ratus tahun lalu. Sangat menarik. Tanah ini sudah haus darah sejak lama."
Kael berjalan mendekati Grom, lalu duduk bersila di sampingnya, seolah sedang mengobrol dengan teman lama.
"Kalian dibayar berapa oleh Duke bodoh itu? Lima ratus emas? Seribu? Sayang sekali. Nyawa kalian seharusnya lebih berharga daripada sekadar menjadi alat perselisihan keluarga bangsawan kecil yang sedang menuju kehancuran."
Grom batuk darah, matanya penuh teror. "Si-siapa kau sebenarnya? Monster apa kau?!"
Kael tersenyum. Senyum yang tipis, dingin, tapi anehnya... terasa sangat manusiawi dalam kekejamannya.
"Aku? Aku hanyalah seorang tuan tanah baru yang ingin menikmati masa pensiunnya dengan tenang. Tapi kalau ada tikus-tikus yang mengganggu istirahatku... ya, sudah menjadi kewajibanku untuk membersihkan kandang."
Kael mengangkat tangannya. Bayangan di belakang Grom membentuk sosok raksasa berbaju zirah gelap.
"Aku tidak akan membunuhmu. Mati itu terlalu mudah. Terlalu cepat. Kau akan hidup. Kau akan kembali pada majikanmu, Duke Valerius, dan Lord Adrian. Sampaikan pesan ini:"
Wajah Kael mendekat, matanya yang hitam pekat seolah mampu menelan jiwa Grom.
"Besok pagi, aku ingin sarapan berupa surat pengunduran diri mereka. Jika tidak... aku akan mengubah seluruh mansion ini menjadi galeri seni yang terbuat dari tulang-belulang mereka. Dan kau, tikus busuk, akan menjadi patung pertama di pintu masuk."
Dengan sentuhan ringan di dahi Grom, Kael menanamkan ilusi permanen. Mulai detik itu, setiap kali Grom menutup mata, dia akan melihat wajah Kael yang tersenyum lebar, mengingatkannya bahwa kematian bukanlah akhir, tapi awal dari teror yang tak berujung.
"Pergilah," bisik Kael. "Dan jangan lupa berterima kasih karena aku masih memberimu kesempatan untuk bernapas."
Para pembunuh yang selamat (dengan tubuh hancur dan mental remuk) diseret keluar oleh rekan-rekan mereka yang masih bisa berjalan. Mereka lari terbirit-birit, meninggalkan jejak darah di lorong marmer yang indah.
Kael berdiri sendirian di tengah ruangan yang berantakan. Dia menghela napas panjang, lalu merapikan jubah sutranya.
"Hmm. Agak berisik. Besok harus suruh pelayan membersihkan ini. Oh iya, karpet ini mahal. Seharusnya aku hindari pertumpahan darah di atasnya tadi."
Tiba-tiba, pintu kamar tamu itu terbuka kasar tanpa ketukan.
Elara muncul dari kegelapan lorong, mengenakan piyama bermotif bebek kuning, rambutnya acak-acakan, sambil menguap lebar. Dia baru saja terbangun dari kamar utamanya di sayap timur karena mendengar keributan, lalu berlari kemari.
"Waduh..." gumam Elara, matanya menyapu lantai yang penuh bekas cakaran bayangan dan genangan darah tipis. "Kael? Kamu ngadain training session tengah malam? Kok tamunya pada babak belur gitu? Itu scene latihan atau gimana?"
Kael menoleh, tatapannya tajam dan dingin. Dia tidak tersenyum.
"Bocah Gila," sapa Kael dengan suara berat bernada Murim yang kental. "Apakah matamu buta? Atau akalmu memang hanya dipenuhi kabut ilusi hingga tidak mampu membedakan antara medan pembantaian dan tempat bermain anak-anak?"
Elara mengedipkan mata, tidak tersinggung sedikitpun. "Lho? Emangnya kenapa? Aku dengar suara ribut, kira ada plot twist malam hari. Eh, ternyata kamu udah selesai sama anak buahnya. Efisiensi waktu 10/10!"
Kael mendengus kasar, hidungnya mencium bau obat tidur murah yang masih tersisa di udara?sisa dari racun yang coba diberikan pelayan tadi sore yang sudah dia netralisasi.
"Hmph. Kau bicara dengan logika yang melenceng, Wanita Aneh. Mereka adalah pembunuh bayaran tingkat tinggi yang dikirim oleh ayahmu sendiri. Jika tadi aku lengah sedetik saja, leherku sudah terpisah dari badan. Dan kau... kau malah bertanya tentang hal-hal yang tidak masuk akal?"
Kael melangkah mendekat, auranya yang gelap membuat lampu lilin di ruangan itu berkedip-kedip takut.
"Dengarkan baik-baik. Di dunia ini, tidak ada yang namanya kesaktian abadi. Yang ada hanyalah mereka yang cukup kuat untuk membunuh, dan mereka yang terlalu lemah sehingga menjadi pupuk tanah. Kau termasuk yang mana? Apakah kau ingin menjadi pupuk di kamar mewah ini?"
Elara justru tertawa renyah, menggelengkan kepala sambil berjalan santai menghindari genangan darah seolah itu hanya tumpahan air.
"Yaelah, Kael. Kamu lupa aturan dasar novel? Protagonis nggak bakal mati di Bab 6! Lagian, kalau kamu mati, siapa yang bakal nemenin aku taklukkan dunia ini? Nggak asik dong endingnya!"
Kael mengerutkan kening dalam-dalam. Istilah-istilah aneh itu lagi. "Novel"? "Protagonis"?
Dia merasa sakit kepala. Gadis ini benar-benar terkena penyakit jiwa yang parah. Mungkin ini jenis sihir kutukan yang belum pernah dia temui di dunia persilatan sebelumnya.
"Pikiranmu lebih kacau daripada formasi iblis tingkat sembilan," gerutu Kael, membalikkan badan kembali ke jendela. "Pergilah tidur, Bocah Gila. Sebelum aku berubah pikiran dan memutuskan untuk menguji apakah darahmu seaneh omonganmu."
"Siap, Bos! Good night, calon Duke-ku!" seru Elara sambil melambaikan tangan, lalu berbalik keluar kamar dengan langkah ringan. "Jangan begadang ya! Beauty sleep itu penting buat character development!"
Pintu tertutup.
Kael tinggal sendirian lagi. Hening.
Dia menghela napas panjang, asap hitam tipis keluar dari bibirnya.
"Duke... Character development..." gumamnya pelan, mencoba mencerna kata-kata aneh itu. "Dunia ini benar-benar telah kehilangan akal sehatnya. Pertama ras iblis yang lemah, sekarang wanita bangsawan yang berbicara seperti orang kerasukan roh asing."
Namun, di sudut bibirnya, tanpa dia sadari, terbit senyum tipis yang sangat samar.
"Tapi... setidaknya tidak membosankan. Lebih baik menghadapi bocah gila ini daripada ribuan tentara bodoh yang hanya tahu menerjang tanpa pikir panjang."
Kael mematikan sisa lilin dengan jepitan jarinya. Gelap total.
"Besok pagi," bisiknya pada kegelapan, nada suaranya kembali menjadi Raja Iblis yang dingin. "Aku akan meminta surat pengunduran diri itu. Jika tidak, mansion ini akan menjadi kuburan bagi seluruh garis keturunan Rosewald."
Di kejauhan, di sayap barat mansion, Duke Valerius dan Lord Adrian terjaga dari tidur mereka, keringat dingin membasahi punggung mereka. Mereka mendengar langkah kaki para pembunuh yang pulang dengan kegagalan. Mereka tahu, besok pagi bukan lagi hari biasa.
Besok pagi adalah awal dari akhir kekuasaan mereka.
Dan di tengah ketegangan itu, Kael Draven berdiri di kegelapan, menatap bulan sabit yang tergantung di langit malam perbatasan. Untuk pertama kalinya dalam hidup barunya, dia merasa tenang. Karena baginya, mimpi buruknya justru sedang tidur nyenyak di kamar sebelah, bermimpi tentang hal-hal yang tidak masuk akal.
Share this novel