BAB 5: Sarang Ular Berbulu Domba

Fantasy Series 67

Kereta kuda mewah berlapis emas itu berhenti perlahan di depan gerbang besi raksasa bertuliskan lambang mawar berduri: Klan Rosewald.

Mansion itu megah. Terletak di atas bukit hijau yang subur, dikelilingi kebun anggur seluas ratusan hektar. Menara-menara batu putih menjulang tinggi, memantulkan cahaya matahari sore yang keemasan.

Bagi rakyat biasa, ini adalah surga.

Bagi Jin Mu-Hwal?atau kini Kael Draven?ini hanyalah sangkar emas yang bau busuknya tertutupi oleh parfum mahal.

"Bau," gumam Kael pelan, hidungnya yang tajam mencium sesuatu yang tidak bisa dideteksi manusia biasa. "Bau pengkhianatan. Lebih amis daripada darah di arena tadi."

Elara, yang sedang merapikan gaunnya di dalam kereta, menoleh bingung. "Hah? Bau apa? Ini kan wangi bunga mawar sama pupuk organik pilihan, Kael. Kamu pasti lapar jadi halusinasi penciuman."

Kael tidak menjawab. Matanya yang hitam pekat menyapu setiap jendela, setiap bayangan di balik tirai, dan setiap penjaga yang berdiri kaku di gerbang. Dia melihat ketegangan di bahu mereka. Mereka bukan menyambut tuan putri pulang; mereka sedang berjaga-jaga dari invasi.

"Pintu terbuka!" teriak seorang penjaga gerbang, suaranya tegang.

Gerbang besi bergeser berat. Kereta melaju masuk ke halaman utama. Ratusan pelayan berbaris rapi di kedua sisi jalan setapak, kepala menunduk hormat. Tapi Kael bisa merasakan aura mereka. Takut. Was-was. Beberapa di antaranya bahkan memegang belati tersembunyi di balik lipatan baju.

Klik.

Pintu kereta terbuka. Elara melompat turun dengan ringan, wajahnya berseri-seri seolah baru pulang dari piknik, bukan membawa pembunuh massal.

"Aku pulang!" seru Elara lantang, merentangkan tangan. "Bawa serta tamu spesialku!"

Dari barisan pelayan, seorang pria tua berambut perak melangkah maju. Dia mengenakan seragam kepala pelayan yang rapi tanpa cela, tapi matanya sipit licik. Itu Sebastian, kepala pelayan setia... bukan untuk Elara, tapi untuk Lord Adrian, putra sulung sang Duke.

"Selamat datang, Tuan Putri," ucap Sebastian membungkuk dangkal, tanpa sedikitpun rasa hangat. Matanya lalu beralih tajam ke sosok di belakang Elara. "Dan... makhluk apa ini yang Anda bawa masuk ke rumah suci Rosewald?"

Suasana hening seketika. Angin berhembus kencang, menerbangkan debu darah yang masih menempel di jubah robek Kael.

Kael melangkah turun. Kakinya yang telanjang (sepatunya hilang di arena) menyentuh batu marmer dingin. Dia tidak menunduk. Dia menatap Sebastian dengan pandangan merendahkan, seolah sedang melihat serangga yang berani bicara.

"Makhluk?" ulang Kael, suaranya rendah namun menusuk telinga semua orang. "Aku adalah tamu yang dibawa oleh orang gila ini. Jika kau punya masalah dengan itu, sampaikan pada tuannya. Jangan buang waktu bernapas di hadapanku, manusia tua."

Wajah Sebastian memerah padam karena marah dan malu di depan ratusan bawahan. "Berani sekali kau! Kau lupa posisimu, budak terkutuk? Di sini aturan Klan Rosewald berlaku! Penjaga!"

Sepuluh penjaga bersenjata tombak segera maju mengepung Kael. Ujung tombak mengarah ke leher dan dada sang mantan Raja Iblis.

"ELARA!" bentak Sebastian. "Perintahkan monster ini untuk menyerah, atau kami akan melumpuhkannya secara paksa demi keamanan mansion!"

Elara menghela napas panjang, memijat pelipisnya. "Ya ampun, Sebastian. Lagi-lagi trope 'Pelayan Setia yang Overprotektif'? Kita sudah bahas ini di Bab 1 lho, kalau karakter kayak kamu biasanya endingnya tragis karena kurang baca situasi."

Sebastian melongo. "Apa... apa yang Anda katakan, Tuan Putri?"

"Lupakan," potong Elara, lalu menatap Kael. "Kael, jangan bunuh mereka ya. Cukup kasih 'pelajaran' saja. Ingat, kita mau cari tempat mandi, bukan bikin kuburan baru di halaman depan."

Kael tersenyum miring. Senyum yang membuat suhu udara turun drastis. Es tipis mulai membentuk di sekitar sepatu para penjaga.

"Mandi? Baiklah. Tapi sebelum itu, aku harus membersihkan sampah yang menghalangi jalan."

Tanpa aba-aba, Kael bergerak.
Bzzzt!

Dia tidak menggunakan jurus besar. Dia hanya menggunakan jari telunjuknya, mengayunkan satu gerakan cepat horizontal.

SHING!

Sepuluh penjaga itu tersentak mundur. Tombak-tombak mereka jatuh berdenting. Tidak ada darah yang tumpah. Tapi ketika mereka mencoba mengangkat tangan, mereka menyadari bahwa tali sepatu, ikat pinggang, dan bahkan lapisan luar baju zirah mereka telah terpotong rapi menjadi dua bagian. Celana mereka melorot, baju mereka terbuka, memperlihatkan tubuh gemetar yang penuh keringat dingin.

Mereka lumpuh bukan karena luka, tapi karena teror murni. Mereka sadar, jika ayunan tadi bergeser satu milimeter saja, leher mereka sudah terpisah dari badan.

Kael berjalan melewati mereka yang kini sibuk menarik celana sambil gemetar. Dia berhenti tepat di depan Sebastian yang wajahnya pucat pasi. Tenggorokannya tercekat, ia menelan ludah dengan susah payah.

"Dengar baik-baik, tikus berjas," bisik Kael, membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan si kepala pelayan. "Aku tidak peduli siapa yang kau layani. Aku tidak peduli siapa kakakmu, ayahmu, atau rajamu. Jika kau atau siapa pun di rumah ini mencoba menyentuhku dengan niat membunuh..."

Kael mengangkat tangannya, menunjukkan kuku-kukunya yang hitam legam.
"...aku akan menguliti kalian hidup-hidup, lalu menjemur kulit kalian di taman mawar itu sebagai hiasan. Mengerti?"

Sebastian ingin membentak, tapi lidahnya kelu. Aura kematian yang dipancarkan Kael begitu padat sehingga lututnya lemas. Dia jatuh terduduk di atas batu marmer, napasnya tersengal-sengal.

"J-jelas..." gagap Sebastian.

"Bagus." Kael berdiri tegak lagi, menoleh ke Elara yang sedang bertepuk tangan pelan.

"Wih! Cool banget! Itu tadi jurus apa? Ngintimidasi tanpa darah? Klasik tapi efektif!" puji Elara antusias. "Ayo, Kael! Kamar mandiku di sayap timur. Air panasnya udah siap, aku suruh mereka siapin dari tadi pas kita masih di jalan."

Mereka berdua meninggalkan kerumunan pelayan yang masih syok dan ketakutan. Sebastian tetap duduk di tanah, menatap punggung Kael yang menjauh dengan tatapan ngeri.

"Monster..." batinnya gemetar. "Tuan Putri benar-benar membawa iblis ke dalam rumah ini. Lord Adrian harus tahu ini. Kita harus menghabisinya malam ini juga, sebelum dia terlalu kuat!"

 

DI RUANG KELUARGA UTAMA

Di lantai dua, di balik pintu kayu oak yang tebal, sepasang mata tajam mengamati kejadian di halaman melalui teropong sihir.

Itu Lord Adrian Rosewald. Pria berusia 25 tahun dengan rambut pirang sempurna dan senyum yang terlalu manis untuk dipercaya. Dia meletakkan teropongnya, lalu mengambil gelas anggur di meja.

"Jadi," ucapnya pelan pada bayangan gelap yang muncul dari sudut ruangan. "Adikku yang bodoh itu membawa pulang seekor anjing hitam yang bisa menggigit tangan pemiliknya."

Bayangan itu mengangguk. "Dia berbahaya, Tuan. Dia memotong baju zirah baja hanya dengan jari. Kekuatannya tidak terdeteksi oleh sensor mana kita. Mungkin dia penyihir gelap dari wilayah terlarang."

Adrian tertawa kecil, memutar-mutar gelasnya. "Penyihir gelap? Bagus. Semakin gelap semakin baik."
Matanya berkilat licik. "Jika dia sekuat itu, sayang sekali dibuang. Bayangkan jika kita bisa mengendalikan dia. Dengan kekuatan itu, aku bisa menyingkirkan Ayah, menduduki posisi Duke, dan menaklukkan kerajaan tetangga."

"Tapi Tuan," kata bayangan itu ragu. "Dia terlihat tidak stabil. Gila."

"Gila?" Adrian tersenyum sinis. "Orang gila mudah dikendalikan jika kau tahu tombolnya. Dan tombolnya..." Adrian menatap ke arah jendela dimana Elara sedang tertawa riang di kejauhan. "...adalah adikku yang aneh itu."

Dia menegakkan badan, merapikan jas mewahnya.
"Siapkan racun Sleeping Death dosis tinggi. Campurkan ke dalam air mandi tamu kita malam ini. Kita uji dulu seberapa kuat 'kulit besi'nya. Jika dia bertahan... berarti dia layak jadi alatku. Jika mati... yah, setidaknya sampah terkutuk itu hilang dari wajah bumi."

"Siap, Tuan," jawab bayangan itu sebelum menghilang kembali ke kegelapan.

Adrian menatap pantulan dirinya di cermin, merapikan kerah bajunya.
"Selamat datang di keluarga Rosewald, Kael Draven," bisiknya dingin. "Di sini, senyuman lebih tajam daripada pedang. Dan aku akan memastikan kau belajar itu dengan cara yang menyakitkan."

 

DI KAMAR MANDI MEWAH ELARA

Sementara intrik mematikan direncanakan di ruang keluarga, Kael Draven berdiri termenung di tengah kamar mandi berukuran ruang dansa. Kolam air panas alami mengepul dengan aroma lavender. Uap air membuat suasana terasa seperti mimpi.

Elara sudah pergi ganti baju, meninggalkan Kael sendirian dengan beberapa botol sabun dan handuk bersih.

Kael menatap air yang jernih itu. Refleksinya menunjukkan sosok kurus dengan mata hitam pekat dan bekas luka di sekujur tubuh.
'Racun,' batinnya tajam. Instingnya berteriak. Ada sesuatu yang aneh di udara ruangan ini. Aroma lavender itu... terlalu manis. Terlalu sempurna. Seolah menutupi bau kimia pahit yang sangat halus.

Dia mendekatkan jari ke permukaan air. Sedikit Gi dialirkan ke ujung jarinya, menyentuh air.
Szzzt.

Asap tipis berwarna ungu keluar dari titik sentuhan itu. Racun bereaksi terhadap Gi murni miliknya.

"Racun tidur tingkat tinggi," gumam Kael, matanya berkilat gelap. "Dasar bangsawan kotor. Baru juga datang sudah disambut dengan racun di air mandi?"

Dia seharusnya marah. Dia seharusnya keluar dan membunuh siapa pun yang meracuni air ini.
Tapi tiba-tiba, ide gila muncul di kepalanya. Ide yang sangat Mad Demon.

"Jika mereka ingin bermain racun," bisiknya pada uap air, "maka aku akan memberi mereka pertunjukan racun terbaik dalam hidup mereka."

Kael tidak menghindari air itu. Sebaliknya, dia justru membenamkan seluruh tubuhnya ke dalam kolam beracun itu.
Tubuhnya menyerap racun itu. Meridiannya yang tersumbat sedikit demi sedikit mulai "memakan" racun tersebut sebagai nutrisi aneh, mengubahnya menjadi energi gelap baru. Rasa perih di lukanya hilang, digantikan oleh sensasi dingin yang menyenangkan.

Dia tertawa kecil di dalam air, gelembung-gelembung ungu muncul di permukaannya.
"Terima kasih untuk makan malam pembuka ini, Tuan Adrian. Besok malam, aku akan membalas undanganmu dengan 'hadiah' yang tak akan pernah kau lupakan."

Di luar pintu, langkah kaki Elara terdengar mendekat.
"Kael? Udah siap belum? Aku bawa baju baru buat kamu! Jangan lama-lama nanti airnya dingin lho!"

Kael bangkit dari air, tubuhnya kini bersih, kulitnya tampak lebih pucat namun bercahaya aneh, dan matanya semakin hitam pekat. Dia meraih handuk, tersenyum lebar ke arah pintu.

"Sebentar, Wanita Gila," jawabnya santai. "Aku sedang menikmati... rendaman spesial ini."

Permainan kucing dan tikus di Klan Rosewald resmi dimulai.
Dan tikus-tikus itu tidak sadar, bahwa mereka baru saja mengundang Naga masuk ke dalam lubang mereka.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience