PROLOG: Tawa Terakhir Sang Iblis Gila

Fantasy Series 67

Langit di puncak Gunung Cheon-Wol tidak sedang menangis. Langit itu sedang memuntahkan darah.

Hujan merah pekat mengguyur reruntuhan kuil batu purba. Dulu, tempat ini megah dan suci. Kini? Hanya tinggal puing hangus yang mengepul.

Bau anyir besi bercampur daging gosong begitu menyengat. Udara terasa berat dan lengket di tenggorokan, seolah dunia sendiri sedang tersedak oleh kematian massal.

Di tengah lapangan lumpur darah itu, ribuan tubuh tergeletak tak bernyawa.

Mereka mengenakan jubah merah menyala dengan lambang Tengkorak Berapi di dada. Anggota Hwa-Goo Hyeol-Gyo.

Bagi mereka, itu nama yang agung. Tapi bagi Jin Mu-Hwal, itu hanya label bagi sekumpulan semut yang berani bermimpi menjadi naga.

Dan di antara lautan mayat itu, hanya ada satu sosok yang berdiri tegak.

Jin Mu-Hwal. Sang Mad Demon. Cheon-Wol Ma-Joo.

Napasnya teratur. Tidak terengah. Tidak gemetar.

Bahunya naik-turun dengan ketenangan yang mengerikan. Seolah ia baru saja menyelesaikan urusan sepele di kebun belakang, bukan membantai tiga ribu ahli bela diri tingkat tinggi seorang diri.

Ia menunduk, menatap pedang panjang di tangan kanannya?Cheon-Ma-Kum.

Bilah besi hitam legam itu kini berubah warna menjadi merah gelap. Darah kental masih menetes dari ujungnya ke lumpur.

Tik. Tik. Tik.

Bunyinya berirama dengan gemuruh yang menggelegar di kejauhan.

Jin Mu-Hwal menghela napas panjang, lalu mendengus kasar. Suaranya penuh dengan jijik yang mendalam.

"Dasar sampah," gumamnya pelan. Namun, suaranya terdengar jelas menembus deru hujan, serak dan berwibawa.

"Mengklaim diri sebagai 'Sekte Terkuat di Utara'. Membual sebagai 'Pewaris Api Abadi'. Hah? Mana apinya?"

Ia menyeringai tipis.

"Yang kulihat hanyalah lilin basah yang padam sebelum sempat menyala. Nista benar kelakuan kalian. Sok angker, namun lembek bagai bubur bayi."

Ia melangkah maju. Sepatunya yang telah robek menginjak wajah salah satu mayat?seorang Hwi-Joo dari kultus itu. Wajah tua itu penyok, matanya melotot kosong menatap langit yang tak peduli.

"Wajahmu sungguh memalukan, Tua Bangka," kata Jin Mu-Hwal sambil menggeleng. Nadanya datar, namun menusuk hingga ke sumsum tulang.

"Mati pun masih membentuk ekspresi layaknya orang yang ketakutan kehilangan harta duniawi. Di mana harga dirimu? Di mana martabat seorang pendekar?"

Ia menekan telapak kakinya sedikit lebih kuat.

"Kau mati layaknya anjing liar yang tertabrak kereta, bukan sebagai ksatria yang gugur dalam pertarungan. Dasar manusia murahan. Sampah yang tidak layak dikubur."

Ia tertawa kecil. Tawa kering. Tanpa sedikitpun kegembiraan. Namun, dipenuhi oleh kegilaan yang merayap di sela-sela giginya.
Tawa seorang raja yang menikmati kehancuran kerajaan musuh.

Namun, di balik tawa itu, ingatan akan pengkhianatan berkedip menyakitkan di benaknya. Bukan ingatan perang, melainkan kenangan yang meremukkan dada.

 

(Kilas Balik: Tiga Hari Sebelumnya)

Malam itu bulan bersinar terang di paviliun pribadi Sekte Cheon-Wol. Angin malam berhembus sejuk, membawa aroma bunga plum yang halus.

Seorang wanita berbaju putih duduk di seberang Jin Mu-Hwal, menuangkan arak ke cawan suaminya.

Wajahnya cantik nan lembut. Matanya selalu memandangnya penuh cinta. Itu Yeo-Rin, satu-satunya insan di dunia ini yang mampu membuat Jin Mu-Hwal menurunkan pedangnya.

"Mu-Hwal," bisik Yeo-Rin pelan. Jari-jarinya yang halus mengusap bekas luka di pipi sang suami.

"Sudahlah. Berhentilah sejenak. Dunia ini tidak akan lari. Mari kita nikmati malam ini."

Ia tersenyum manis.

"Besok... kita pergi ke pulau selatan, ya? Hanya kita berdua. Lupakan sekte, lupakan perang."

Jin Mu-Hwal menatap mata istrinya. Untuk sesaat, topeng Mad Demon-nya luruh. Ia tersenyum tipis. Senyum tulus yang jarang sekali dilihat orang.

"Kau benar, Yeo-Rin," jawabnya lembut, menggenggam tangan istrinya erat. "Aku lelah. Setelah semua ini usai, aku berjanji. Kita akan menghilang."

"Aku akan menjadi petani, dan kau akan menjadi istri petani yang cerewet."

Mereka tertawa. Tawa ringan dan bahagia. Yeo-Rin menyandarkan kepalanya di bahu Jin Mu-Hwal.

"Aku tunggu janji itu, Suamiku. Jangan pernah berdusta padaku."

"Aku tidak pernah berdusta padamu," bisik Jin Mu-Hwal.

Namun, ia tidak tahu... itu adalah kebohongan terakhir yang akan menghancurkan jiwanya.

 

(Kilas Balik: Dua Hari Sebelumnya)

Suasana berubah drastis di ruang latihan utama.

Seorang pemuda kurus dengan kacamata tebal, Gwak, murid paling setia sekaligus paling pengecut milik Jin Mu-Hwal, sedang berguling-guling di lantai sambil memegang perutnya.

"Guru! Guru!" teriak Gwak sambil tertawa terbahak-bahak. Air matanya keluar karena saking lucunya.

"Itu mustahil! Masa Tetua dari Sekte Pedang itu percaya bila Guru memakai kain dalam berwarna merah muda?! Wajah beliau pucat pasi, Guru! Katanya itu adalah tanda kekuatan tertinggi!"

Jin Mu-Hwal duduk santai di atas singgasana, sambil mengunyah buah pir dengan wajah datar.

"Memang warnanya merah muda, Gwak. Istriku yang membelikannya. Katanya agar aku terlihat lebih... ramah."

Gwak semakin terguling-guling, hampir tidak bisa bernapas.

"Ramah?! Guru, Anda itu Mad Demon! Musuh-musuh Anda bakal mati ketawa bila mengetahui rahasia ini! Ini adalah senjata rahasia terbaik kita!"

"Tutup mulutmu, bodoh," omel Jin Mu-Hwal sambil melempar biji buah ke arah Gwak.

Gwak menangkapnya dengan sigap menggunakan mulutnya. Hap!

"Hehe, siap, Guru! Namun serius," kata Gwak tiba-tiba. Wajahnya menjadi sedikit serius meski masih menyeringai.

"Bila nanti perang besar pecah, Guru jangan lupa menyisakan musuh untuk murid. Murid butuh satu nama besar agar dapat cepat terkenal. Berjanjilah, Guru."

Jin Mu-Hwal menatap muridnya itu lama. Ada kilatan aneh di matanya saat itu. Seolah ia ingin mengatakan sesuatu yang penting, namun akhirnya ia hanya menghela napas.

"Baiklah, Gwak. Bila hari itu tiba... pastikan kau berdiri di belakangku."

Ia menatap tajam ke mata muridnya.

"Jangan pernah tinggalkan sisi belakangku, mengerti? Karena hanya di sanalah kau akan aman."

"Siap, Guru! Belakang Guru adalah zona aman nomor satu di seluruh dunia!" seru Gwak bangga, mengepalkan tangan.

Jin Mu-Hwal tersenyum tipis. "Bagus. Ingat janji itu."

 

(Kembali ke Masa Kini: Puncak Gunung Cheon-Wol)

Senyum di wajah Jin Mu-Hwal lenyap. Digantikan oleh tatapan dingin setajam es.

Janji. Semuanya hanyalah janji palsu.

Yeo-Rin? Wanita yang dicintainya ternyata adalah dalang yang memancingnya masuk ke dalam perangkap. Senyum manisnya malam itu adalah topeng untuk menyembunyikan pisau yang akan menusuk dari arah yang paling tidak ia duga.

Gwak? Murid yang ia anggap anak sendiri... justru menjadi orang yang mengaktifkan Formasi Penghancur Dimensi tepat di belakang punggungnya saat ia lengah.

Mereka tahu mereka tidak bisa menang.

Tidak ada satu pun pedang di bawah langit ini yang mampu menembus pertahanan Gi Jin Mu-Hwal dalam pertarungan adil. Maka, mereka memilih jalan paling pengecut: Menghancurkan Langit itu Sendiri.

Tiba-tiba, tanah di bawah kaki Jin Mu-Hwal bergetar hebat.

BRAAAAK!

Dari celah-celah tanah, cahaya ungu gelap meledak keluar. Bukan serangan fisik, melainkan gelombang energi yang langsung menyerang jiwa.

Ribuan simbol rune menyala di udara, membentuk kubah raksasa yang menutupi seluruh puncak gunung.

"Apa ini?!" geram Jin Mu-Hwal. Matanya menyala merah.

Ia mencoba melompat, namun udara mendadak menjadi padat bak timbal cair.

Dari luar kubah cahaya, terlihat bayangan ribuan orang. Aliansi Ortodoks dan Sekte Iblis saingannya telah bergabung.

Mereka semua sedang melakukan ritual gila: Mengorbankan sepuluh ribu nyawa ahli bela diri secara serentak!

Darah dari sepuluh ribu orang itu menguap, menjadi bahan bakar untuk meruntuhkan ruang dimensi.

Mereka tidak menyerang tubuh Jin Mu-Hwal. Mereka menghancurkan ruang tempat ia berdiri!

"Kalian... berani?!" teriak Jin Mu-Hwal. Suaranya menggelegar, memecahkan gendang telinga siapa pun yang masih hidup.

Lalu, muncul dua sosok di depan kubah, melayang di udara. Yeo-Rin dan Gwak.

Wajah Yeo-Rin basah oleh air mata, namun tangannya tetap membentuk segel mantra.

"Maafkan aku, Mu-Hwal... Dunia ini terlalu kecil untuk dua matahari. Kau harus pergi."

Gwak menunduk, tidak berani menatap mata gurunya.

"Maaf, Guru... Murid butuh nama besar. Dan nama Guru... adalah yang terbesar."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience