Bab 8: Sarapan di Atas Pisau Belati

Fantasy Series 67

Matahari pagi menembus jendela tinggi ruang makan Mansion Rosewald, menyinari meja panjang yang biasanya menjadi simbol kemewahan dan kekuasaan Klan Rosewald. Namun pagi ini, udara di ruangan itu terasa lebih dingin daripada ruang mayat.

Duke Valerius duduk di ujung meja. Tangannya yang biasa memegang tongkat kekuasaan kini gemetar halus saat memegang sendok perak. Di sebelahnya, Lord Adrian menunduk dalam-dalam, wajahnya pucat pasi, lingkaran hitam di matanya menunjukkan bahwa ia tidak tidur semalaman. Bayangan wajah Kael yang tersenyum lebar masih menari-nari di pelupuk matanya setiap kali ia berkedip.

Di seberang mereka, Elara duduk dengan semangat, menyendok telur dadar dengan riang.
"Selamat pagi, semuanya! Cuaca cerah ya? Cocok banget buat plot development yang positif!" serunya ceria.

Duke Valerius hanya menggeram pelan, tidak berani menatap putrinya.
Tiba-tiba, pintu ruang makan terbuka.
Kael Draven masuk.

Langkahnya tenang, tanpa suara, seolah kakinya tidak menyentuh lantai melainkan melayang di atas udara. Ia mengenakan jubah hitam sederhana namun memancarkan aura berwibawa yang membuat para pelayan di sudut ruangan menahan napas. Matanya yang hitam pekat menyapu ruangan, berhenti sebentar pada Duke, lalu pada Adrian, sebelum akhirnya duduk di kursi kosong di samping Elara.

"Pagi," ucap Kael singkat. Suaranya berat, datar, namun terdengar seperti lonceng kematian di telinga keluarga Duke.

"S-selamat pagi, Tuan Draven," sapa Duke Valerius terbata-bata, suaranya serak. "Apa... apa tidurmu nyenyak?"

Kael mengambil cangkir teh hangat yang dihidangkan pelayan. Dia meniup uapnya perlahan, matanya menatap cairan cokelat itu dalam-dalam.
"Tidur hanyalah latihan kecil untuk kematian, Tuan Duke. Dan malam ini, aku belajar banyak hal tentang betapa tipisnya garis antara hidup dan mati bagi sebagian orang di rumah ini."

Adrian menelan ludah dengan susah payah. "M-maksud Tuan?"

Kael meletakkan cangkirnya. Ting. Suaranya bergema tajam.
"Aku mendengar ada tikus-tikus yang mencoba menyusup ke kamarku tadi malam. Tikus-tikus yang sangat berani, hingga rela menjual nyawa mereka demi beberapa kantong emas dari tuan rumah mereka sendiri."

Kael menoleh perlahan, tatapannya menusuk langsung ke jiwa Adrian.
"Di negeriku, ada pepatah: 'Anjing yang menggonggong tuannya akan kehilangan giginya sebelum matahari terbit.' Apakah di negeri ini kebijaksanaannya berbeda, Tuan Adrian?"

Wajah Adrian memerah, lalu berubah putih seketika. "A-aku tidak tahu apa yang kau bicarakan! Itu pasti salah paham! Aku tidak pernah menyewa..."

"Cukup," potong Kael. Suaranya tidak keras, tapi tekanan udara di ruangan itu tiba-tiba meningkat drastis, seolah gravitasi menjadi sepuluh kali lipat lebih berat. Sendok di tangan Duke Valerius jatuh berdenting ke piring.

"Aku tidak butuh pengakuan," lanjut Kael dingin. "Aku hanya butuh hasil. Kau, Duke Valerius, dan kau, Lord Adrian. Kalian telah mencoba meracuni tamu di meja makanmu sendiri. Kalian telah mengirim pembunuh bayaran untuk mencabut nyawaku di saat aku beristirahat. Dalam hukum dunia persilatan... dalam hukum keadilan sejati, tindakan ini layak dibalas dengan pemusnahan seluruh klan."

Lady Catherine, ibu tiri Elara, menutup mulutnya tertahan jeritan. "Tuan Draven, mohon... kami..."

Kael mengangkat tangannya, menghentikan ucapan wanita itu.
"Tapi hari ini, aku sedang dalam suasana hati yang langka. Niat membunuhku sedang tumpul. Mungkin karena anggur tadi malam, atau mungkin karena kebodohan kalian yang begitu murni hingga lucu."

Kael bersandar ke belakang kursinya, jari-jarinya mengetuk meja perlahan. Tap. Tap. Tap. Setiap ketukan terasa seperti detak jantung yang semakin cepat bagi Duke dan Adrian.

"Maka, aku berikan satu kesempatan. Satu-satunya kesempatan yang akan kalian terima seumur hidup kalian," ucap Kael, suaranya rendah namun jelas terpatri di udara. "Sebelum matahari mencapai puncak langit hari ini, aku ingin melihat dua gulungan perkamen di atas meja ini."

"Apa... apa isinya?" tanya Duke Valerius dengan suara hampir tak terdengar.

"Surat pengunduran diri," jawab Kael enteng. "Kau, Valerius, mengundurkan diri dari gelar Duke karena alasan kesehatan dan kegilaan mendadak. Kau, Adrian, mengundurkan diri dari hak waris dan status bangsawan, memilih untuk hidup sebagai rakyat biasa di wilayah terpencil."

"Mustahil!" seru Adrian tiba-tiba, keberaniannya muncul karena desakan putus asa. "Kami adalah darah biru! Kami tidak bisa menyerahkan kekuasaan pada... pada seorang budak terkutuk seperti kau! Ayah, panggil penjaga! Panggil penyihir istana!"

Kael tertawa.
Bukan tawa geli. Bukan tawa marah. Itu adalah tawa yang menyedihkan, seolah ia sedang menertawakan anak kecil yang mengancam raksasa dengan lidi.

"Penjaga? Penyihir?" ulang Kael sambil menggeleng pelan. "Tuan Muda Adrian, apakah kau masih belum sadar? Para pembunuh kelas S yang kau kirim tadi malam kini berkeliaran di luar gerbang, menangis histeris karena takut pada bayangan mereka sendiri. Mereka tidak akan kembali. Dan jika kau memanggil penjaga istana..."

Kael tiba-tiba menghilang dari kursinya.
Dalam kedipan mata, ia sudah berdiri tepat di belakang Adrian, membungkuk, bisikannya terdengar langsung di telinga pemuda itu, dingin seperti es neraka.

"...maka aku akan mengubah ruang takhta kerajaan kecil ini menjadi kolam darah sebelum mereka sempat menginjakkan kaki di halaman mansion. Apakah kau ingin mencoba? Apakah nyawa ayahmu, ibumu, dan seluruh pelayan di sini cukup berharga untuk dipertaruhkan demi ego kacauanmu?"

Adrian membeku. Napasnya tercekat. Ia merasakan hawa dingin yang menusuk tulang belakangnya, sebuah niat membunuh yang begitu murni dan purba sehingga insting manusianya memerintahkan tubuhnya untuk lumpuh.

"A-aku..." Adrian tergagap, air mata mulai menggenang di sudut matanya karena teror murni.

"Duduk," perintah Kael lembut.
Adrian jatuh kembali ke kursinya seperti boneka yang talinya diputus.

Kael kembali ke tempat duduknya, mengambil roti panggang, dan mengoleskan selai dengan gerakan anggun seolah tidak baru saja meneror seorang bangsawan tinggi.
"Waktu kalian menghitung mulai sekarang. Matahari belum terlalu tinggi. Aku sarankan kalian menulis dengan tulisan tangan yang rapi. Jika tulisannya jelek... aku mungkin akan menganggapnya sebagai bentuk perlawanan."

Suasana hening mencekam. Hanya suara kunyahan Elara yang terdengar renyah di tengah ketegangan yang bisa diiris dengan pisau itu.

Elara menelan makanannya, lalu menepuk punggung tangan Kael.
"Wih, Kael! Speech-nya keren banget! Villain monologue tingkat dewa! Poin karisma naik drastis! Ayah sama Kakak Adrian udah freeze total kayak kena status effect 'Fear' level maksimal. Ini dia scene pengambilan alih kekuasaan yang aku tunggu-tunggu! Perfect execution!"

Kael menoleh ke Elara, alisnya bertaut dalam. Sekali lagi, gadis ini mengeluarkan kata-kata asing yang tidak memiliki makna baginya.
"Villain monologue? Status effect?" gumam Kael pelan, matanya menyipit curiga. "Wanita aneh. Otakmu benar-benar dihuni oleh roh dari dimensi lain yang kacau. Bagaimana bisa kau merayakan momen penentuan nasib seseorang dengan sorak-sorai seperti pedagang di pasar?"

Elara tertawa, mengabaikan hinaan halus itu. "Ya namanya juga storytelling, Kael! Kalau nggak ada dramanya, nanti pembaca?eh, maksudku, orang-orang?bilang ceritanya datar. Lagian, mereka kan emang jahat, pantas dapat balasan seindah itu dari kamu!"

Kael menghela napas panjang, merasa sakit kepala yang familiar menyerang pelipisnya.
"Aku tidak mengerti bahasamu, Bocah Gila. Kau berbicara tentang 'pembaca', 'cerita', dan 'drama' seolah hidup ini hanyalah sandiwara kertas yang bisa kau tulis sesukamu. Ketahuilah, darah yang tumpah hari ini adalah nyata. Nyawa yang hilang tidak akan kembali. Tidak ada 'bab berikutnya' bagi mereka jika aku memutuskan untuk mengakhiri mereka sekarang."

"Iya, iya, serius amat sih," elak Elara sambil menyendok lagi telurnya. "Pokoknya lanjutkan! Jangan kasih kendor! Show them who's boss!"

Kael menggeleng pelan, kembali meminum tehnya. Ia memutuskan untuk tidak lagi mencoba memahami logika gadis ini. Bagi Kael, Elara adalah anomali. Sebuah teka-teki hidup yang berbahaya, namun untuk saat ini, kehadirannya justru memberikan lapisan perlindungan politik yang unik. Siapa yang akan menyerang "monster" yang dilindungi oleh putri Duke yang "gila"?

Duke Valerius, dengan tangan gemetar, akhirnya mengambil pena dan selembar perkamen mahal di depannya. Air matanya menetes di atas kertas itu, menghapus beberapa tinta.
"Aku... aku menulis," bisik Duke pasrah. "Demi keselamatan keluarga... aku menulis."

Adrian pun mengikuti, bahunya terguncang oleh isak tangis tertahan. Mimpi buruknya tentang menjadi Duke Agung telah hancur berkeping-keping, digantikan oleh realitas menjadi manusia biasa yang harus bersyukur masih bisa bernapas.

Kael mengamati mereka berdua dengan tatapan tanpa emosi. Di dalam hatinya, Raja Iblis tersenyum puas.
Inilah cara terbaik menaklukkan dunia. Bukan dengan menghancurkan segalanya sekaligus, tapi dengan mematahkan semangat musuh perlahan-lahan, membiarkan mereka menyerahkan mahkota mereka sendiri dengan tangan gemetar.

"Matahari semakin tinggi," ucap Kael tiba-tiba, membuat Duke dan Adrian tersentak dan menulis lebih cepat. "Jangan membuatku menunggu. Kesabaranku bukanlah sumber daya yang tak terbatas."

Di luar jendela, angin berhembus membawa kabar perubahan. Burung-burung gagak mulai berkumpul di menara mansion, seolah mencium bau kekuasaan yang akan segera berganti tangan. Dan di dalam ruang makan itu, sebuah dinasti lama sedang mati, digantikan oleh era baru yang dipimpin oleh seorang Iblis yang minum teh dengan tenang.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience