Series
67
Fajar di Penjara Budak Blackthorn tidak membawa harapan.
Ia hanya membawa bau busuk mayat semalam dan dentingan rantai yang menyeret para tawanan menuju tempat penyembelihan bernama "Arena Kematian".
Jin Mu-Hwal diseret keluar sel oleh dua penjaga yang kini menjaga jarak aman tiga langkah. Mata mereka takut bertemu dengan tatapan hitam pekat sang budak.
Insiden semalam?di mana seorang senior lari terbirit-birit hingga buang air kecil di celana?sudah jadi gosip panas di seluruh blok.
"Maju, Mata Iblis!" bentak salah satu penjaga, suaranya bergetar meski berusaha garang. "Hari ini giliranmu menghibur tuan-tuan bangsawan. Jangan harap ada belas kasihan."
Jin Mu-Hwal diam saja. Ia melangkah tenang, menyeret rantai di kakinya.
Sret. Sret.
Suara itu bagaikan irama musik kematian baginya. Dalam hati, ia merasa nama "Jin Mu-Hwal" terdengar asing di lidah dunia ini. 'Nanti,' batinnya dingin. 'Aku butuh nama baru. Nama yang lebih tajam dari pedang, lebih gelap dari malam ini.'
Mereka tiba di gerbang besi raksasa. Dari baliknya, gemuruh suara ribuan orang terdengar jelas. Sorak sorai, teriakan haus darah, dan dentingan koin yang dipertaruhkan.
"Selamat datang di Neraka Dunia, Nomor 734!"
Penjaga itu mendorong punggungnya keras-keras hingga Jin Mu-Hwal terjungkal ke pasir berdebu di tengah arena.
BRAK!
Gerbang tertutup rapat.
Kini ia sendirian. Di tengah arena seluas dua ratus langkah. Di sekelilingnya, tribun batu penuh sesak manusia. Bangsawan berpakaian mewah duduk di depan memegang gelas anggur. Di belakang mereka, rakyat biasa berteriak histeris.
"Lihat! Itu si Mata Hitam!"
"Dijamin mati dalam sepuluh detik!"
"Ayo bunuh dia, Monster!"
Di seberang arena, gerbang lain terbuka.
Keluar tiga sosok raksasa setinggi dua meter. Mereka adalah Orc Gladiator. Otot sebesar batu karang, kulit hijau kecokelatan yang tebal, kapak perang bergerigi di tangan, dan mata merah yang hanya mengenal lapar dan pembantaian.
"Sembelih dia, Grok!" teriak seorang bangsawan dari VIP. "Aku taruh seratus emas!"
Orc bernama Grok itu menggeram, air liur menetes. "Manusia kecil... pecah... mudah!"
Ketiganya berlari menerjang. Tanah bergetar. Kapak diayun tinggi siap membelah tubuh Jin Mu-Hwal menjadi dua.
Penonton menahan napas. Ini pasti pembantaian satu arah.
Namun...
Jin Mu-Hwal tetap tenang. Wajahnya bahkan terlihat bosan. Ia membetulkan kuda-kudanya, membentuk pola yang asing dan mematikan di mata dunia ini.
Ia membisikkan kalimat pendek, namun suaranya terdengar jelas hingga ke tribun paling belakang.
"Heavenly Demon Sword Art, 1st Step: Blood Moon Slash."
Seketika, udara di sekitar tangannya berubah. Energi hitam bercampur merah gelap berkumpul di ujung jari telunjuknya, membentuk bilah pedang tipis yang bergetar hebat.
Ces!
Hanya satu gerakan. Satu tebasan horizontal yang begitu cepat hingga mata telanjang tak sanggup mengikutinya.
Para Orc itu masih berlari dua langkah lagi sebelum tiba-tiba berhenti serentak. Mata mereka melotot bingung.
"Hah? Dia cuma mengibas tangan?" tanya seorang penonton.
Tiba-tiba...
Garis merah tipis muncul di dada ketiga Orc itu. Memanjang dari bahu kiri ke pinggang kanan.
BZZZTT!
Darah panas meledak keluar seakan tekanan di tubuh mereka dilepaskan paksa. Daging mendidih, tulang retak, dan dalam sekejap tiga raksasa itu roboh berkeping-keping.
Pasir arena berubah menjadi lautan merah pekat.
Hening.
Seluruh arena mendadak sunyi senyap. Ribuan mulut ternganga. Gelas anggur jatuh pecah.
Mereka baru melihat budak kurus kering, tanpa senjata, tanpa mantra, membantai tiga Orc elit hanya dengan satu kibasan jari.
Jin Mu-Hwal berdiri tegak, tak setetes darah pun menempel di tubuhnya. Ia menatap jari telunjuknya, lalu menoleh ke arah tribun VIP tepat ke wajah pria gemuk yang paling syok.
Senyum miring terbentuk di bibirnya.
"Darahnya terlalu encer," ucapnya santai, suaranya menggema mencekam. "Kalian menyebut ini Gladiator? Di negeriku, anak anjing pun punya daging lebih keras dari ini."
"GILA! DIA GILA!" teriak seseorang memecah keheningan.
"Itu bukan sihir! Apa itu?!"
"Bunuh dia! Panah! Kirim panah!"
Kepanikan melanda. Para pemanah di tepi arena siap menembak.
Tapi Jin Mu-Hwal tidak menunggu. Ia mendongak menatap langit, lalu tertawa.
Tawanya mulai pelan, lalu makin keras, makin gila, seperti lolongan serigala di malam bulan purnama.
"Heavenly Demon Internal Art, 5th Technique: Demon's Laughing Throat."
BOOM!
Gelombang suara tak kasat mata memancar dari tenggorokannya.
Para pemanah yang menarik tali busur tiba-tiba memegang leher mereka sendiri. Wajah memerah, lalu ungu, lalu hitam. Mulut mereka terbuka lebar mengeluarkan tawa histeris tak wajar, sementara darah mengalir deras dari hidung, telinga, dan mata.
Mati.
Puluhan orang roboh bersamaan, tertawa sampai ajal menjemput dengan wajah penuh teror.
Kekacauan total terjadi di tribun. Wanita pingsan, pria gemetar. Mereka sadar... ini bukan pertandingan. Ini eksekusi massal.
Jin Mu-Hwal menghentikan tawanya. Ia membuka tangan lebar-lebar.
"Siapa berikutnya?" tantangnya. "Atau kalian cuma sekumpulan tikus berbulu mewah yang berani berteriak dari jauh?"
Di sudut paling atas tribun, seorang gadis muda berbaju biru muda duduk terpaku.
Itu Lady Elara von Rosewald. Matanya yang biasanya berbinar karena halu, kini membelalak lebar.
Ia memegang buku catatan kecilnya erat-erat, tangan gemetar.
"Tidak masuk akal..." bisiknya, napasnya tersengal. "Itu bukan trope villain biasa! Biasanya mereka kalah dulu atau monolog panjang! Ini langsung pembunuhan massal tanpa jeda! Penulis apa yang bikin karakter sekuat ini?!"
Elara menatap Jin Mu-Hwal yang sedang membersihkan tangan santai.
"Tapi..." Elara menelan ludah, jantungnya berdegup kencang. "Auranya dapet banget sih. Dingin, sadis, tapi... keren parah."
Wajahnya memerah. Ia tutup muka pakai buku.
"Ah sial! Kenapa aku malah jadi terpesona?! Sari, sadar! Dia itu psikopat berjalan!"
Di bawah sana, Jin Mu-Hwal merasakan tatapan aneh itu. Ia mendongak, mata hitamnya bertemu dengan mata Elara.
Untuk sesaat, ia merasa ada yang berbeda. Auranya tidak seperti manusia Vorthas lainnya. Ada getaran... aneh. Seperti frekuensi dari dimensi lain.
"Siapa kau?" batinnya. "Kenapa kau tidak lari, malah... tersipu?"
Tiba-tiba, gerbang utama arena terbuka lagi.
Kali ini keluar sosok tinggi besar berjubah hitam, membawa tongkat sihir bersinar ungu. Aura Mana-nya kuat membuat udara bergetar.
Archmage Valtor Muda. Salah satu petarung yang belum pernah terkalahkan di arena itu.
"Berani sekali kau membuat keributan di tempatku, sampah bermata hitam," suaranya bergema diperkuat sihir. "Aku ajarkan arti sakit yang sebenarnya. Fireball Storm!"
Ratusan bola api muncul di langit, siap menghujani Jin Mu-Hwal.
Penonton bersorak lagi. "Archmage! Bakar dia jadi abu!"
Jin Mu-Hwal menatap hujan api itu. Sudut bibirnya terangkat.
"Api?" gumamnya remeh. "Bagus. Aku memang butuh sedikit kehangatan."
Kakinya menghentak tanah. Retakan menjalar ke mana-mana.
"Heavenly Demon Movement, 3rd Form: Phantom Void Step."
Sret!
Tubuhnya menghilang.
Tersisa tiga bayangan kabur di tempatnya tersenyum sinis. Sementara Jin Mu-Hwal yang asli sudah muncul tepat di depan wajah Archmage itu.
"Terlalu lambat, Tuan Penyihir," bisiknya di telinga musuh. "Sihirmu indah. Tapi sayang, kau lupa satu hal."
Tangan kanannya mencengkeram kuat dada penyihir itu.
"Heavenly Demon Palm, 2nd Strike: Crimson Lotus Explosion."
Mata Valtor membelalak ngeri. "Apa??"
BOOM!!!
Ledakan merah mekar di dadanya, merobek tubuh dari dalam seperti bunga teratai daging yang mengerikan. Hujan api di atas padam seketika, berganti hujan darah dan kain jubah.
Jin Mu-Hwal mendarat ringan, bersih tanpa noda. Ia menatap mayat itu, lalu menoleh ke penonton yang kini pucat pasi dan banyak yang muntah ketakutan.
"Ini baru namanya pertunjukan," ucapnya lantang, menyebarkan tangan seolah minta tepuk tangan. "Ada yang mau coba lagi? Atau pesta darah ini sudah selesai?"
Keheningan panjang menyelimuti arena. Hanya angin yang berhembus di lautan darah.
Di tribun atas, Elara menurunkan bukunya. Matanya berbinar liar campuran horor dan kagum.
"Oke," katanya pelan, keputusan gila terbentuk. "Aku harus punya dia. Pasti Main Character ini! Dan kalau dia MC, berarti aku Heroine-nya kan? Hukum alam novel!"
Elara berdiri, merapikan gaunnya, dan berteriak sekuat tenaga mengabaikan segalanya.
"HEI! TUAN MATA HITAM! JANGAN BUNUH SEMUA ORANG DULU! AKU MAU BELI KAU!"
Jin Mu-Hwal mendongak, alisnya terangkat.
Untuk pertama kalinya hari itu, ekspresi datarnya retak digantikan kebingungan total.
"Beli?" batinnya.
"Wanita gila apa lagi ini?"
Share this novel