Series
67
Hening.
Hening yang begitu pekat hingga suara lalat terbang pun terdengar seperti guntur.
Ribuan pasang mata di Arena Blackthorn tertuju pada satu titik: Lady Elara von Rosewald, putri kedua dari Klan Rosewald yang terkenal eksentrik, yang baru saja berteriak lantang di tengah lautan darah.
"AKU MAU BELI KAU!"
Jin Mu-Hwal, yang masih berdiri di atas mayat Archmage Valtor, menatap gadis itu dengan alis terangkat setinggi mungkin. Ekspresi datarnya retak, digantikan kebingungan murni yang jarang terlihat di wajah seorang Raja Iblis.
"Beli?" batinnya.
"Apakah ini jebakan? Penyihir ilusi yang mau menjebak jiwaku? Atau tubuhnya wadah roh kuno?"
Di tribun, keributan mulai pecah.
"Gila! Putri Elara gila!"
"Dia mau beli pembunuh massal itu?"
"Itu budak terkutuk! Harganya cuma tembaga, tapi nyawanya nggak ada yang berani ambil!"
Seorang petugas arena, pria gemuk berkeringat dingin, segera berlari menghampiri pagar pembatas, membungkuk hormat namun gugup.
"T-Tuan Putri? Apa maksud Anda? Budak Nomor 734 ini sangat berbahaya! Dia baru saja membantai tiga Orc dan seorang Archmage! Kami sarankan biar kami yang menghabisinya demi keamanan Anda!"
Elara turun dari kursinya, melompat ringan ke arena dengan bantuan sihir angin dasar. Gaun biru mudanya berkibar, kontras sekali dengan genangan darah di sekitarnya. Ia tidak peduli. Matanya hanya terkunci pada sosok tinggi kurus di depannya.
"Aku tahu dia berbahaya," kata Elara santai sambil membuka buku catatan.
"Itu sebabnya aku mau dia. Dalam trope novel, villain sekuat ini biasanya butuh Heroine yang bisa 'menjinakkan' mereka. Dan kebetulan, aku lagi butuh love interest tipe dark brooding."
Kael menyipitkan mata. Kata-kata gadis ini tidak masuk akal. Trope? Heroine? Love interest? Bahasa apa ini? Bukan bahasa sihir, bukan bahasa dagang. Ini terdengar seperti omongan orang gila.
"Dengar, Wanita," suara Kael berat dan mengancam, nada bicaranya rendah namun menusuk.
"Jika kau melangkah lebih dekat, aku akan merobek jantungmu dan membiarkannya berhenti berdetak di tanganku. Jangan harap ada belas kasihan hanya karena kau perempuan."
Penonton menahan napas. Ancaman kematian langsung!
Tapi Elara justru tersenyum lebar, pipinya merah.
"Ih, threatening banget! Line-nya dapet parah! Nilai sepuluh buat delivery-nya!" seru Elara sambil tepuk tangan. Lalu menoleh ke petugas. "Berapa harganya? Seratus emas? Seribu? Aku bayar dua kali lipat. Syaratnya, dia ikut aku sekarang. Tanpa rantai."
Petugas itu melongo. "D-Dua ribu emas? Untuk budak kutukan? T-Tentu, Tuan Putri! Segera kami lepaskan!"
Rantai di kaki Kael dibuka. Besi berat itu jatuh ke pasir dengan dentuman keras.
Kael menggosok pergelangan kakinya yang lecet. Ia merasa dihina. Dibeli seperti barang dagangan? Oleh wanita aneh yang tak tahu takut?
Tapi insting bertahan hidupnya berkata lain. Di sini ratusan pemanah siap menembak kalau ia menolak. Mengikuti wanita gila ini sementara waktu adalah strategi terbaik mengumpulkan informasi.
"Baiklah," gumam Kael, langkahnya mantap mendekati Elara. Ia berhenti tepat satu meter di depan gadis itu, menunduk sedikit agar wajahnya sejajar. Mata hitamnya menatap tajam ke dalam jiwa Elara.
"Kau membeli nyawamu sendiri, Wanita. Ingat itu baik-baik."
Elara mendongak, menatap mata hitam pekat itu tanpa kedip. Jantungnya berdegup kencang. Gila, tatapannya intens banget. Kayak mau makan aku tapi juga mau peluk aku. Ini dinamika toxic yang aku cari-cari!
"Aku ingat kok," jawab Elara ceria.
"Oh ya, sebelum pergi, aku perlu tahu namamu. 'Nomor 734' atau 'Mata Iblis' kurang cocok buat nama Main Character. Kamu pasti punya nama keren kan?"
Kael terdiam sejenak.
Ini saatnya.
Nama "Jin Mu-Hwal" terlalu asing, terlalu lembut di lidah dunia barbar ini. Ia butuh nama yang menjadi peringatan bagi dunia. Nama yang terinspirasi dari badai dan maut.
Ia membusungkan dada, aura hitamnya mengembang sesaat, membuat angin berhembus kencang meski langit cerah.
"Aku bukan lagi budak. Aku bukan lagi hantu masa lalu," ucapnya lantang, suaranya bergema hingga ke tribun paling atas.
"Mulai detik ini, panggil aku KAEL DRAVEN."
Kael Draven.
Nama itu terdengar tajam, seperti gesekan logam di atas tulang.
"Kael Draven," ulang Elara, mencoba rasanya di lidah.
"Wah... cool banget! Terdengar kayak nama Dark Lord yang bakal jatuh cinta tragis di akhir cerita! Suka banget!"
Kael mengabaikan ocehan aneh itu. "Ayo bawa aku pergi dari tempat bau ini sebelum aku berubah pikiran dan mengubah arena ini menjadi kuburan massal."
"Siap, Tuan Kael! Kereta kudanya sudah nunggu di gerbang VIP!"
Elara langsung meraih lengan baju Kael yang penuh darah dan robek.
Kael tersentak, hampir secara refleks mematahkan tangan gadis itu. Tapi ia menahan diri. Belum saatnya. Biarkan dia mengantarku ke sarangnya dulu.
Mereka berjalan meninggalkan arena, membelah kerumunan yang memberi jalan dengan wajah pucat. Tak ada yang berani menghalangi Putri Elara dan "Iblis" barunya.
DI DALAM KERETA KUDA MEWAH
Kereta itu luas, dilapisi beludru merah, berbau parfum manis?sangat kontras dengan bau darah yang menempel di tubuh Kael.
Kael duduk di sudut paling jauh, bersila dengan postur meditasi khas Murim. Matanya waspada, mengamati setiap gerak-gerik Elara. Di tangannya, ia sembunyikan pecahan kaca tajam, siap digunakan kapan saja.
Elara duduk di hadapannya, asyik mencoret-coret buku catatan. Suasana hening beberapa saat, sampai Elara tidak tahan.
"Jadi, Kael..." mulai Elara, basa-basi ala novel.
"Kamu marah nggak sih tadi aku beli kamu tiba-tiba? Biasanya character development-nya lambat sih. Harus ada adegan penyelamatan dulu, baru deh cewek nekat beli cowoknya."
Kael membuka satu mata, tatapannya dingin dan tajam.
"Aku tidak mengerti bahasamu, Wanita. Tapi jika kau berharap aku berterima kasih, kau sedang bermimpi buruk. Aku hanya menunda kematianmu untuk saat ini."
Elara tertawa renyah. "Ih, tsundere banget! Bilang aja kamu seneng punya majikan cantik kayak aku."
"Aku tidak punya majikan," desis Kael, aura hitamnya bocor sedikit membuat suhu di dalam kereta turun drastis. Bunga hias di vas langsung layu dan menghitam.
"Aku hanya memanfaatkan situasi. Begitu aku mendapatkan apa yang kuinginkan?kekuatan, informasi, akses ke pusat kekuasaan?aku akan menghancurkan klanmu, rumahmu, dan mungkin juga dirimu."
Harusnya Elara ketakutan. Harusnya lari.
Tapi matanya malah berbinar-binar.
"WOW! Dialogue-nya dapet banget! 'Menghancurkan klanmu'? Itu red flag tingkat dewa! Tapi justru itu yang bikin spicy!"
Elara mencatat cepat di bukunya. Catatan Bab 3: Kael menunjukkan sisi possessive dan destructive. Tanda dia mulai terbuka!
Kael menatap gadis itu dengan pandangan campur aduk: jijik, bingung, dan sedikit kagum pada ketidaktakutannya.
"Wanita," kata Kael dengan nada serius yang mencekam. "Apakah kau tidak memiliki insting bertahan hidup? Atau akalmu sudah mati sehingga tidak bisa membedakan ancaman nyata dengan omong kosong?"
Elara menghentikan penulisannya. Ia menatap Kael serius, lalu tersenyum tipis.
"Mungkin otakku rusak, Kael. Atau mungkin... aku tahu sesuatu yang kamu belum tahu."
"Apa itu?" tanya Kael curiga.
"Bahwa dalam setiap cerita, Villain sekuat kamu nggak akan mati konyol di awal. Kamu punya Plot Armor. Dan kalau kamu Main Character-nya..." Elara menunjuk dirinya sendiri.
"...berarti aku Heroine-nya. Dan Heroine nggak akan dibunuh sama Main Character sebelum ending. Itu hukum alam."
Kael terdiam.
Plot Armor? Hukum alam cerita?
Wanita ini benar-benar gila. Tapi anehnya, tidak ada aura kebohongan dari dirinya. Dia benar-benar percaya omong kosong itu.
"Hukum alam yang bodoh," gerutu Kael, menutup matanya lagi.
"Tapi mungkin berguna. Diamlah, Wanita. Jangan ganggu ketenanganku sampai kita tujuannya tercapai. Jika kau membangunkanku dengan omong kosong itu lagi, aku akan menguji apakah lehermu sekeras keyakinanmu yang tak berdasar itu."
"Siap, Bos! Sleep tight, calon suamiku!" sahut Elara riang sebelum diam, meski senyumnya tak hilang.
Kael tidak tidur.
Di balik kelopak matanya, pikirannya bekerja keras.
'Kael Draven.' Nama itu mulai terasa pas.
'Dunia Vorthas,' batinnya. 'Kalian baru saja menyambut iblis yang salah. Dan wanita gila ini... mungkin akan menjadi alat yang menarik, atau korban pertama yang paling menyedihkan.'
Kereta kuda melaju kencang menuju kediaman Klan Rosewald.
Di luar, matahari mulai terbenam, mewarnai langit dengan merah darah?seolah menyambut era baru yang akan dibawa oleh Kael Draven.
Era di mana hierarki ras, kekuatan, dan akal sehat akan diacak-acak oleh seorang Iblis Gila dan seorang gadis penghayal novel.
Share this novel