BAB 2: Mata Hitam Sang Iblis

Fantasy Series 67

Rasa sakit itu bukan sekadar fisik.

Itu adalah gema dari ribuan sembilu yang pernah merobek jiwanya di dimensi lain. Sensasi tulang yang diremukkan, daging yang disobek, dan yang paling parah... tawa mereka.

Tawa Yeo-Rin. Tawa Gwak. Tawa para "Pahlawan Ortodoks" yang merayakan kematiannya dengan anggur mahal di atas gunungan mayat murid-muridnya.

"Keadilan telah ditegakkan!" teriak mereka saat itu.

Jin Mu-Hwal membuka mata.

Gelap.
Bau apek yang menyengat hidung. Campuran kotoran manusia, nanah infeksi, dan keputusasaan yang sudah mengendap bertahun-tahun di dinding batu yang lembap.

Dia mencoba menarik napas, tapi paru-parunya terasa berat, seolah diisi pasir basah.

Tubuhnya kurus kering, kulitnya pucat kusam penuh luka cambukan lama yang belum sembuh. Tangan yang dulu mampu meremukkan tengkorak naga dengan satu kepalan, kini gemetar lemah saat mencoba mengepal di atas jerami busuk.

"Di mana... ini?" suaranya serak, seperti gesekan dua batu kasar.

Bukan langit-langit gua Cheon-Wol. Bukan pula ruang kosong di Void tempat jiwanya seharusnya hancur lebur.

Ini sel. Sel penjara sempit dengan jeruji besi berkarat.

Jin Mu-Hwal memejamkan mata lagi, membiarkan kesadaran aslinya menyusuri tubuh baru ini.

Hasilnya mengecewakan.

Tidak ada Gi yang mengalir lancar. Meridiannya tersumbat parah oleh racun dan kelaparan, seolah sungai-sungai energinya telah menjadi lumpur kering. Tubuhnya rapuh, mudah pecah.

Namun, yang paling mengganggunya adalah sensasi aneh di dada, tepat di sekitar jantung. Ada sebuah rongga asing di sana. Kosong. Melompong.

Seolah ada wadah tambahan yang diciptakan khusus untuk menampung energi jenis lain?bukan Gi, bukan pula udara. Wadah itu berdenyut lemah, menuntut untuk diisi, namun saat ini hanya menjadi lubang hitam kecil di dalam dada seorang budak.

"Apa ini?" batin Jin Mu-Hwal, alisnya bertaut. "Tubuh manusia macam apa ini? Mereka menanamkan benda asing di dalam daging mereka sendiri?"

Tapi kemudian, dia merasakan sesuatu yang lain. Saat dia fokus pada pantulan dirinya di genangan air kotor di sudut sel, sepasang mata menatap balik.

Hitam.
Hitam pekat. Tanpa bagian putih sedikitpun. Seperti dua lubang kubur tanpa dasar yang menelan segala cahaya di sekitarnya.

Di dunia Vorthas, di mana rambut dan mata penduduknya berwarna-warni cerah seperti pelangi?biru langit, merah api, emas matahari?warna hitam adalah anomali. Sebuah tanda kutukan. Tanda iblis purba yang harus dimusnahkan.

Jin Mu-Hwal menyentuh sudut bibirnya yang pecah-pecah. Perlahan, sangat perlahan, sebuah seringai terbentuk.

Bukan senyum bahagia. Itu seringai seekor serigala yang baru sadar bahwa kandang besinya ternyata rapuh.

"Jadi, langit belum selesai denganku, ya?" bisiknya pada kegelapan.

Suaranya rendah, namun getarannya membuat tikus-tikus di sel sebelah berhenti bergerak karena ketakutan instingtif.

"Kalian membunuh tubuhku, menghancurkan sektorku, membantai sepuluh ribu jiwaku... tapi kalian lupa satu hal."

Dia mengangkat tangan kurusnya, menatap kuku-kukunya yang hitam dan kotor.

"Aku adalah Jin Mu-Hwal. Dan aku tidak pernah mati sebelum menyelesaikan urusanku."

TAK! TAK! TAK!

Suara langkah kaki berat menggema di lorong batu, menginterupsi renungannya. Diikuti dentingan kunci besi dan tawa kasar yang menjijikkan.

"Hahaha! Lihat itu! Bangkai Nomor 734 sudah bangun!"

Seorang penjaga besar muncul di balik jeruji. Dia mengenakan baju zirah kulit lusuh, membawa cambuk panjang berlumuran darah kering, dan segelas arak murah di tangan.

Wajahnya merah padam, matanya sipit penuh kebencian saat menatap mata hitam Jin Mu-Hwal.

Ini tipe manusia yang paling dibenci Jin Mu-Hwal. Tipe yang merasa berkuasa hanya karena menginjak orang yang lebih lemah.

"Kau pikir kau bisa tidur seenaknya, Mata Iblis?" Penjaga itu mendelik, lalu meludah ke arah wajah Jin Mu-Hwal.

Jin Mu-Hwal tidak menghindar. Ludah itu mendarat di pipinya, hangat dan lengket.

Dia hanya menatap. Tatapan datar. Tanpa ketakutan. Tanpa amarah meledak-ledak. Hanya tatapan predator yang mengamati mangsa bodoh yang masuk perangkap.

Penjaga itu merasa tidak nyaman. Biasanya budak akan menangis atau memohon. Tapi si Mata Hitam ini? Dia justru tersenyum. Senyum tipis yang membuat bulu kuduk di tengkuknya berdiri.

"A-apa yang kau lihat, hah?" geram penjaga itu, mencabut cambuknya.

WUSH!

"Aku akan ajari sopan santun! Mungkin dengan mencungkil satu matamu, kau akan belajar menunduk!"

Cambuk itu dihentakkan kuat ke arah wajah Jin Mu-Hwal.

Namun, sebelum ujungnya menyentuh kulit...

"Kau tahu," potong Jin Mu-Hwal. Suaranya tenang, bahkan lembut, tapi terdengar jelas menembus angin.

"Di negeriku, ada pepatah lama. Anjing yang terlalu banyak menggonggong biasanya adalah yang ekornya paling pendek."

Penjaga itu terhenti. Otak tumpulnya butuh waktu untuk mencerna. "Apa... apa katamu, bangsat? Kau berani menyebutku anjing?"

"Bukan anjing biasa," lanjut Jin Mu-Hwal. Matanya yang hitam pekat seolah berputar lambat, menciptakan ilusi pusaran.

"Anjing pemburu yang setia pada tuan yang salah. Kau menggonggong keras untuk menutupi fakta bahwa kau takut. Kau takut pada mataku. Kau takut cerita ibumu tentang 'Iblis Bermata Hitam' yang memakan jiwa anak nakal."

Wajah penjaga itu memucat. "D-diam! Aku tidak takut omong kosong!"

"Tidak?" Jin Mu-Hwal tertawa kecil. Tawa itu dingin, mengiris seperti pecahan kaca.

"Lututmu gemetar. Napasmu bau arak murahan dicampur keringat ketakutan. Dan tanganmu... lihatlah. Kau pegang cambuk itu erat sekali sampai buku jarimu memutih. Bukan karena mau memukul, tapi karena kau butuh pegangan agar tidak pingsan."

Setiap kalimat itu seperti palu godam yang menghantam mental penjaga itu. Dia tidak menggunakan kekuatan fisik, tapi sisa Aura seorang Raja Iblis yang masih tertanam di matanya.

Penjaga itu mundur selangkah. GLEG. Tenggorokannya tercekat.

"K-kau... sihir apa ini?" gagapnya. "Kau Tier 0! Mustahil!"

"Sihir?" Jin Mu-Hwal menggeleng, seringainya melebar memperlihatkan gigi putihnya.

"Tidak, Tuan Anjing. Ini realitas. Bahwa kau hanyalah semut yang kebetulan memegang sepatu bot, dan sekarang semut itu sadar... raksasa di depannya baru saja membuka mata."

Jin Mu-Hwal berdiri. Gerakannya lambat, terpincang-pincang, tapi postur tegaknya memancarkan otoritas mutlak. Dia melangkah mendekati jeruji, memaksa penjaga itu mundur hingga punggungnya menabrak dinding.

"Dengar baik-baik," bisiknya, wajahnya menempel di jeruji.

"Nama ku bukan Nomor 734. Dan jika kau ingin mencungkil mataku... pastikan tanganmu cukup cepat. Sebelum aku memutus lehermu dengan kuku telunjukku saja."

Hening.

Lorong itu mendadak sunyi senyap.

Penjaga itu menatap mata hitam itu, dan untuk pertama kalinya dia melihat neraka. Bukan api, bukan lava. Tapi kehampaan absolut. Sebuah janji kematian yang tenang dan tak terelakkan.

KLETAK.

Gelas arak di tangannya jatuh, pecah berantakan. Cairan merah menyebar seperti darah.

"A-awas! Awas kau!" teriaknya, suaranya pecah.

Dia berbalik dan lari. Lari terbirit-birit meninggalkan cambuk dan harga dirinya. Langkah kakinya panik, menabrak dinding, hingga hilang ditelan kegelapan lorong.

Jin Mu-Hwal tetap berdiri di sana.

Dia menghela napas panjang, lalu duduk kembali. Tubuhnya lemas, ledakan tenaga tadi menguras habis cadangan terakhirnya. Tapi senyum di bibirnya tak pernah hilang.

"Langkah pertama berhasil," gumamnya. "Mereka masih bisa merasa takut. Bagus."

Dia memungut pecahan gelas tajam dari lantai. Memegangnya erat hingga telapak tangannya terluka sedikit. Darah segar menetes, merah terang di dunia yang suram ini.

"Dunia Vorthas," ucapnya pelan, membersihkan pecahan kaca itu seperti memoles belati.

"Kalian menyambutku dengan rantai dan cambuk. Baiklah. Aku akan membalasnya dengan api dan darah."

Tiba-tiba, dari ujung lorong jauh, terdengar suara riuh rendah. Sorak sorai dan teriakan histeris.

"Besok! Besok pasar budak Blackthorn dibuka!" teriak seseorang.

"Siapa berani beli Mata Iblis? Murah! Tapi ingat, kalau mati di arena, bukan urusan kami!"

Jin Mu-Hwal menajamkan pendengarannya.

Pasar budak. Arena.

Matanya yang hitam berkilat senang.

"Arena," katanya sambil tertawa kecil, tawa yang mulai terdengar gila namun penuh antisipasi.

"Tempat yang sempurna untuk memulai pertunjukan."

Dia menegakkan punggung, memegang pecahan kaca itu seperti sebuah pedang suci.

"Tunggu besok, Dunia. Sang Mad Demon akan naik panggung."

Napas kasar keluar dari bibir pemuda itu. Mata hitamnya terbuka lebar, menatap jeruji besi yang dingin.
Dan di dalam sel yang gelap itu, setelah terpenjara dalam kegelapan kematian yang terasa seperti abadi, Jin Mu-Hwal merasa... hidup kembali.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience