BAB 2: Pasar Malam dan Operasi Takoyaki

Romance Series 69

Penjual takoyaki itu pingsan dengan cara yang hampir terlihat dipraktikkan: lutut melipat duluan, lalu pinggul, lalu seluruh tubuhnya rebah ke belakang seperti pohon yang ditebang dengan sangat hati-hati. Tangan kanannya masih menggenggam spatula.

Tidak ada yang bergerak selama dua detik.

Lalu langit menjadi gelap.

Bukan karena awan. Sesuatu turun dari atas ? besar, hitam, turbinnya mengeluarkan dengungan berat yang membuat dada ikut bergetar. Kendaraan udara itu mendarat bukan di landasan atau area parkir, tapi di tengah-tengah pasar, menghancurkan tiga gerobak dan satu tenda jualan pulsa dalam prosesnya. Debu mengepul. Orang-orang melompat mundur.

Pintu geser terbuka. Empat paramedis berseragam hitam turun dengan tandu karbon fiber, langkah mereka sinkron tanpa ada yang memberi aba-aba. Di tas medis mereka, logo huruf V emas berkilau kena lampu neon.

Aria masih memegang sumpit. Tusukan takoyaki di ujungnya belum sampai ke mulut.

Dia menoleh ke Dante.

Dante sedang memeriksa denyut nadi penjual itu lewat jam tangannya. Wajahnya sama persis seperti saat dia memesan kopi: datar, fokus, tidak ada yang luar biasa.

"Kenapa ambulansnya ada logo keluargamu?" suara Aria keluar lebih tenang dari yang dia rencanakan.

"Lebih efisien," jawab Dante. "Ambulans pemerintah butuh lima belas menit karena macet. Tim saya empat puluh lima detik."

"Dia pingsan karena kamu transfer terlalu banyak. Ini bukan keadaan darurat medis."

"Syok finansial tetap syok. Jantung tidak membedakan penyebabnya."

Para paramedis sudah mengangkat penjual itu ke tandu. Pintu ambulans tertutup, turbin mendengung lagi, dan kendaraan itu naik ke udara meninggalkan angin yang menerbangkan topi-topi warga dan menggosok debu ke mana-mana.

Hening sebentar.

Lalu semua orang di sekitar mereka mulai membuka ponsel masing-masing.

Aria menarik lengan jas Dante. "Kita pergi sekarang."

---

Mereka menerobos ke lorong samping yang lebih sepi. Aria berhenti, membalik badan, melipat tangan di dada.

"Aku mau main normal," katanya.

Dante merapikan kerahnya yang terkena debu. "Baik. Normal."

"Artinya tidak ada stan yang dikosongkan paksa. Tidak ada antrean yang dibubarkan. Tidak ada orang yang ketakutan melihatmu. Aku mau berdiri di belakang ibu-ibu yang nawar harga dan denger pedagangnya ngomel kalau aku lambat bayar." Dia menatap suaminya. "Dua jam. Ngerti?"

Dante mengangguk satu kali, serius. "Mode Rakyat Biasa. Dimengerti."

Dia mengeluarkan ponsel, mengetik pesan ke Elias.

Batalkan protokol sterilisasi. Biarkan antrean tetap ada.

Di dalam truk yang parkir tiga ratus meter dari sana ? truk yang, kalau ada orang yang benar-benar memperhatikan, tidak ada merek apa pun di badannya dan jendelanya agak terlalu gelap untuk kendaraan pengiriman biasa ? Elias membaca pesan itu dan menghembuskan napas perlahan. Tangannya langsung mengetik perintah ke seluruh tim.

Ponselnya bergetar lagi.

Tambahan: Pastikan tidak ada orang mencurigakan dalam radius 20 meter dari Aria. Definisi mencurigakan: hoodie saat cuaca panas, menatap lebih dari 3 detik, membawa senjata tajam termasuk pisau buah.

Elias menatap layar itu. Lalu menatap keluar jendela ke arah kerumunan pasar malam yang ramai dan padat dan penuh orang yang tidak tahu bahwa malam ini mereka sedang diklasifikasikan oleh sistem keamanan pribadi seorang miliarder.

Dia mengetik balas: Kalau kami usir semua yang masuk kategori itu, radius 20 meter akan kosong melompong, Tuan. Itu tetap mengosongkan area.

Balasan datang dalam tiga detik: Lakukan saja.

Elias meletakkan ponselnya di atas meja lipat di dalam truk. Menatap langit-langit. Di luar, suara dangdut futuristik menghentak-hentak.

"Kenapa aku tidak jadi dokter hewan saja waktu masih ada kesempatan," gumamnya pada diri sendiri, lalu kembali mengetik.

---

Area permainan lebih ramai dari stan makanan. Komedi putar penuh anak kecil, ada beberapa stan lempar bola, dan di sudut paling terang terdapat sebuah stan yang membuat mata Aria langsung berhenti mengembara.

Tembak Ikan.

Deretan pistol air plastik warna-warni. Kolam sempit dengan ikan-ikan plastik yang naik-turun. Dan di atas semuanya, digantung dengan tali pancing, seekor capybara raksasa berbulu cokelat dengan mata yang sedikit tidak simetris dan ekspresi yang sangat tidak peduli dengan situasi di sekitarnya.

"Aku mau itu," kata Aria.

Dante memandang boneka itu seperti membaca prospektus investasi yang meragukan. "Kualitas kain rendah. Isian kapas daur ulang. Mata kirinya miring."

"Aku tahu. Aku tetap mau."

"Saya bisa belikan capybara asli dari?"

"Aku mau menanginnya, Dan."

Dante menutup mulutnya.

Aria mendekati stan. Penjaga ? pemuda berkacamata dengan kaos oblong yang tulisannya sudah pudar ? menyambut dengan senyum. "Tiga tembakan sepuluh Crown, Mbak! Kena ikan emas, dapet capybara!"

Aria membayar. Mengambil pistol. Membidik.

Spray. Air meleset jauh ke kiri.

Di belakangnya, Dante diam. Tapi Aria tahu ? tanpa menoleh pun dia tahu ? bahwa pria itu sedang menahan sesuatu. Dia bisa merasakan tekanan udara berubah.

Percobaan kedua. Spray. Meleset ke kanan, kena tepi kolam.

Ketiga. Spray. Mengenai wajah penjaga stan.

"Maaf, Mas!"

Penjaga itu mengelap wajahnya sambil tersenyum kecut. "Nggak apa-apa, Mbak."

Aria membeli tiga tembakan lagi. Dan tiga lagi. Skor: nol ikan. Satu wajah penjaga yang basah dua kali. Sebuah catatan dunia pribadi yang tidak dia ceritakan ke siapa pun.

Di belakangnya, ada suara ketukan ? teratur, ritmis. Dante mengetuk-ngetuk pahanya sendiri.

Aria membeli putaran kesepuluh.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience