Series
69
Sore menjelang. Badai media mulai reda.
Penghapusan massal dihentikan. Sebagai gantinya, tim media Dante membanjiri V-Net dengan konten pengalih: foto-foto kucing ras langka, cuplikan konser amal, video pendek tentang kemajuan proyek energi bersih Vorthas Corp. Algoritma perlahan berputar ke topik lain.
Tapi internet tidak pernah benar-benar tidur.
Karena bosan menebak identitas, pengguna V-Net mulai berkreasi.
Fanart bermunculan. Ilustrasi digital menggambarkan "Wanita Misterius" sebagai sosok legendaris: putri dari kerajaan bawah laut, penyihir penyembuh dari hutan terlarang, prajurit bersayap dari dimensi lain.
Fanfiksi mengikuti. Cerita tentang Dante bertemu wanita itu di tengah badai. Tentang tatapan pertama di perpustakaan kuno. Tentang takdir yang diukir dewa-dewa Valestia.
Dan kemudian: video edit. Klip-klip dramatis berlatar musik orkestra melankolis, menggabungkan potongan foto buram itu dengan adegan-adegan romantis dari film klasik.
Dante menonton salah satunya di ruang kerjanya. Layar besar menampilkan wajahnya sendiri?diedit menjadi lebih lembut, lebih rapuh?seolah dia adalah pahlawan tragis dari novel abad lalu.
Ekspresinya tak terbaca.
Lalu notifikasi baru masuk. Sebuah siaran langsung dari Rian Stardust. Influencer dengan enam puluh juta pengikut. Wajahnya dikenal di seluruh Valestia sebagai simbol playboy modern.
Rian tersenyum ke kamera. "Halo, Valestia. Jadi, kalian semua bertanya-tanya: siapa wanita itu? Apakah dia single? Apakah Dante benar-benar memilikinya?"
Dia mengedip. "Jujur saja, kalau dia belum terikat... aku tidak akan ragu. Dante mungkin punya kekuasaan, tapi aku punya... pesona."
Rian tertawa ringan. "Jadi, Wanita Misterius, kalau kau menonton ini... DM-ku selalu terbuka. Aku sabar menunggu."
Ruang kerja Dante berubah menjadi lemari es.
Bukan metafora. Temperatur ruangan benar-benar turun?sistem otomatis merespons perubahan suhu tubuhnya.
Dante menatap layar. Matanya tidak berkedip. Jarinya berhenti mengetuk meja. Hening. Lalu ia bicara, sangat pelan:
"Elias."
Elias, yang baru masuk membawa nampan teh, langsung berhenti. Nalurinya menjerit.
"Ya... Tuan?"
"Pria itu. Rian Stardust."
"B-Benar?"
"Aku ingin datanya. Semua."
Elias meletakkan nampan dengan tangan gemetar. "Data... kontak?"
"Riwayat keuangan. Riwayat medis. Riwayat akademik. Riwayat kencan. Setiap jejak digital. Setiap transaksi. Setiap kata yang pernah ia ketik di internet. Aku ingin tahu ketakutan terbesarnya, kelemahan terkecilnya, dan siapa saja yang ia cintai."
"Tuan... dia hanya influencer rendahan. Dia hanya mencari sensasi. Itu bukan ancaman serius."
"Dia menawarkan diri sebagai alternatif dari aku," suara Dante tetap tenang. Tapi ada sesuatu di baliknya?sesuatu yang dingin dan dalam dan tanpa kompromi. "Dia merendahkan posisiku sebagai suami di depan enam puluh juta orang. Itu bukan sensasi. Itu deklarasi perang."
Elias berdiri membeku.
"Aku tidak akan menghancurkannya. Itu terlalu cepat. Terlalu murah." Dante menyandarkan punggungnya. Ujung bibirnya melengkung?tipis, tanpa kehangatan. "Aku akan membuatnya berterima kasih atas belas kasihanku. Siapkan kontrak eksklusivitas seumur hidup. Klausul non-disclosure tentang nama Vorthas. Klausul non-kompetisi di seluruh sektor bisnis yang kumiliki. Kalau dia menolak... pastikan tidak ada satu pun platform di Valestia yang berani menyiarkan wajahnya lagi."
Elias tidak menjawab. Dia hanya mengangguk?sekali, cepat?lalu menghilang dari ruangan.
---
Malam tiba.
Aria duduk di sofa ruang keluarga. Kakinya selonjor di atas meja kopi, Tuan Capy setia di pangkuannya. Dia membuka ponsel, membaca komentar-komentar terbaru. Sudah tidak ada lagi hinaan. Hanya kebingungan, kekaguman, dan fanart-fanart aneh.
Dante duduk di sampingnya, membuka laptop. Lampu ruangan temaram.
Tiba-tiba, Aria menyipitkan mata. Dia menggulir layar.
Artikel negatif tentang "Keangkuhan Dante Vorthas" yang tadi siang membanjiri portal berita, sekarang lenyap. Digantikan oleh laporan mendetail tentang donasi Vorthas Corp ke panti asuhan dan rumah sakit. Angka-angkanya spesifik. Faktanya terverifikasi.
Akun-akun yang tadinya menghina, kini mengunggah permintaan maaf. Tertulis rapi. Sopan. Seperti template.
Dan yang paling mencolok: Rian Stardust.
Influencer itu baru saja mengunggah video baru. Wajahnya pucat. Matanya menghindari kamera. Suaranya kecil.
"Aku ingin menyampaikan klarifikasi. Pernyataanku sebelumnya... tidak pantas. Aku menghormati hubungan yang sakral. Aku tidak akan lagi berkomentar tentang kehidupan pribadi Dante Vorthas. Aku... aku mohon maaf yang sebesar-besarnya."
Video berakhir. Komentar membanjiri: "Apa yang terjadi?" "Kenapa dia ketakutan?" "Dante, apa yang kau lakukan?!"
Aria menoleh ke Dante.
Dante sedang mengetik. Wajahnya datar. Tenang. Seolah tidak terjadi apa-apa.
"Dan..."
"Hm?"
"Apa yang kau lakukan pada Rian?"
Dante berhenti mengetik. Menoleh. "Hanya edukasi sosial. Mengingatkan sesama warga negara tentang pentingnya sopan santun."
"Edukasi seperti apa yang membuat seseorang berubah dalam hitungan jam?"
Dante menutup laptopnya. Menatap Aria sepenuhnya. "Edukasi berbasis insentif dan disinsentif. Tapi hasilnya bagus, bukan? Tidak ada lagi komentar menyakitkan. Tidak ada lagi spekulasi. Hanya kita."
Aria tidak menjawab. Dia menatap mata suaminya?mata kelabu itu, dingin dan presisi, tapi di dalamnya selalu ada sesuatu yang hanya dia yang bisa lihat.
Dia tahu Dante melakukan sesuatu di luar batas. Sesuatu yang posesif. Sesuatu yang mengendalikan.
Tapi dia juga tahu: tidak ada lagi hinaan. Tidak ada lagi spekulasi yang menusuk. Hanya keheningan yang aman.
Dia mendesah pelan. "Kau manipulatif sekali."
"Protektif," Dante mengoreksi. Dia mendekat, meraih Tuan Capy dari pangkuan Aria, meletakkannya di samping sofa. Lalu ia merengkuh istrinya, menariknya ke dalam pelukan penuh. "Dan kau menyukainya."
Aria tidak menyangkal.
---
Mereka terdiam beberapa saat. Hanya ada suara napas dan detak jam antik di dinding.
Lalu Aria terkekeh. "Lucu, ya."
"Apa?"
"Seluruh Valestia terguncang hanya karena kau memiliki pasangan. Saham jatuh. Influencer gemetar. Profesor menganalisis telingaku. Semua orang bertingkah seperti kiamat."
Dante menatap profil istrinya. Cahaya lampu temaram memantul di mata Aria.
"Memangnya salah?" tanyanya serius.
Aria menoleh. "Tidak. Hanya... aneh. Kau selalu dingin. Jauh. Dan sekarang... kau jadi pusat gosip nasional. Karena boneka jelek."
Dante tersenyum?sangat tipis, sangat langka.
"Mereka boleh penasaran," bisiknya. "Mereka boleh menebak. Membuat fanart. Menulis cerita."
Tangannya naik ke pipi Aria. Ibu jarinya mengusap pelan.
"Tapi yang benar-benar mengenalmu... yang tahu bagaimana kau tertawa saat menang tembak ikan... yang tahu caramu bangun pagi dengan rambut berantakan dan tersenyum padaku... hanya aku."
Aria merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Pipinya hangat.
"Kau romantis sekali malam ini," bisiknya.
"Aku efisien," jawab Dante. "Romantisme adalah efisiensi emosional."
Aria tertawa kecil. Lalu ia menyandarkan kepalanya di dada Dante. Detak jantung suaminya stabil. Kuat. Menenangkan.
---
Pintu terbuka.
Tidak pelan. Keras.
Elias berdiri di ambang pintu. Napasnya tersengal. Wajahnya pucat?bukan pucat biasa, tapi pucat seperti orang yang baru melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat. Tangannya gemetar memegang tablet.
"Kakak Besar..."
Dante tidak melepas pelukannya. Ia hanya menoleh lambat. "Apa lagi, Elias? Kalau tentang Rian, aku sudah selesai dengan itu."
"B-Bukan Rian, Tuan."
Suara Elias bergetar. Ketakutan yang asli.
"Lalu?"
Elias mengangkat tabletnya.
Di layar, sebuah foto.
Tidak blur. Tidak buram. Resolusi tinggi. Diambil dari jarak dekat.
Wajah Aria terlihat jelas. Cahaya lampu pasar malam menerangi senyum lebarnya. Tuan Capy dalam pelukannya. Matanya berbinar. Cantik. Alami. Tak terbantahkan.
Di bawah foto itu, satu kalimat dari akun anonim:
"Namanya Aria. Istri Dante Vorthas. Atau... lebih dari itu? #MisteriTerpecahkan"
Unggahan baru. Tiga puluh detik. Sudah lima belas ribu likes.
Ruang keluarga mendadak sunyi.
Aria menatap layar. Matanya membelalak. "Itu... itu fotoku. Jelas sekali. Dari mana mereka?"
Dante perlahan melepaskan pelukannya.
Ia berdiri. Gerakannya lambat dan tenang. Tapi setiap otot di tubuhnya menegang. Udara di ruangan berubah. Tekanan atmosfer turun. Bahkan lampu seolah meredup.
"Elias," suaranya bukan lagi bisnis atau dingin. Suaranya adalah es yang tepat sebelum retak. "Aktifkan Protokol Level Satu."
Elias membeku. "T-Tuan... Protokol Satu? Itu hanya untuk ancaman terhadap keamanan nasional?"
"Aktifkan."
"Tap?"
"Sekarang."
Elias menghilang.
Dante menatap layar tablet itu. Wajahnya seperti batu. Tapi di balik matanya, ada sesuatu yang jarang dilihat siapa pun.
Kemarahan yang lahir dari ketakutan.
Aria menyentuh lengannya. "Dan... apa yang terjadi? Kenapa kau seperti ini?"
Dante tidak menjawab.
Ia hanya menggenggam tangan Aria?lebih erat dari biasanya.
Share this novel