Bab 7: Penghianat di Dalam Mansion

Romance Series 69

Pintu ruang kerja terbuka.

Tim Cyber Security masuk. Dipimpin oleh seorang wanita berkacamata tebal bernama Sarah. Wajah mereka serius, langkah mereka cepat.

"Tuan," Sarah berbicara tanpa basa-basi. "Kami berhasil melacak sumber unggahan foto resolusi tinggi."

Dante melepaskan Aria. Dalam sekejap, ekspresinya berubah total?dari suami lembut menjadi CEO yang dinginnya bisa membekukan logam.

"Laporkan."

Sarah mengetuk tabletnya. Peta holografik tiga dimensi muncul di tengah ruangan, menampilkan jalur data yang rumit seperti urat nadi digital.

"Foto itu diunggah oleh akun anonim @TruthSeeker_99. Tapi ini bukan akun biasa. Metadata sudah dimusnahkan total. Koordinat GPS dipalsukan. Routing server melompati tujuh negara berbeda dalam waktu tiga detik."

Elias, yang berdiri di samping, mengangguk muram. "Ini pekerjaan profesional, Tuan. Bukan sekadar warga iseng. Ada enkripsi level militer di baliknya."

Mata Dante menyipit. "Profesional?"

"Ya, Tuan. Seseorang sengaja ingin foto ini tersebar, tapi juga ingin menyembunyikan identitas pengambilnya. Mereka menggunakan botnet senilai jutaan Crown untuk mendorong algoritma. Fotonya dirancang untuk viral dalam hitungan jam."

Udara di ruangan mendingin.

Ini bukan lagi soal gosip. Ini soal sabotase terencana.

"Ada orang di balik ini," gumam Dante. Suaranya rendah, berbahaya. "Seseorang yang tahu cara bermain di levelku."

Aria merasakan dingin merambat di lengannya. "Siapa? Musuh bisnismu?"

"Mungkin." Dante menatap peta holografik itu dengan mata yang tidak berkedip. "Atau seseorang yang ingin menguji seberapa jauh aku akan pergi untuk melindungimu."

Dia menoleh ke tim cyber. "Temukan mereka. Lacak setiap byte. Jangan biarkan satu server pun lolos."

"Siap, Tuan!"

---

Karena kata "profesional" itu, paranoia Dante naik ke level berikutnya.

Pagi harinya, Aria berjalan ke dapur?hanya ingin mengambil segelas air.

Dua pengawal bertubuh kekar muncul dari balik pilar, menghalangi jalan.

"Maaf, Nyonya. Area dapur sedang dalam proses sterilisasi. Mohon menunggu di zona aman."

Aria melotot. "Sterilisasi apa? Aku cuma ingin minum!"

Pengawal kedua mengeluarkan alat pemindai portabel dan mengarahkannya ke gelas kosong di tangan Aria.

Bip-bip.

"Aman. Silakan, Nyonya."

Aria menghela napas frustrasi. Dia melanjutkan ke ruang makan, di mana Dante sudah duduk dengan sarapan yang tersaji rapi.

Di atas meja, ada tiga piring berbeda.

"Piring A: hidangan Chef Pierre, sudah melewati pemindaian racun, virus, dan bakteri." Dante menunjuk piring pertama. "Piring B: sayuran organik dari kebun hidroponik pribadi, dikawal drone sejak panen. Piring C: roti bakar biasa. Tapi aku sudah memakannya lebih dulu selama sepuluh menit. Untuk memastikan tidak ada efek samping."

Aria menatap Piring C. "Kau memakan roti bakarku?"

"Demi keamanan." Dante mendorong piring itu ke arahnya. "Masih hangat. Silakan."

Aria duduk, merasa lelah sampai ke tulang. "Dan, aku ini viral. Bukan presiden yang jadi target pembunuhan. Aku cuma perempuan yang memegang boneka jelek."

Dante menyuapkan potongan buah ke mulutnya sendiri. "Belum."

"Belum apa?!"

"Belum ada yang mencoba membunuhmu. Tapi probabilitas statistiknya naik nol koma nol lima persen sejak foto itu beredar. Jadi aku mengambil langkah pencegahan."

Aria menutup wajah dengan kedua tangan. "Aku tidak bisa hidup seperti ini. Tidak bisa keluar. Tidak bisa makan sembarangan. Bahkan bernapas pun harus dipindai!"

Dante meletakkan garpunya. Menatap Aria dengan serius.

"Kalau kau ingin keluar," katanya pelan, "kita bisa membeli distrik tempat tujuanmu. Kita kosongkan. Kita bersihkan. Lalu kau bisa berjalan-jalan sendiri di sana. Aman. Privat."

Aria menurunkan tangannya. Menatap suaminya dengan ekspresi ngeri.

"Kau bercanda."

"Aku menawarkan solusi. Distrik 7 harganya masih masuk akal. Aku bisa negosiasi diskon."

"DANTE!"

---

Di ruang kontrol bawah tanah, Elias duduk dikelilingi puluhan monitor.

Dia tampak seperti mayat hidup. Mata merah. Rambut tidak tersisir. Di tangan kanannya, cangkir kopi keenam. Di tangan kirinya, tablet yang terus bergetar dengan notifikasi.

Layar kiri: grafik sentimen publik yang naik-turun seperti detak jantung pasien kritis.
Layar kanan: laporan keuangan investor yang mulai panik.
Layar tengah: grup penggemar Tuan Capy.

Elias membaca pesan terbaru.

Admin Fanclub Capy: "BREAKING! Foto HD Tuan Capy sudah beredar! Lihat ekspresi sayunya. Itu simbol ketenangan di tengah kekacauan! #CapybaraRevolution"

Anggota 1: "Aku rela mati demi boneka itu."
Anggota 2: "Kapan merchandise resmi keluar? Aku ingin bantal bentuk kepalanya."

Elias menghela napas panjang. "Dua juta anggota. Fanclub boneka jelek punya dua juta anggota. Lebih banyak dari penggemar bintang pop papan atas."

Ponselnya berdering. Departemen HR.

"Pak Elias," suara di seberang terdengar gugup. "Seminar online 'Keindahan Dalam Kekacauan' sudah dimulai. Tapi... peserta protes."

"Apa lagi?"

"Mereka bilang materinya terlalu filosofis. Mereka minta sertifikat partisipasi yang bisa dipakai melamar kerja."

Elias memijat pelipisnya. "Beri saja sertifikatnya. Tanda tangan digital Tuan Dante. Urus cepat."

Dia mengakhiri panggilan. Menatap layar utama lagi.

Notifikasi baru muncul.

TRENDING TOPIC BARU:
"TEAM ARIA vs TEAM KONSPIRASI"

Elias mengernyit. Dia membuka utas diskusinya.

Internet Valestia kini terpecah menjadi beberapa kubu:

1. TEAM ARIA: "Lindungi dia! Dia terlalu murni untuk dunia ini! Dante, jangan sakiti dia!"
2. TEAM KONSPIRASI: "Dia pasti putri kerajaan yang hilang. Lihat bentuk telinganya. Itu ciri bangsawan kuno."
3. TEAM CAPYBARA: "Boneka itu kunci dari segalanya. Dante menyembah Capybara. Aria adalah perantara spiritual."
4. TEAM PEMBENCI: "Tidak mungkin Dante menyukai wanita biasa. Pasti ada skandal. Cari foto lainnya!"

Elias meletakkan tabletnya. Menatap langit-langit.

"Ada kubu Capybara..." bisiknya pelan. "Mereka benar-benar membuat kubu Capybara."

Dia menunduk, menyandarkan dahi di atas meja. Air mata kelelahan hampir menetes.

---

Di balkon mansion?yang kini sudah dilapisi kaca anti-sniper transparan?Aria duduk scrolling ponsel. Dante di sampingnya, membaca laporan keamanan.

"Lucu juga," kata Aria tiba-tiba.

Dante menoleh. "Apa yang lucu? Laporan ancaman?"

"Bukan. Komentar-komentar ini." Aria menunjukkan layarnya. "Lihat. Ada yang bilang senyumku manis sekali. Ada yang bilang mereka paham kenapa kau jatuh cinta. Ada yang bilang kalau ketemu aku, mereka akan langsung melamar."

Dante menatap layar itu. Matanya menyipit.

Foto HD Aria. Tersenyum lepas. Mata berbinar. Pipi merona karena angin sore. Rambut ikalnya berantakan tertiup angin?berantakan, tapi justru di situlah letak keindahannya.

Dia terlihat bahagia.
Dia terlihat mudah dijangkau.
Dia terlihat diinginkan oleh semua orang.

Dante merasakan sesuatu menjalar di dadanya. Panas. Asam. Berat.

Cemburu.

Bukan pada pria tertentu. Tapi pada internet. Pada jutaan mata yang menatap istrinya. Pada jutaan pikiran yang membayangkan istrinya.

"Hapus," katanya tiba-tiba.

Aria menoleh. "Hapus apa?"

"Akun-akun itu. Komentar-komentar itu. Fotonya."

Aria tertawa kecil. "Kau cemburu pada internet?"

Dante tidak menjawab. Dia masih menatap layar, rahangnya mengeras. "Aku sedang mempertimbangkan untuk mematikan internet secara permanen."

"Apa?!" Aria tertawa semakin keras. "Kau tidak bisa mematikan internet, Dan! Dunia akan kacau! Bursa saham akan runtuh! Orang-orang akan lupa cara memesan makanan!"

"Aku tidak peduli." Suara Dante rendah dan serak. "Mereka tidak boleh melihatmu seperti itu. Senyum itu... milikku."

Tawa Aria mereda. Dia menatap Dante. Kali ini, dia tidak merasa takut. Dia merasa tersanjung. Gila memang. Tapi tersanjung.

Dia meletakkan ponselnya. Meraih tangan Dante.

"Dan," katanya lembut. "Lihat aku."

Dante menoleh. Matanya masih gelap.

"Aku di sini. Bukan di internet. Bukan di foto. Aku di sini, di sampingmu." Aria menggenggam tangannya lebih erat. "Aku tidak peduli bagaimana orang lain melihatku. Biarkan mereka menebak. Biarkan mereka berfantasi. Biarkan mereka membuat kubu capybara."

Dia tersenyum?senyum yang sama persis seperti di foto. Tapi kali ini, hanya untuk Dante.

"Yang penting... kau melihatku cantik."

Hening.

Dante menatapnya. Otaknya?yang biasanya penuh kalkulasi, strategi, dan data?tiba-tiba kosong.

Klik.

Sistem emosional Dante mengalami hubungan arus pendek.

Dia diam selama sepuluh detik penuh. Lama. Canggung.

Lalu dia berkata, dengan suara datar, serius, dan penuh keyakinan mutlak:

"Aku akan membeli bulan."

Aria mengerutkan kening. "Apa hubungannya?!"

Dante menatap lurus ke depan, seolah menjelaskan sesuatu yang sangat logis. "Jika aku membeli bulan, aku bisa mengatur pencahayaannya. Bulan hanya akan bersinar untukmu. Saat kau berjalan di malam hari, hanya kau yang terlihat. Orang lain akan berada dalam kegelapan. Privasi sempurna. Estetika maksimal."

Aria ternganga. "Itu... itu tidak mungkin secara ilmiah! Dan biayanya tidak masuk akal!"

"Aku sedang emosional. Jangan ganggu logikaku."

Aria akhirnya tertawa lagi. Dia menyandarkan kepala di bahu Dante. "Dasar orang kaya gila."

Dante melingkarkan lengan di pinggangnya, menariknya lebih dekat. "Gila untukmu."

Momen itu hangat. Tenang. Absurd.

Tapi tidak berlangsung lama.

---

Pintu balkon terbuka.

Elias masuk tanpa mengetuk. Wajahnya lebih pucat dari semua hari sebelumnya. Bukan pucat karena kelelahan?tapi pucat karena ketakutan yang murni.

Tangannya gemetar hebat memegang tablet.

"Kakak Besar..." suaranya parau, nyaris tak terdengar.

Dante menoleh, masih memeluk Aria. "Ada apa, Elias? Jika ini tentang Kubu Capybara, abaikan."

"Bukan, Tuan." Suara Elias bergetar. "Tim Cyber... mereka berhasil menembus enkripsi terakhir. Mereka menemukan identitas asli @TruthSeeker_99."

Dante melepaskan pelukannya dari Aria. Berdiri. Dalam sekejap, kehangatan di matanya lenyap?digantikan es yang tajam.

"Siapa? Musuh bisnis? Agen pemerintah? Hacker bayaran?"

Elias menelan ludah. Dia menatap Dante, lalu menatap Aria. Matanya penuh horor.

"Bukan dari luar, Tuan," bisiknya.

Dante menyipitkan mata. "Maksudmu?"

Elias membalik tabletnya. Menunjukkan sebuah foto profil dari akun @TruthSeeker_99.

Foto itu adalah selfie.
Latar belakangnya adalah interior ruang tamu Mansion Vorthas. Sofa putih. Lampu kristal. Dan di sudut foto, samar-samar terlihat punggung Aria yang sedang duduk.

Foto itu diambil dari dalam rumah.

"Pengunggahnya..." suara Elias nyaris pecah, "...adalah orang dalam mansion."

Hening.

Angin malam berhenti.

Dante menatap foto itu. Matanya melebar sedikit?kejutan yang nyaris tak terlihat. Lalu kemarahan. Dingin. Dalam.

"Orang dalam?" ulangnya pelan. "Siapa?"

Elias tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menunjuk layar tabletnya.

Daftar staf Mansion Vorthas terpampang.
Chef Pierre. Kepala taman. Sopir pribadi. Pengawal. Asisten rumah tangga.

Satu nama ditandai merah.

Dante menatap nama itu. Wajahnya berubah menjadi topeng es yang menakutkan.

Aria, yang melihat reaksi mereka, merasakan hawa dingin merambat di tulang belakangnya.

"Siapa, Dan?" tanyanya, suaranya kecil.

Dante tidak menjawab. Dia hanya mengepalkan tinjunya?begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih.

Seseorang di rumah mereka.
Seseorang yang mereka percayai.
Telah berkhianat.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience