Bab 9: Hukuman Fotografi

Romance Series 69

Dante mundur selangkah. Dia tampak bingung. Marahnya kehilangan target. Bagaimana caranya menghancurkan seseorang yang motivasinya adalah "memuji kebahagiaan suami-istri"?

Dia menoleh ke Aria. "Dia melanggar privasi. Dia mengekspos wajahmu ke jutaan orang asing. Itu ancaman."

"Itu kesalahan bodoh," koreksi Aria lembut. Dia berjalan ke arah Lani, membantunya berdiri. Lutut gadis itu masih gemetar.

"Kau tahu efek dari foto itu?" tanya Aria pada Lani.

Lani mengangguk, air matanya masih mengalir. "Saya lihat berita. Server down. Semua orang heboh. Saya... saya takut sekali."

Aria kembali menatap Dante. "Dan, lihat dia. Dia bukan musuh. Dia cuma anak kecil yang tidak paham konsekuensi. Kalau kau menghukumnya dengan keras, kau hanya membuktikan bahwa semua ketakutan orang tentangmu itu benar."

Dante mengeratkan rahangnya. "Aku harus memberikan pelajaran."

"Pelajaran. Bukan penghancuran." Aria meraih tangan Dante. Tangan itu dingin dan kaku seperti marmer. "Dan... kalau kau terus bereaksi seperti ini?mengunci rumah, memecat orang, mengancam siapa pun yang bernapas di arahku?kita tidak akan pernah punya kehidupan normal. Kita akan hidup di dalam benteng. Sendirian."

Dante menatapnya. Ada keraguan di matanya?sesuatu yang langka.

"Aku tidak mau hidup dalam ketakutan," lanjut Aria. "Dan aku tidak mau staf kita hidup dalam ketakutan karena aku. Kumohon... kendalikan dirimu."

Kalimat itu menggantung di udara.

Kendalikan dirimu.

Sebuah perintah yang hampir mustahil bagi pria seobsesif Dante. Tapi ketika datang dari Aria, perintah itu terdengar seperti permohonan.

Dante menghela napas panjang. Bahunya yang tegang menurun?sedikit saja, tapi cukup terlihat. Dia menatap Lani lagi. Kali ini tatapannya tidak lagi membunuh. Hanya menilai.

"Kau pikir fotomu itu indah?" tanyanya tiba-tiba.

Lani tersentak. "E-eh? I-iya, Tuan. Cahayanya bagus. Ekspresi Nyonya... sangat alami."

Dante mendengus. "Alami? Foto itu blur. Komposisinya kacau. Pencahayaan di sisi kiri overexposed. Dan sudut pengambilan gambarnya membuat hidung Nyonya terlihat lebih besar dua milimeter dari ukuran aslinya."

Lani terbengong. Aria melotot. "DANTE!"

"Itu fakta!" Dante defensif. "Kalau kau ingin memotret istriku, lakukan dengan standar profesional. Bukan asal jepret seperti turis."

Aria menyadari apa yang sedang terjadi. Dante tidak memaafkan Lani. Dia hanya mengalihkan kemarahannya menjadi... perfeksionisme estetika.

Itu tetap saja gila. Tapi setidaknya, tidak ada pemecatan massal.

---

"Lani," suara Dante kembali datar dan otoriter.

"Y-ya, Tuan?" Lani bersiap untuk diusir.

"Kau tidak dipecat."

Lani terkejut. "Hah?"

"Tapi kau juga tidak akan kembali ke divisi housekeeping." Dante melipat tangan di depan dada. "Mulai hari ini, kau dipindahkan ke divisi Dokumentasi Pribadi."

Elias, yang berdiri di samping, hampir menjatuhkan tabletnya. "Divisi... apa, Tuan?"

"Fotografer Resmi Istri Saya," Dante mendeklarasikannya dengan bangga.

Aria menutup wajahnya. "Oh, tidak..."

Dante menoleh ke Aria. "Karena Lani punya 'mata seni' yang menurutnya bagus, dia akan bertanggung jawab mendokumentasikan setiap momen estetikamu. Tapi?" dia menatap Lani tajam, "?dengan pengawasan ketat."

Dante mengeluarkan stylus dari saku jasnya. Dia mulai menggambar sketsa di tablet holografik.

"Ini panduan sudut wajah Aria." Dia menunjukkan gambar teknis wajah Aria yang dipenuhi garis-garis geometri. "Sudut tiga puluh empat derajat dari kiri menonjolkan tulang pipi. Sudut empat puluh lima derajat dari atas menyembunyikan kantung mata jika dia kurang tidur. Pencahayaan harus warm white?jangan pernah cool white, itu membuat kulitnya terlihat pucat seperti sakit."

Lani menerima tablet itu dengan tangan gemetar. "S-saya... saya harus menghafal semua ini?"

"Ya. Dan jika ada satu foto yang buram, atau sudutnya meleset, atau ekspresi Aria terlihat kurang bahagia..." Dante tersenyum tipis. Matanya tidak ikut tersenyum. "...kau akan dikirim ke tambang es Nordraven untuk melatih penguin baris-berbaris."

Lani memucat. "SIAP, TUAN!"

Aria menarik lengan Dante. "Kau tidak bisa menyuruh orang melatih penguin!"

"Itu metafora, Sayang. Tapi intinya tetap: kualitas foto harus sempurna."

Elias bergumam pelan sambil mencatat di buku kecilnya: Catatan: Cari kontak pelatih penguin darurat. Untuk jaga-jaga.

---

Malam harinya, suasana mansion kembali tenang.

Lampu merah Protokol Level Satu sudah dimatikan, diganti cahaya kuning hangat. Aria duduk di sofa ruang keluarga, kedua kakinya selonjor di atas pangkuan Dante. Suaminya sedang membaca laporan bisnis, tapi satu tangannya sibuk memijat kaki Aria dengan ritme yang menenangkan.

Di tangan kiri Aria, ponsel menyala. Dia sedang scrolling komentar-komentar di unggahan viral itu?yang sekarang sudah dibiarkan tetap ada, setelah Dante membeli algoritma untuk memastikan hanya komentar positif yang muncul di halaman pertama.

"Lucu juga," gumam Aria.

Dante tidak mengalihkan pandangan dari laporannya. "Apa yang lucu? Komentar yang menyebutku 'suami idaman'?"

"Bukan." Aria tertawa kecil. "Ada yang bilang, 'Lihat cara Dante memandang Aria. Itu bukan tatapan manusia biasa. Itu tatapan pemilik harta karun.'"

Dante berhenti memijat.

Dia menoleh, menatap Aria lekat-lekat. Tatapannya intens, gelap, dan penuh dengan sesuatu yang sulit dijelaskan.

"Mereka benar," katanya pelan.

Aria merasakan pipinya memanas. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ada ketegangan manis di udara di antara mereka.

Dia membalas tatapan Dante. Di mata suaminya, dia melihat pantulan dirinya sendiri?kecil, tapi seolah menjadi pusat dari seluruh alam semesta pria itu.

"Kau posesif sekali," bisik Aria.

Dante meletakkan laporannya. Dia bergerak, merangkak naik ke sofa, mendekatkan wajahnya ke Aria. Aroma kayu cendana dan aroma jas mahal dan kayu hangat menyelimuti indra penciuman Aria.

"Posesif adalah bentuk cinta yang paling efisien," bisiknya tepat di telinga Aria. Napasnya hangat, membuat bulu kuduk Aria berdiri.

Dia mengecup leher Aria?tepat di bawah telinga. Sentuhan ringan yang mengirimkan arus listrik ke seluruh tubuh Aria.

"Senyum itu milikku," gumamnya, suaranya serak. "Tawa itu milikku. Bahkan kemarahanmu... itu milikku juga."

Aria menggigit bibirnya sendiri, berusaha menahan senyum malu. "Kau tidak bisa memiliki semuanya, Dan."

Dante menatap bibir Aria, lalu perlahan naik ke matanya. "Aku sudah membeli hak eksklusifnya. Cek kontrak pernikahan kita, Pasal 7 Ayat 2: 'Segala bentuk ekspresi emosional Nyonya Vorthas adalah aset pribadi Tuan Vorthas.'"

Aria tertawa dan mendorong dada bidang suaminya. "Itu tidak ada di kontrak! Kau mengarang!"

"Akan kutambahkan besok." Dan sebelum Aria bisa membalas, Dante sudah mengecup bibirnya.

Ciuman itu lambat. Dalam. Hangat. Bukan ciuman yang terburu-buru atau lapar, tapi ciuman yang mengklaim. Ciuman yang seolah berkata: Kau aman di sini. Bersamaku.

Aria membalas ciuman itu, melingkarkan lengannya di leher Dante. Untuk beberapa saat, dunia luar yang chaos, internet yang gila, staf yang ketakutan?semuanya lenyap.

Hanya ada mereka berdua. Dan cinta mereka yang absurd.

---

Keesokan paginya, kedamaian itu pecah.

Elias masuk ke ruang sarapan dengan langkah tergesa-gesa. Wajahnya pucat lagi?tapi kali ini bukan karena kelelahan. Ini pucat karena kepanikan baru.

"Tuan! Nyonya!"

Dante, yang sedang menyuapkan stroberi ke mulut Aria, menoleh dengan malas. "Jika ini tentang penguin, aku sudah bilang itu hanya lelucon."

"Bukan, Tuan!" Elias menyodorkan tabletnya. "Lihat ini."

Di layar tablet, ada daftar email masuk yang panjangnya seolah tak ada habisnya. Semuanya dari departemen pemasaran brand-brand terbesar di Valestia.

Luxury Fashion House 'Velvet': "Kami ingin Nyonya Aria menjadi Wajah Global Koleksi Musim Depan."

Perhiasan 'Diamond Core': "Tawaran kontrak seumur hidup. Nilai: 50 miliar Crown."

Kosmetik 'GlowUp': "Kami ingin meluncurkan lini produk 'Aria's Glow'. Royalti 20%."

Aria membeku. Stroberi di mulutnya jatuh ke piring.

"Apa... apa ini?" tanyanya, suaranya setengah ngeri.

Dante mengambil tablet itu. Matanya menyipit membaca tawaran-tawaran tersebut. Wajahnya berubah gelap. Sangat gelap.

"Mereka ingin menggunakan wajah istriku untuk menjual barang dagangan mereka," geramnya.

"Ini kesempatan bagus, Dan!" Aria berkata, meski suaranya sedikit bergetar. "Artinya orang-orang mulai menerima aku..."

"Tidak." Dante memotongnya tajam. Dia melempar tablet itu ke atas meja dengan kasar. "Ini invasi. Mereka ingin mengambil citramu. Memanipulasimu. Mengubahmu menjadi produk."

Dante berdiri. Aura kepemilikannya meledak lagi, kali ini lebih kuat dari sebelumnya.

"Elias."

"Siap, Tuan?"

"Balas semua email itu."

"Dengan penolakan, Tuan?"

Dante tersenyum miring. Senyum yang berbahaya.

"Tidak. Dengan penawaran tandingan. Beri tahu mereka: jika mereka ingin menggunakan wajah istriku... mereka harus membeli seluruh perusahaanku dulu. Dan itupun, belum tentu aku jual."

Aria menatap suaminya dengan horor. "DANTE! Itu gila!"

Dante menoleh padanya. Matanya berbinar obsesif.

"Biarkan mereka mencoba, Sayang. Kekacauan baru saja dimulai."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience