Bab 6: Protokol Level Satu

Romance Series 69

Dunia tidak berakhir dengan ledakan.

Dunia berakhir dengan lampu LED di langit-langit mansion Vorthas yang berubah warna. Dari putih hangat, menjadi merah lembut yang berdenyut pelan.

Dum-dum. Dum-dum.

Tidak ada sirine meraung. Tidak ada alarm menjerit. Hanya suara klik mekanis yang serempak?dari setiap jendela, setiap pintu, setiap ventilasi udara di seluruh properti seluas lima hektar itu.

Kaca anti-peluru menutup dengan desisan hidrolik. Jaringan Wi-Fi domestik mati, digantikan intranet militer terenkripsi. Di halaman belakang, empat drone kargo berat menyala tanpa suara, melayang diam di udara seperti burung hantu raksasa yang menunggu perintah.

Dante berdiri di tengah ruang keluarga. Tidak berteriak. Tidak panik. Satu tangan memegang ponsel, tangan satunya masih melingkar longgar di bahu Aria.

Wajahnya datar. Matanya seperti kaca.

"Elias," suaranya tenang, tapi entah kenapa terasa mengisi seluruh ruangan. "Aktifkan Protokol Level Satu."

Elias, yang baru saja masuk dengan tablet di tangan, langsung berhenti. Wajahnya kehilangan warna.

"T-Tuan... Protokol Level Satu? Itu... itu protokol untuk ancaman terhadap kedaulatan negara. Untuk invasi. Untuk upaya kudeta. Untuk?"

"Aktivasi. Sekarang."

Elias menelan ludah. Jemarinya terbang di atas layar tablet, mengetik kode akses.

BEEP.

Satu baris teks muncul di dinding holografik utama: PROTOKOL LEVEL SATU: AKTIF.

Di langit malam di atas Aurelion City, satelit-satelit Vorthas Corp?yang biasanya memantau cuaca dan lalu lintas kargo?mengubah orbitnya secara serempak. Lensa resolusi tinggi mereka berputar, mengunci pada satu koordinat: Mansion Vorthas.

Aria, yang masih duduk di sofa dengan Tuan Capy di pangkuan, mengerjapkan mata. Dia memandang lampu merah yang berdenyut. Kaca jendela yang kini tertutup rapat. Elias yang tampak seperti baru melihat hantu.

"...Dan?" panggilnya pelan.

Dante menoleh. Ekspresinya melunak seketika?seolah ada sakelar "monster" di dalam dirinya yang langsung mati begitu menatap istrinya.

"Ya, Sayang?"

"Aku cuma viral." Aria mengangkat alis. "Foto buram. Bukan aku diculik alien. Kenapa rumah kita tiba-tiba seperti bunker perang?"

Dante berjalan mendekat, berjongkok di depan Aria, mengambil tangannya. "Viral adalah pintu gerbang kekacauan, Aria. Sekarang orang tahu namamu. Wajahmu. Itu celah keamanan. Dan aku tidak bisa membiarkan celah terbuka."

"Ini berlebihan."

"Ini efisien."

Ponsel Dante berdering. Nama di layar: MENTERI KOMUNIKASI VALESTIA.

Dante menjawab. Mode speaker.

"Valerius!" suara Menteri itu pecah, latar belakangnya riuh dengan orang berlarian dan telepon berdering. "Apa yang kau lakukan?! Server komunikasi Distrik Timur lumpuh! Bursa saham teknologi anjlok delapan persen! Rakyat panik?mereka mengira ada serangan siber dari luar negeri!"

Dante tidak bergerak. Jemarinya masih mengusap punggung tangan Aria dengan gerakan ringan.

"Tidak ada serangan, Menteri. Saya hanya melakukan... pembersihan data."

"Pembersihan data?! Kau mematikan internet separuh kota hanya untuk menghapus foto istrimu?!"

"Aku mengoptimalkan privasi warga negara," Dante menjawab datar. "Jika foto itu tersebar, privasi istriku terancam. Jika privasi istriku terancam, stabilitas emosionalku terganggu. Jika stabilitasku terganggu, ekonomi Valestia bisa kolaps karena keputusan bisnis yang impulsif. Jadi, secara teknis, aku sedang menyelamatkan ekonomi nasional."

Hening di seberang.

"...Kau benar-benar gila, Valerius." Suara Menteri itu turun menjadi desisan. "Nyalakan kembali server itu, atau aku akan langsung menghubungi Presiden."

"Silakan. Presiden sedang tidur. Aku sudah mengirim tim keamanan untuk memastikan tidak ada yang membangunkannya."

Dut.

Dante mematikan telepon.

Aria menatapnya dengan mulut setengah terbuka. "Kau... kau menciptakan insiden nasional. Karena foto takoyaki."

"Secara teknis, foto capybara. Takoyaki hanya konteks." Dante tersenyum tipis.

---

Aria berdiri. Lututnya terasa sedikit lemas.

Selama ini dia tahu Dante kaya. Tahu Dante punya pengaruh. Tapi dia selalu membayangkannya dalam skala "eksekutif": uang banyak, mobil mewah, rumah besar.

Ini bukan itu.

Ini bukan kekayaan. Ini kekuasaan absolut.

Dia membayangkan di luar sana?menteri yang berteriak, CEO media yang berkeringat dingin, ribuan insinyur IT yang bekerja lembur, semuanya demi menghapus jejak digital seorang perempuan yang hanya memakai daster batik.

"Dan..." suaranya bergetar sedikit. "Hentikan."

Dante menoleh. "Hentikan apa?"

"Semua ini. Mengendalikan segalanya. Ini... ini menakutkan."

Dante berdiri. Dia mendekati Aria, tapi tidak menyentuhnya?memberi ruang.

"Apa yang menakutkan?" tanyanya, nadanya lembut.

"Kau. Kau bisa membuat satu negara gemetar hanya dengan satu perintah. Kau bisa mematikan internet. Kau bisa melakukan apa saja." Aria menatap matanya. "Siapa kau sebenarnya, Dante? Suamiku? Atau seorang tiran?"

Ruangan hening. Lampu merah terus berdenyut pelan.

Dante memandang Aria lama sekali. Matanya gelap, sulit dibaca.

Lalu dia tertawa kecil. Tawa yang pelan dan renyah, sama sekali tidak cocok dengan suasana.

"Tiran?" ulangnya. "Aria, jika aku tiran, aku tidak akan repot-repot mengirimkan seminar 'Apresiasi Rambut' ke sembilan belas akun pembenci. Aku akan langsung menghapus mereka dari eksistensi."

"Itu tidak lucu."

"Itu fakta." Dante melangkah lebih dekat, meletakkan kedua tangan di bahu Aria. Kali ini lebih mantap. "Aku melakukan ini bukan karena aku ingin berkuasa. Aku melakukan ini karena aku takut."

Aria mendongak. "Takut?"

"Takut kehilanganmu." Bisikan itu keluar seperti pengakuan. "Dunia ini bising. Kotor. Penuh orang yang ingin mengambil, menilai, atau merusak apa yang kucintai. Protokol Level Satu... itu caraku membangun tembok. Tembok yang hanya kau dan aku yang bisa melewatinya."

Aria menatap mata suaminya. Di sana, dia tidak menemukan monster. Dia menemukan pria yang sangat, sangat posesif. Dan sangat, sangat mencintainya.

Napasnya keluar panjang. Ketakutannya belum sepenuhnya hilang. Tapi kemarahannya mulai mencair.

"Kau benar-benar gila," gumamnya.

"Gila untukmu."

"Aku melakukan ini karena aku takut."

"Takut kehilanganmu."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience