Series
69
Mansion Vorthas biasanya terasa seperti hotel bintang tujuh?sunyi, mewah, dan rapi sampai ke sudut terjauh. Tapi pagi ini? Rasanya seperti penjara dengan keamanan maksimum yang sedang menunggu eksekusi.
Aria duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya sendiri. Semalaman dia nyaris tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, yang muncul di kepalanya adalah wajah-wajah staf mansion?Chef Pierre yang dramatis, Mbak Siti yang selalu bawakan teh hangat, Pak Budi sang sopir yang tidak pernah mengeluh?sedang diinterogasi oleh orang-orang bertopeng hitam.
Dia melirik ke jendela. Lampu-lampu merah dari Protokol Level Satu masih berdenyut pelan di langit-langit, menciptakan nuansa futuristik norak yang sama sekali tidak cocok dengan interior klasik aristokrat Valestia.
"Ini keterlaluan," gumam Aria pada diri sendiri. ?Aku cuma viral. Bukan target perburuan media nasional.?
Pintu terbuka.
Dante masuk. Sudah berpakaian rapi?kemeja putih tanpa kerut, jam tangan yang harganya setara satu pulau?tapi di bawah matanya ada kantung hitam tipis. Dia terlihat lelah. Tegang. Dan berbahaya.
"Sarapan sudah siap," katanya datar. "Tapi jangan makan dulu sebelum tim paranoia internal selesai memeriksa semua menu."
Aria menghela napas panjang. "Dan, mereka itu staf kita. Mereka sudah kerja di sini bertahun-tahun. Mereka bukan pembunuh bayaran."
Dante tidak menjawab. Dia hanya meraih tangan Aria, menggenggamnya?erat, posesif, dan sedikit terlalu kencang?lalu membawanya keluar kamar menuju ruang makan.
Di koridor, Aria melihat Elias berdiri di samping dinding. Wajahnya pucat sekali, matanya merah karena kurang tidur. Di tangannya ada cangkir kopi yang mengepul.
"Selamat pagi, Nyonya," sapanya lemah. Suaranya serak seperti orang yang semalaman tidak tidur.
"Pagi, Elias. Kau baik-baik saja?" tanya Aria khawatir.
Elias mengangguk kaku. "Saya... baik. Hanya perlu sedikit kafein."
Dia mengangkat cangkir itu ke bibirnya. Meneguk isinya dalam satu tegukan besar.
Satu detik hening.
Lalu mata Elias membelalak. Wajahnya berubah warna?hijau pucat. Dia mulai terbatuk-batuk hebat, air mata mengalir deras dari sudut matanya.
"ELIAS!" Aria panik. "Kenapa kau?!"
Elias jatuh berlutut, memegangi tenggorokannya sendiri. "Rasanya... pahit... pedas... seperti... sabun..."
Dante berhenti, menoleh dengan ekspresi santai. "Oh. Itu cairan pembersih lantai organik aroma lemon. Aku kira itu cold brew artisan dari Vellora.?
Aria melotot. "DANTE! Itu racun!"
"Deterjen ramah lingkungan," koreksi Dante tenang. "Tidak mematikan. Hanya akan membuat napas Elias wangi lemon selama tiga hari ke depan. Ayo, lanjut sarapan."
Aria menggelengkan kepala?antara ingin tertawa dan ingin menangis. Hidup di mansion ini semakin hari semakin sulit dipercaya.
---
Ruang makan sudah disulap menjadi ruang sidang overthinking Dante.
Meja panjang yang biasanya dipakai untuk jamuan elit, sekarang dikelilingi oleh seluruh staf mansion. Chef Pierre. Para asisten rumah tangga. Bodyguard. Tukang kebun. Bahkan petugas kebersihan kolam renang. Mereka semua duduk dengan punggung tegak, wajah pucat, tangan gemetar di atas pangkuan.
Di ujung meja, Dante duduk seperti hakim di pengadilan akhir zaman. Tablet holografik di depannya menampilkan daftar nama staf, lengkap dengan kode warna merah dan hijau.
Aria dipaksa duduk di sampingnya. Dia merasa sangat tidak nyaman.
"Mulai," perintah Dante dingin.
Elias?yang kini napasnya benar-benar menyengat lemon?maju dengan langkah sedikit goyah. "Tuan... kami sudah menyaring data digital seluruh staf selama dua puluh empat jam terakhir."
Dante mengetuk meja. "Siapa yang mengakses jaringan Wi-Fi tamu antara pukul tujuh sampai delapan malam kemarin? Waktu foto itu diambil."
Keheningan mencekam.
Chef Pierre mengangkat tangan dengan gemetar. "S-saya, Tuan. Saya... sedang menonton tutorial soufflé."
Dante menatapnya tajam. "Apakah kau menyukai unggahan 'Team Aria' di media sosial?"
Pierre menelan ludah. "S-saya... mungkin tanpa sengaja menekan tombol 'like' saat tangan saya gemetar karena takut pada Tuan..."
Dante mencatat sesuatu di tabletnya. "Dicurigai. Simpati terhadap narasi publik. Awasi terus."
Pierre hampir roboh dari kursinya.
Berikutnya, seorang asisten muda bernama Rina melangkah maju. Dia tampak sangat gugup.
"S-saya hanya mengecek cuaca, Tuan," bisiknya.
Dante menyipitkan mata. "Rina. Akun media sosial pribadimu. Siapa yang kau ikuti?"
Rina gemetar hebat. "S-saya... saya mengikuti akun... @CapybaraLoversClub..."
Dante membeku. Matanya menyala. "Kubu Capybara?"
Rina mengangguk cepat, air mata mulai menggenang di matanya. "Maaf, Tuan! Bonekanya lucu! Saya tidak bermaksud jahat! Saya hanya ingin melihat foto-foto Tuan Capy yang lain!"
Aria sudah tidak tahan.
"Cukup!" Dia menepuk meja.
Semua orang menoleh. Dante menatap istrinya, bingung.
"Apa maksudmu 'cukup', Sayang?"
"Lihat mereka, Dan!" Aria menunjuk staf-staf yang ketakutan. "Mereka gemetar semua. Pierre hampir kena serangan jantung. Rina menangis. Ini bukan interogasi kriminal?ini penyiksaan mental!"
Dante mengerutkan kening. "Aku sedang mencari tersangka penghancur privasi rumah tangga, mereka harus dihukum."
"Mereka bukan tersangka penghancur privasi rumah tangga!" Aria membentak. "Mereka cuma manusia biasa yang punya hobi aneh dan suka scrolling media sosial. Kau mengubah rumah kita jadi neraka hanya karena satu foto buram!"
Dante terdiam. Dia menatap Aria. Lalu menatap staf-stafnya yang menyedihkan?wajah-wajah pucat, mata-mata ketakutan.
"...Baiklah," katanya akhirnya, meski raut wajahnya masih masam. "Lanjutkan penyaringan. Tapi... kurangi intensitas tatapan mata saya."
Aria menghela napas panjang. Rasa bersalah mulai menggerogoti dadanya. Semua ini gara-gara dia. Karena dia ingin hidup normal, sekarang semua orang di rumah ini hidup dalam ketakutan.
---
Proses penyaringan berlanjut selama satu jam. Ketegangan di ruangan semakin pekat.
Akhirnya, Elias berhenti di depan seorang gadis muda.
Namanya Lani. Usianya sekitar sembilan belas tahun. Anak magang di divisi housekeeping, baru bekerja dua minggu. Tubuhnya kecil, pendiam, dan selalu menunduk.
Lani gemetar hebat. Tangannya mencengkeram ujung seragam sampai buku-buku jarinya putih.
"Lani," suara Elias?selembut mungkin untuk seseorang yang napasnya berbau sabun lemon. "Akun @TruthSeeker_99 terhubung ke perangkat ponselmu. Apakah kau yang mengunggah foto Nyonya Aria?"
Ruangan jatuh dalam keheningan total.
Dante bangkit dari kursinya. Langkahnya berat mendekati Lani. Aura dinginnya menyelimuti seluruh ruangan.
"Kau," suaranya rendah dan menakutkan. "Mengapa?"
Lani menangis tersedu-sedu. Dia jatuh berlutut.
"M-maaf, Tuan! Maafkan saya!" isaknya pecah. "Saya tidak bermaksud jahat! Saya bersumpah!"
Dante mencondongkan tubuh, wajahnya hanya beberapa senti dari Lani. "Jelaskan. Atau aku akan membeli perusahaan tempatmu melamar lalu menolak CV-mu secara personal.?
Aria segera berdiri dan menarik lengan Dante. "Dan! Jangan ancam dia!"
Dante menepis tangan Aria dengan lembut, tapi matanya tetap terkunci pada Lani. "Bicara."
Lani mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. Matanya besar dan polos?mata anak kecil yang baru sadar telah melakukan kesalahan fatal.
"Saya... saya melihat Tuan dan Nyonya di pasar malam," katanya terbata-bata. "Tuan... Tuan terlihat berbeda."
Dante mengernyit. "Berbeda bagaimana?"
"Biasanya Tuan terlihat... dingin. Menakutkan. Seperti mesin." Kata-kata itu keluar begitu saja, membuat beberapa staf lain menahan napas ketakutan. "Tapi waktu Nyonya menang game tembak ikan... Tuan tersenyum. Tuan memegang boneka capybara itu dengan hati-hati sekali. Tuan kelihatan... bahagia. Seperti manusia biasa."
Lani menarik napas, suaranya bergetar.
"Momen itu indah, Tuan. Saya ingin orang-orang melihat sisi lain Tuan Dante Vorthas. Bahwa Tuan juga bisa mencintai. Jadi... saya mengambil foto itu. Dan saya unggah. Saya pikir... mungkin orang-orang akan ikut senang melihatnya."
Hening.
Dante terpaku. Topeng kemarahannya retak sejenak.
Ini bukan alasan yang dia duga. Dia menduga ada suap dari kompetitor. Dia menduga ada mata-mata korporat. Dia sudah siap menghadapi konspirasi tingkat tinggi.
Tapi ini? Seorang gadis muda yang hanya ingin melihat bosnya tersenyum.
Astranet chaos. Investor Skyhalo panik. Fandom elit saling perang. Protokol Level Satu. Semua bermula dari ketulusan naif seorang anak magang.
Aria merasakan dadanya sesak. Dia menatap Lani, lalu menoleh ke Dante.
"Dia tidak bermaksud menyakiti kita, Dan," bisiknya. "Dia hanya... mengagumi kita."
Share this novel