BAB 3: Tuan Capy

Romance Series 69

Dante tidak bisa lagi.

Dia melangkah maju, menggeser Aria sedikit. "Biarkan saya lihat dulu."

"Dan?"

"Sebentar saja."

Dia mencondongkan tubuh ke arah kolam, mata menyipit. Dari jam tangannya, sebuah panel kecil terbuka ? layar tipis yang langsung menampilkan data yang bahkan Aria tidak berani membacanya karena isinya pasti tidak masuk akal.

Dan itu memang tidak masuk akal.

Di sudut belakang stan, seorang pemuda berjaket tipis yang tadi berpura-pura sibuk dengan laptop tiba-tiba bangkit dan mendekat ke arah panel listrik stan itu.

"Kakak Besar!" bisiknya antusias ke arah Dante. "Bisa saya retas mikrokontrolernya? Bikin ikan emasnya lambat?"

Elias, yang entah dari mana sudah berdiri di balik gerobak es krim sebelah, mencengkeram kerah jaket pemuda itu dan menariknya mundur. "Tidak," desisnya. "Ini game anak-anak, bukan operasi intelijen."

"Tapi Kakak Besar?"

"Tidak."

Dante mengabaikan perdebatan di belakangnya. Matanya masih terkunci pada pergerakan ikan-ikan plastik itu.

Aria menyentuh lengannya. "Dan. Ini cuma mainan."

"Dia sudah kalah tujuh kali." Suaranya rendah, seperti orang yang sedang membahas sesuatu yang mengancam ketertiban dunia. "Mesin ini tidak akurat atau penjaganya curang."

"Atau aku yang tidak bisa membidik."

Dante menoleh sebentar, menatapnya. Lalu kembali ke kolam.

Aria melihat ekspresi di wajah suaminya itu ? rahang mengeras, konsentrasi penuh, seperti menghadapi rapat direksi ? dan entah mengapa tiba-tiba merasa sangat ingin tertawa. Dia menahan senyumnya rapat-rapat.

Dante mengangkat pistol pink itu.

Dan tepat saat jarinya menyentuh pelatuk?

Spray.

Bukan dari Dante. Dari Aria, yang tangannya masih ada di pistol karena Dante belum benar-benar mengambil alih, yang tubuhnya sedikit miring karena pinggangnya yang memang sudah lama agak bermasalah kalau berdiri terlalu lama, yang menutup sebelah matanya dan menekan pelatuk sambil bergumam, "Dapetin akuuu?"

Air itu melesat dengan sudut yang secara fisika tidak seharusnya mengenai apa pun.

Tapi ikan emas di ujung kanan kolam ? yang tadi jadi sedikit lambat karena pemuda berjaket tadi sempat menyentuh kabel sebelum Elias menariknya mundur ? bergerak setengah detik terlambat dari ritme normalnya.

Plak.

Ikan emas itu jatuh.

Lampu stan berkedip. Musik kemenangan 8-bit meletus dari speaker kecil.

Penjaga stan melongo. Aria membuka matanya.

"Hah?"

"SELAMAT! HADIAH UTAMA!"

---

Dante masih memegang pistol yang belum sempat dia gunakan. Layar analisisnya masih menyala. Dia menatap angka probabilitas dari sudut tembakan itu ? sesuatu yang sangat kecil sehingga programnya butuh tiga detik ekstra untuk memproses bahwa ini bukan error.

Penjaga stan menurunkan boneka capybara raksasa itu dari gantungannya. Bulunya cokelat dan sedikit kempes di bagian bahu kanan. Mata kirinya miring lebih jauh dari yang terlihat dari bawah. Ada jahitan di perutnya yang tidak sepenuhnya rapi.

Aria memeluknya langsung, dagu menempel di kepala boneka.

"Lihat, Dan. Aku menang." Dia menggosokkan pipinya ke bulu boneka yang agak kasar itu. "Tuan Capy."

Dante memandang boneka itu. Lama. Memandang jahitan yang tidak rapi. Mata yang miring. Bulu yang kempes.

Lalu memandang wajah istrinya.

Dia mematikan layar analisisnya.

"Boneka itu cacat produksi," katanya.

"Iya." Aria tidak berhenti tersenyum. "Mirip kamu."

"Saya tidak cacat."

"Maksudku unik." Dia mengecup pipi Dante cepat, sebelum pria itu bisa memutuskan apakah kalimat itu pujian atau bukan. "Makasih ya tadi nggak ikut curang."

Dante tidak langsung menjawab. Tangannya bergerak ? mengambil selembar tisu basah dari saku jasnya, mengelap debu di kepala boneka itu, lalu mengembalikannya ke pelukan Aria dengan hati-hati.

"Kita bawa pulang," katanya akhirnya. Datar. Seperti keputusan bisnis.

Aria menatapnya. "Itu saja? Nggak mau beli satu distrik dulu?"

"Belum perlu." Dia mulai berjalan. "Mana wahana berikutnya."

---

Di sudut barat stan es krim, seorang pemuda duduk di atas kotak kabel dengan ponsel di tangan. Dia salah satu orang yang tadi ditarik Elias, tapi setelah dilepaskan dia tidak pergi ? dia punya pekerjaan lain malam ini, di luar instruksi siapa pun.

Fotonya blur. Diambil dari jarak yang tidak ideal, dalam cahaya yang tidak cukup, dengan tangan yang sedikit gemetar karena tidak mau ketahuan.

Tapi ada satu frame yang lumayan: Dante Vorthas, pria yang wajahnya terpasang di billboard kampanye amal di seluruh kota, sedang memegang boneka capybara bermata miring dengan ekspresi yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata yang biasa dia gunakan untuk menulis caption. Di sebelahnya, seorang perempuan ? hanya kelihatan rambut ikalnya, bahu kecilnya, dan bahwa dia sedang tertawa ? terlihat seperti pusat gravitasi dari seluruh frame itu.

Pemuda itu mengunggah foto itu ke V-Net. Caption-nya singkat: Dante Vorthas ketemu cinta sejati? #CapybaraLove

Notifikasi pertama datang dalam tujuh detik.

---

Bianglala ada di ujung pasar, cukup besar untuk terlihat dari mana saja tapi cukup tua untuk membuat Dante berdiri memandanginya selama hampir tiga puluh detik sebelum berkata apa-apa.

"Sertifikasinya masih berlaku?"

"Dante."

"Terakhir diperiksa kapan?"

"Dante."

Dia menoleh ke Aria.

"Romantis," kata Aria. "Pemandangan kota. Langit malam. Kita berdua. Plus Tuan Capy."

Dante memandang boneka di pelukan istrinya, lalu kembali ke bianglala yang besinya sudah agak berkarat di beberapa sambungan. Dia mengeluarkan alat pemindainya.

Aria sudah melangkah ke arah loket. "Aku beli tiket duluan ya."

Dante memindai baut-baut gondola dengan ekspresi orang yang tidak akan mempercayai struktur ini sampai ada bukti yang cukup. Tapi Aria sudah kembali dengan dua tiket di tangan, dan gondola sudah terbuka, dan akhirnya dia masuk juga.

Pintu ditutup. Roda berputar. Gondola naik perlahan.

Di bawah, suara pasar malam mengecil ? teriak anak-anak, klakson, musik yang terdengar dari tiga arah berbeda sekaligus. Semua itu surut ke dalam jarak, dan yang tersisa adalah angin malam dan lampu-lampu kota yang dari atas terlihat seperti sesuatu yang tidak pernah direncanakan oleh siapa pun tapi entah bagaimana jadi indah.

Aria menyandarkan kepala di bahu Dante. Tuan Capy duduk di pangkuannya dengan ekspresi yang, untuk ukuran boneka berbulu cacat, terlihat cukup puas dengan hidupnya.

Dante melingkarkan lengan di bahu Aria. Gerakannya tidak terburu-buru.

"Kalau kamu suka," katanya pelan, "kita bisa datang lagi. Minggu depan."

Aria mendongak. "Asal jangan beli distriknya. Jangan usir orangnya. Jangan ganti lampu-lampunya jadi warm white."

Dante diam, memandang kota yang berkelip di bawah mereka.

"Saya belum janji," jawabnya.

Aria tertawa kecil ? tertawa yang dia sembunyikan cepat karena gondola mulai sampai di puncak dan pemandangannya terlalu bagus untuk diganggu dengan tawa. Dari sini, Aurelion City terlihat seperti peta yang masih hidup. Jalan-jalan anti-gravitasi meliuk seperti urat neon. Menara kristal memantulkan cahaya satu sama lain. Dan di bawah semua itu, pasar malam Distrik 7 ? kecil, ramai, sedikit kacau ? bersinar dengan caranya sendiri.

Aria memandanginya lama.

---

Yang tidak dia lihat: di area parkir bawah bianglala, empat puluh mobil sedan hitam berbaris dalam formasi yang terlalu rapi untuk kebetulan. Mesin mati. Lampu mati. Di samping masing-masing, seseorang berdiri dengan tangan di dada.

Aria tidak menoleh ke bawah. Tidak sampai gondola hampir kembali ke tanah, sampai rasa penasaran mengalahkan momen, sampai dia melirik sebentar melalui lantai kaca gondola yang transparan.

Empat puluh mobil.

Empat puluh orang berdiri di samping masing-masingnya.

Semuanya memandang ke atas.

Aria tidak bergerak selama beberapa detik. Lalu dia menoleh ke Dante, yang sedang memandangi cakrawala dengan ekspresi seseorang yang tidak tahu apa-apa dan tidak akan mengaku tahu apa-apa.

"Dante."

"Hmm?"

"Itu mobil siapa di bawah."

Dante tidak menoleh. Di sudut bibirnya ada sesuatu yang tidak cukup besar untuk disebut senyum, tapi juga tidak cukup kecil untuk diabaikan.

"Indah ya, malam ini?"

Aria menutup matanya sebentar.

"DANTE!"

Gondola menyentuh tanah. Pintu terbuka. Di luar, angin pasar malam menyergap lagi ? hangat, ramai, berbau gorengan dan keringat dan malam yang masih panjang.

Dan empat puluh orang di area parkir, serempak, meluruskan punggung mereka sedikit lebih tegak.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience