BAB 4: Viral Satu Negara

Romance Series 69

Pagi di Vorthas Mansion terasa terlalu sunyi.

Matahari menyelinap pelan lewat jendela kaca raksasa, menyentuh lantai marmer kamar utama yang luasnya hampir tak masuk akal. Di tengah ranjang king-size berselimut sutra Aurelion, Aria terbangun dengan malas.

Dia belum membuka mata. Tangannya meraba ke samping, mencari sesuatu yang kasar dan agak bau?Tuan Capy. Boneka capybara jelek dari pasar malam itu kini jadi pelukannya setiap tidur.

"Pagi, Tuan Capy," bisiknya serak, mencium kepala boneka yang matanya masih miring dua derajat. "Kita selamat dari operasi militer Dante kemarin."

Dante sendiri sudah tidak di ranjang.

Sejak subuh, pria itu sudah duduk di ruang kerja pribadinya di sayap timur mansion. Di hadapannya, dinding layar holografik selebar sepuluh meter menampilkan puluhan panel data. Di tangannya, secangkir kopi hitam tanpa gula. Di matanya, smart-lens yang memproyeksikan notifikasi merah berkedip tanpa henti.

Dia sedang membaca laporan krisis.

Bukan invasi korporat. Bukan sabotase proyek jembatan antar-distrik. Bukan manipulasi saham.

Tapi ini:

TRENDING #1 VALESTIA NET
SIAPA WANITA DI SAMPING DANTE VORTHAS?

Terpampang sebuah foto. Resolusi rendah. Fokusnya buruk. Tapi cukup jelas untuk membuat seluruh Valestia terguncang.

Foto itu menampilkan Dante Vorthas?pria paling dingin, paling tidak tersentuh di negeri ini?tengah memegang boneka capybara bermata miring, dengan ekspresi bingung, lembut, dan sangat manusiawi. Di sampingnya, seorang perempuan hanya terlihat dari belakang: rambut ikal, bahu kecil, tertawa lepas.

Shares: 12 juta.
Komentar: 47 juta.
Server V-Net: nyaris ambruk.

Dante menatap layar. Wajahnya tanpa ekspresi. Tapi jarinya mengetuk-ngetuk meja kayu eboni?satu-satunya tanda bahwa ia terganggu.

"Elias," suaranya datar.

Elias sudah berdiri di pojok ruangan dengan tablet di tangan. Kantung matanya makin gelap. Dia melangkah maju, menelan ludah.

"Ya, Tuan?"

"Berapa penurunan saham LoveLink sejak foto ini beredar?"

Elias mengakses data secepat mungkin. "Turun tujuh belas persen dalam lima jam terakhir, Tuan. Pengguna pria kehilangan harapan. Mereka merasa jika seseorang seperti Anda saja sudah memiliki pasangan misterius, maka peluang mereka di dunia percintaan sama dengan nol mutlak."

Dante menyesap kopinya. "Efisien. Kompetisi berkurang."

"Tuan, ini bencana humas! Media berspekulasi liar! Ada teori konspirasi bahwa perempuan itu adalah agen rahasia dari benua bawah tanah!"

Dante mengangkat alis. "Benua bawah tanah tidak ada. Ekspedisi saya ke inti planet sudah memastikan itu tahun lalu."

Elias mengusap wajahnya. "Fokus. Fokus kita adalah privasi Nyonya Aria. Bukan geologi."

Dante mengalihkan pandangan ke layar. Jemarinya bergerak cepat di keyboard virtual.

"Siapa yang memulai thread tentang bentuk telinga perempuan itu?"

Elias memeriksa. "Profesor Halloway, Universitas Teknologi Aurelion. Judul threadnya: 'Analisis Biometrik: Wanita Misterius Memiliki Lobus Telinga Tipe Bangsawan Timur Kuno.' Panjangnya tiga puluh halaman, lengkap dengan diagram."

Dante berhenti mengetuk meja.

"...Teliti," gumamnya. "Hubungi kantornya. Saya akan danai risetnya."

"APA?!"

"Lima puluh miliar Crown. Grant tanpa syarat. Tapi satu permintaan: dia berhenti menebak-nebak dan bekerja dengan data primer. Data primer hanya saya yang punya."

Elias membuka mulut. Menutupnya lagi. Lalu mengetik di tabletnya dengan ekspresi pasrah.

---

Aria turun ke ruang makan dengan langkah masih setengah mengantuk.

Daster batiknya masih sama seperti kemarin?motif parang rusak yang sudah pudar. Rambutnya dicepol asal. Satu tangannya memeluk Tuan Capy, satu lagi mengucek mata.

"Dan? Bubur ayam masih ada?"

Dante sudah duduk di ujung meja. Di hadapannya, sebuah koran cetak kuno?barang antik langka. Di sekeliling ruangan, semua layar menyala dengan satu gambar yang sama.

Aria berhenti berjalan.

Dia menatap layar TV 85 inci. Lalu panel holografik di dinding. Lalu layar kecil di pintu kulkas pintar.

Semuanya menampilkan foto blur itu. Dengan teks besar menyala: WANITA MISTERIUS: TERUNGKAP?

Sendok di tangan Aria jatuh. Klontang.

"...Itu kita?!"

Dante membalik halaman koran. "Foto malam itu. Kualitasnya rendah. Tapi framing-nya cukup artistik, harus kuakui."

"DANTE! AKU VIRAL?!"

"Tingkat nasional," Dante menjawab tenang. "Menggeser berita uji coba roket pemerintah. Prestasi, sebenarnya."

Aria merosot ke kursi. Wajahnya pucat. "Orang-orang akan tahu aku pakai daster murahan. Mereka akan tahu aku makan takoyaki pinggir jalan. Reputasi istri CEO?hancur."

Dante menutup korannya. Berdiri. Berjalan mendekat.

"Reputasimu tidak hancur, Aria. Reputasimu hanya berubah. Dari tidak dikenal menjadi perbincangan nasional. Itu peningkatan eksposur."

"Itu sama saja!"

"Tidak." Dante duduk di sampingnya, meraih tangan Aria. "Hancur berarti mereka melupakanmu. Dibicarakan berarti kau penting. Aku lebih suka kau penting."

Aria menatapnya. Ada kehangatan aneh di balik logika dingin suaminya.

"Aku malu, Dan. Aku cuma ingin makan takoyaki biasa. Sekarang seluruh negeri tahu aku istrimu yang..."

"Yang merebut hatiku dengan boneka capybara cacat produksi?" Dante menyelesaikan kalimatnya.

Aria memukul lengannya pelan. "Aku serius!"

"Aku juga," kata Dante, nadanya datar tapi matanya tidak bercanda.

---

"Aku ingin semuanya hilang," kata Aria setelah sarapan, duduk bersila di sofa dengan Tuan Capy di pangkuan. "Foto. Hashtag. Thread. Semua."

Dante memandangnya. Kecemasan di mata Aria adalah tombol merah untuknya. Siapa pun yang membuat istrinya tertekan harus ditindak.

Dia menekan satu tombol di pergelangan tangannya.

PROTOKOL KRISIS MEDIA: AKTIF.

Dalam tiga puluh detik, ruang makan berubah menjadi pusat komando. Empat tim masuk serentak: Cyber Security berbaju hitam dengan kacamata realitas virtual, Tim Hukum membawa arsip digital setebal ensiklopedia, Tim Media Relations dengan draf rilis pers di tangan, dan Tim Intelijen Digital yang langsung membongkar tiga laptop server portabel di atas meja makan.

"Target," suara Dante dingin dan presisi. "Hapus jejak digital foto tersebut dari seluruh server Valestia. Blokir tagar. Bekukan akun penyebar utama. Eksekusi sekarang."

"Jalankan!" serempak keempat tim.

Layar-layar berubah. Kode hijau mengalir. Peta penyebaran informasi muncul. Sentimen publik dianalisis secara real-time.

Tapi internet adalah musuh yang tidak bisa dikalahkan dengan perintah.

Setiap satu foto lenyap, tiga unggahan baru muncul. Setiap akun utama diblokir, selusin akun klon mengudara. Tagar #SiapaDia dihapus?muncul tagar baru yang lebih provokatif: #LindungiSangMisterius, #CapybaraGate, #CintaElite.

Elias menerobos masuk. Wajahnya lebih pucat dari sebelumnya.

"Tuan. Streisand Effect. Semakin kita hapus, semakin mereka penasaran. Share sudah dua puluh lima juta."

Dante mengeratkan rahang. Udara di ruangan terasa mendingin.

Aria, yang sedari tadi hanya menonton, tiba-tiba tertawa kecil.

"Dan," panggilnya pelan.

Dante menoleh. Wajahnya masih tegang. "Aku sedang berperang dengan algoritma, Sayang."

"Dan kau kalah," Aria tersenyum tipis. "Internet itu seperti air. Kau sumbat satu lubang, dia bocor di tempat lain."

"Mereka membicarakanmu. Mereka menganalisismu. Itu pelanggaran privasi fundamental."

"Biarkan saja." Aria bangkit, berjalan mendekat. "Mereka hanya menebak-nebak. Lihat sendiri."

Dia menyerahkan ponselnya. Layar menampilkan utas komentar di bawah foto viral itu.

Dante membaca. Satu per satu. Ekspresinya semakin beku.

@TechSavvy_Valestia: "Postur tubuhnya mengindikasikan profesi medis. Lihat sudut bahunya. Itu dokter pribadi Dante."

@SecurityAnalyst: "Kalian salah. Itu pengawal elit. Gerakannya efisien. Mungkin lulusan akademi rahasia."

@TrutherDaily: "Bukan manusia. Itu AI generatif. Dante terlalu sempurna untuk berpasangan dengan manusia biasa."

@Stargazer: "Itu alien dari rasi bintang Capricorn. Makanya dia memeluk boneka capybara. Itu simbol spesiesnya."

@FashionEye: "Batiknya... apakah itu pewarna alami atau sintetis? Kalau sintetis, aku tidak bisa menghormatinya."

Aria tertawa. Bukan tertawa kecil?tertawa lepas, sampai memegang perutnya. "Alien! Dante, mereka mengira aku alien dari rasi Capricorn!"

Dante tidak tertawa. Matanya masih terpaku pada komentar lain.

"Ada sembilan belas akun yang menghina tekstur rambutmu," katanya pelan. "Mereka menyebutnya 'sarang burung tak beraturan' dan 'kekacauan visual'."

"Itu memang berantakan, Dan. Aku baru bangun tidur."

"Aku sudah membeli perusahaan tempat mereka bekerja."

Tawa Aria berhenti.

"...Apa?"

"Empat dari mereka bekerja di sektor perbankan. Dua di asuransi. Sisanya di firma teknologi. Aku baru menyelesaikan akuisisi saham mayoritas seluruh perusahaan itu lima menit yang lalu. HRD mereka akan menerima instruksi evaluasi dalam waktu dekat."

"DANTE!" Aria setengah berteriak. "Kau tidak bisa memecat orang hanya karena mereka mengomentari rambutku!"

"Bukan karena komentarnya. Karena kegagalan mereka menjaga profesionalisme di ruang publik. Itu pelanggaran kode etik. Kebetulan, kode etik itu baru kutulis ulang tadi pagi."

"Itu penyalahgunaan kekuasaan!"

"Itu keadilan," Dante mengoreksi. "Rambutmu adalah mahakarya. Siapa pun yang tidak mampu melihatnya tidak layak menerima gaji dari perusahaan milik suami pemilik mahakarya itu."

Aria menghela napas panjang. Antara marah dan hampir tersenyum. "Batalkan pemecatannya. Beri mereka peringatan saja. Daftarkan mereka kursus... entahlah, apresiasi estetika atau semacamnya."

Dante mengerjapkan mata. Memproses. "...Kursus apresiasi estetika. Masuk akal. Lebih edukatif daripada pemutusan kontrak."

Dia menoleh ke Elias. "Kau dengar?"

Elias, yang berdiri di balik pilar, mengangkat kepala. "Ya, Tuan?"

"Batalkan evaluasi. Kirimkan undangan seminar: 'Filosofi Keindahan yang Tak Sempurna: Sebuah Studi Kasus'. Kehadiran wajib."

Elias mencatat, lalu menghilang lagi. Ekspresinya seperti orang yang sudah terlalu lelah untuk bertanya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience