BAB 1: Suamiku yang Tidak Mengerti Kata "Cukup"

Romance Series 69

Aurelion City tidak pernah benar-benar tidur. Bahkan sebelum matahari sampai ke menara-menara kristal di Upper Spire, lampu-lampu anti-gravitasi sudah ganti shift dengan cahaya pagi, dan jalanan sudah penuh orang yang lupa kapan terakhir kali mereka tidak terburu-buru. Di distrik paling atas, di mana udara berbau parfum dan ambisi orang tua dalam jumlah yang hampir sama, ada satu penthouse yang pagi-paginya selalu dimulai dengan sebuah pertanyaan.

Bukan pertanyaan penting. Tapi bagi penghuninya, semua pertanyaan penting.

"Aria."

Aria, yang sedang berjuang dengan sikat gigi dan pasta yang keluar terlalu banyak, melirik ke arah cermin. Bayangannya?rambut acak-acakan, daster batik motif parang rusak yang warnanya sudah hampir tidak bisa disebut warna?menatap balik dengan pasrah.

"Apa, Dan?" jawabnya sambil berkumur.

Dante muncul di ambang pintu kamar mandi. Kemeja putih, jam tangan yang harganya bisa beli beberapa unit apartemen di Distrik 3, rambut disisir ke belakang tanpa satu helai pun yang berani keluar jalur. Dia menatap daster itu seperti menatap laporan keuangan yang angkanya tidak masuk akal.

"Kain itu lagi."

"Namanya daster," kata Aria. "Baju rumah. Nyaman. Adem."

Dante mendekat. Ujung jarinya menyentuh tepi kain batik itu sebentar?gerakan yang, kalau Aria tidak kenal pria ini, mungkin terlihat seperti ketertarikan. Tapi dia sudah cukup lama menikah untuk tahu bahwa Dante sedang menganalisis.

"Warnanya bentrok dengan palet ruangan," katanya akhirnya. "Dan tidak aerodinamis."

"Aku tidak perlu aerodinamis untuk menyikat gigi, Dan."

"Itu bukan poin utamanya."

Aria meludah ke wastafel, lalu menoleh ke suaminya. "Ini hadiah dari Ibu."

Dante menghentikan analisanya.

Ibunda Aria adalah satu-satunya variabel dalam hidupnya yang tidak bisa dia kalkulasi ulang. Dia terdiam sebentar?cukup lama untuk Aria menghitung sampai tiga dalam kepala?sebelum akhirnya mundur.

"Jangan duduk di sofa artisan itu."

"Aku tahu."

"Serat Crown-class tidak?"

"Aku tahu, Dan."

Dia mengecup pipi suaminya cepat, sebelum Dante sempat membangun argumen lanjutan. "Sekarang aku mau sarapan."

---

Ruang makan mereka lebar dan sunyi seperti museum yang belum buka. Meja eboni panjang itu setiap paginya jadi panggung untuk pertunjukan yang sama: makanan-makanan mahal di satu sisi, dan satu mangkuk bubur ayam kampung di sisi Aria?lengkap dengan kerupuk dan bawang goreng yang ditaburkan sendiri oleh Chef Pierre, bukan karena dia mau, tapi karena Dante sudah menyusun protokol sarapan istrinya dalam dokumen setebal dua puluh halaman.

Aria duduk. Menyendoki bubur. Menatap jus jeruk di depannya yang warnanya terlalu sempurna untuk terasa enak.

Dante membuka tablet holografiknya. Berita ekonomi mengapung di udara antara mereka.

"Elias," panggilnya.

Elias muncul dari balik pilar. Matanya sudah capek sejak jam enam pagi?Aria tahu karena dia sudah tidak membawa stylus, artinya tangannya sudah terlalu lelah untuk pura-pura siap. "Ya, Tuan?"

"Ada tulang di bubur istri saya."

Elias melihat ke mangkuk Aria. Lalu ke Dante. Lalu ke mangkuk lagi. "Kartilago, Tuan. Dari ayam organik. Chef Pierre sudah memeriksa tiga kali."

"Pecat Chef Pierre."

"Tuan." Nada Elias berubah?bukan marah, lebih ke seperti orang yang sedang menjelaskan sesuatu kepada anak kecil yang sangat cerdas tapi tidak mau mendengarkan. "Chef Pierre itu juara Platinum Gastronomy Valestia tiga kali berturut-turut. Kalau kita pecat, dia pindah ke kompetitor. Saham restoran kita bisa?"

"Baik." Dante menyuap telurnya. "Tidak perlu dipecat. Suruh dia ambil kursus Deteksi Tulang Ayam di Nordraven. Biaya perusahaan. Dan beli mesin X-ray portabel untuk dapur."

Hening sebentar.

"X-ray portabel," ulang Elias. Bukan pertanyaan. Hanya penegasan bahwa dia mendengar dengan benar.

"Taruh di samping kulkas."

"Siap, Tuan." Elias mencatat. Tanpa ekspresi. Aria menduga pria itu sudah menghabiskan kapasitas terkejutnya sejak bulan pertama kerja di sini. "Ada lagi?"

"Turunkan suhu kota 0,5 derajat. Kulit Aria kering kalau?"

Aria hampir tersedak kuahnya. "Kamu ngatur cuaca?!"

"Layanan pelanggan," kata Dante, tidak mengalihkan pandangan dari tabletnya.

"Itu manipulasi iklim ilegal!"

"Itu efisien. Kulit kering bikin gatal, gatal bikin nggak nyaman, nggak nyaman?"

"Selesai." Aria mengangkat tangannya. Dia sudah cukup mendengar rantai logika ini untuk tahu ke mana ujungnya. "Aku mengerti. Terima kasih atas dedikasi meteorologimu."

Dante akhirnya menoleh. Ada sesuatu di sudut matanya?bukan senyum, tapi yang paling dekat dengan senyum yang bisa dilakukan wajah itu di pagi hari. "Rencana hari ini?"

Aria menelan kerupuknya. "Aku mau keluar."

Tablet Dante turun dua senti.

"Ke mana?"

"Pasar Malam Distrik 7. Festival makanan jalanan. Takoyaki, game tembak ikan, bianglala." Dia menyebut semuanya cepat, seperti kalau diucapkan cukup santai Dante tidak akan sempat membangun pertahanan. "Tanpa pengawal."

Dante meletakkan garpunya.

Proses kalkulasi berlangsung sekitar empat detik?Aria sudah bisa membacanya dari cara otot rahang suaminya bekerja. Potensi kriminalitas. Kepadatan populasi. Bakteri per meter persegi. Probabilitas seseorang mengenali istrinya dan melakukan hal yang tidak dia sukai.

"Tidak," kata Dante.

"Aku punya KTP."

"Itu tidak relevan."

"Aku punya hak asasi warga Valestia untuk makan takoyaki kalau aku mau."

Dante membuka mulut. Menutupnya lagi. Kartu hak asasi selalu membuatnya kehilangan sudut argumen, karena secara teknis dia tidak bisa membantah tanpa terdengar seperti otokrat, dan dia sangat tidak suka terdengar seperti otokrat meski kadang bertingkah seperti satu.

"...Baik," katanya akhirnya. "Kamu boleh pergi."

Aria sudah setengah berdiri ketika Dante menambahkan, dengan nada yang terlalu tenang untuk tidak mencurigakan: "Tapi saya akan pastikan pengalamannya optimal."

---

Satu jam kemudian, Aria turun ke garasi dengan jeans, kaos oblong, dan sepatu kets?pilihan yang dia pikir sudah cukup biasa. Dante menunggunya di samping mobil hitam yang, di pasar malam mana pun, akan terlihat seperti kendaraan dinas seseorang yang sebentar lagi menggusur lahannya.

"Kita bisa naik angkutan umum," kata Aria.

Dante membukakan pintu. "Masuk."

Mereka melintasi kota. Di jalur udara, iklan holografik bergantian?dan di salah satunya, wajah Dante sendiri tersenyum di atas tagline kampanye amal. Aria sudah terlalu terbiasa untuk merasa aneh melihatnya.

Di bawah, Distrik 7 mulai kelihatan berbeda dari distrik-distrik lain: padat, ramai, penuh warna yang tidak dikurasi oleh siapa pun. Lampu-lampu stan memancar dalam banyak warna yang tidak cocok satu sama lain dan justru karena itulah terlihat hidup. Aroma gorengan dan bumbu bakar dan keringat bercampur jadi sesuatu yang, kalau kamu tidak terlahir di Upper Spire, baunya seperti pulang.

"Wah!" Aria menekan hidung ke kaca jendela. "Ramai banget!"

Dante menatap layar dasbor. Jarinya mengetik.

Di seberang kota, di sebuah truk yang tidak seharusnya ada di sana, Elias membaca pesan masuk sambil menahan napas.

Tim survei sudah di lokasi.

80% stan sudah dibeli.

Filter HEPA terpasang.

Ganti lampu jadi apa, Tuan?

Dante membalas: Kuning lembut. Tidak ada antrean. Buat sistem prioritas untuk Aria.

Elias memandangi balasan itu beberapa detik. Lalu dia mengetik, dengan jari yang sudah menyerah pada kewarasan: Siap, Tuan. Mohon doakan keselamatan karir saya.

Tidak ada balasan. Dante sudah menyimpan ponselnya.

---

Pasar malam menyergap mereka begitu pintu mobil terbuka. Musik dangdut futuristik menghentak dari speaker besar di sudut. Seorang ibu menggandeng dua anak sambil membawa balon terlalu banyak. Di stan paling depan, seorang bapak berteriak menawarkan cumi bakar dengan semangat orang yang tahu dagangannya memang enak.

Aria menarik tangan Dante masuk ke kerumunan.

Dante mengikuti. Jas lengkap. Kacamata hitam. Di antara lautan kaos oblong dan sandal jepit, dia terlihat seperti seseorang yang nyasar dari konferensi bisnis internasional. Orang-orang menoleh. Berbisik.

"Itu... Dante Vorthas?"

"Ngapain dia ke sini?"

Aria pura-pura tidak dengar. Dia sudah menemukan stan takoyaki?bapak tua berkumis, wajan besi besar mengepul, papan harga yang tulisannya sedikit miring.

"Dua porsi!" kata Aria ceria.

Tapi sebelum dia bisa mengantre, orang-orang di depannya mendapat notifikasi serentak di ponsel masing-masing. Voucher Makan Gratis Sepuasnya di Stan Seberang. Berlaku sekarang juga. Dalam hitungan detik, antrean bubar dengan sangat rapi untuk sesuatu yang harusnya spontan.

Stan itu kosong.

Bapak tua berkumis berdiri sendirian di belakang wajan, menatap Dante seperti menatap sesuatu yang dia tidak yakin nyata.

"S-satu porsi, Mas?" tanyanya, suaranya keluar setengah kecil.

"Dua," kata Aria, sudah memutuskan untuk tidak membahas antrean yang bubar itu dulu. Nanti saja.

Dante mengeluarkan alat pemindai kecil dari saku jasnya.

Bapak berkumis itu mulai berkeringat.

Bip.

"Suhu internal 75 derajat. Aman." Dante mengangkat satu tusukan ke arah mulut Aria. "Masih panas. Hati-hati."

Aria menggigit. Matanya menutup sebentar. "Enak. Mau coba?"

"Tidak." Dante sudah menekan tombol di jam tangannya.

Ponsel bapak berkumis berbunyi. Dia melirik layarnya. Berdiri lebih lama dari yang seharusnya. Lututnya melipat.

Aria masih mengunyah saat penjual itu pingsan pelan-pelan ke belakang.

Dia menelan takoyakinya. Berdiri sebentar. Menatap tubuh yang tergeletak itu. Lalu menatap suaminya.

"Nominalnya terlalu besar lagi?"

Dante tidak menjawab, sudah menelepon Elias. "Kirim paramedis. Yang spesialis syok finansial."

"Dante." Suaranya keluar datar. "Kamu tidak bisa transfer sebanyak itu ke orang-orang yang belum siap."

"Saya baru saja membeli seluruh stok tepung takoyakinya sebagai tips."

"ITU BUKAN CARA KERJA TIPS!"

Di kejauhan, sirene rendah mulai terdengar.

Aria melihat orang-orang sekitar sudah membuka ponsel masing-masing, merekam. Wajahnya mungkin belum terlalu jelas di sana. Mungkin.

Dia berbalik, memunggungi kerumunan. Menarik napas panjang. Merasakan kehangatan takoyaki yang masih tersisa di mulutnya?enak, murahan, dimasak di atas wajan besi yang mungkin umurnya lebih tua dari Dante.

Di sebelahnya, suaminya sedang memastikan seorang pedagang pasar malam mendapat penanganan medis kelas satu karena menerima transfer yang terlalu besar.

Aria memutuskan bahwa ini masih lebih baik dari duduk di rumah.

Dia meraih tangan Dante. "Ayo. Aku mau lihat ada bianglala tidak."

"Bianglala." Dante mengikuti langkahnya. "Alat putar yang tidak menuju ke mana-mana itu?"

"Iya."

"Mengapa?"

"Romantis."

Dante tidak menjawab langsung. Tapi tangannya tidak lepas.

"Aku periksa kabel-kabelnya dulu," katanya akhirnya.

"Tentu saja." Aria berjalan lebih cepat, menyeret suaminya ke dalam kerumunan. "Tentu saja kamu periksa kabelnya."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience