Bab 6 Cafe Bos Robi

Romance Series 13956

Bab 6 Cafe Bos Robi

***

Gani sedikit meledek bang Dadang "iya sih bang, selama ini mana ada orang yang secantik dan sebaik Jesika, per kataan Jesika itu mungkin sebuah kutukan buat kamu bang supaya kamu menjomblo"

"Si*lan kamu Gani, bilang ucapan Jesika sebuah kutukan" balas bang Dadang.

Hamid ikut berbicara "bukanya bang Dadang itu kaya, pasti mudah dapatin cewek yang cantik"

Bang Dadang melirik kearah Hamid "iya kalau sekedar cantik itu banyak tapi cantik dan baik itu langka"

Jamil pun ikut nimbrung "terus untuk penyaluran hobi bang Dadang bagai mana"

Gani menjawab pertanyaan dari Jamil yang di tujukan kepada bang Dadang "kalau sekedar menyalurkan hobi bang Dadang bisa beli toh uangnya banyak tapi yang di pesankan Jesika sama bang Dadang itu untuk mencari calon istri yang baik dan cantik"

Bang Dadang tersenyum dan tidak berkata apa-apa, urusan mereka pun sudah selesai ikan sudah di timbang semua dan soal harga itu privasi antara bang Dadang dengan Gani saja.

Bang Dadang pun berpesan "eh jangan lupa 2 hari lagi di Cafe Bos Robi kita kumpul jam 8 malaman"

Kemudian bang Dadang melirik kearah Hamid dan Jamil "kalau kalian berdua mau ikut ikut saja toh disana bukan hanya sekedar reuni kita bersenang-senang di sana"

Hamid pun tidak percaya dengan perkataan bang Dadang "bang Dadang yakin mengundang kami juga, kami kan bukan tamatan SMK Bahari"

Bang Dadang mengibaskan tangannya "sudahlah jangan di pikirkan Toh teman si Gani teman aku juga, ikut saja kalau kalian mau bersenang senang"

Jamil pun menyeringai "terima kasih bang Dadang, pasti kami berdua akan datang"

Mereka pun berlalu pergi meninggalkan lapak tengkulak bang Dadang, perahu milik Gani di titipkan di dermaga milik bang Dadang karena biasanya perahu itu bersandar di sana.

Gani melihat ada ATM dia pun menyuruh Hamid dan Jamil menunggu "tunggu aku ke ATM dulu mau ngambil uang supaya pembagian kita langsung di bagi sekarang dan kalian pulang dengan membawa uang"

Gani pun mengambil uang di dalam mesin ATM sebanyak 10 juta kemudian dia keluar dan mengajak Hamid dan Jamil ketempat yang sepi.

Gani memberikan uang kepada mereka berdua "ini buat kamu Jamil 2,5 juta, dan ini juga buat kamu Hamid 2,5 juta dan ngomong ngomong istri kamu sedang hamil dan akan melahirkan ya"

Hamid mengangguk "iya, kata bidan bulan bulan ini istri ku akan melahirkan dan sekarang dia tinggal bersama mertua ku"

Gani pun memberikan lima lembar uang pecahan seratus Ribu "ini tambahan buat lahiran istri kamu semoga istri kami lungsur langsar"

Jami menegadahkan tangannya "tambahan buat aku mana"

Gani tersenyum "kamu sudah nikah belum, istri kami mau melahirkan tidak, kalau kamu punya istri dan akan melahirkan aku tambah duit kami buat bantu biaya melahirkan"

Hamid pun membela Gani "kami tidak bersyukur banget, Gani udah baik sama kita tapi kamu minta lebih, ingat kalau kamu ikut berlayar sama yang lain berapa uang yang kamu dapat paling hanya di kasih 300 ribu, Gani memberi kita 2,5 juta. Itu berapa kali lipat dari orang lain, dasar kamu tidak tahu berterima kasih"

Jamil pun membela diri karena tidak mau disalahkan oleh Hamid "lah kan itu uang ada sisa 5,5 juta"

Gani tidak perlu berbicara karena ada Hamid yang membela dia "kamu pikir tidak, sisa 5,5 juta itu kalau dipotong bagian Gani 2,5 juta sisa 3 juta lagi,

Coba kamu pikir, kalau perahu itu milik orang lain biaya sewa perahu yang sebagus itu berapa, perahu tongkang biasa aja 1 juta, atau sewa perahu 2 juta dan beli bahan bakar sama makanan kita selama di laut 1 juta.

Bagian Gani itu sama dengan kita 2,5 juta kalau di hitung kesana, makanya bodoh itu jangan di pelihara"

Gani pun melerai "sudah sudah ini aku kasih kami 200 ribu lagi tapi nanti malam kami bayar masing-masing ya, aku tidak mau traktir kamu pada"

Hamid pun menyalakan Jamil "tuh kan gara gara kamu sih Jamil, jadi si Gani tidak mau traktir kita, kamu tahu tidak masuk ke cafe bos Robi itu kita harus pengang duit minimal 500 rb"

Jamil pun mengangguk "ya sudah tidak apa apa aku terima aja uang 2,5 juta ini, tapi janji loh, buat si Ati jadi pacar aku"

Gani tersenyum "okeh, tar si Ati aku suruh datang ke cafe Bos Robi, terus kita masuk Room buat karokean di sana"

Jamil mumukul pelan bahu Gani "kamu gila, aku belum siap tahu"

Hamid pun meledek "ach kamu dasar Cemen"

Kemudian Gani menyuruh mereka untuk pulang kerumahnya masing-masing "sudah kalian berdua pulang kita ketemu lagi nanti malam jam 8, aku tunggu di cafe bos Robi, Ingat jam 8 malam"

Hamid pun bertanya kepada Gani sedikit penasaran "kamu tidak ikut balik sama kita ngapa, kan kampung kita sama"

Gani pun menjawab "kalian balik saja berdua, aku mau balik kerumah emak tiri ku, sudah lama aku tidak nengok dia, rumahnya kebetulan dekat dari sini di komplek bahari"

Hamid dan Jamil pun melangkah pergi sambil melambaikan tangannnya "ya sudah kami pergi dulu, ingat itu emak tiri bukan buat di pake ya" ucap Hamid.

Gani sambil menendang pasir kearah mereka berdua "brengs*k kamu awas nanti malam kamu ya"

Hamid dan Jamil pun berlari sambil tertawa "hahaha.....ayo lari si Gani marah".

Gani pun tiba di pintu masuk rumah Emak tirinya kemudian dia mengetuk pintu. Tok...tok...tok....
Beberapa kali Gani mengetuk pintu dan akhirnya ada seorang wanita ngintip dari jendela.

Dia menyeka tirai dan melihat keluar jendela, "oh Gani pulang" ucap emak tiri Gani sambil membuka pintu"

"Ayo masuk, kemana saja kamu, sekarang jarang kesini bahkan menginap di sini pun tidak, biasanya beberapa hari kamu menginap di sini" ucap emak tiri Gani.

Gani pun masuk dan kemudian duduk di sofa ruang tamu "Gani lagi banyak urusan Mak, semenjak bapak tidak ada, Gani yang mengurus semua usaha bapak, bahkan usaha Gani sendiri pun terbengkalai"

"Pasti kamu belum makan, ke cium dari aroma baju kamu kamu baru pulang nangkap ikan, sana mandi dulu aku siapin nasi goreng kesukaan mu" ucap emak tiri Gani.

Gani pun berdiri dan berjalan keruang tengah di sana sekaligus ruang makan karena ada meja makan dan kursi dan di sampingnya kamar tempat Gani.

Gani masuk kamar tersebut kemudian membuka jaket kulit yang dia pake dan menggantung nya di paku kemudian dia mengambil handuk di dalam rak baju yang sudah tersusun rapi.

Uang, dompet dan handphone yang ada di saku celana di letakan di atas kasur, kemudian dia berjalan kearah dapur, karena kamar mandinya ada di dapur.

***
Bersambung

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience