Series
13956
Bab 3 Aku Laki laki Apaan
***
Gani mengayunkan tangannya di depan mukanya sendiri "alah tidak akan lah secara itu kejadian sudah lama dan tidak di sengaja"
Jamil penasaran "ayo cerita lagi aku tidak akan memotong bicara kamu lagi"
"Ah dasar kamu kalo mendengarkan cerita yang beginian semangat kamu selalu muncul" jawab Gani.
Jamil pun tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal "hehehe.....Tahu saja kamu"
Gani pun mulai bercerita lagi "itu kejadian waktu hujan lebat, kamu tahu kan pos ronda yang ada di perbatasan desa, disana kan sepi banget bahkan katanya ada hantu yang selalu gangguin.
Tetapi waktu itu aku lewat kemudian hujan turun, lah aku yang tidak bawa jas hujan pun mau tidak mau harus berteduh dong.
Kalau aku maksain Hujan Hujanan tar aku sakit kan kasian ama emak tiri ku yang ngerokin.
Aku sendiri di pos ronda itu tidak peduli kata orang disana ada penunggunya, tidak lama kemudian muncul...."
Jamil memotong cerita Gani "muncul hantu penunggu pos ronda itu maksud kamu"
"Katanya kamu tidak akan motong ceritanya si Gani tapi kamu potong juga ah, dengerin dulu baru berkomentar" tegur Hamid.
"Iya...iya deh aku minta maaf" balas Jamil.
"Lanjut tidak ini ceritanya, kalau tidak lanjut ya aku mau rebahan" kata Gani sambil ingin merebahkan tubuhnya ke belakang.
Kemudian ditarik oleh Jamil dan Hamid "ayo lanjut ceritanya jangan dengerin si Jamil"
Gani pun duduk tegak kembali dan melanjutkan bercerita "di arah yang berlawanan muncul kendaraan dengan mengebut dan berhenti mendadak di pos ronda yang aku tempati.
Kemudian dia turun dari motor dan naik ke atas pos ronda dan ternyata yang datang itu adalah si Santi habis pulang dari manggung di kampung sebelah.
Pakai yang dia pake masih pakaian panggung dengan rok pendek dan atasan terbuka cuman dia pake jaket doang, jaket nya pun hanya menutupi bagian dad@nya aja.
Kemudian aku sapa dia. [ Eh bak Santi kehujanan ya ] dia pun menjawab dengan sinis [ sudah tahu nanya ].
Kemudian aku sedikit cari muka dengan bertanya lagi [ Masuk bak kedalam lagi di sana masih kecipratan air hujan, mana hujannya deras lagi, nanti kedinginan Loch.
Kalau masuk sini sedikit hangat apalagi ada saya yang bisa menghangatkan tubuh yang sedang kedinginan ]
kemudian dia pun melotot dan berkata begini. [ apa maksudnya dengan bisa menghangatkan tubuh segala siapa kamu berani bicara kurang ajar sama saya, tidak tahu ya kalau saya istrinya bang Sandi Pereman di kampung ini ].
Lah aku kaget dong secara dia Anggap aku ini laki laki apaan, lah aku jawab lah [ saya Gani Mbak saya bukan bermaksud untuk melecehkan bak Santi, tapi disini emang lebih hangat karena terhalang papan kayu jadi angin dan cipratan air hujan tidak masuk, dan lagi saya bawa jaket tebal siapa tahu bisa menghangatkan tubuh bak Santi yang basah kuyup begitu ]
Setelah aku jelasin begitu si Santi pun mulai tersenyum ramah sama Aku [ aku kira kamu pemuda mesum yang melihat bodi aku yang aduhai ini dan langsung berfantasi ingin menikmati ].
Aku pun menggelengkan kepala [ mana berani Mbak, secara aku tahu Mbak Santi ini istri dari Bang Sandi Pereman kampung ini tar yang ada aku habis di pukulin sama anak buahnya bang Sandi ]
Kemudian dia pun menjawab sambil mendekati aku [ tahu diri juga ternyata kamu, sini pinjam jaket nya aku sudah gak tahan kedinginan ].
Aku pun lepas jaket dan dia pun lepas jaket dia yang basah, terlihat dua semangka yang menggantung besar dan mulus Aku sedikit berpikir.
Sungguh beruntung bang Sandi dapat cewek kayak si Santi bukan hanya cantik tapi bodinya juga och pokoknya, pinggul yang besar dan pant@t yang naik, tidak bulat atau pun turun.
Dan tonjolan buah semangka yang proporsional kayaknya dia sering erobik atau jumba makanya bodinya bagus dan kulitnya terawat.
Setelah dia melepaskan jaket, aku pun memberikan jaket ku dan tanpa di duga dia memakai jaket si resleting nya berada di belakang.
Kemudian dia duduk di samping ku, hujan pun tambah deras bahkan petir sangat terasa menggelegar seakan dunia akan berakhir.
Jarak pandang semakin tidak kelihatan, karena hujan yang sangat deras dan langit menghitam.
kilat petir beberapa kali menyambar. Krekak.... duwar....krekak.... duwar...
Dia pun terkejut dan dengan replek langsung loncat ke pangkuan ku, setelah dia enclok dia tidak mau turun lagi dari pangkuan ku.
Aku pun menahan diri supaya tangan iblis aku tidak menggerayang naik naik kepuncak gunung, intinya aku so jual mahal.
Tetapi dasar si Doris tidak mau kompromi dia berdiri tegak di dalam celana yang aku pake dia pun berkata [ maaf karena kaget aku jadi enclok di pangkuan mu ].
Lah aku pun jawab dong [ tidak apa apa mbak, itu normal kok kalau mbak Santi takut petir ] dia pun berkata lagi [ eh ternyata di sini aget juga ya terus apaan ini yang gerak gerak ].
Lah aku malu dong si Doris tiba tiba berdiri tanpa komando, si Doris paling tahu kalau ada yang nikmat nikmat sedap.
Si Santi pun sedikit mengangkat pant@tanya kemudian meraba celana aku dan dia pegang si Doris dan berkata [ ternyata punya mu besar dan panjang juga siapa nama dia ].
Muka aku langsung merah karena si Doris begitu aja di pegang sama si Santi, dan aku pun menjawab [ itu si Doris mbak, maaf kalau si Doris nakal ].
Eh dia malah tertawa [ hahaha... Tidak apa apa kok, nama yang bagus Doris, eh jangan panggil aku mbak panggil nama saja, kan nama ku Santi dan kamu Gani kan ].
Aku pun mengangguk [ iya mbak eh Santi ] dan dia pun berbicara lagi dengan sedikit menggoyang goyangkan pant@tnya [ nah gitu dong panggil nama ].
Aku pun sedikit Mendes@h karena si Doris ku merasa sakit, dia sudah sangat tegang dan terhalang kain jeans yang aku pake. [ se...aduh san jangan di goyang dong, ini si Doris makin tegang, sakit tau kegesek celana ]
Mendengar keluhan ku, Eh dia malah tertawa terbahak-bahak.
"Kamu ajarin aku dong supaya bisa gitu dengan cewek lain, aku janji deh aku nanti putusin si Mae, dan aku akan sangat berterima kasih sama kamu seumur hidup aku" pinta Jamil.
Gani malah tertawa "hahaha.... Aku alami cuy tidak pake pelet peletan, yang pasti intinya satu, si Doris ku yang besar dan panjang bukan sekedar panjang dan besar tetapi harus kuat dan tahan lama.
Jangan sampe si Doris aku muntah duluan yang pasti lubang buaya itu cewek yang harus keluar duluan satu sampai dua kali baru si Doris muntah"
***
Bersambung
Share this novel