Bab 4 Handphone Taktikal

Romance Series 13956

Bab 4 Handphone Taktikal

***

"Kamu pake obat apaan sih, bagi aku dong, nanti pulang dari sini aku coba sama istri aku" pinta Hamid.

"Sini gue bisikin, biar yang jomblo tidak dengar karena ini rahasia" kata Gani sambil tersenyum.

"Wah parah kamu, aku juga mau rahasia kejantanan kamu, aku juga mau praktek" balas Jamil.

"Okeh yang pertama kamu beli susu naga putih yang ada gambar pandanya kemudian kamu angetin setelah itu kamu campur suplemen dan jangan lupa siapin satu siung bawang putih.

Kamu minum tuh bawang putih dan campuran susu naga putih dan suplemen dua jam sebelum main di jamin kamu kuat dan tahan lama"

"Hehehe.... Nanti aku coba sepulang dari sini mudah mudahan ramuan kamu berkhasiat, biar si Anton ku tidak cepat muntah dan Loyo" jawab Hamid.

Jamil pun meminta kepada Gani "kamu ajakin aku dong untuk praktek ilmu kamu, biar aku percaya apa yang kamu bicarain itu benar adanya"

"Tenang pulang dari sini aku sudah ada janji ketemu sama cewek, mudah mudahan cewek kenalan aku bawa temennya dan nanti aku kasih tahu temennya sama kamu dan praktekan itu ilmu dari ku" kata Gani.

Jamil pun merasa senang "terima kasih Gani, kamu memang sahabat terbaik ku di dunia ini"

"Alah si Jamil bilang terima kasih kalau keinginannya sudah di kabulin, si Gani ini memang sahabat kita yang terbaik dari kita masih kecil dan meskipun dia sudah kaya dan menjadi Bos Perahu nelayan, dia tidak lupa sama kita berdua" kata Hamid.

Gani pun tersenyum "hehehe.... Kamu berdua udah aku anggap sodara sendiri jadi aku pun tidak ragu memberitahukan rahasia aku sama kalian berdua, karena kalau berdua tidak mungkin kan hianatin aku.

Apalagi kamu sudah tahu aku ada hubungan gelap sama si Santi istrinya bang Sandi, dan cewek cantik yang lain itu aku tidak jadian cuman ada rasa saling membutuhkan saja.

Aku tidak pernah minta sama cewek untuk lakuin gituan kebanyakan cewek nya sendiri yang malah ketagihan dan minta lagi sama aku.

Mau tidak mau ya aku hayu aja, sayang toh pucuk di cinta ulam pun tiba"

Hamid dan Jamil pun tertawa terbahak-bahak "hahaha....bisa aja lu Gani pake istilah pucuk di cinta ulam pun tiba" kata Hamid.

"Iya kamu, aku juga udah aku anggap saudara dan aku terima kasih kamu sudah baik sama aku dan Hamid selama ini" kata Jamil.

Obrolan mereka pun terhenti karena bunyi alarm dari handphone milik Gani berbunyi "bangun....bangun... bangun...bangun...bangun bangun bangun bangun bangun...."

Kemudian Gani merogoh saku celananya dan melihat handphone nya tersebut dia mematikan alarm yang bunyi bangun bangun bangun dan kemudian dia melihat jam.

"Oy sudah jam 3 dini hari ayo waktunya kita pulang dan tarik jaringannya"

Dengan instruksi dari Gani, Jamil dan Hamid pun berdiri dan bersiap di posisi masing masing untuk menarik jaring yang sudah di tebar semalaman.

Setelah satu jam berlalu, dan jaring sudah terangkat naik, ikan yang di dapat mereka sangat melimpah ada sekitar 1 ton, 2 kwintal.

Dan hasil tangkapan pun beraneka ragam dari ikan tongkol, dan ikan laut lainnya, sebenarnya perahu yang di pake menjaring ikan oleh Gani dan kedua temannya itu lumayan besar.

Biasanya kapal itu di tumpangi satu orang nahkoda dan sepuluh ABK dan dapat menampung ikan hingga 4 sampai 5 ton.

Tetapi Gani hanya mempekerjakan Hamid dan Jamil saja karena dia tidak menjaring ikan di lautan Lepas dia hanya menjaring ikan beberapa kilometer dari pantai.

Sehingga tidak perlu memerlukan banyak tenaga dan perahu itu di lengkapi dengan alat canggih khusus di pake oleh Gani sehingga meskipun hanya dengan 3 orang di kapal itu mereka dapat mengangkut ikan hasil tangkapan sebanyak 1 ton, 2 kwintal.

Setelah mereka selesai mereka pun pulang dan seperti biasa di perjalanan pulang Gani, Jamil dan Hamid pun mengobrol kembali.

Gani sebelum berbalik pulang pun dia berteriak kembali "bapak terima kasih pak, hasil hari ini sangat melimpah, aku akan pulang pak tolong jaga anak mu ini supaya selamat di perjalanan"

Hamid pun menepuk pundak Jamil "tuh si Gani kambuh lagi setiap sudah menebar jaring dan pulang dia selalu teriak bapak bapak"

Gani hanya tersenyum "hehehe...."

Jamil bertanya kepada Gani seakan dia mengintrogasi Gani "kamu sekarang tinggal di tempat Emak tiri kamu kan, apa kamu embat juga tuh emak tiri seperti cewek lain, secara emak tiri kamu gak kalah cantik dari cewek lainnya yang pernah kamu pake"

Gani pun memukul pundak Jamil "kurang aja kamu, mana berani aku embat emak tiri aku sendiri, secara dia adalah amanat dari bapak ku, emak aku anak yatim-piatu dia tidak punya sanak saudara dan sekarang aku satu satunya keluarga dia"

Hamid dan Jamil pun mengangguk dan Hamid pun berkata "Aku tahu emak tiri kamu, karena aku pernah bertemu dia, dia orangnya baik tidak ada kelihatan orang yang suka main laki laki dan seperti nya dia tidak akan tergoda oleh anak tirinya"

"Ya syukurlah kalau begitu, aku kira semua cewek bisa kamu pake" kata Jamil.

"Aku bukan orang gila cuy, yang tergoda atau menggoda emak tirinya sendiri, banyak cewek yang bisa aku pake ngapain harus menggoda emak tiri aku sendiri,

Bapak aku sudah beramanat kalau bapak sudah meninggal [ meskipun dia emak tiri anggap dia sebagai kakak mu sendiri ], itu kata bapak ku".

Sedangkan mengobrol asik handphone Gani pun berbunyi "guk...guk... guk...guk..." Bunyi dering dari handphone milik Gani bersuara guguk anjing.

Gani pun merogoh saku celananya dan mengangkat handphone lalu di tempelkan di daun telinga.

"Halo selamat wayah kieu bisa saya banting" jawab Gani yang sedikit bercanda

"Woy bos bercanda aja, ini aku Dadang" terdengar dari balik handphone orang yang bernama Dadang Berbicara.

Gani pun membalas "Oh bang Dadang, ada apa ni bang telpon jam segini"

"Aku tahu kamu lagi ngejaring ikan, dan pasti kamu lagi pulang kesini, kamu juga tahu aku tengkulak ikan, aku berniat membeli ikan kamu jadi jangan jual sama siapa siapa, uang DP akan aku transfer sekarang juga kirim no rekening kamu" jawab bang Dadang.

"Okeh bang, kamu memang pengertian dan lagian kamu sudah langganan tetap aku kan nanti aku kirim no rekening aku lewat aplikasi WhatsApp" balas Gani.

Kemudian dia memutuskan telemonikasi dan beralih ke aplikasi WhatsApp dan mengirimkan no rekening, tanpa lama WhatsApp balasan pun masuk dengan disertai bukti transfer sebesar 10 juta rupiah.

Hamid pun bertanya "kamu kenal sama bang Dadang dari mana, dia tengkulak besar yang berani membeli dengan harga tinggi"

Gani tersenyum "hehehe.... nelayan mana yang tidak kenal bang Dadang dia tahu para nelayan yang dapat banyak ikan, toh dia sudah beberapa kali membeli sama aku dan uangnya selalu di transfer duluan buktinya dia tadi habis transfer aku 10 juta buat ikan yang kita bawa"

Jamil pun membelalakkan matanya
"Apa 10 juta apa apa tidak salah dengar"

Gani mengangguk "iya memangnya kenapa"

"10 juta kan bukan uang yang sedikit, kok bisa-bisanya bang Dadang percaya dan langsung transfer, apa ikan yang kita tangkap sekitar harga segitu ya" tanya Hamid.

Gani pun menjawab pertanyaan dari Hamid sambil sedikit tersenyum "bang Dadang orangnya rendah hati, dia selalu transfer lebih dan setelah barang di terima terus kalau barang lebih murah dia menyimpan uang tersebut untuk pengikat supaya ikan hasil tangkapan tidak di jual sama tengkulak lain".

Hamid dan Jamil berkata kompak.
"Oooh......"

"Eh di pikir pikir, handphone kamu kok ada sinyal sih, padahal ini di lautan, handphone aku saja tidak ada sinyalnya tuh" Jamil sambil memperlihatkan handphone miliknya sama Gani.

"Lah ya iya, handphone kamu tidak bakalan ada sinyalnya, handphone kamu itu buatan negara ononoh... yang lebih mementingkan kuantitas dari pada kualitas, secara handphone aku ini buat Jerman dan handphone aku ini disebut dengan seluler taktikal" jawab Gani sambil menjelaskan tentang handphone nya itu.

"Apa sih taktikal itu soalnya aku baru mendengar" Jamil sambil garuk-garuk kepalanya dengan menunjukkan wajah polos.

Kemudian Hamid menepuk jidatnya "hadeuh Jamil Jamil, taktikal aja tidak tahu, handphone taktikal itu handphone prajurit yang di pake dalam perang, handphone itu digunakan untuk berkomunikasi dengan markas di dalam hutan atau di tengah laut"

***
Bersambung

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience