Bab 2: Kembali ke Era Kerajaan

Drama Series 31

Rasa nyeri di kepalaku datang lebih dulu daripada kesadaran.
Pelan-pelan aku membuka mata, berharap melihat langit-langit apartemen sempitku yang penuh retakan. Namun yang menyambut justru balok-balok kayu berukir dengan motif sulur yang asing.
Aroma dupa memenuhi ruangan.
Aku mengerjapkan mata beberapa kali.
"Di mana aku...?"
Belum sempat aku bangkit, suara langkah kaki berlarian terdengar dari luar.
"Panggil tabib! Nona sudah sadar!"
Pintu kayu terbuka lebar.
Beberapa perempuan berpakaian tradisional bergegas masuk. Mereka langsung berlutut sambil menundukkan kepala.
"Syukur kepada Dewa... Nona Anindiya akhirnya siuman."
Aku menatap mereka satu per satu dengan bingung.
"Nona...?"
Mereka memanggilku?
Aku segera turun dari ranjang, meski tubuhku masih lemas. Dengan langkah goyah aku menghampiri cermin tembaga di sudut ruangan.
Pantulan wajah itu membuatku terpaku.
Wajahku...
Masih wajahku.
Aku mengusap pipi, hidung, hingga rambutku berkali-kali.
Ini benar-benar aku.
Lalu kenapa semua orang memanggilku Anindiya?
Jantungku berdetak semakin cepat.
Potongan-potongan ingatan semalam kembali muncul.
Petir.
Tusuk konde kayu cendana.
Listrik padam.
Lalu...
Gelap.
Aku menelan ludah.
"Jangan bilang..."
Pandangan beralih ke seluruh ruangan.
Ukiran kayu.
Kelambu sutra.
Perabot antik.
Semuanya terasa begitu...
...akrab.
Karena aku pernah mendeskripsikannya.
Di dalam naskahku.
Napas terasa sesak.
"Tidak mungkin..."
Aku benar-benar masuk ke dunia yang kutulis sendiri?
Panik mulai menguasai pikiranku.
Kalau ini mimpi, aku harus bangun.
Aku mencoba mencubit lenganku.
Sakit.
Aku memukul pelan dahiku.
Tetap sakit.
Hari berikutnya aku mencoba berbagai cara agar bisa kembali ke dunia nyata.
Aku berdiri di depan sebuah tiang kayu besar.
"Kalau aku pingsan lagi... mungkin aku akan bangun di apartemen."
Aku menghela napas, lalu menggeleng.
Tidak.
Aku tidak seberani itu.
Kesempatan berikutnya datang ketika para pelayan mengajakku berjalan-jalan di taman.
Di tengah taman terdapat sebuah danau kecil.
Aku mengambil ancang-ancang.
Belum sempat melompat, dua pengawal sudah lebih dulu menangkap lenganku.
"Nona!"
Aku mengembuskan napas panjang.
Gagal lagi.
Hari demi hari berlalu.
Semakin lama aku semakin sadar bahwa semua ini bukan mimpi.
Aku benar-benar hidup sebagai Anindiya, putri tunggal Perdana Menteri Kerajaan Melayu.
Sore itu seorang pelayan datang menghampiri.
"Nona Anindiya, Tuan Adipati menunggu di aula utama."
Aku mengikuti langkahnya melewati lorong-lorong kayu yang megah.
Semua orang yang berpapasan denganku menundukkan kepala penuh hormat.
"Salam, Nona."
Aku hanya membalas dengan anggukan kecil.
Saat memasuki aula utama, seorang pria paruh baya menoleh ke arahku.
Tatapannya hangat.
"Anindiya... kemarilah."
Entah mengapa, nada suaranya membuat dadaku terasa sesak.
"Ayah..."
Kata itu hampir keluar begitu saja.
Aku duduk di sampingnya.
Beliau mengusap kepalaku pelan.
"Bagaimana keadaanmu? Kepalamu masih sakit?"
Aku hanya menggeleng.
Sementara beliau berbicara, pikiranku sibuk mengingat isi naskah yang pernah kutulis.
Adipati Mahendra.
Perdana Menteri.
Ayah Anindiya.
Berarti...
Semua ini benar.
Aku benar-benar hidup di dalam cerita yang selama berbulan-bulan hanya ada di layar laptopku.
Dan untuk pertama kalinya...
Aku merasa takut.
Karena aku tahu persis seperti apa masa depan dunia ini.
Namun aku juga tahu...
Sedikit saja alurnya berubah...
Mungkin aku tidak akan pernah bisa pulang.

Halo! Aku penulis baru di sini. Terima kasih sudah membaca TAKDIR. Semoga kalian suka dengan ceritanya. Dukungan dan komentar kalian sangat berarti bagiku. Selamat membaca! ?

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience