Completed
101
Keesokan harinya, kediaman Perdana Menteri Adipati Mahendra kembali terlihat tenang.
Sinar matahari menembus sela-sela daun beringin tua di halaman, jatuh sebagai bayangan yang bergerak perlahan di atas tanah.
Namun, ketenangan itu sama sekali tidak sampai kepada Aruna.
Sejak Jenderal Reynan meninggalkan kediaman mereka kemarin, pikirannya tidak berhenti berputar.
Ia masih mengingat tatapan pria itu.
Tenang.
Dingin.
Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengetahui bahwa seorang perempuan telah menyamar sebagai Putri Sekar di hadapannya.
Aruna bersandar pada tiang kayu selasar.
“Dia sebenarnya tahu…”
Ia menghela napas.
“…atau cuma sedang menggertakku?”
“Nona?”
Suara Nai membuat Aruna menoleh.
Dayang itu berjalan mendekat sambil membawa nampan kuningan berisi secangkir teh herbal yang masih mengepulkan uap.
“Nona belum menyentuh sarapan sejak tadi pagi. Hamba khawatir Nona akan jatuh sakit lagi.”
Aruna hanya melirik makanan yang dibawa Nai.
“Aku sedang tidak berselera.”
“Nona sedang memikirkan Jenderal Reynan?”
Aruna langsung menoleh tajam.
“Nai!”
Gadis itu tersenyum kecil.
“Maaf, Nona.”
Aruna kembali menatap kolam.
“Nai, aku mau tanya sesuatu.”
“Silakan, Nona.”
“Kalau seseorang sudah tahu kita berbohong tepat di depan wajahnya…”
Aruna berhenti sejenak.
“…kenapa dia tidak langsung membongkar kebohongan itu?”
Nai mengerutkan kening.
“Bukankah seharusnya orang tersebut marah?”
“Itulah masalahnya.”
Aruna meremas ujung lengan bajunya.
“Dia tidak marah. Tidak menuduhku. Bahkan dia ikut menyelamatkanku di depan Ayah.”
Nai terdiam.
“Mungkin…”
Ia berpikir sebentar.
“…Jenderal sedang menunggu.”
“Menunggu apa?”
“Menunggu sampai Nona sendiri yang datang kepadanya dan berkata jujur.”
Aruna membeku.
Jawaban sederhana itu justru terasa seperti hantaman.
Ia menatap Nai dengan wajah pucat.
“Kalau begitu…”
Aruna menarik napas dalam.
“…aku benar-benar berada dalam masalah besar.”
---
Di tempat lain, suasana Markas Besar Militer Kadātuan Melayu jauh berbeda.
Suara pedang yang beradu, derap langkah prajurit, dan teriakan komando memenuhi udara.
Jenderal Reynan Adiwijaya berjalan melewati koridor barak dengan langkah tegap.
Jubah hitamnya bergerak mengikuti hembusan angin laut.
Bayu berjalan di belakangnya.
“Jenderal.”
“Hm?”
“Mengenai perempuan bercadar di taman malam sebelumnya…”
Langkah Reynan berhenti.
Bayu menelan ludah sebelum melanjutkan.
“Perempuan itu sebenarnya Nona Anindya, putri Perdana Menteri, bukan?”
Reynan tidak langsung menjawab.
Ia berdiri di tepi selasar kayu, memandang ratusan prajurit yang sedang berlatih di lapangan.
“Kenapa kau berpikir begitu?”
“Suara perempuan itu terlalu tegas untuk seorang Putri Sekar.”
Bayu menatap atasannya.
“Cara berjalannya juga berbeda. Terlalu tergesa-gesa.”
Sudut bibir Reynan terangkat tipis.
“Kau menyadarinya juga.”
“Lalu mengapa Jenderal tidak membongkarnya kemarin?”
Reynan akhirnya menoleh.
Tatapannya tenang.
“Karena dia tidak berniat mencelakai siapa pun.”
Bayu mengangguk pelan.
“Tapi…”
Reynan kembali menatap lapangan.
“Justru karena penyamarannya begitu buruk…”
Senyumnya semakin terlihat.
“…aku jadi ingin tahu apa sebenarnya yang sedang direncanakan oleh otak kecilnya.”
Bayu terdiam.
Ia sudah mengenal Jenderal Reynan cukup lama.
Ia tahu satu hal.
Semakin tenang wajah sang Jenderal, semakin menarik sesuatu yang sedang dipikirkannya.
---
Sore harinya, Aruna bertemu dengan Putri Sekar di sebuah paviliun yang dikelilingi pohon cempaka.
Putri Sekar tampak gelisah.
“Bagaimana, Anindya?”
Aruna menggeleng pelan.
“Jenderal Reynan tidak mengatakan sesuatu secara langsung.”
“Lalu?”
“Dia hanya terus melontarkan kalimat yang membuat saya merasa seolah-olah dia sudah memegang seluruh rahasia kita.”
Putri Sekar langsung menutup mulutnya.
“Apakah rencana kita gagal?”
“Belum tentu.”
Aruna berusaha terdengar tenang.
Padahal jantungnya sendiri berdebar tidak karuan.
“Justru sikap diamnya yang membuat saya bingung.”
“Maksudmu?”
“Kalau dia tahu aku menyamar sebagai Putri malam itu…”
Aruna menatap Putri Sekar.
“…kenapa dia tidak melaporkanku kepada Raja?”
Putri Sekar ikut terdiam.
Belum sempat mereka menemukan jawaban, seorang pelayan senior datang tergesa-gesa.
Ia membungkuk hormat.
“Mohon ampun, Yang Mulia Putri Sekar.”
“Ada apa?”
“Baginda Raja menitahkan Putri untuk segera menghadap ke aula utama.”
Putri Sekar tampak cemas.
“Untuk urusan apa?”
Pelayan itu menundukkan kepala.
“Jenderal Reynan Adi Wijaya baru saja tiba dan sedang menghadap Baginda Raja.”
Aruna dan Putri Sekar saling berpandangan.
Jantung Aruna langsung berdegup kencang.
Jangan-jangan dia akan menceritakan semuanya.
---
Aula kerajaan terasa jauh lebih dingin daripada biasanya.
Sri Maharaja duduk di atas singgasana emas.
Di hadapannya berdiri Jenderal Reynan dengan sikap sempurna.
Aruna berdiri beberapa langkah di belakang Putri Sekar.
Tangannya dingin.
“Ah, Sekar. Kamu sudah datang.”
Putri Sekar membungkuk.
“Ampun, Baginda.”
Raja kemudian memandang Reynan.
“Jenderal, aku mendengar dari penjaga paviliun bahwa Putri Sekar sempat berbicara denganmu secara pribadi di taman belakang malam sebelumnya.”
Aruna menahan napas.
Habislah aku.
Namun Reynan tetap tenang.
“Benar, Yang Mulia.”
Aruna menunduk lebih dalam.
Ia menunggu.
Satu kalimat saja.
Satu kalimat yang bisa menghancurkan semuanya.
Namun Reynan berkata,
“Saya telah mendengar dan memahami kekhawatiran serta permohonan Putri malam itu.”
Aruna perlahan mengangkat wajah.
“Tetapi bagi saya pribadi, seluruh keputusan mengenai pernikahan ini tetap berada di tangan Yang Mulia Raja.”
Sri Maharaja mengangguk puas.
“Bagus. Itulah jawaban yang kuharapkan dari seorang panglima.”
Aruna hampir mengembuskan napas lega.
Tidak ada tuduhan.
Tidak ada nama Anindya.
Tidak ada penyamaran.
Tidak ada hukuman.
Dia menyelamatkanku lagi.
Namun ketika pertemuan selesai dan semua orang mulai meninggalkan aula, Reynan berjalan melewati Aruna.
Langkahnya melambat.
Sangat dekat.
Aruna menahan napas.
Reynan tidak menoleh.
Namun bibirnya bergerak.
Suaranya begitu rendah hingga hanya Aruna yang dapat mendengarnya.
“Lain kali…”
Tubuh Aruna menegang.
“…jika Anda ingin membatalkan sebuah Dekrit…”
Jantungnya seperti berhenti.
“…gunakan suara asli Anda sendiri, Nona Anindya.”
Deg!
Aruna membeku.
Dunia seolah berhenti bergerak.
Reynan terus berjalan.
Santai.
Seolah tidak baru saja menjatuhkan seluruh rahasia di hadapan Aruna.
Aruna menatap punggungnya.
Dia tahu.
Sejak awal.
Sejak malam di taman.
Dia sudah tahu bahwa aku bukan Putri Sekar.
Tangannya gemetar.
“Jadi selama ini…”
Aruna menelan ludah.
“…dia sengaja membiarkanku berbohong?”
Namun ada satu hal yang lebih membuatnya takut.
Kalau Reynan sudah tahu sejak awal, lalu apa sebenarnya yang dia inginkan dariku?
---
Tanpa disadari Aruna, seseorang memperhatikan semuanya dari sudut koridor.
Pangeran Wiratama.
Ia berdiri bersandar pada pilar batu dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Tatapannya berpindah dari Reynan yang semakin jauh…
…kepada Aruna yang masih berdiri kaku.
Sebuah senyum tipis muncul di wajah sang Pangeran.
“Menarik…”
Ia menatap keduanya bergantian.
“Sepertinya ada permainan rahasia yang sedang kalian sembunyikan dariku.”
Dan untuk pertama kalinya sejak Aruna tiba di dunia yang ia ciptakan sendiri…
ia menyadari satu hal yang membuat dadanya terasa sesak.
Cerita ini tidak lagi berjalan sesuai naskahnya.
Tokoh-tokoh yang dulu hanya hidup di layar laptopnya kini mulai memiliki rahasia masing-masing.
Reynan tahu siapa dirinya.
Wiratama mulai mencurigai sesuatu.
Dan Aruna…
tidak lagi yakin bahwa ia adalah satu-satunya orang yang mengetahui akhir cerita.
Ia menatap pintu tempat Reynan menghilang.
Ada rasa takut yang perlahan tumbuh di dalam dadanya.
Sebab jika sang Jenderal memang mengetahui identitas aslinya…
mungkin pertanyaan sebenarnya bukan lagi—
Bagaimana caranya aku kembali ke dunia nyata?
Bersambung...
Catatan Penulis
Sampai di sini dulu perjalanan Aruna di dunia yang ia ciptakan sendiri.
Tapi… apakah kisah ini benar-benar akan berhenti di Bab 7?
Itu tergantung kalian.
Kalau kalian masih ingin mengikuti perjalanan Aruna, Reynan, Wiratama, dan rahasia di balik dunia ini, tinggalkan komentar kalian di bab ini.
Kalau responsnya cukup banyak, aku akan lanjutkan Bab 8 dan seterusnya di sini.
Jadi sekarang aku serahkan pilihannya kepada kalian.
Mau Aruna tetap tinggal di sini?
Atau biarkan dia menemukan takdirnya di dalam buku?
— Pena Putih
Share this novel