Series
31
Malam Sebelumnya
Jika penyamarannya gagal malam ini...
Aruna tahu hukumannya mungkin bukan sekadar dimarahi.
Bisa saja kepalanya dipenggal karena berani menyamar sebagai anggota keluarga kerajaan.
Di bawah cahaya rembulan, ia berdiri membelakangi kolam teratai. Angin malam mengibaskan ujung kebaya sutra putih gading yang dikenakannya. Sehelai kain sutra tipis menutupi sebagian wajahnya, hanya menyisakan sepasang mata yang terus mengawasi jalan setapak di depan.
Jemarinya terasa dingin.
"Semoga dia benar-benar mengira aku Putri Sekar..." batinnya.
Tak lama kemudian, suara derap sepatu bot memecah keheningan.
Tok...
Tok...
Tok...
Seseorang muncul dari balik bayangan pepohonan.
Tubuhnya tinggi dan tegap. Zirah hitam membalut tubuhnya, sementara pedang panjang tergantung di pinggang kirinya.
Setiap langkahnya memancarkan wibawa yang membuat udara di sekitar terasa lebih berat.
Jenderal Reynan Adiwijaya.
Pria yang selama ini hanya hidup di dalam naskah yang pernah ditulis Aruna.
Kini berdiri hanya beberapa langkah di depannya.
Reynan berhenti.
Tatapannya menelusuri sosok perempuan bercadar itu tanpa tergesa-gesa.
"Apa Putri yang memanggil saya kemari?" tanyanya tenang.
Suaranya rendah.
Dingin.
Namun memiliki ketegasan yang membuat siapa pun sulit membantah.
Aruna menundukkan kepala agar suaranya tidak mudah dikenali.
"Benar, Jenderal."
"Ada hal penting yang ingin saya bicarakan."
Reynan mengangguk kecil.
"Silakan."
Aruna menarik napas panjang.
"Saya tidak menginginkan perjodohan politik ini."
Keheningan kembali memenuhi taman.
Hanya suara air kolam yang terdengar memecah malam.
Reynan tidak segera menjawab.
Ia hanya memandang perempuan di depannya cukup lama.
Seolah sedang mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik kain penutup wajah itu.
"Apa itu benar-benar keinginan Yang Mulia?"
"Iya."
Jawaban Aruna terdengar cepat.
Hampir terlalu cepat.
Reynan kembali terdiam.
Lalu perlahan berkata,
"Saya juga tidak pernah menginginkan seorang putri dipaksa menikah hanya karena sebuah penghargaan perang."
Mata Aruna langsung membulat.
"Apa?"
Jadi...
Jenderal Reynan juga tidak menginginkan pernikahan itu?
Harapan kecil mulai tumbuh.
Kalau begitu...
Mungkin semuanya masih bisa diubah.
Aruna memberanikan diri melangkah satu langkah lebih dekat.
"Kalau begitu..."
"Jenderal pasti bisa membujuk Baginda Raja untuk membatalkan dekrit tersebut, bukan?"
Untuk pertama kalinya...
Sudut bibir Reynan bergerak.
Sebuah senyum yang nyaris tak terlihat.
Bukan senyum bahagia.
Melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan teka-teki menarik.
"Saya..."
"...akan mempertimbangkannya."
Jawaban singkat itu membuat napas Aruna terasa jauh lebih ringan.
"Terima kasih."
Ia segera membungkuk hormat.
Tanpa memberi kesempatan Reynan mengatakan apa pun lagi, Aruna berbalik dan berjalan cepat bersama Nai meninggalkan taman.
Namun Reynan tidak ikut bergerak.
Tatapannya tetap mengikuti langkah perempuan itu hingga benar-benar menghilang di balik paviliun.
Beberapa saat kemudian seorang pria menghampirinya.
Bayu.
Pengawal kepercayaannya.
"Jenderal."
"Hm?"
"Apakah benar perempuan tadi Putri Sekar?"
Reynan tidak langsung menjawab.
Ia memandang permukaan kolam yang memantulkan cahaya bulan.
"Lalu menurutmu?"
Bayu tampak ragu.
"Ada sesuatu yang terasa berbeda."
"Caranya berdiri."
"Caranya berbicara."
"Dan..."
"...."
Reynan tersenyum tipis.
"Tidak semua orang pandai menyamar."
Bayu menatap panglimanya dengan heran.
"Kalau begitu kenapa Jenderal tidak membongkarnya?"
Reynan berbalik.
"Cukup."
"Besok pagi siapkan kuda."
"Kita akan menghadap Perdana Menteri."
Bayu semakin bingung.
Namun ia memilih menundukkan kepala.
"Baik, Jenderal."
Sementara itu...
Reynan kembali menatap jalan setapak yang telah kosong.
"Kalau kau memang bukan Putri Sekar..."
"Lalu sebenarnya siapa dirimu?" ..
Hari Berikutnya
Kediaman Perdana Menteri tampak lebih ramai dari biasanya. Para pelayan berlalu-lalang membawa hidangan, sementara pengawal berjaga di setiap sudut.
"Nona!" Nai berlari memasuki kamar dengan wajah panik. "Jenderal Reynan datang."
Aruna yang sedang menyisir rambut langsung membeku.
"Ke sini?"
"Iya. Beliau sedang berbincang dengan Tuan Adipati."
Jantung Aruna berdegup kencang.
"Jangan-jangan... dia sudah tahu perempuan semalam adalah aku."
Belum sempat menyusun alasan untuk bersembunyi, seorang pelayan datang membungkuk.
"Tuan Adipati memanggil Nona ke aula utama."
Aruna mengembuskan napas panjang.
"Semoga aku masih bisa lolos."
Saat memasuki aula, Aruna langsung bertemu sepasang mata tajam yang sudah dikenalnya.
Reynan.
Pria itu berdiri tegap di samping ayah Anindiya.
Tatapan mereka bertemu.
Sesaat, tidak ada yang berbicara.
Lalu Reynan berkata pelan,
"Akhirnya... Anda datang."
Kalimat sederhana itu membuat tengkuk Aruna meremang.
"Dia pasti tahu..."
Namun ketika Adipati Mahendra bertanya apakah mereka pernah bertemu sebelumnya, Reynan menjawab tenang,
"Belum, Tuan Adipati. Ini pertama kalinya saya bertemu dengan Nona Anindiya."
Aruna menahan napas, lalu diam-diam mengembuskannya lega.
Setelah perbincangan mengenai urusan kerajaan selesai, Reynan kembali menoleh ke arahnya.
"Nona Anindiya."
"Ya, Jenderal?"
"Menurut pendapat Nona... apakah seseorang akan berubah hanya karena mengenakan penutup wajah?"
Jantung Aruna kembali berdegup keras.
Ia memaksakan senyum.
"Tentu tidak, Jenderal. Penampilan bisa disamarkan, tetapi seseorang tetaplah dirinya sendiri."
Reynan mengangguk pelan.
"Jawaban yang menarik."
Tak lama kemudian ia berpamitan.
Sebelum melangkah keluar, Reynan sempat melirik Aruna sekali lagi. Tatapan itu singkat, tetapi cukup membuat Aruna sadar bahwa rahasianya mungkin sudah tidak lagi aman.
Begitu pintu aula tertutup, Aruna merosot lemas ke kursinya.
"Nai..." bisiknya.
"Iya, Nona?"
"Mulai sekarang, jangan pernah biarkan aku sendirian di dekat pria itu."
"Kenapa?"
Aruna menatap ke arah gerbang yang baru saja dilalui Reynan.
"Karena Jenderal Reynan jauh lebih cerdas daripada karakter yang pernah kutulis."
Share this novel