Completed
101
Malam itu, Aruna sama sekali tidak bisa memejamkan mata.
Ia sudah membolak-balikkan tubuhnya entah berapa kali. Namun semakin ia berusaha tidur, satu kalimat itu justru terdengar semakin jelas di kepalanya.
«“Lain kali jika Anda ingin membatalkan sebuah dekrit… gunakan suara asli Anda sendiri, Nona Anindya.”»
Aruna langsung menarik selimut hingga menutupi wajahnya.
“Dia tahu…”
Ia menurunkan selimut perlahan.
“Dia benar-benar tahu.”
Tangannya meremas rambut sendiri.
“Bahkan sejak malam itu.”
Kalau Reynan tahu perempuan bercadar yang membatalkan pernikahan Putri Sekar bukan putri itu sendiri…
Kalau dia tahu semua perubahan Anindya…
Kenapa pria itu diam?
Kenapa dia tidak melaporkannya kepada Raja?
Dan yang paling mengerikan—
Kenapa justru sekarang dia terlihat semakin tertarik padanya?
“Kalau memang tahu, kenapa tidak laporkan aku saja, sih?”
Tok.
Tok.
“Nona?”
Suara Nai terdengar dari balik pintu.
“Hamba masuk?”
“Masuk saja.”
Pintu terbuka. Nai masuk sambil membawa nampan berisi teh hangat.
“Nona belum tidur?”
Aruna meliriknya dengan wajah menyedihkan.
“Kalau kamu ada di posisiku, menurutmu kamu bisa tidur?”
Nai berpikir sebentar.
“Hamba mungkin sudah pingsan sejak kemarin.”
Aruna spontan terkekeh.
“Terima kasih. Jawabanmu sangat menenangkan.”
Setidaknya, masih ada seseorang yang bisa membuatnya tertawa.
Namun senyum Aruna langsung menghilang ketika terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari luar.
Seorang pelayan berhenti di depan pintu dan membungkuk hormat.
“Nona Anindya.”
Aruna langsung menoleh.
“Ada apa?”
“Hamba membawa surat.”
“Surat?”
Pelayan itu mengulurkan sebuah gulungan dengan segel lilin merah.
Di tengahnya terdapat lambang yang membuat Aruna membeku.
Lambang militer kerajaan.
“Siapa yang mengirim?”
Pelayan itu menjawab tanpa ragu.
“Jenderal Reynan Adi Wijaya.”
Sunyi.
Aruna menatap surat itu.
Lalu pelayan.
Kemudian kembali menatap surat tersebut.
“Untuk… aku?”
“Benar, Nona.”
Jantung Aruna mendadak seperti berhenti sesaat.
Dengan tangan gemetar, ia menerima gulungan itu.
Begitu pelayan pergi, Nai langsung mendekat.
“Bukankah itu kabar baik, Nona?”
Aruna menoleh perlahan.
“Kabar baik dari Jenderal Reynan?”
Nai mengangguk.
Aruna tersenyum kaku.
“Nai.”
“Ya?”
“Aku merasa hidupku tinggal sebentar lagi.”
“Jangan berkata seperti itu!”
Dengan hati-hati Aruna membuka segel surat tersebut.
Lalu ia menatap tulisan kuno di atasnya.
Beberapa detik.
Satu menit.
Dua menit.
Aruna tetap diam.
Nai mulai penasaran.
“Nona?”
“…”
“Nona bisa membacanya?”
Aruna mengangkat wajah.
“Tidak.”
“…”
“Terus kenapa Jenderal kirim surat begini?”
“…”
Aruna memejamkan mata.
“Dia bahkan tidak mengirim pesan yang bisa langsung dimengerti.”
Malam itu, Aruna terpaksa menghabiskan waktu berjam-jam menerjemahkan isi surat tersebut berdasarkan pengetahuan sejarah yang pernah ia gunakan saat menulis naskah.
Semakin lama membaca…
Wajahnya semakin pucat.
Nai yang duduk di sebelahnya mulai ikut panik.
“Apa isinya?”
Aruna menelan ludah.
“Dia memanggilku.”
“Ke mana?”
Aruna mengangkat surat itu.
“Markas militer.”
Nai langsung membeku.
Aruna pun ikut membeku.
Keduanya saling memandang.
“Besok.”
“…”
“Sendirian.”
“…”
“Aku akan mati.”
“Nona!”
Aruna berdiri dan mulai mondar-mandir.
“Kenapa harus ke markas militer?”
“Kenapa bukan di istana?”
“Kenapa harus sendirian?”
“Kenapa tidak sekalian tulis saja, ‘Selamat datang di hari terakhir Anda’?”
“Nona!”
“Aku serius, Nai!”
Semakin dipikirkan, semakin mengerikan.
Di sisi lain kota, seseorang justru terlihat jauh lebih tenang.
---
Markas Besar Militer Kadātuan Melayu.
Bayu berdiri di hadapan meja kerja atasannya.
Reynan sedang membaca beberapa laporan perang sambil membubuhkan tanda di atas gulungan kertas.
“Jenderal.”
“Hm?”
“Apakah benar Jenderal mengundang Nona Anindya kemari besok?”
“Benar.”
Bayu mengernyit.
“Untuk apa?”
Reynan tidak langsung menjawab.
Tangannya tetap bergerak.
“Saya ingin memastikan satu hal.”
“Apa?”
Kali ini Reynan berhenti menulis.
Ia mengangkat wajah.
Tatapannya tenang.
Terlalu tenang.
“Apakah perempuan itu benar-benar pemberani…”
Bayu menunggu kelanjutan kalimatnya.
Reynan meletakkan kuas.
“…atau hanya pandai berbicara.”
Bayu terdiam.
Selama bertahun-tahun mengabdi, belum pernah sekalipun ia melihat Jenderal Reynan memanggil seorang perempuan secara pribadi ke markas.
Apalagi seorang perempuan yang penuh rahasia seperti Nona Anindya.
Bayu mulai merasa kasihan.
“Semoga Nona tidak langsung pingsan saat melihat Jenderal besok,” gumamnya pelan.
Reynan melirik.
“Apa?”
“Tidak ada.”
---
Keesokan paginya.
Aruna berdiri tepat di depan gerbang Markas Besar Militer.
Ratusan prajurit sedang berlatih di halaman.
Suara pedang beradu.
Dentuman tombak.
Teriakan para komandan.
Semuanya membuat Aruna semakin ingin pulang.
Ia menatap gerbang besar di depannya.
Lalu melihat ke belakang.
“Masih sempat kabur…”
Belum sempat ia mengambil satu langkah, dua prajurit sudah menghampirinya.
“Nona Anindya?”
Aruna tersenyum canggung.
“Kalau aku bilang bukan?”
Kedua prajurit itu saling berpandangan.
Aruna langsung menghela napas.
“Iya. Aku.”
“Mohon ikut kami.”
Aruna menelan ludah.
“Baik.”
Ia mengikuti keduanya.
Setiap langkah terasa seperti semakin dekat menuju hukuman.
Tenang, Aruna.
Jangan panik.
Mungkin dia cuma mau bicara.
Atau mungkin mau memenggal kepalamu.
“Tidak, tidak!”
Dua prajurit di depannya langsung berhenti.
Aruna membeku.
“Apa yang Nona katakan?”
“Tidak ada.”
Ia tersenyum lebar.
Sangat lebar.
“Aku hanya sedang… menyemangati diri sendiri.”
Prajurit itu mengangguk, walaupun jelas tidak memahami apa pun.
Aruna kembali berjalan.
Dalam hati ia terus berdoa.
Kalau memang ini hari terakhirku…
Ia menarik napas.
Setidaknya semoga laptopku di dunia sana tidak dijual ibu.
“Nona?”
“Tidak ada!”
---
Dari balkon lantai dua markas, seseorang memperhatikan seluruh tingkahnya.
Reynan berdiri diam.
Tatapannya mengikuti setiap gerakan perempuan itu.
Mulai dari cara Aruna menoleh ke segala arah.
Berbicara sendiri.
Sampai beberapa kali terlihat seperti ingin berbalik dan melarikan diri.
Bayu muncul di belakangnya.
“Jenderal.”
Reynan tidak menjawab.
“Nona Anindya sudah datang.”
“Saya tahu.”
Bayu menatap Aruna di bawah.
“Apakah Jenderal yakin ingin mengujinya?”
Reynan tetap diam beberapa saat.
Kemudian, sudut bibirnya terangkat sangat tipis.
“Menarik.”
Bayu mengangkat alis.
“Apa?”
“Tidak ada.”
Reynan kembali menatap Aruna.
“Dia jauh lebih menarik daripada yang kubayangkan.”
Di bawah sana, tanpa menyadari dirinya sedang diperhatikan, Aruna akhirnya berhenti di depan sebuah pintu besar.
Prajurit di sampingnya membungkuk.
“Jenderal sudah menunggu.”
Aruna menatap pintu itu.
Tangannya perlahan mengepal.
Oke.
Masuk.
Jangan pingsan.
Jangan menangis.
Jangan mengaku kalau kamu sebenarnya penulis yang masuk ke dalam dunia novel sendiri.
Pintu itu perlahan terbuka.
Dan di baliknya…
Jenderal Reynan Adi Wijaya telah menunggu.
Tatapannya langsung tertuju kepadanya.
“Masuk.”
Aruna menelan ludah.
Sepertinya…
Hari ini akan menjadi hari yang sangat panjang.
Bersambung…
Share this novel