Series
31
Pagi itu, sinar matahari menembus celah jendela kayu kamarku, membangunkanku dari tidur yang terasa jauh lebih nyenyak dibanding malam sebelumnya.
Aku membuka mata perlahan, lalu mengembuskan napas panjang.
Semua ini...
...ternyata bukan mimpi.
Balok-balok kayu ulin, kelambu sutra, dan aroma dupa yang samar masih memenuhi ruangan. Aku benar-benar masih berada di dunia yang kutulis sendiri.
Hari ini, aku harus mulai menjalankan rencanaku.
Jika semua berjalan sesuai alur naskah, aku hanya perlu memastikan kisah Putri Sekar dan Jenderal Reynan berlangsung sebagaimana mestinya. Setelah cerita mencapai akhir, mungkin aku bisa kembali ke duniaku.
"Nai," panggilku pelan.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka.
"Hamba datang, Nona."
Nai masuk sambil membawa baskom air hangat dan beberapa helai pakaian bersih. Namun, sebelum mulai membantuku bersiap, ia tampak ragu-ragu.
"Nona..."
"Ada apa?"
Nai menundukkan kepala.
"Maafkan hamba jika lancang berkata. Sejak Nona sadar... cara berbicara Nona terasa sangat berbeda."
Aku terdiam.
"Berbeda bagaimana?"
"Nona biasanya berbicara sangat lembut dan santun. Namun sekarang... banyak kata yang belum pernah hamba dengar."
Aku menepuk dahiku pelan.
Astaga...
Aku benar-benar lupa.
Di dunia ini, semua orang menggunakan bahasa Melayu yang halus dan penuh tata krama. Sedangkan aku masih terbiasa berbicara seperti orang abad ke-21.
Aku menoleh ke arah pintu, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar.
"Nai."
"Ya, Nona?"
"Mendekatlah."
Nai berjalan mendekat dengan wajah bingung.
Aku menurunkan suara.
"Apa yang akan kukatakan setelah ini tidak boleh diketahui siapa pun."
Nai langsung mengangguk.
"Hamba bersumpah akan menyimpannya."
Aku menarik napas panjang.
"Sebenarnya... aku berasal dari masa depan."
Nai terdiam.
"Masa... depan?"
"Ya."
Aku mengangguk pelan.
"Duniaku berbeda dengan dunia ini."
Nai memandangku tanpa berkedip.
"Aku berasal dari zaman ketika kereta berjalan tanpa kuda."
Matanya semakin membulat.
"Rumah-rumah menjulang tinggi hingga menyentuh langit."
Nai masih diam.
"Orang-orang dapat berbicara dengan keluarga yang berada sangat jauh hanya melalui sebuah benda kecil."
Ia berkedip beberapa kali.
"Benda... ajaib?"
"Hampir seperti itu."
Aku tersenyum kecil.
"Dan pekerjaanku adalah menulis cerita."
"Menulis cerita?"
"Ya."
"Cerita tentang kerajaan ini."
Nai menarik napas tertahan.
"Lalu... Nona mengetahui semua yang akan terjadi?"
"Kurang lebih begitu."
Ruangan mendadak hening.
Beberapa saat kemudian, Nai perlahan berlutut di hadapanku.
"Hamba memang tidak memahami semua yang Nona ceritakan."
Air matanya mulai menggenang.
"Namun hamba percaya kepada Nona."
Aku tersenyum lega.
"Terima kasih, Nai."
Nai mengusap air matanya, lalu tersenyum kecil.
"Kalau begitu... mulai hari ini hamba akan membantu Nona menyesuaikan diri."
Aku mengangguk.
"Sebagai gantinya, kau harus mengingatkanku setiap kali aku berbicara atau bertindak aneh."
"Dengan senang hati, Nona."
Setelah selesai berbincang, Nai membuka peti kayu besar di sudut kamar.
Satu demi satu pakaian bangsawan dikeluarkan.
Aku memandangi tumpukan kain itu dengan wajah pasrah.
"Semua ini harus kupakai?"
"Iya, Nona."
"Tidak ada yang lebih sederhana?"
Nai menggeleng.
"Nona adalah putri Tuan Adipati. Penampilan Nona mencerminkan kehormatan keluarga."
Aku mengembuskan napas pelan.
"Baiklah."
Dengan telaten, Nai memakaikan kain kemban sutra, selendang kuning keemasan, serta beberapa perhiasan emas yang membuatku merasa jauh lebih berat daripada biasanya.
"Apa harus sebanyak ini?"
"Harus, Nona."
Aku hanya bisa tersenyum pasrah.
"Baiklah."
Setelah pakaian selesai dikenakan, Nai mulai mengambil sisir.
"Biar aku saja yang merias rambut."
Nai tampak heran.
"Nona ingin merias sendiri?"
"Iya."
Aku duduk di depan cermin tembaga.
Rambut ikalku kugerai sebagian, sementara sebagian lainnya kuikat ke belakang. Setelah itu, kuselipkan tusuk konde kayu cendana yg bermata mutiara.
Sentuhan riasan tipis membuat wajahku tampak lebih segar.
Aku memandang pantulan diriku di cermin.
"Sudah."
Saat menoleh, aku mendapati Nai masih berdiri mematung.
"Nai?"
Gadis itu baru tersadar.
"Maaf, Nona."
"Kenapa?"
"Hamba belum pernah melihat Nona berdandan seperti ini."
Aku tertawa kecil.
"Jelek?"
"Bukan."
Nai buru-buru menggeleng.
"Nona terlihat jauh lebih anggun."
Aku tersenyum malu.
"Kalau begitu, ayo berangkat."
"Hari ini Nona benar-benar ingin menghadap Putri Sekar?"
"Iya."
Aku berdiri sambil merapikan ujung selendang.
"Aku harus memastikan semuanya berjalan sesuai rencana."
Meski Nai tidak memahami maksud ucapanku, ia tetap mengangguk patuh.
Tak lama kemudian, kereta kuda milik keluarga Adipati meninggalkan kediaman menuju kadātuan.
Sepanjang perjalanan, Nai tak henti-hentinya mengajariku tata krama istana, mulai dari cara memberi hormat kepada Raja, menyapa para bangsawan, hingga etika berbicara di hadapan keluarga kerajaan.
Aku mendengarkan dengan saksama.
Sesampainya di gerbang kadātuan, aku akhirnya memahami mengapa Nai memaksaku berpakaian selengkap ini.
Untuk menemui Putri Sekar saja, aku harus melewati aula utama tempat Raja, para menteri, dan keluarga kerajaan berkumpul.
Aku menarik napas panjang.
"Ternyata menjadi bangsawan melelahkan juga."
"Apa Nona berkata sesuatu?" bisik Nai.
"Ah, tidak."
Kami terus berjalan menyusuri koridor istana.
Namun, saat melewati sebuah tikungan, langkahku terhenti.
Di hadapanku, sekelompok pengawal kerajaan sedang mengiringi seorang pria muda berjubah biru tua.
Pria itu berjalan tenang dengan wibawa yang sulit dijelaskan.
Saat kami berpapasan, ia melambat.
Tatapan kami bertemu sesaat.
Entah mengapa, pria itu berhenti berjalan dan berbalik menatapku.
Sedangkan aku...
...hanya mengernyitkan dahi karena sama sekali tidak mengenalinya.
Tanpa berpikir panjang, aku kembali melangkah meninggalkannya.
Aku tidak menyadari bahwa sepasang mata itu masih terus mengikuti langkahku hingga menghilang di balik koridor istana.
Share this novel