BAB 3: Dunia yang Kutulis

Drama Series 31

Aku berdiri di depan jendela kamar, memandang halaman kediaman yang dipenuhi pepohonan rindang. Angin sore mengibaskan tirai sutra, membawa aroma tanah yang masih basah setelah hujan semalam.
Semua terasa nyata.
Terlalu nyata.
Suara burung, langkah para pelayan, hingga semilir angin yang menyentuh kulitku tidak mungkin hanya mimpi.
Aku menarik napas panjang.
"Jadi... aku benar-benar hidup di sini."
Sejak terbangun beberapa hari lalu, pikiranku tak pernah berhenti bekerja. Aku mencoba mengingat setiap detail yang pernah kutulis di laptop.
Nama tokoh.
Hubungan antarkarakter.
Konflik politik.
Bahkan urutan kejadian yang seharusnya terjadi.
Kalau semua masih berjalan sesuai naskah...
Berarti aku tahu masa depan mereka.
Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunanku.
"Nona?"
Suara seorang gadis terdengar dari luar.
"Masuk."
Pintu terbuka perlahan.
Seorang gadis berpakaian sederhana membawa nampan berisi makanan hangat. Senyumnya terlihat lega saat melihatku sudah bangun dari tempat tidur.
"Syukurlah. Sejak pagi Nona belum makan apa pun. Tuan Adipati sangat mengkhawatirkan keadaan Nona."
Aku tersenyum tipis.
"Terima kasih."
Gadis itu mulai menyusun makanan di atas meja kecil.
Aku memperhatikannya diam-diam.
Kalau tidak salah...
Namanya Nai.
Dayang yang paling dekat dengan Anindiya.
"Nai?"
Gadis itu langsung menoleh.
"Iya, Nona?"
Aku menghela napas.
"Aku ingin bertanya sesuatu."
"Tentu."
"Kamu sudah lama bekerja di sini?"
Nai tersenyum kecil.
"Sejak kami masih kecil, Nona. Saya selalu menemani Nona ke mana pun."
Jawaban itu membuat dadaku sesak.
Berarti gadis ini benar-benar mengenal Anindiya.
Bukan aku.
Aku menatap wajahnya beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan,
"Nai... menurutmu aku berubah?"
Ekspresi Nai langsung berubah cemas.
"Sejujurnya... sejak Nona sadar, memang ada banyak hal yang berbeda."
Aku menelan ludah.
"Berbeda bagaimana?"
"Nona lebih sering melamun. Cara bicara Nona juga terasa asing."
Aku tersenyum kecut.
Tentu saja berbeda.
Karena aku bukan Anindiya.
Aku adalah Aruna.
Seorang penulis skenario dari abad ke-21.
"Nai..."
"Iya, Nona?"
"Kalau suatu hari nanti aku mengatakan sesuatu yang terdengar aneh... apa kamu akan mempercayaiku?"
Nai terlihat ragu.
Namun ia tetap mengangguk.
"Apa pun yang Nona katakan, saya akan mendengarkannya."
Aku menatapnya lekat.
"Lalu dengarkan baik-baik."
"Aku berasal dari dunia yang berbeda."
Ruangan mendadak sunyi.
Nai hanya berkedip beberapa kali.
"Saya... kurang mengerti maksud Nona."
Aku tertawa pelan.
"Tidak apa-apa."
Mungkin memang terlalu cepat menceritakan semuanya.
Aku mengubah pembicaraan.
"Kalau begitu, ceritakan tentang diriku."
Nai terlihat bingung.
"Tentang Nona?"
"Iya. Tentang Anindiya."
Nai mulai bercerita.
Tentang bagaimana Anindiya dikenal sebagai putri Perdana Menteri yang lembut, cerdas, dan disukai banyak orang.
Tentang kebiasaannya membaca.
Tentang hubungannya dengan Putri Sekar.
Aku mendengarkan dengan saksama.
Setiap cerita yang keluar dari mulut Nai sama persis dengan karakter yang pernah kutulis.
Tidak ada yang berubah.
Itu berarti...
Alur utama kemungkinan juga belum berubah.
Harapan kecil mulai muncul.
Kalau aku bisa memastikan semua berjalan sesuai naskah...
Mungkin aku bisa menemukan jalan pulang.
Malam itu, setelah Nai keluar dari kamar, aku kembali menatap langit-langit.
"Baiklah..."
Kalau memang takdir membawaku masuk ke dalam cerita ini...
Maka aku harus menyelesaikannya.
Aku akan memastikan Putri Sekar dan Jenderal Reynan tetap mencapai akhir bahagia seperti yang sudah kutulis.
Setelah cerita ini selesai...
Aku pasti bisa kembali ke duniaku.
Dengan keyakinan itu, aku memejamkan mata.
Tanpa kusadari...
Takdir yang sebenarnya justru baru saja mulai berubah.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience