Series
31
Kereta kuda berhenti tepat di depan gerbang utama kadātuan.
Aku menarik napas panjang sebelum turun. Bangunan megah dengan dinding batu dan ukiran kayu menjulang di hadapanku, persis seperti yang pernah kubayangkan ketika menulis naskah ini. Bedanya, kini aku benar-benar berdiri di dalamnya.
"Tenang, Nona," bisik Nai sambil merapikan selendang di bahuku. "Ikuti saja apa yang saya lakukan."
Aku mengangguk, meski jantungku berdetak jauh lebih cepat dari biasanya.
Belum beberapa langkah memasuki halaman istana, derap kaki para pengawal terdengar mendekat. Mereka memberi jalan kepada seorang pria muda yang mengenakan jubah biru tua bersulam benang perak. Sorot matanya tajam, tetapi senyumnya tampak hangat.
Pria itu menghentikan langkahnya tepat di depanku.
Aku menatapnya beberapa detik, berusaha mengingat siapa dia.
"Nona..." bisik Nai panik dari belakang. "Itu Pangeran Ketiga."
Jantungku serasa berhenti.
Wiratama Jayakarta.
Tokoh yang pernah kutulis sebagai pangeran cerdas dengan jaringan mata-mata terbesar di kerajaan.
Cepat-cepat aku menundukkan kepala.
"Salam hormat, Pangeran."
Pria itu tersenyum tipis.
"Angkat wajahmu, Anindiya."
Aku menurut perlahan.
"Aku mendengar kau baru saja sembuh. Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Syukur, saya sudah jauh lebih baik."
Tatapan Wiratama seolah mencoba membaca sesuatu di balik mataku.
"Entah kenapa... kau terlihat berbeda."
Aku tersenyum canggung.
"Mungkin karena terlalu lama beristirahat."
Pangeran terkekeh pelan.
"Bisa jadi."
Suasana menjadi hening beberapa saat sebelum akhirnya ia memberi jalan.
"Putri Sekar sudah menunggumu."
"Terima kasih, Pangeran."
Aku segera melangkah pergi bersama Nai.
Begitu cukup jauh, aku mengembuskan napas lega.
"Hampir saja..."
Nai tersenyum geli.
"Nona tadi terlihat sangat gugup."
"Tentu saja. Dia salah satu tokoh penting dalam cerita."
"Apa?"
"Eh... maksudku, tokoh penting di kerajaan."
Nai hanya mengangguk, meski wajahnya masih menyimpan kebingungan.
Paviliun Putri Sekar dipenuhi aroma bunga melati.
Seorang gadis berpakaian merah muda berlari menghampiriku begitu aku masuk.
"Anindiya!"
Ia memelukku erat.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu."
Aku tersenyum hangat.
Putri Sekar.
Tokoh utama perempuan yang selama ini hanya hidup di dalam pikiranku.
Melihatnya secara langsung terasa begitu aneh.
"Aku baik-baik saja."
Putri mengajakku duduk di dekat kolam teratai.
"Sudah beberapa hari aku ingin menemuimu. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan."
"Apa yang terjadi?"
Putri Sekar menundukkan kepala.
"Ayahanda mulai membicarakan soal pernikahan."
Aku terdiam.
Ternyata alurnya sudah mulai bergerak.
"Apakah Putri sudah mengetahui dengan siapa?"
Ia menggeleng pelan.
"Belum. Tapi aku takut."
Aku menggenggam tangannya.
"Jangan khawatir."
"Tidak ada yang bisa kupastikan sekarang, tetapi aku akan membantumu."
Putri menatapku heran.
"Sejak kapan kau menjadi seberani ini?"
Aku tersenyum kecil.
"Mungkin... sejak aku sadar bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana."
Kalimat itu membuatku sendiri terdiam.
Karena sebenarnya akulah yang paling memahami arti kata-kata itu.
Dulu aku yang menulis takdir mereka.
Sekarang...
Takdir itu justru sedang menulisku.
Aku menatap langit yang mulai berubah jingga.
Dalam hati aku berjanji.
Apa pun yang terjadi, aku harus menemukan cara agar semua orang mendapatkan akhir yang bahagia.
Termasuk diriku sendiri.
Share this novel