PERJANJIAN DI ATAS BATU KARANG

Romance Series 13

BAB 4: PERJANJIAN DI ATAS BATU KARANG
Latar: Senja yang merah di pantai. Batu besar itu kini menjadi saksi bisu di mana sebuah Tasbih dan untaian bunga kamboja yang sudah sedikit layu tergeletak berdampingan.
Zikri: (Duduk menunggu dengan gelisah, matanya terus menyisir bibir pantai) Aku pikir kamu tidak akan datang karena aturan baru itu, Gita.
Gitanjali: (Muncul dari balik pepohonan bakau, napasnya tersengal, kainnya basah karena ombak) Aku harus memanjat pagar belakang dan berputar lewat tebing. Ayah menaruh penjaga di depan gerbang rumah.
Zikri: (Berdiri, ingin mendekat tapi teringat jarak mereka) Kamu terluka?
Gitanjali: (Menggeleng pelan, menunjukkan gelang Tridatu-nya yang kini tampak sedikit kusam karena air laut) Hanya lelah bersembunyi, Zik. Kurma darimu kemarin... aku memakannya di bawah cahaya bulan sambil menangis. Rasanya manis, tapi tenggorokanku terasa sangat sempit karena rasa bersalah.
Zikri: (Menunduk, menatap tasbihnya yang tergeletak di batu) Abah sudah menjodohkanku, Gita.
Gitanjali: (Tertegun, dunianya seakan berhenti) Siapa?
Zikri: Seorang putri dari sahabat Abah di pesantren Jawa. Katanya, dia adalah "penjaga iman" yang tepat untukku. Abah tidak mau aku terus-menerus melihat ke arah Pura.
Gitanjali: (Tersenyum getir, air mata mulai mengalir) Dan Ayahku... beliau sudah membicarakan hari baik untuk pertunanganku dengan seorang pria kasta Brahmana dari kota. Katanya, itu satu-satunya cara untuk membersihkan namaku dari gosip tentang "pemuda masjid".
Zikri: (Mengepalkan tangan) Kita seperti dua pion yang digerakkan di atas papan catur yang sama, tapi tidak pernah dibiarkan berada di kotak yang sama.
Gitanjali: (Mendekat ke arah Zikri, melanggar jarak satu meter yang biasa mereka jaga) Zikri... apa kamu benar-benar akan menerima perjodohan itu?
Zikri: (Menatap mata Gitanjali dengan tajam) Tasbih ini mengajarkanku ketaatan pada orang tua, tapi hatiku mengatakan bahwa berbohong pada perasaan juga adalah dosa. Aku tidak bisa mencintai orang lain sementara bayanganmu selalu ada di tiap sujudku.
Gitanjali: Kalau begitu, mari kita buat perjanjian. Di atas batu ini. Di depan ombak yang tidak pernah memihak siapa pun.
Zikri: Perjanjian apa?
Gitanjali: (Melepaskan gelang Tridatu dari pergelangan tangannya?sebuah tindakan yang dianggap sangat sakral dan berisiko) Aku akan meletakkan pelindung jiwaku di sini. Jika besok pagi gelang ini masih ada berdampingan dengan tasbihmu, artinya Tuhan masih memberi kita waktu.
Zikri: (Ikut mengambil tasbihnya dan mengikatkannya pada gelang Tridatu tersebut, menyatukan keduanya) Dan jika salah satu dari benda ini hilang...
Gitanjali: Berarti salah satu dari kita telah kalah oleh tembok yang mereka bangun.
Zikri: (Memegang tangan Gitanjali untuk pertama kalinya, sebuah sentuhan yang terasa seperti sengatan listrik di tengah dinginnya angin pantai) Aku tidak akan membiarkan tasbih ini hilang, Gita. Meski aku harus kehilangan duniaku sendiri.
Gitanjali: (Berbisik) Hati-hati, Zikri. Ayahku sudah mulai curiga tentang kunci pagar belakang yang sering hilang.
Zikri: Besok, jam yang sama. Di sini. Kita tentukan arah pelarian kita.
Gitanjali: (Melihat ke arah desa) Langit semakin gelap. Kita harus pulang ke rumah masing-masing, ke penjara kita masing-masing.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience