DI ANTARA ASAP DUPA DAN DEBU JALANAN

Romance Series 13

BAB 3: DI ANTARA ASAP DUPA DAN DEBU JALANAN
Latar: Hari upacara besar. Jalanan desa dipenuhi umat yang mengenakan pakaian adat putih-putih menuju Pura, sementara di sisi lain, jamaah Masjid sedang berkumpul untuk pengajian akbar. Zikri dan Gitanjali berada di pusat perhatian masing-masing, namun mata mereka tetap mencari celah.
Gitanjali: (Sambil memegang nampan sesaji di depan Pura, bisik-bisik kepada temannya) Luh, apa kamu lihat Zikri di gerbang tadi?
Luh: (Cemas) Sst! Fokus, Gita. Ayahmu sedang memperhatikan dari atas anak tangga. Jangan sebut nama itu di sini. Bisa-bisa sesajimu dianggap tidak suci.
Gitanjali: (Melihat ke arah Masjid yang hanya berjarak beberapa ratus meter) Dia ada di sana. Aku bisa mendengar suaranya lewat pengeras suara. Dia sedang membaca ayat-ayat itu lagi.
 
(Di selasar Masjid, Zikri baru saja meletakkan mikrofon. Ia melihat rombongan Gitanjali lewat di jalan raya)
 
Kyai Haji Mansyur: (Menyentuh bahu Zikri) Zikri, masuk ke dalam. Khutbah akan dimulai. Jangan biarkan matamu tertuju pada keramaian di luar sana.
Zikri: Abah, apa salah jika aku hanya ingin memastikan bahwa tetangga kita bisa menjalankan upacaranya dengan tenang?
Kyai Haji Mansyur: (Tegas) Tugasmu adalah memastikan ketenangan di dalam sini, bukan mengurusi apa yang mereka sembah di sana. Masuklah.
 
(Satu jam kemudian. Saat puncak upacara, Gitanjali harus mengambil air suci di pancuran belakang yang berbatasan dengan kebun belakang Masjid. Zikri sudah menunggu di sana di balik pohon kamboja)
 
Zikri: (Berbisik) Gita!
Gitanjali: (Tersentak, hampir menjatuhkan kendi kecilnya) Zikri! Kamu nekat sekali. Kalau ada yang lihat kamu di area suci ini...
Zikri: (Mendekat sedikit) Aku tidak bisa konsentrasi di dalam tadi. Suara gemerincing di pergelangan kakimu saat menari tadi... aku bisa mendengarnya sampai ke dalam Masjid.
Gitanjali: (Menunduk, memperlihatkan gelang Tridatu-nya yang bersinar di bawah matahari) Aku menari dengan kaki gemetar, Zik. Ayah terus menatapku seolah dia bisa membaca pikiranku yang sedang bersamamu.
Zikri: (Mengeluarkan sebuah bungkusan kecil) Ini... kurma dari Abah. Tadi ada tamu dari Mekkah. Aku ingin kamu memakannya. Anggap saja ini kekuatan.
Gitanjali: (Menerimanya dengan ragu) Dan ini... (Gitanjali mengambil bunga kamboja yang terselip di telinganya dan memberikannya pada Zikri). Simpan ini. Wanginya akan bertahan sampai malam. Supaya kamu tahu aku baik-baik saja.
Zikri: Gita, Ayahmu dan Abahku sedang bicara di depan tadi. Mereka sepakat untuk membuat aturan baru di desa ini.
Gitanjali: (Wajahnya memucat) Aturan apa?
Zikri: Larangan bagi pemuda-pemudi untuk melintasi batas wilayah ibadah tanpa urusan penting. Mereka ingin kita benar-benar terpisah.
Gitanjali: (Menyentuh tasbih yang melingkar di leher Zikri) Mereka ingin memisahkan Tasbih dan Tridatu, Zik. Mereka tidak sadar kalau yang mereka pisahkan adalah dua nyawa.
Zikri: Kita tidak akan membiarkan itu terjadi, kan?
Gitanjali: (Mendengar suara langkah kaki) Seseorang datang! Pergi, Zik! Cepat!
Zikri: (Berlari menjauh) Aku tunggu di batu pantai sore nanti, Gita! Ingat bunganya!
Gitanjali: (Kembali ke sumber air dengan jantung berdebar, menyembunyikan kurma itu di balik kain wastranya)

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience