Series
13
BAB 1: BENANG DAN BUTIRAN
Latar: Tepian pantai saat senja. Suara ombak beradu dengan suara sayup-sayup pujian dari toa masjid di kejauhan.
Zikri: (Duduk di atas pasir, jemarinya bergerak pelan memutar butiran tasbih kayu kokka miliknya) Kamu sudah dengar, Gita? Kabar tentang pemugaran besar-besaran di Pura keluargamu?
Gitanjali: (Duduk di sampingnya, namun memberi jarak sekitar satu meter. Ia sedang merapikan ikat rambutnya, memperlihatkan gelang Tridatu yang melingkar erat di pergelangan tangan kanannya) Ayah yang memimpin upacaranya minggu depan. Beliau bilang, kesucian Pura harus dikembalikan. Tidak boleh ada pengaruh luar yang masuk.
Zikri: (Berhenti memutar tasbihnya) "Pengaruh luar"? Apa itu termasuk aku?
Gitanjali: (Menoleh, menatap Zikri dengan mata sayu) Ayah melihatmu bukan sebagai teman masa kecilku lagi, Zik. Beliau melihatmu sebagai "Zikri si anak Kyai". Seseorang yang membawa tasbih, yang jalan hidupnya berlawanan arah dengan sesaji yang aku bawa setiap pagi.
Zikri: (Tersenyum getir) Lucu, ya. Tasbihku ini mengajarkan aku untuk mengingat Tuhan. Gelang Tridatu-mu itu juga pengingat akan kebesaran Pencipta dalam tiga warna. Seharusnya kita searah, Gita. Kita sama-sama mencari-Nya.
Gitanjali: (Menyentuh gelang Tridatu-nya) Merah, putih, hitam. Ini bukan sekadar benang, Zik. Ini pengikat jiwaku pada tanah ini, pada leluhurku. Ayah bilang, kalau aku melepas ini demi seseorang yang memegang tasbih sepertimu, maka aku kehilangan akarku. Aku akan hanyut.
Zikri: Aku tidak pernah memintamu melepas akarmu. Aku hanya ingin kita menanam pohon yang sama di tanah yang luas ini.
Gitanjali: Tapi tanah ini sudah dipetak-petak, Zikri. Garisnya sudah digambar dengan darah dan sejarah. Kamu lihat pasir ini? (Gitanjali menggambar garis panjang di pasir antara mereka berdua dengan jarinya).
Zikri: (Melihat garis itu) Garis itu akan hilang saat ombak datang, Gita.
Gitanjali: Tapi sebelum ombak datang, garis ini nyata. Aku tidak bisa melangkah ke sana, dan kamu tidak boleh melangkah ke sini.
Zikri: (Mengulurkan tasbihnya ke arah garis itu, namun tidak menyentuhnya) Kalau saja orang tua kita tahu bahwa saat aku berdzikir dan saat kamu bersembahyang, kita sebenarnya meneriakkan nama yang sama dalam rindu yang berbeda.
Gitanjali: (Berdiri, membersihkan pasir di kainnya) Jangan terlalu banyak berandai-andai, Zik. Besok aku mulai dipingit untuk tarian persembahan. Kita mungkin tidak akan bertemu di pantai ini untuk waktu yang lama.
Zikri: (Ikut berdiri) Gita, tunggu. (Ia mengeluarkan sesuatu dari saku kokonya).
Gitanjali: Apa itu?
Zikri: Hanya sebuah janji kecil. (Zikri meletakkan tasbihnya di atas batu besar di antara mereka). Aku akan tinggalkan tasbih ini di sini setiap sore. Jika suatu hari kamu melihat tasbih ini hilang, berarti aku sudah menyerah pada keadaan. Tapi selama tasbih ini masih ada, berarti aku masih menunggumu di balik garis yang kamu buat.
Gitanjali: (Menatap tasbih itu, lalu menyentuh gelang di tangannya sendiri) Dan jika suatu saat kamu menemukan benang merah, putih, dan hitam terikat di batu ini... itu artinya aku telah memberikan pelindung jiwaku padamu.
Zikri: (Menatap Gitanjali dalam-dalam) Jaga dirimu, Gita.
Gitanjali: (Berbalik dan berjalan menjauh tanpa menoleh) Jaga imanmu, Zikri. Karena hanya itu yang tersisa jika cinta kita benar-benar dilarang oleh semesta.
Share this novel