Series
13
BAB 7: NEKAT DAN JEJAK YANG HILANG
Latar: Tengah malam di Pesantren. Suasana sangat sunyi, hanya terdengar suara jangkrik dan dengkur halus para santri di kamar-kamar bambu. Zikri sudah menyiapkan tas kecilnya.
Zikri: (Berbisik pada dirinya sendiri sambil mengencangkan tali sepatunya) Ampuni aku, Abah. Aku tidak bermaksud membangkang, tapi aku tidak bisa membiarkan hatiku mati di sini sebelum aku melihatnya sekali lagi.
Santri Teman Kamar: (Terbangun pelan, melihat Zikri di ambang pintu) Zik... kamu mau ke mana? Kamu tahu kan risikonya kalau kabur dari sini? Abahmu akan sangat malu.
Zikri: (Menoleh sebentar, matanya terlihat lelah namun bertekad) Katakan pada mereka aku mencari jawaban di luar pagar ini. Jika aku tidak kembali, berarti jawabannya ada di pelukan ombak pantai kita.
(Sementara itu, di lereng gunung, Gitanjali sedang berdiri di tepi jendela kamarnya yang tidak berpintu. Ia menatap ke bawah, ke jalan setapak yang curam dan licin karena embun)
Gitanjali: (Merasakan dadanya sesak) Aku tidak bisa hanya duduk di sini dan menunggu dupa ini habis, Zik. Kakiku harus melangkah sesering doaku memanggilmu.
Griya Istri: (Tiba-tiba muncul di kegelapan selasar) Kamu mau pergi, Gita? Di luar gelap, hutan ini tidak ramah pada gadis yang hatinya sedang hancur.
Gitanjali: (Terkejut, lalu berlutut di depan wanita tua itu) Ibu... tolong biarkan aku pergi. Jika aku tetap di sini, aku hanya akan menjadi raga tanpa nyawa. Ayah bisa memiliki kehormatanku, tapi dia tidak bisa memiliki cintaku.
Griya Istri: (Diam sejenak, lalu mengulurkan seutas benang merah, putih, dan hitam yang baru) Pakai ini. Ini bukan dari Ayahmu. Ini dari hatiku yang dulu juga pernah muda dan patah. Jika kamu bertemu dengannya, tunjukkan bahwa Tridatu ini tidak pernah benar-benar putus.
Gitanjali: (Memeluk kaki wanita itu sambil menangis) Terima kasih, Ibu... Terima kasih.
(Zikri berhasil melompati pagar pesantren. Ia berlari menuju jalan raya, mencoba mencari tumpangan truk sayur yang menuju pelabuhan)
Sopir Truk: (Berhenti di tepi jalan) Mau ke mana, Dek? Malam-malam begini di pinggir hutan?
Zikri: Ke pelabuhan, Pak. Saya harus menyeberang ke Bali malam ini juga. Ini... (Zikri menyerahkan satu-satunya jam tangan miliknya) Tolong bawa saya sejauh mungkin.
Sopir Truk: (Melihat wajah Zikri yang penuh keringat) Simpan jammu, Dek. Sepertinya kamu sedang mengejar nyawamu sendiri. Naiklah.
(Di lereng gunung, Gitanjali mulai berjalan menuruni bukit. Ia tidak membawa obor, hanya mengandalkan cahaya bulan yang sesekali tertutup awan mendung)
Gitanjali: (Berlari kecil, kakinya tergores ranting tajam) Tunggu aku di batu karang itu, Zik. Tolong, jangan biarkan tasbihmu hilang sebelum aku sampai.
Zikri: (Duduk di bak belakang truk, memegang tasbihnya erat-erat) Bertahanlah, Gita. Jarak ini sedang aku pangkas dengan keberanian yang tersisa.
Share this novel