PERTEMUAN DI UJUNG HARAPAN

Romance Series 13

BAB 8: PERTEMUAN DI UJUNG HARAPAN
Latar: Pantai rahasia mereka. Langit sangat gelap, badai kecil mulai mengirimkan ombak yang tinggi dan angin yang menusuk tulang. Batu karang itu berdiri tegak, sendirian di tengah hantaman air laut.
Zikri: (Berlari tertatih di atas pasir, pakaiannya kotor dan basah karena pelarian panjang) Gita! Gita, kamu di sana?!
Gitanjali: (Muncul dari balik tebing, wajahnya pucat, kakinya berdarah karena menuruni gunung tanpa alas kaki) Zikri... (Ia ambruk di pasir sebelum sempat sampai ke arah Zikri).
Zikri: (Segera menangkap tubuh Gitanjali) Ya Allah, Gita... Kamu kedinginan sekali. Kenapa kamu senekat ini?
Gitanjali: (Tersenyum lemah, menunjukkan pergelangan tangannya) Lihat, Zik... Tridatu ini... Ibu penjaga Griya memberikannya padaku. Aku tidak pernah membiarkan ikatannya putus di hatiku.
Zikri: (Mencium kening Gitanjali, air matanya jatuh bersatu dengan air hujan) Aku di sini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun membawamu pergi lagi. Kita akan pergi jauh dari sini, Gita. Ke tempat di mana tidak ada kasta, tidak ada tembok pesantren, hanya ada kita.
Gitanjali: (Memegang tasbih kayu yang melingkar di leher Zikri) Suara dzikirmu... aku bisa mendengarnya sepanjang jalan menuruni gunung tadi. Itu yang membuatku tetap berjalan.
Zikri: (Membantu Gitanjali berdiri) Ayo, kita harus bergerak. Ayahmu dan Abah pasti sudah tahu kita hilang. Mereka akan mencari ke sini.
 
(Tiba-tiba, puluhan cahaya obor muncul dari arah bukit dan arah jalan desa. Suara teriakan memanggil nama mereka memecah kesunyian badai)
 
I Gusti Ngurah Oka: (Berteriak dari kejauhan) GITANJALI! KAMU TELAH MENODAI NAMA KELUARGA! KEMBALI SEKARANG ATAU KAMU AKAN DIANGGAP MATI OLEH SELURUH DESA!
Kyai Haji Mansyur: (Berdiri di samping Ngurah Oka dengan wajah yang mengeras) ZIKRI! TURUNKAN TANGANMU DARI GADIS ITU! JANGAN BIARKAN SETAN MERUSAK IMANMU LEBIH JAUH!
Zikri: (Berdiri tegak di depan Gitanjali, menatap obor-obor itu dengan berani) Kami tidak dirusak oleh setan! Kami dirusak oleh kebencian yang kalian pelihara!
Gitanjali: (Berdiri di samping Zikri, menggenggam tangannya erat) Ayah... Abah... biarkan kami hidup! Kami hanya ingin bernapas tanpa rasa takut!
I Gusti Ngurah Oka: (Maju dengan amarah yang memuncak) Tidak ada hidup bagi mereka yang mencampuradukkan suci dan noda! Tangkap mereka!
 
(Massa dari kedua belah pihak mulai merangsek maju. Ketegangan antara dua kelompok warga juga memuncak. Di tengah badai dan cahaya obor, situasi menjadi tidak terkendali. Seseorang melemparkan batu, dan dalam sekejap, bentrokan pecah)
 
Zikri: (Menarik Gitanjali menuju batu karang yang menjorok ke laut) Kita tidak bisa lewat darat, Gita! Mereka sudah menutup semua jalan!
Gitanjali: (Melihat ombak besar yang menghantam karang) Zik... ombaknya sangat tinggi.
Zikri: (Menatap mata Gitanjali dengan sisa-sisa harapan) Lebih baik kita menyerahkan diri pada laut milik Tuhan, daripada menyerahkan diri pada amarah manusia yang tidak mengenal kasih. Kamu percaya padaku?
Gitanjali: (Menangis pelan, mengikatkan ujung gelang Tridatu-nya ke sela-sela butiran tasbih Zikri, menyatukan tangan mereka secara permanen) Aku percaya. Di mana pun kamu berada, di situ duniaku.
Zikri: (Melihat ayahnya dan ayah Gitanjali yang hanya berjarak beberapa meter) Maafkan kami...
(Zikri dan Gitanjali melompat bersamaan ke dalam pusaran ombak yang ganas, tepat saat tangan-tangan warga mencoba menggapai baju mereka. Tubuh mereka hilang ditelan kegelapan laut dalam hitungan detik)

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience