Series
13
BAB 5: AMUKAN BADAI DAN RAHASIA YANG TERBONGKAR
Latar: Pantai di pagi buta. Langit masih kelabu, dan air pasang baru saja surut. Namun, bukan ombak yang datang ke batu karang itu, melainkan amarah yang menyala.
I Gusti Ngurah Oka: (Berdiri di depan batu karang, wajahnya merah padam. Tangannya gemetar saat mengangkat untaian yang menyatukan Tasbih kayu dan Gelang Tridatu) Sila! Kurang ajar! Jadi ini alasan kamu selalu pulang dengan mata sembab, Gitanjali?!
Kyai Haji Mansyur: (Berdiri di samping Ngurah Oka, wajahnya pucat namun tatapannya tajam penuh kekecewaan) Astaghfirullah, Zikri... Kamu mengikatkan asma Allah pada benang yang bukan dari jalanmu? Kamu menukar harga diri pesantren kita dengan perasaan rendah ini?
Zikri: (Muncul dari balik semak bersama Gitanjali, keduanya membeku melihat orang tua mereka sudah berada di sana) Abah...
Gitanjali: (Terengah-engah, jatuh terduduk di pasir) Ayah... ampuni Gita...
I Gusti Ngurah Oka: (Melemparkan tasbih itu ke arah Zikri, sementara ia mencengkeram gelang Tridatu tersebut sampai kukunya memutih) Tidak ada ampun untuk pengkhianat tradisi! Kamu telah menodai kesucian gelang ini dengan menyatukannya pada sesuatu yang asing!
Kyai Haji Mansyur: (Menatap Zikri dengan dingin) Dan kamu, Zikri. Abah membesarkanmu dengan ayat-ayat suci, bukan untuk kamu jadikan alat rayuan pada gadis yang tidak seakidah. Kamu tahu apa hukumnya ini bagi keluarga kita? Kita kehilangan muka di depan semua umat!
Zikri: (Mengambil tasbihnya yang jatuh di pasir, membersihkannya dengan gemetar) Abah, benda-benda ini tidak bersalah. Kami hanya ingin menunjukkan bahwa cinta tidak harus saling menghancurkan! Kenapa Abah dan Paman Oka justru melihat ini sebagai noda?
I Gusti Ngurah Oka: (Mendekat ke arah Zikri, suaranya menggelegar) Karena air dan api tidak pernah bisa duduk di meja yang sama! Gitanjali, pulang! Hari ini juga, kamu akan saya kirim ke Griya di gunung. Kamu tidak akan melihat matahari pantai ini lagi sampai kamu lupa nama pemuda ini!
Gitanjali: (Berteriak histeris saat tangannya ditarik paksa oleh ayahnya) Tidak, Ayah! Zikri! Tolong aku!
Zikri: (Mencoba mengejar) Gita! Paman, tolong dengarkan kami!
Kyai Haji Mansyur: (Menahan pundak Zikri dengan kuat) Cukup, Zikri! Jika kamu melangkah satu senti saja mengejar gadis itu, jangan pernah panggil aku Abah lagi. Kamu akan aku kirim ke pesantren di Jawa Timur siang ini juga. Tanpa ponsel, tanpa pamit, tanpa apapun!
Gitanjali: (Sambil diseret menjauh, ia melemparkan pandangan terakhirnya) Zikri! Jangan biarkan tasbih itu hilang! Jangan menyerah!
Zikri: (Berlutut di pasir, memegang tasbihnya erat-erat ke dadanya) Aku tidak akan menyerah, Gita! Aku berjanji!
Kyai Haji Mansyur: (Melihat putranya dengan iba yang bercampur amarah) Kamu belum tahu, Nak. Di dunia ini, ada tembok yang lebih keras dari batu karang ini. Tembok itu bernama harga diri manusia yang mengatasnamakan Tuhan.
Latar: Malam harinya. Kamar Zikri dan kamar Gitanjali sudah kosong. Zikri berada di dalam mobil travel menuju pelabuhan, sementara Gitanjali berada di mobil bak tertutup menuju lereng gunung.
Zikri: (Berbicara pada diri sendiri sambil memutar tasbihnya di kegelapan mobil) Kamu di mana, Gita? Di gunung mana mereka menyembunyikanmu?
Gitanjali: (Menyentuh pergelangan tangannya yang kini kosong tanpa Tridatu, terasa sangat hampa) Zik... tasbihmu adalah satu-satunya hal yang ingin aku genggam sekarang.
Share this novel