Series
13
BAB 6: JARAK YANG TAK TERUKUR
Latar: Dua tempat yang berbeda. Zikri di sebuah pesantren tua yang sunyi di pedalaman Jawa Timur, sementara Gitanjali di sebuah Griya (rumah suci) di lereng gunung yang berkabut.
Zikri: (Duduk bersila di pojok perpustakaan pesantren yang berdebu. Jemarinya terus memutar butiran tasbih, namun matanya menatap kosong ke arah luar jendela yang hanya menampilkan pohon jati meranggas) Sudah satu bulan, Abah. Satu bulan aku tidak mendengar suara ombak, dan satu bulan aku tidak tahu apakah dia masih bernapas di bawah langit yang sama.
Ustadz Senior: (Masuk dan meletakkan kitab di depan Zikri) Zikri, kamu dikirim ke sini untuk membersihkan hatimu, bukan untuk memindahkan raga tapi jiwamu tetap tertinggal di pantai itu. Kenapa bacaanmu selalu terhenti di ayat tentang perpisahan?
Zikri: (Menunduk) Ustadz, bagaimana cara membedakan antara ujian iman dan ujian cinta? Bukankah keduanya berasal dari sumber yang sama?
Ustadz Senior: Cinta yang menjauhkanmu dari Penciptamu adalah ujian. Tapi jika cinta itu membuatmu bertanya-tanya tentang keagungan-Nya, mungkin itu adalah jalan setapak yang sulit. Tapi ingat, Zikri, air mata tidak akan mengubah garis takdir yang sudah ditulis di Lauh Mahfuzh.
(Di saat yang sama, di teras Griya yang dingin, Gitanjali sedang duduk menghadap sesaji yang ia buat sendiri. Pergelangan tangannya kini tidak lagi dihiasi Tridatu, melainkan bekas merah akibat ikatannya yang diputus paksa)
Gitanjali: (Berbisik pada asap dupa yang membubung ke langit) Apa kamu bisa mencium bau dupa ini, Zik? Di sini sangat dingin. Tidak ada suara adzanmu, hanya suara angin gunung yang mengejekku setiap malam.
Griya Istri (Penjaga Griya): (Mendekat dengan lembut) Gita, kamu tidak makan lagi hari ini. Ayahmu mengirimmu ke sini agar kamu kembali "suci", agar kamu kembali menjadi putri ksatria yang dulu.
Gitanjali: Bagaimana bisa aku kembali menjadi diriku yang dulu, jika separuh jiwaku sudah terbawa dalam butiran tasbih kayu kokka itu, Ibu?
Griya Istri: (Menghela napas) Cinta beda keyakinan itu seperti mencoba menanam bunga di atas salju. Indah untuk dibayangkan, tapi mustahil untuk dibiarkan mekar. Kembalilah pada Dharma-mu, Gita. Jangan biarkan hatimu membeku karena menunggu sesuatu yang tak mungkin.
(Malam itu, Zikri menemukan secarik kertas di dalam kitab tuanya. Ia menuliskan sesuatu dengan tangan gemetar)
Zikri: (Menulis) "Gita... mereka bilang kita adalah air dan api. Tapi di sini, aku belajar bahwa tanpa air, api akan menghancurkan segalanya. Dan tanpa api, air hanya akan membeku dalam kedinginan. Aku merindukanmu di tiap butir tasbihku."
Gitanjali: (Di lereng gunung, ia mengambil sebuah bunga kamboja yang jatuh di pangkuannya) Jika aku harus menghabiskan sisa hidupku di gunung ini, aku akan memastikan setiap doa yang aku titipkan pada asap dupa ini mencari jalan menuju tasbihmu, Zik.
Zikri: (Menatap langit malam dari sela teruji jendela) Aku akan lari, Gita. Begitu ada celah, aku akan kembali ke batu karang itu.
Gitanjali: Aku akan menunggumu, meski aku harus berjalan turun dari puncak gunung ini tanpa alas kaki.
Share this novel