Series
13
BAB 2: GEMERINCING DAN DOA
Latar: Aula latihan tari di kediaman I Gusti Ngurah Oka. Gitanjali sedang berlatih tari Pendet dengan gerakan yang kaku karena pikirannya terganggu. Di kejauhan, terdengar suara Zikri yang sedang mengaji di masjid.
I Gusti Ngurah Oka: (Berdiri di tepi aula, memperhatikan dengan tangan bersedekap) Berhenti, Gitanjali! Gerakan tanganmu hambar. Tidak ada pengabdian di sana. Apa yang sedang kamu pikirkan?
Gitanjali: (Terengah-engah, menunduk dalam) Maaf, Ayah. Udara sore ini terasa sangat berat.
I Gusti Ngurah Oka: (Mendekat, matanya tertuju pada pergelangan tangan Gitanjali) Udara yang berat, atau hatimu yang sedang mencoba melepas ikatan Tridatu itu? Ayah dengar kamu masih sering ke pantai. Untuk apa? Menemui pemuda yang tidak tahu cara menghormati sesaji itu?
Gitanjali: Zikri tidak pernah tidak menghormati kita, Ayah. Dia hanya punya caranya sendiri untuk bersujud.
I Gusti Ngurah Oka: (Suaranya meninggi) Caranya bukan cara kita! Darahmu adalah darah ksatria yang menjaga Pura. Jangan sampai suara organ atau suara dzikir dari seberang itu menulikan telingamu dari suara leluhur. Besok, kamu harus menari di upacara besar. Bersihkan hatimu, atau tarianmu akan menjadi kutukan, bukan persembahan!
(Di teras Masjid, Zikri sedang duduk bersama Kyai Haji Mansyur setelah selesai mengajar mengaji)
Kyai Haji Mansyur: (Sambil menutup kitab kuningnya) Zikri, kenapa suaramu saat membaca ayat-ayat cinta tadi terdengar seperti orang yang sedang berduka?
Zikri: (Menunduk, memainkan ujung sajadahnya) Tidak ada apa-apa, Abah. Mungkin hanya lelah.
Kyai Haji Mansyur: Zikri, Abah tidak membangun madrasah ini agar anak Abah melamunkan seorang gadis yang memakai benang tiga warna di tangannya. Kamu itu pemimpin masa depan jemaat ini.
Zikri: Apa salah jika aku hanya ingin berteman, Abah? Bukankah Islam mengajarkan kita untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam?
Kyai Haji Mansyur: Menjadi rahmat bukan berarti membiarkan akidahmu larut dalam dupa. Air yang terlalu dekat dengan api akan menguap dan hilang, Zikri. Kamu adalah air, dan dia adalah api tradisi yang bisa membakarmu sampai habis.
Zikri: Tapi Abah, bukankah Tuhan yang menciptakan perbedaan ini agar kita saling mengenal?
Kyai Haji Mansyur: (Berdiri, menatap langit malam) Mengenal bukan berarti memiliki. Ada garis yang sengaja Allah ciptakan agar kita tetap berada di jalan masing-masing. Besok, jangan biarkan kakimu melangkah ke arah Pura itu lagi. Fokus pada pengabdianmu di sini.
(Malam harinya, Zikri dan Gitanjali berdiri di balkon rumah masing-masing yang jaraknya dipisahkan oleh kebun besar)
Gitanjali: (Berbisik ke arah angin) Ayah menyebutmu pengaruh luar, Zik. Tapi bagiku, kamu adalah bagian dari diriku yang paling dalam.
Zikri: (Melihat bayangan Gitanjali dari kejauhan, memegang tasbihnya) Abah bilang kita adalah air dan api. Tapi mereka lupa, tanpa air dan api, kehidupan tidak akan pernah ada.
Gitanjali: (Menyentuh gelang Tridatu-nya yang terasa sangat erat) Besok aku akan menari di depan banyak orang. Tapi jiwaku akan menari untukmu, Zik.
Zikri: Dan besok aku akan berdoa lebih lama. Bukan hanya untuk keselamatanku, tapi untuk keberanian kita.
Share this novel