Series
24
DINGINNYA ISTANA SANG RAJA
Suara derit pelan pintu mahoni di kamar sayap timur menandai dimulainya babak baru dalam masa penahanan Mentari. Sesuai dengan instruksi yang disampaikan Maria sebelumnya, batas kurungan Mentari tidak lagi sebatas empat dinding kamarnya. Pintu itu kini tidak lagi terkunci rapat dari luar sepanjang waktu.
Mentari berdiri ragu di depan ambang pintu yang sedikit terbuka. Ia mengenakan gaun rajut krem yang sama, melapisi bagian luarnya dengan kardigan longgar berwarna cokelat susu untuk menyembunyikan lekuk tubuhnya yang berisi. Dengan napas yang ditahan di dada, ia memberanikan diri mengayunkan langkah pertamanya melintasi batas kamar menuju lorong lantai dua.
Langkah kakinya yang terbungkus sepatu kain tipis nyaris tak bersuara di atas karpet tebal bernuansa merah marun. Begitu keluar dari kamarnya, Mentari langsung menyadari betapa sepi dan megahnya lorong sayap timur ini. Pencahayaan dari lampu gantung bergaya klasik membiaskan cahaya kuning hangat di atas dinding-dinding batu gading yang dihiasi lukisan minyak berbingkai ukiran emas tebal.
Namun, rasa kagum itu sirna dalam hitungan detik sewaktu Mentari melihat keberadaan para pengawal.
Di setiap sudut persimpangan lorong, berdiri dua hingga tiga pria bertubuh kekar dengan setelan jas hitam yang rapi. Postur mereka begitu tegap, tangan mereka tertaut kaku di depan pinggang, dan tatapan mata mereka tajam menyapu setiap jengkal pergerakan Mentari. Meski mereka tidak menghalangi jalannya, keberadaan mereka seperti ribuan pasang mata yang mengawasi setiap hembusan napas Mentari.
Aku tidak berada di rumah seseorang, batin Mentari memeluk dadanya sendiri, merasakan ketegangan yang merayap di tengkuknya. Aku berada di markas militer pribadi.
Saat menyusuri lorong menuju arah tangga utama, Mentari tak sengaja berpapasan dengan dua pelayan wanita muda yang sedang membawa tumpukan handuk dan perlengkapan tidur. Kedua pelayan itu serta-merta menundukkan kepala mereka dalam-dalam dan menghentikan langkah, membiarkan Mentari lewat terlebih dahulu tanpa berani menatap matanya.
Perlakuan yang sangat terhormat—namun terasa begitu asing dan canggung bagi seorang gadis biasa yang terbiasa hidup mandiri dan dipandang sebelah mata di luar sana.
Mentari menuruni tangga melengkung yang megah menuju lantai dasar. Suasana di lantai bawah terasa sedikit lebih sibuk. Beberapa pria berjas hitam terlihat membawa dokumen atau berbisik pelan satu sama lain sebelum menghilang di balik pintu-pintu kayu tebal.
Sesuai dengan niatnya tadi sore, Mentari ingin mencari lokasi dapur utama. Keinginan untuk menyentuh tepung, meremas adonan, dan menghirup aroma mentega yang meleleh di atas loyang adalah satu-satunya pelarian yang bisa menyelamatkan sanubarinya dari ancaman kegilaan akibat stres.
Saat berjalan menyusuri lorong lantai dasar yang menghubungkan area tengah dengan sayap belakang, suara dentingan piring dan aroma masakan gurih mulai tercium samar-samar. Mentari memandangi sebuah pintu ganda berbahan stainless steel dan kayu jati yang sedikit terbuka.
Ia mendorong pintu tersebut pelan-pelan dan melangkah masuk.
Dapur utama Mansion Moretti tidak menyerupai dapur rumah pada umumnya. Tempat itu lebih mirip dapur restoran bintang lima berskala internasional. Counter-counter panjang berbahan granit hitam mengilat, peralatan masak komersial berbasis stainless steel yang bersih tanpa cela, serta rak-rak raksasa berisi ratusan jenis bumbu dan bahan makanan dari berbagai belahan dunia berderet dengan sangat rapi.
Di tengah ruangan, seorang pria berbadan tegap dengan pakaian koki putih bersih sedang fokus memotong bahan makanan bersama tiga asistennya.
Kehadiran Mentari membuat pergerakan di dapur itu seketika terhenti. Sang koki kepala menoleh, matanya menyapu penampilan Mentari sebelum raut wajahnya berubah terkejut. Pria itu bergegas mengusap tangannya dengan kain bersih dan melangkah mendekati Mentari dengan sikap yang sangat sopan.
"Selamat sore, Nona Mentari," sapa koki kepala itu sambil membungkukkan badannya sedikit. "Saya Giovanni, koki kepala di mansion ini. Bik Maria sudah mengabarkan bahwa Anda mungkin akan berkunjung sore ini."
Mentari sedikit tersentak, gugup karena disambut begitu formal oleh seorang koki profesional. "S-selamat sore, Chef Giovanni. Panggil saja saya Mentari ...."
"Tentu, Nona Mentari," Chef Giovanni tersenyum ramah—sebuah senyuman hangat pertama yang Mentari temui di mansion kaku ini selain wajah dingin para pengawal. "Semua bahan yang Anda butuhkan untuk membuat kue sudah kami siapkan di counter khusus bagian barat. Tuan Vincenzo secara spesifik meminta kami menyediakan tepung gandum impor kualitas terbaik, mentega murni dari Prancis, dan berbagai ekstrak vanila asli untuk Anda."
Mentari menatap ke arah counter yang ditunjuk oleh Chef Giovanni. Di sana, sudah tertata rapi loyang-loyang bersih, mangkuk adonan berbahan kaca tebal, timbangan digital, serta berbagai kotak bahan kue kelas atas.
Rasa haru yang aneh mendadak menyelusup ke dada Mentari. Di tengah kekejaman dan keputusasaan karena ditahan di tempat ini, perhatian tersembunyi Vincenzo yang mengatur detail bahan kue kesukaannya terasa bagaikan pukulan lembut yang membingungkan hatinya.
"Terima kasih banyak, Chef," gumam Mentari halus. "Apakah saya boleh mulai menggunakannya sekarang?"
"Tentu saja, Nona. Seluruh station itu milik Anda. Jika Anda membutuhkan bantuan atau bahan tambahan, jangan ragu untuk memberi tahu saya atau asisten saya."
Mentari melangkah mendekati counter kue. Begitu jemarinya menyentuh permukaan mangkuk kaca dan menghirup aroma khas tepung serta gula halus, rasa takut dan cemas yang menghimpit dadanya sejak semalam perlahan mereda. Dapur selalu menjadi tempat perlindungannya—tempat di mana bentuk tubuhnya, kekurangannya, dan pandangan miring orang lain tidak pernah menjadi masalah. Di sini, yang ada hanyalah presisi rasa dan ketulusan proses.
Ia mencuci tangannya hingga bersih, mengikat rambut hitam bergelombangnya ke belakang, lalu mengenakan celemek kain berwarna abu-abu yang sudah disiapkan.
Selama dua jam berikutnya, Mentari tenggelam sepenuhnya dalam dunianya sendiri. Ia memutuskan untuk membuat Cinnamon Rolls—kue gulung kayu manis yang menjadi resep andalan dan favorit pelanggan di toko kecilnya dulu. Tangannya meliuk lihai mengukur takaran tepung, mengocok telur, dan meremas adonan hingga kalis dan elastis.
Keringat tipis membintik di dahi dan Pipi tembam Mentari yang merona merah karena hawa hangat oven yang mulai menyala. Ia tampak begitu menikmati setiap detik proses tersebut. Senyuman manis yang tulus—senyuman yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di mansion ini—terukir alami di bibirnya saat ia mengoleskan campuran mentega, gula cokelat, dan bubuk kayu manis di atas adonan yang telah digulung rapi.
Tanpa disadari oleh Mentari, di celah pintu ganda dapur yang sedikit terbuka, sebuah bayangan tegap berdiri memperhatikan gerak-geriknya sejak sepuluh menit yang lalu.
Vincenzo Moretti berdiri membisu di sana. Sang Don telah kembali dari pertemuannya dengan para pimpinan faksi Moretti di luar. Jas gelapnya terlepat dan terlipat di satu lengannya, sementara dasinya sudah sedikit dikendurkan.
Ia berniat langsung menuju ruang kerjanya, namun langkah kakinya terhenti saat mencium aroma manis kayu manis dan mentega yang memenuhi koridor sayap belakang. Dan di sinilah ia sekarang—terpaku menatap sosok gadis chubby yang tengah asyik menaburkan gula halus di atas loyang.
Vincenzo memperhatikan bagaimana rambut bergelombang Mentari yang terikat sedikit berantakan, memperlihatkan lehernya yang putih bersih. Pipi tembam gadis itu tampak memerah karena panasnya oven, dan celemek abu-abu yang terikat di pinggangnya mempertegas lekuk tubuhnya yang padat namun penuh kehangatan.
Bagi Vincenzo yang terbiasa hidup di lingkungan yang dingin, kaku, dan dipenuhi oleh bau amis darah serta kepalsuan politis, pemandangan Mentari di dapur ini terasa begitu ganjil—sekaligus teramat memikat. Kehadiran Mentari membawa secuil nyawa dan kedamaian yang selama ini belum pernah terpikirkan akan ada di dalam mansionnya.
"Aromanya sampai ke lorong depan," suara berat dan dalam menggema secara tiba-tiba dari balik pintu dapur.
Chef Giovanni dan para asistennya seketika berdiri tegap dan membungkukkan badan mereka dengan penuh penghormatan. "Tuan Vincenzo."
Mentari yang sedang memegang mangkuk adonan tersentak kaget. Ia berbalik dan mendapati Vincenzo melangkah masuk ke dalam dapur. Langkah kaki sang Don yang mantap dan tegas membuat suasana dapur yang tadinya hangat mendadak kembali tegang dan dipenuhi aura dominasi mutlak.
Mentari buru-buru meletakkan mangkuk kacanya ke atas meja, tangannya refleks mengusap celemeknya yang bertepung. "T-Tuan ... Vincenzo."
Vincenzo tidak menghiraukan sapaan para kokinya. Mata abu-abu dinginnya mengunci pandangannya lurus pada Mentari. Pria itu melangkah mendekati counter tempat Mentari bekerja, mengabaikan jarak profesionalisme dan berdiri sangat dekat dengan gadis itu.
Pandangan Vincenzo menyapu wajah Mentari yang merona, lalu turun ke noda tepung putih yang menempel di ujung hidungnya yang mungil dan pipi kirinya.
Sebuah gerakan refleks yang tak terduga terjadi. Vincenzo mengulurkan tangan kanannya, ibu jarinya yang besar dan hangat mengusap lembut remah tepung dari Pipi tembam Mentari. Sentuhan itu sangat halus—begitu bertolak belakang dengan kesan kejam yang melekat pada diri sang Don.
Mentari membeku di tempatnya. Napasnya tertahan di tenggorokan saat merasakan permukaan ibu jari Vincenzo yang bergesekan lembut dengan kulit pipinya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut pria itu bisa mendengarnya di antara kesunyian dapur.
"Kau bertepung, Mentari," bisik Vincenzo pelan, matanya menatap lekat-lekat netra bulat Mentari yang ketakutan sekaligus bingung.
"S-saya ... saya sedang membuat cinnamon rolls," cicit Mentari dengan suara yang sangat halus, tak berani berkedip.
Vincenzo menarik tangannya kembali, melirik ke arah loyang-loyang kue yang sudah tertata rapi di atas counter. "Aromanya tidak buruk."
"Ini ... ini belum selesai dipanggang," sambung Mentari berupaya menguasai dirinya yang kacau akibat sentuhan mendadak tadi. "Harus masuk oven sekitar dua puluh menit lagi."
Vincenzo mengangguk pelan. Ia menatap Mentari dari ujung kepala hingga ujung kaki sekali lagi, memperhatikan bagaimana celemek itu membungkus tubuhnya.
"Kirimkan dua potong ke ruang kerjaku begitu kuemu matang," perintah Vincenzo pendek dengan intonasi datar yang tidak menerima bantahan. "Dan pastikan kau sendiri yang membawanya."
Mentari tertegun. "Saya yang membawanya?"
"Apakah ada kata-kata dari kalimatku yang kurang jelas, gadis kecil?" tanya Vincenzo dengan sebelah alis terangkat dingin.
"T-tidak, Tuan. Saya mengerti," jawab Mentari cepat sambil menundukkan kepalanya.
Vincenzo menyunggingkan senyum tipis yang sangat samar di sudut bibirnya—sebuah kilatan kepuasan terselubung—sebelum ia berbalik arah dan melangkah keluar dari dapur utama, meninggalkan aroma kayu cendana yang ditinggalkannya di udara.
Setelah pintu dapur kembali tertutup rapat, Mentari menyandarkan badannya ke pinggiran counter granit yang dingin. tangannya menyentuh pipi kirinya yang tadi diusap oleh Vincenzo. Bekas sentuhan ibu jari pria itu masih terasa hangat dan meninggalkan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh pembuluh daragnya.
"Nona Mentari," panggil Chef Giovanni halus, memecahkan keheningan. "Tuan Vincenzo tidak pernah mau memakan makanan manis atau hidangan penutup yang dibuat di mansion ini selama bertahun-tahun. Perintah beliau barusan ... adalah hal yang sangat langka."
Mentari mendongak menatap Chef Giovanni dengan mata bulatnya yang kebingungan.
Kata-kata sang koki kepala seolah mengonfirmasi dugaan yang mulai menakutkan bagi Mentari: sang Don tidak hanya menahannya sebagai saksi kunci, tetapi juga perlahan-lahan menjadikan keberadaannya sebagai pusat perhatian personalnya. Dan di dalam sangkar emas yang begitu dingin ini, menjadi perhatian khusus dari seorang pria seberbahaya Vincenzo Moretti adalah hal paling manis sekaligus paling mematikan yang pernah terjadi dalam hidupnya.
Share this novel