Bab 4

Romance Series 24

KEPUTUSAN SANG DON

Rasa hangat sinar matahari pagi yang menerobos jendela kaca besar di ruang kerja tidak mampu mengikis hawa dingin yang mengepul dari tubuh Vincenzo Moretti. Setelah pintu kayu ek ditutup rapat oleh Mentari yang berlari pergi dengan wajah memerah, keheningan tebal kembali menguasai ruangan.

Vincenzo berdiri membelakangi meja mahoninya, menatap ke arah taman dalam mansion melalui jendela antipeluru. Kedua tangannya terselip di saku celana bahan gelapnya. Di kepalanya, bayangan wajah Mentari yang bertepung, pipinya yang tembam dan merona merah karena amarah, serta tatapan mata bulatnya yang polos berputar secara konstan—merebut fokus yang biasanya selalu tercurah penuh pada urusan kekuasaan dan bisnis darah.

Ketukan tegas di pintu memecah lamunannya.

"Masuk," ujar Vincenzo tanpa memutar tubuh.
Pintu terbuka dan Marco melangkah masuk dengan langkah cepat. Wajah pria bertubuh kekar itu tampak lebih tegang dari biasanya. Di tangannya, ia memegang sebuah dokumen tebal bersampul hitam.

"Don," panggil Marco, menghentikan langkahnya tiga tapak di belakang Vincenzo. "Tim intelijen telah memverifikasi sketsa yang dibuat oleh Nona Mentari. Hasil pemindaian sistem pengenalan wajah mengonfirmasi seratus persen: pria berdahi lebar itu adalah Viktor Volkov, komandan operasional kartel Bratislava, dan pria bertato mawar di sampingnya adalah adik kandungnya, Lev Volkov."

Vincenzo berbalik perlahan. Netra abu-abu dinginnya menyempit. "Keluarga Volkov secara pribadi turun ke kota ini? Berarti transaksi senjata di gudang pelabuhan semalam bukan sekadar pembelian rutin. Mereka sedang menyiapkan kudeta aliansi."

"Benar, Don," sambung Marco. "Dan yang lebih mengkhawatirkan, jaringan mata-mata kita di luar melaporkan bahwa pihak Volkov menyadari ada gangguan kecil saat eksekusi Paolo terjadi. Mereka belum tahu siapa saksi tersebut, tetapi orang-orang Bratislava mulai menyisir kawasan pelabuhan dan memeriksa setiap kamera pengawas di sekitar lokasi."

Vincenzo melangkah mendekati mejanya. Ia mengambil cerutu mahal dari kotak kayu di sudut meja, memotong ujungnya dengan tenang, lalu menyulutnya. Asap tipis beraroma rempah dan tembakau mengudara di antara mereka.

"Apa yang mereka temukan di pelabuhan?" tanya Vincenzo datar.

"Anak buah kita bergerak lebih cepat, Don," jawab Marco tegas. "Motor matik milik Nona Mentari sudah dihancurkan dan ditenggelamkan ke laut dalam. Ponselnya yang mati dipecahkan hingga menjadi serpihan mikro. Kami juga menyebarkan rumor terselubung di kalangan warga lokal bahwa seorang gadis pembuat kue hilang tersapu ombak malam saat mengantar pesanan di dermaga."

"Bagus," gumam Vincenzo pendek. "Lalu bagaimana dengan reaksi keluarga panti asuhannya?"

"Pihak pengelola panti asuhan dan beberapa rekannya sudah membuat laporan orang hilang ke kepolisian setempat. Namun sesuai kendali kita pada otoritas kepolisian sektor selatan, kasus ini diproses secara pasif dan akan segera ditutup dengan kesimpulan kecelakaan tenggelam."

Marco jeda sejenak. Ia mengamati wajah atasannya dengan saksama sebelum memberanikan diri menyuarakan keraguan yang mengganjal di hatinya sejak semalam.

"Don ... jika informasi dari Nona Mentari sudah kita dapatkan dan identitas Volkov bersaudara telah terkonfirmasi, bukankah keberadaan gadis itu di mansion ini menjadi risiko yang tidak perlu?" tanya Marco hati-hati. "Keberadaan orang luar di lingkaran terdalam Moretti dapat memicu kecurigaan dewan senior. Prosedur standar kita terhadap saksi sipil—"

"Cukup, Marco," potong Vincenzo pendek. Suaranya tidak keras, tetapi getaran otoritas dingin di dalamnya membuat Marco seketika membungkam mulutnya.
Vincenzo menghembuskan asap cerutunya ke udara, menatap lurus ke arah Marco dengan mata abu-abunya yang tajam bagaikan sembilu.

"Kau mempertanyakan keputusanku?"

"Sama sekali tidak, Don. Saya hanya memikirkan keselamatan organisasi dan potensi kebocoran—"

"Tidak ada kebocoran jika dia berada di dalam pengawasanku," tegas Vincenzo. "Volkov bersaudara tidak boleh tahu bahwa ada saksi yang mengenali wajah mereka. Jika Mentari kubiarkan berkeliaran di luar—bahkan dengan identitas baru di luar negeri sekalipun—risiko dia tertangkap atau diinterogasi oleh musuh tetap ada. Di luar sana, dia adalah mangsa empuk. Di sini, dia berada di bawah perlindungan armada Moretti."

Marco menundukkan kepalanya secara reflektif. "Saya mengerti, Don."

Namun di dalam hatinya, Marco tahu ada alasan lain yang jauh lebih personal. Selama delapan tahun menjadi tangan kanan Vincenzo, Marco belum pernah melihat sang Don memperlakukan seorang wanita dengan penuh pertimbangan seperti ini. Biasanya, siapa pun yang membahayakan kerahasiaan Moretti akan dilenyapkan tanpa jejak dalam hitungan jam. Namun untuk gadis chubby beraroma vanila ini, Vincenzo justru secara pribadi mengubah seluruh protokol keamanan dan memberikannya ruang di mansion utama.

"Mulai hari ini," panggil Vincenzo lagi, memutuskan keheningan. "Perketat barisan pengawal di sayap timur. Nona Mentari diizinkan mengakses perpustakaan, taman dalam, dan dapur utama jika dia bosan. Namun tidak ada satu pun orang luar yang boleh melihat wajahnya. Jika ada anggota dewan senior yang datang berkunjung, pastikan dia tetap berada di dalam kamarnya."

"Baik, Don. Bagaimana dengan kebutuhan pribadinya?"

"Minta Maria menyiapkan segalanya. Pakaian, bahan makanan terbaik untuk kegiatannya di dapur, dan apa pun yang dia minta," ujar Vincenzo. Pria itu jeda sejenak sebelum menambahkan, "Dan pastikan para pelayan serta pengawal memperlakukannya dengan hormat. Siapa pun yang berani melontarkan kata-kata tidak sopan mengenai penampilan atau fisiknya ... akan berhadapan langsung denganku."

Marco mengangguk patuh. "Segera saya laksanakan, Don."

Sementara itu, di lantai dua sayap timur mansion, Mentari terduduk lesu di pinggir tempat tidur empuknya. Gaun rajut warna krem yang melekat di tubuhnya terasa hangat, tetapi hatinya merasa sangat dingin dan hampa.

Ibu jarinya menyusuri permukaan sprei sutra. Di benaknya, wajah-wajah orang di panti asuhan menari-nari. Ibu Maria—pengasuh panti yang sudah seperti ibunya sendiri—pasti sedang menangis histeris mencari keberadaannya. Kue-kue pesanan pelanggan yang seharusnya ia selesaikan hari ini pasti terbengkalai. Seluruh benih kehidupan sederhana yang ia bangun dengan keringat dan rasa lelah berbulan-bulan musnah begitu saja.

Kenapa harus aku? bisiknya dalam hati, memeluk kedua lengannya sendiri. Kenapa dari ribuan orang di kota ini, harus aku yang tersesat ke gudang itu?

Tok! Tok!

Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunan Mentari. Pintu terdorong terbuka, memperlihatkan Maria yang masuk membawa sebuah nampan berisi cangkir teh porselen dan beberapa potong biskuit buatan koki mansion. Di belakang Maria, dua pengawal berdiri bersiap di luar lorong.

"Nona Mentari, ini teh herbal untuk menenangkan pikiran Anda," kata Maria seraya meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil di samping tempat tidur.

Mentari menatap cangkir teh yang mengepulkan uap tipis itu tanpa minat. "Terima kasih, Bik Maria ... tapi saya sedang tidak ingin minum."

Maria memperhatikan wajah pucat Mentari dan mata bulatnya yang sembap. Sebagai kepala rumah tangga yang telah melayani keluarga Moretti selama puluhan tahun, Maria telah melihat banyak hal di mansion ini. Namun, kehadiran Mentari membawa dinamika yang benar-benar asing baginya.

"Nona," panggil Maria halus, sedikit melunakkan nada bicaranya yang biasanya kaku. "Saya tahu situasi ini sangat berat dan mengejutkan bagi Anda. Berada di lingkungan seperti ini bukanlah hal yang mudah bagi orang awam."

Mentari mendongak, menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan sayu. "Bik Maria ... apakah saya benar-benar tidak akan pernah bisa keluar dari sini lagi? Apakah Tuan Vincenzo benar-benar sekejam itu?"

Maria menghela napas pelan. Ia berdiri dengan sikap tubuh yang kaku namun ada nada simpati yang tersembunyi di matanya. "Tuan Vincenzo adalah seorang pemimpin tertinggi organisasi Moretti, Nona. Di dunianya, kelemahan berarti kematian. Beliau dibesarkan di tengah intrik dan pertumpahan darah, sehingga keputusan-keputusannya selalu didasarkan pada perhitungan dingin dan keselamatan mutlak."

"Tapi saya bukan musuhnya!" seru Mentari pelan, suaranya tercekat. "Saya cuma gadis biasa yang suka bikin kue! Saya tidak punya niat jahat pada siapa pun!"

"Dan justru karena itulah Anda masih bernyawa di sini hari ini, Nona Mentari," balas Maria tegas namun lembut. "Jika Anda adalah musuh atau mata-mata, tubuh Anda sudah dibuang ke laut sejak semalam. Fakta bahwa Tuan Vincenzo membawa Anda ke sini, menempatkan Anda di kamar terbaik sayap timur, dan menyuruh kami memenuhi seluruh kebutuhan Anda ... itu adalah sebuah pengecualian yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Moretti."

Mentari tertegun. Kata-kata Maria berdengung di telinganya. Pengecualian?

"Tuan Vincenzo telah mengeluarkan perintah baru," lanjut Maria. "Mulai siang ini, Anda tidak lagi dikurung di dalam kamar ini. Anda diizinkan berjalan-jalan di sepanjang koridor lantai dua, mengunjungi perpustakaan di lantai dasar, dan menikmati udara segar di taman dalam mansion. Tuan juga memberi izin jika Anda ingin menggunakan dapur utama."

Mendengar kata 'dapur', mata Mentari yang tadinya redup seketika memercikkan sedikit binar kehidupan. "Dapur? Saya boleh menggunakan dapur?"

"Ya, Nona. Tuan memesan bahan-bahan pembuat kue kualitas terbaik untuk disiapkan di dapur jika Anda ingin menyibukkan diri," kata Maria dengan senyuman sangat tipis yang nyaris tak terlihat. "Tuan tahu bahwa memasak adalah hal yang paling Anda sukai."

Mentari meremas kain gaunnya. Perasaan bingung kembali berkecamuk di dalam dadanya. Di satu sisi, Vincenzo adalah sosok iblis yang telah merenggut kebebasannya dan mengancam nyawanya dengan dingin. Namun di sisi lain, pria itu memperhatikan detail-detail kecil tentang dirinya—mengetahui ukurannya, menyediakan pakaian yang nyaman tanpa membuat fisiknya merasa canggung, hingga memberinya akses ke dapur untuk meredakan stresnya.

Sikap kepemilikan dan perhatian tertutup dari sang Don terasa bagaikan benang-benang halus yang mengikatnya secara perlahan, membuatnya tidak mampu membenci pria itu sepenuhnya.

"Saya ... saya mau ke dapur nanti sore," gumam Mentari pelan, menundukkan kepalanya.

"Baik, Nona. Saya akan meminta koki menyiapkan seluruh bahan yang Anda butuhkan," jawab Maria hormat. "Sekarang, minumlah teh Anda dan beristirahatlah sejenak."

Setelah Maria keluar dan mengunci pintu dari luar, Mentari meraih cangkir teh porselen hangat itu dengan kedua tangannya. Ia menghirup aroma herbal yang menenangkan, menatap ke arah luar jendela tempat pepohonan taman bergoyang tertiup angin perbukitan.

Ia tahu bahwa mansion ini adalah sebuah sangkar. Sebuah sangkar emas yang dijaga oleh pria paling berbahaya dan dominan di kota. Namun saat memikirkan tatapan mata abu-abu Vincenzo yang menatapnya dengan intonasi penuh kepemilikan semalam, Mentari menyadari satu hal yang menakutkan: bahaya terbesar yang mengancam dirinya di tempat ini mungkin bukan saja peluru atau musuh-musuh mafia di luar sana, melainkan cara pria itu perlahan-lahan meruntuhkan benteng pertahanan hatinya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience