Bab 1

Romance Series 24

Malam di sudut kota pelabuhan selalu dibungkus oleh kelembapan udara laut yang asin dan bau besi berkarat dari tumpukan kontainer tua. Jarum jam tangan bergambar kucing yang melingkar di pergelangan tangan Mentari Kirana sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat lima belas menit. Seharusnya, pada jam-jam seperti ini, gadis berusia dua puluh dua tahun itu sudah bergelung nyaman di bawah selimut bulunya yang hangat sambil menonton tayangan memasak kesukaannya.

Namun, pesanan darurat lima puluh porsi kue mangkuk (cupcake) berhias hiasan gula rumit untuk perayaan ulang tahun seorang pengusaha lokal telah memaksa Mentari berada di jalanan malam ini. Dan kemalangan tidak berhenti di situ. Aplikasi navigasi di ponselnya tiba-tiba membeku, menuntun motor matik merahnya yang agak rewel masuk ke dalam labirin kawasan pergudangan tua yang sepi dan remang-remang.

"Aduh, Mentari ... kenapa kamu bisa salah belok sih?" gumamnya pada diri sendiri di balik kaca helm. Suaranya agak bergetar saat menghentikan motor di depan sebuah persimpangan jalan setapak berdinding beton kusam.

Rambut hitam bergelombang yang diikat asal-asalan ke belakang menyembul di bawah helm. Mentari membetulkan posisi jaket longgar berwarna abu-abu yang membungkus tubuh chubby-nya. Seperti biasa, rasa tidak percaya diri sempat menyelinap—perasaan bahwa tubuhnya yang padat dan Pipi tembamnya sering kali membuatnya terlihat canggung di manapun ia berada. Namun, malam ini, rasa takut akan kegelapan jauh lebih mendominasi ketimbang rasa ragu pada bentuk tubuhnya.

Ponselnya mati total. Baterainya habis. Jalanan di depannya hanya diterangi oleh satu lampu jalan yang berkedip-kedip seolah hampir mati.

Saat Mentari hendak memutar balik stang motornya untuk mencari jalan keluar, sebuah dentuman keras yang tertahan menggema dari arah gudang bernomor 09 di sebelah kirinya.

DESH!

Suara itu tidak nyaring seperti letusan kembang api, melainkan bunyi blunt force berdaging yang tertahan—seperti benda berat yang menghantam permukaan basah dengan sangat keras. Mengikutinya, suara serak seorang pria yang merintih kesakitan terdengar begitu jelas di tengah kesunyian malam.

Jantung Mentari melonjak drastis hingga merambat ke tenggorokan. Instingnya berteriak agar ia segera menarik gas dan melarikan diri sesegera mungkin. Namun, saat ia berniat menyalakan mesin motornya kembali, bunyi deritan pintu besi besar yang terdorong terbuka sedikit membuatnya terhenti.

Dari celah pintu besi gudang yang terbuka sekitar setengah meter, pendar cahaya lampu halogen yang kekuningan menembus kegelapan malam. Mentari—entah karena kebodohan atau rasa ingin tahu yang tak tertahankan—memberanikan diri mengintip melalui celah tumpukan peti kayu di dekatnya.

Di dalam gudang beratap tinggi itu, suasana terasa begitu dingin dan mencekam. Bunga es seperti tak kasat mata membeku di udara. Di tengah ruangan, puluhan pria berpakaian setelan jas hitam berdiri tegap bagaikan patung penjaga. Masing-masing dari mereka memegang senjata api dengan peredam suara yang mengarah ke tanah.

Namun, perhatian Mentari tidak tertuju pada para pengawal berjas tersebut. Pandangannya langsung terkunci pada dua sosok utama di tengah ruangan.
Seorang pria paruh baya berkemeja putih yang sudah bersimbah darah berlutut gemetar di atas lantai semen yang dingin. Di hadapannya, berdiri seorang pria tinggi tegap yang membelakangi posisi Mentari. Pria itu mengenakan setelan jas kustom berwarna abu-abu gelap tanpa cela. Bahunya lebar, posturnya memancarkan aura dominasi mutlak yang membuat siapa saja di sekitarnya tampak kerdil.

"T-tolong, Don Vincenzo ... Saya ... saya tidak menjual informasi itu kepada kelompok Romano! Saya bersumpah!" ratap pria berlutut itu dengan suara terbata-bata, darah mengalir dari pelipisnya.

Pria yang dipanggil Vincenzo itu tidak segera menjawab. Dengan gerakan yang sangat tenang—bahkan cenderung elegan—ia mencabut selembar saputangan putih dari saku jasnya, lalu perlahan mengelap setetes darah yang menempel di ujung sepatu kulitnya.

"Sumpahmu tidak bernilai satu sen pun, Paolo," suara Vincenzo terdengar. Suara itu berat, dalam, dan dingin seperti es yang pecah di tengah danau membeku. Tidak ada nada emosi atau amarah di dalamnya, yang justru membuatnya seribu kali lebih mengerikan. "Kau menjual koordinat pengiriman senjata kami di pelabuhan utara tiga hari lalu. Kaupikir aku tidak tahu siapa yang memasukkan uang dua ratus ribu dolar ke rekening kasinomu di Macau?"

"Saya dijebak, Don! Demi Tuhan, saya—"

DOR.

Suara letupan teredam dari pistol berperedam suara menghentikan kalimat Paolo secara mendadak. Pria itu roboh ke depan, tak bernyawa lagi di atas lantai semen.

Mentari membekukan diri di balik peti kayu. Tangannya meremas kuat-kuat tali tas selempangnya hingga jemarinya memutih. Matanya melotot lebar, nafasnya tertahan di tenggorokan. Ia baru saja menyaksikan sebuah eksekusi mati secara langsung. Sensasi dingin merambat dari telapak kakinya langsung menuju kepala. Rasa mual yang membakar memukul perutnya.

Aku harus pergi. Aku harus pergi sekarang juga atau aku akan mati, batin Mentari menjerit histeris.

Ia mencoba mundur secara perlahan, menggeser tumit sepatunya sedemikian rupa agar tidak menimbulkan suara. Namun, ketakutan yang luar biasa membuat lututnya yang gemetar kehilangan keseimbangan. Tumit sepatunya menyenggol sebuah kaleng cat kosong yang tergeletak di samping peti.

CLANG! CLANG! CLANG!

Bunyi nyaring kaleng berguling di atas paving blok yang sepi itu terdengar bagaikan suara dentang lonceng kematian bagi Mentari.

"Siapa di sana?!"

Suara tegas dari salah satu pengawal berjas hitam melengking tajam dari dalam gudang. Dalam hitungan detik, suara langkah kaki sepatu boots yang berat dan cepat terdengar berhamburan mendekati arah tumpukan peti kayu.

Mentari tidak memikirkan apa-apa lagi. Panik menguasai otaknya sepenuhnya. Ia berbalik dan berusaha lari sekuat tenaga menuju jalan raya. Namun, karena koordinasi tubuhnya yang kacau akibat kepanikan mendalam, kakinya tersandung akar pohon yang mencuat di pinggir jalan.

Mentari jatuh tersungkur.

Belum sempat ia bangkit untuk berdiri, bayangan dua pria berbadan besar sudah mengurungnya dari atas. Sebelum Mentari sempat berteriak minta tolong, sebuah tangan berotot yang dilapisi sarung tangan kulit menyergap mulutnya dari belakang, sementara tangan lainnya mengunci kedua lengannya dengan sangat kuat.

"Mmph! MMMMPH!" Mentari memberontak sekuat tenaga. Ia menendang-nendangkan kakinya secara liar, mencoba menggigit tangan yang membekapnya, tetapi tenaganya sama sekali tidak sebanding dengan kekuatan pria dewasa teratih yang memeganginya.

"Dapat satu, Bos! Seorang gadis!" teriak salah satu pengawal yang menahannya.

Mentari diseret secara kasar kembali menuju celah pintu gudang 09 yang terbuka. Tubuhnya digiring masuk ke dalam ruangan yang kini beraroma amis darah dan bubuk mesiu.

"Lepaskan aku! Tolong! Saya tidak melihat apa-apa! Saya cuma penjual kue!" jerit Mentari histeris begitu cengkeraman di mulutnya dilepaskan sewaktu ia dihempaskan hingga berlutut di lantai semen.

Pipi tembamnya basah oleh air mata ketakutan. Napasnya memburu, naik turun dengan cepat membuat dada dan jaket abu-abunya terengah-engah. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap lantai semen yang berbercak darah, tak berani mendongak.

Langkah kaki terdengar mendekat. Bukan langkah terburu-buru, melainkan langkah yang teratur, tenang, dan penuh perhitungan. Sepatu kulit mengkilap yang tadi dilap dengan saputangan putih kini berhenti tepat beberapa inci di depan lutut Mentari yang gemetar.

"Penjual kue?" suara berat itu mengudara di atas kepalanya.

Sebuah tangan dengan jemari yang panjang dan berotot mencengkeram dagu Mentari secara tiba-tiba, menyuruh gadis itu mendongak secara paksa agar menatap langsung ke wajah sang Don.

Mata Mentari membelalak saat pandangannya bertemu dengan netra berwarna abu-abu dingin milik pria di hadapannya.

Vincenzo Moretti berdiri di sana, menatapnya dari ketinggian. Pria itu memiliki garis rahang yang sangat tegas, hidung mancung yang simetris, dan bekas luka goresan tipis yang memotong leher kirinya, menambah kesan berbahaya pada parasnya yang luar biasa tampan namun tanpa emosi. Tatapan mata abu-abunya begitu tajam, seolah mampu menguliti setiap rahasia yang disimpan oleh jiwa Mentari.

Vincenzo memperhatikan wujud gadis di bawah cengkeramannya. Gadis ini sama sekali tidak terlihat seperti mata-mata atau pembunuh bayaran yang dikirim oleh musuh-musuhnya. Rambutnya berantakan, pipinya tembam memerah karena rasa takut dan tangisan, tubuhnya berisi dan mengenakan pakaian yang terlalu besar, serta ada sisa-sisa aroma manis kayu manis dan vanila yang samar-samar tercium dari kulitnya—aroma yang sangat bertolak belakang dengan bau amis darah di gudang ini.

"Sebutkan namamu," perintah Vincenzo pendek, cengkeramannya pada dagu Mentari tidak melonggar sedikit pun, tetapi juga tidak sampai mematahkan tulangnya.

"M-Mentari ... Mentari Kirana," jawab gadis itu dengan suara tercekat di tenggorokan, air matanya menetes mengenai ibu jari Vincenzo yang bersarung tangan kulit. "Saya ... saya cuma mau mengantar pesanan kue. Motor saya tersesat ... Saya demi Tuhan tidak berniat mengintip ...."

Vincenzo menyuling pandangannya ke arah pengawal di sampingnya. "Cek barang-barangnya."

Salah satu pengawal dengan cepat memeriksa tas selempang Mentari dan kotak besar yang terikat di jok motor matik di luar. "Benar, Don. Hanya ada puluhan cupcake, nota penjualan, perlengkapan menghias kue, dan identitas pribadi atas nama Mentari Kirana. Tidak ada senjata atau alat penyadap."

Vincenzo kembali menatap Mentari. Tatapan matanya yang dingin menelusuri kebingungan dan ketakutan murni di wajah gadis itu.

"Kau melihat apa yang terjadi di dalam gudang ini, Mentari?" tanya Vincenzo pelan, suaranya sangat dekat hingga nafas hangatnya menerpa wajah Mentari.

Mentari menggelengkan kepala dengan cepat, menolak ingatan mematikan itu. "T-tidak! Saya tidak melihat apa-apa! Saya kabur sebelum ..."

"Jangan berbohong padaku," potong Vincenzo dengan intonasi yang begitu rendah dan mengancam. "Mata bulatmu yang ketakutan itu memberitahuku bahwa kau melihat semuanya. Kau melihat Paolo. Dan yang lebih penting ... kau melihat wajah dua pria berjas cokelat yang duduk di sudut ruangan sebelum Paolo kutembak, bukan?"

Mentari tertegun. Dalam ingatan singkatnya yang seperti kilatan foto saat mengintip tadi, otaknya memang secara tak sadar merekam detail-detail kecil yang tidak biasa. Di sudut gelap gudang tadi, memang ada dua pria asing berpakaian jas cokelat dengan garis wajah khas Eropa Timur dan tato berbentuk mawar berduri di jemari tangan kanan mereka.

Melihat perubahan ekspresi di mata Mentari, Vincenzo menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman dingin yang sama sekali tidak mencapai matanya.

"Ingatan yang tajam," gumam Vincenzo. Cengkeramannya pada dagu Mentari akhirnya terlepas. Pria itu berdiri tegak kembali, mengeluarkan saputangan baru dan mengelap tangannya yang tersentuh air mata Mentari.

"Don," bisik Marco, tangan kanan Vincenzo yang berdiri di sampingnya. "Dia saksi mata. Prosedur standar kita adalah menghilangkan seluruh jejak."

Mentari yang mendengar kata 'menghilangkan jejak' langsung gemetar hebat. Rasa takut yang begitu dahsyat membuatnya bersimpuh dan memohon. "Tolong ... tolong jangan bunuh saya! Saya tidak punya siapa-siapa ... Saya tidak akan bicara pada polisi! Saya bersumpah!"

Marco sudah menggeser tangannya menuju selip panggul untuk mencabut pistolnya.

Namun, sebelum jemari Marco menyentuh gagang senjata, Vincenzo mengangkat sebelah tangannya, memberikan isyarat berhenti yang mutlak.

Vincenzo menatap sosok gadis chubby yang kini meringkuk ketakutan di atas lantai. Pria asing berdahi lebar dengan tato mawar berduri di sudut gudang tadi adalah pembeli senjata dari kartel Bratislava—informasi identitas mereka sangat rahasia dan wajah mereka belum pernah berhasil didokumentasikan oleh intelijen Moretti. Dan gadis kecil penakut beraroma vanila ini baru saja merekam wajah mereka dengan sempurna di kepalanya.

Selain itu ... ada sesuatu pada kejujuran dan kepolosan reaksi gadis ini yang secara aneh menarik perhatian sang Don. Di dunia Vincenzo yang penuh dengan wanita bertubuh tiruan yang dipoles tipu daya dan ambisi kekuasaan, keontentikan rasa takut dan kepolosan Mentari terasa begitu kontras.

"Tidak," ujar Vincenzo tenang, mematahkan instruksi Marco.

Marco terbelalak kaget. "Don? Dia tahu wajah Anda dan melihat eksekusi ini."

Vincenzo melangkah mendekati Mentari, lalu membungkukkan tubuhnya sedikit hingga wajah mereka kembali sejajar. Dengan satu jari tangannya, ia membelai pipi Mentari yang basah oleh air mata, menghapus duka dan ketakutan itu dengan cara yang sangat kontradiktif dengan kekejamannya beberapa menit lalu.

"Dia tidak akan mati malam ini. Dua pria berjas cokelat itu adalah kunci perang aliansiku. Dan gadis ini ... adalah satu-satunya saksi yang merekam wajah mereka."

Vincenzo berdiri kembali, merapikan kancing jasnya dengan sangat elegan sebelum berbalik arah.

"Bawa dia ke mansion," perintah Vincenzo tegas pada para pengawalnya tanpa menoleh lagi. "Posisikan dia di kamar sayap timur. Jaga dia dua puluh empat jam. Jangan ada satu lecet pun di tubuhnya."

"Mansion, Don? Bagaimana dengan motor dan barang-barangnya?" tanya Marco ragu.

"Hancurkan motornya. Buat seolah-olah dia hilang tenggelam di pelabuhan jika ada yang mencari. Mulai malam ini, Mentari Kirana adalah milikku."

Mereka menyeret Mentari keluar dari gudang berdarah tersebut menuju barisan mobil sedan hitam yang berderet di luar.

Mentari menatap punggung tegap Vincenzo Moretti yang berjalan mendahuluinya masuk ke dalam mobil Limousine paling depan. Malam ini, hidupnya yang sederhana dan penuh dengan aroma kue manis telah berakhir secara paksa. Ia tidak mati, tetapi ia baru saja diseret masuk ke dalam sangkar emas milik seorang iblis paling berbahaya di dunia bawah tanah.

Share this novel

Christina
2026-10-11 21:37:59 

Seru....


NovelPlus Premium

The best ads free experience