Bab 8

Romance Series 24

HUKUMAN DI BALIK SANGKAR EMAS

Dinding-dinding tinggi kamar sayap timur kini terasa seperti himpitan tembok beton yang dingin. Suara kunci diputar dari luar semalam masih berdengung di telinga Mentari Kirana. Pagi hari telah menyingsing, membiaskan cahaya keemasan yang menembus celah gorden sutra tebal, namun tidak ada sejumput hangat pun yang berhasil menembus ke dalam dada Mentari.

Mentari terduduk di sudut tempat tidur berukuran king-size, memeluk erat kedua lututnya. Gaun rajut krem yang semalam terkena noda tanah kini telah digantinya dengan piyama kain katun longgar berwarna biru muda. Matanya sembap, sembab, dan memerah. Sepanjang sisa malam tadi, ia tak henti-hentinya menumpahkan rasa frustrasi dan keputusasaannya ke atas bantal.

Percobaan pelariannya yang gagal total di dekat gerbang utama semalam telah melenyapkan seluruh kebebasan kecil yang sempat ia nikmati. Tidak ada lagi berjalan-jalan santai di sepanjang koridor lantai dua, tidak ada lagi kunjungan ke perpustakaan, dan yang paling menyiksa ... tidak ada lagi aroma gandum serta mentega di dapur utama.

Mentari kembali menjadi seorang tawanan sejati.
Suara ketukan pelan dari pintu kayu mahoni memecah kesunyian kamar. Pintu dibuka dari luar, menampilkan Maria yang melangkah masuk membawa sebuah nampan berisi sarapan beraroma lezat—roti panggang, telur orak-arik, buah segar, dan secangkir teh hangat. Dua pengawal berjas hitam berdiri tegap di luar pintu, mempertahankan posisi siaga yang jauh lebih ketat daripada biasanya.

"Selamat pagi, Nona Mentari," sapa Maria dengan intonasi kaku yang terlatih. Wanita paruh baya itu meletakkan nampan di atas meja kecil di dekat sofa.
Mentari tidak berkutik. Ia bahkan tidak memutar kepalanya untuk menatap Maria. "Bawa kembali makanan itu, Bik. Saya tidak lapar."

Maria menghela napas pendek, menatap sosok gadis chubby yang meringkuk kaku di atas kasur mewah tersebut. Wajah Mentari tampak sangat pucat, dan lingkaran hitam tebal menggantung di bawah mata bulatnya.

"Nona, Anda harus makan," ujar Maria dengan nada yang sedikit melunak. "Tuan Vincenzo berpesan agar pastikan Anda menghabiskan sarapan ini."

Mendengar nama pria itu, dada Mentari seketika bergemuruh oleh rasa benci dan sesak. Ia mendongak, menatap Maria dengan mata bulatnya yang berair. "Tuan Vincenzo ... Tuan Vincenzo! Apakah dia puas sekarang? Mengurung saya di sini seperti binatang di dalam kandang?"

"Tuan hanya menjalankan apa yang menurut beliau paling aman untuk Anda, Nona," jawab Maria tenang. "Aksi Anda semalam sangat berbahaya. Jika penjaga di gerbang bukan anak buah setia Moretti, Anda bisa saja ditembak di tempat sebelum sempat menjelaskan siapa diri Anda."

"Saya lebih baik mati tertembak daripada harus hidup diperlakukan seperti barang milik seseorang!" seru Mentari, suaranya parau dan bergetar di udara.

Maria tidak membalas lagi. Ia menyusun piring di atas meja, lalu membungkuk sedikit. "Saya akan meninggalkan sarapan ini di sini. Mengurung diri dan melaparkan diri tidak akan mengubah keputusan Tuan, Nona."

Setelah Maria melangkah keluar dan pintu mahoni kembali terkunci dengan bunyi klik yang memilukan, kesunyian yang mencekam kembali menyelimuti ruangan. Mentari membenamkan wajahnya di antara lipatan paha, membiarkan air matanya menetes membasahi kain piyamanya.

Empat jam berlalu dalam siksaan kesendirian yang lambat. Mentari tidak menyentuh sarapannya sedikit pun. Teh hangat di atas nampan kini telah sepenuhnya dingin. Mentari hanya bergeming di tempat tidur, menatap kosong ke arah deretan gaun-gaun mahal yang tergantung di lemari pakaian atau pemandangan kebun luar melalui jendela kaca tebal.

Sekitar pukul dua siang, suara derit engsel pintu kembali terdengar. Mentari mengira itu adalah Maria yang datang untuk mengambil nampan makanan yang utuh, namun langkah kaki yang terdengar memasuki kamar jauh lebih berat, teratur, dan berbobot.

Aroma tembakau mahal dan kayu cendana yang sangat dikenal Mentari seketika merebak di dalam ruangan.
Jantung Mentari melonjak secara refleks. Ia menegakkan punggungnya, memutar kepala, dan mendapati sosok Vincenzo Moretti berdiri di dekat ambang pintu yang telah ditutup rapat.

Pria itu mengenakan kemeja putih kustom yang lengannya digulung hingga ke pertengahan lengan bawah, memperlihatkan otot-otot padat dan urat-urat menonjol di tangannya. Celana bahan gelapnya tampak tanpa cela, dan rahang tegasnya dihiasi bayangan tipis jambang halus yang menambah kesan berbahaya pada paras rupawannya.

Mata abu-abu Vincenzo langsung menyapu nampan sarapan di atas meja yang masih utuh tanpa tersentuh sedikit pun, sebelum akhirnya berpindah, mengunci pandangannya lurus pada sosok Mentari.

"Kau menolak makananmu lagi, Mentari," kata Vincenzo. Suaranya rendah, datar, dan tidak menunjukkan emosi yang berlebihan, namun ada getaran otoritas dingin yang tak terbantahkan di dalamnya.

Mentari memalingkan wajahnya ke arah lain, meremas kain piyamanya erat-erat. "Saya tidak butuh makanan dari Anda."

Vincenzo melangkah mendekat. Setiap pijakan sepatu kulitnya di atas karpet tebal terasa seperti dentuman takdir bagi Mentari. Pria itu berhenti di samping tempat tidur, berdiri menjulang tinggi menatap gadis chubby yang sengaja mengabaikan keberadaannya.

"Mogok makan adalah taktik yang sangat tidak berguna untuk menghadapiku, gadis kecil," ujar Vincenzo pelan. "Kau hanya menyiksa tubuhmu sendiri."

"Memangnya Anda peduli?" tembak Mentari tanpa menoleh, suaranya sarat dengan kepahitan. "Anda cuma peduli pada sketsa di kepala saya! Anda cuma peduli pada ego Anda yang tidak suka jika ada barang milik Anda yang mencoba kabur!"

Keheningan melingkupi kamar itu selama beberapa detik. Lalu, Mentari merasakan permukaan kasur di sampingnya merosot sedikit.

Vincenzo duduk di pinggir tempat tidur, begitu dekat hingga hawa panas dari tubuh bidangnya terasa menembus kain piyama Mentari. Kehadiran sang Don di atas area pribadinya membuat tubuh Mentari mendadak kaku bagaikan batu.

"Tatap aku saat kau bicara padaku, Mentari," perintah Vincenzo, suaranya merendah bagaikan bisikan bahaya.
Mentari memperketat gigitannya pada bibir bawah, menolak memutar kepalanya.

Sebuah tangan berotot dengan jemari panjang bergerak perlahan. Tangan Vincenzo menyentuh dagu Mentari, mencengkeramnya dengan lembut namun penuh dengan ketegasan mutlak yang membuat Mentari tidak bisa melawan. Pria itu memutar wajah Mentari secara perlahan hingga mata bulat mereka kembali saling berhadapan.

Mentari tersentak pelan saat menatap langsung netra abu-abu dingin di hadapannya. Di dalam mata Vincenzo, tidak ada amarah berapi-api seperti semalam di taman. Yang ada hanyalah kedalaman yang begitu tenang, gelap, dan sarat akan obsesi protektif yang tak tergoyahkan.

Vincenzo meneliti wajah pucat Mentari—mata bulatnya yang bengkak, bibirnya yang kering dan bergetar, serta Pipi tembamnya yang kehilangan rona merah alaminya.
"Kau berpikir aku mengurungmu karena ego?" bisik Vincenzo, ibu jarinya bergerak perlahan mengusap bibir bawah Mentari yang kering. Sentuhan itu terasa hangat dan agak kasar di kulit lembut Mentari. "Kau tidak tahu apa yang terjadi di luar sana pagi ini, Mentari."

Mentari menahan napasnya, dadanya yang berisi naik turun dengan cepat. "A-apa ...."

"Anak buah Volkov menyergap rumah kontrakan lamamu tadi subuh," kata Vincenzo tanpa menyembunyikan kebenaran.

Kata-kata itu menghantam dada Mentari bagaikan sambaran petir. Mata bulatnya membelalak lebar dalam ketakutan murni. "Apa?!"

"Mereka membongkar pintumu, mengacak-acak seluruh isi rumahmu, dan mencari setiap dokumen atau foto yang terkait dengan keberadaanmu," lanjut Vincenzo dengan intonasi yang sangat datar. "Jika anak buahku tidak membersihkan identitasmu dan menyatakanmu tenggelam sejak malam pertama, mereka sudah memburu panti asuhan tempatmu dibesarkan."

Air mata baru seketika menetes dari sudut mata Mentari, membasahi ibu jari Vincenzo yang masih memegang dagunya. "P-panti asuhan ... Ibu Maria ... apakah mereka baik-baik saja?!"

"Mereka aman," jawab Vincenzo tegas. "Karena di mata dunia dan Volkov, kau sudah mati di laut pelabuhan. Panti asuhan itu berada di bawah pengawasan tersembunyi anak buahku. Tidak ada satu pun orang Bratislava yang akan menyentuh mereka."

Vincenzo mengusap air mata yang mengalir di Pipi tembam Mentari dengan punggung jarinya. Gerakannya sangat cermat dan perlahan, seolah gadis di hadapannya adalah sebuah barang porselen yang sangat berharga namun mudah retak.

"Sekarang kau paham kenapa aku tidak akan pernah membiarkanmu melangkah keluar dari gerbang itu?" bisik Vincenzo, matanya mengunci pandangan Mentari yang dipenuhi guncangan emosi. "Dunia di luar sana sedang mencarimu untuk menghabiskan nyawamu. Dan hanya di dalam sangkar ini—di bawah kekuasaanku—kau bisa tetap bernapas."

Mentari terisak pelan, tubuhnya gemetaran hebat. Kepahitan kenyataan ini terasa jauh lebih menyakitkan daripada rasa terkurung itu sendiri. Kehidupannya yang lama benar-benar telah hancur. Ia tidak bisa lagi kembali, tidak bisa menemui orang-orang yang dicintainya, dan takdirnya kini sepenuhnya terikat pada pria berbahaya di hadapannya ini.

"Kenapa ... kenapa harus seperti ini?" bisik Mentari pasrah, kepalanya tertunduk lemah. "Saya cuma orang biasa ... Saya cuma mau hidup tenang ...."

"Dunia tidak pernah adil, Mentari," ujar Vincenzo pelan. Pria itu mengulurkan tangan satunya, menyelipkan helai rambut bergelombang Mentari ke belakang telinganya. "Tapi kau memiliki aku untuk memastikan tidak ada seorang pun yang bisa menyakitimu."

Vincenzo meraih cangkir teh hangat baru yang dibawanya sendiri dan diletakkan di meja samping tempat tidur. Ia menyodorkan cangkir itu ke depan bibir Mentari.

"Minum," perintah Vincenzo, intonasinya tidak lagi kaku, melainkan diiringi kehangatan terselubung. "Lalu makan sarapanmu. Aku tidak suka melihat milikku tampak pucat dan lemas."

Mentari menatap cangkir teh di tangan Vincenzo, lalu beralih menatap mata abu-abu pria itu. Ada dorongan di dalam dirinya untuk menolak, untuk terus melawan, namun ketegasan mutlak dan perhatian tersembunyi dari sang Don meruntuhkan sisa-sisa perlawanannya untuk saat ini.

Dengan tangan gemetar, Mentari menerima cangkir teh tersebut dan menyesapnya perlahan. Rasa hangat herbal menyirami tenggorokannya yang kering, meredakan sedikit rasa sesak di dadanya.

Vincenzo memperhatikan setiap tegukan Mentari dengan kepuasan dingin yang terpancar di matanya. Pria itu berdiri kembali dari tempat tidur, merapikan gulungan kemeja putihnya.

"Ganti pakaianmu setelah ini," kata Vincenzo sambil menatap Mentari dari ketinggian. "Nanti sore, aku akan menyuruh Maria membawakan beberapa buku dan peralatan melukis baru untuk kamarmu. Kau tidak boleh pergi ke dapur untuk sementara waktu, tapi kau bisa meminta bahan apa pun jika kau ingin belajar merancang resep baru di dalam ruangan ini."

Mentari menundukkan kepalanya, memandangi cangkir teh di pangkauannya. "Terima kasih ...." gumamnya sangat halus, hampir tak terdengar.

Vincenzo berhenti sejenak di dekat pintu sebelum melangkah keluar. Pria itu menoleh sedikit ke arah Mentari.

"Aturan di mansion ini dibuat untuk melindungimu, Mentari Kirana," ujar Vincenzo dengan suara beratnya yang bergema di dinding kamar. "Bahkan jika kau membenciku karena mengurungmu ... aku akan tetap menjadi dinding yang menahan seluruh peluru di luar sana agar tidak menyentuhmu."

Pintu kayu mahoni itu kembali tertutup rapat. Bunyi kunci yang diputar dari luar terdengar sekali lagi.

Namun kali ini, di dalam kesunyian kamar yang luas, rasa dingin yang menghimpit dada Mentari sedikit berkurang. Hukuman di balik sangkar emas ini memang merenggut kebebasannya secara mutlak, namun kenyataan bahwa Vincenzo mempertaruhkan seluruh armada pengawalannya untuk melindungi panti asuhan dan kehidupannya dari amukan musuh meninggalkan sebuah jejak tak terhapuskan di sanubari Mentari.

Gadis chubby itu menyandarkan kepalanya pada papan tempat tidur, menyadari bahwa di antara kekejaman dan dominasi tanpa batas sang Don, ada benih-benih proteksi yang teramat dalam—sebuah ikatan berbahaya yang makin melilit takdir mereka berdua.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience