Series
24
ATURAN DI BALIK PINTU MAHONI
Aroma manis mentega cair dan kayu manis memanggang udara dapur, namun di dada Mentari, tidak ada sejumput pun rasa tenang. Sepuluh menit lalu, oven besar berpelindung kaca tebal itu berdenting pelan. Lima belas roti gulung berwarna cokelat keemasan keluar dari sanubari oven, mengilap dengan lelehan glaze gula putih yang merekah hangat.
Namun, instruksi Vincenzo masih tertanam sangat jelas di ingatan Mentari: Pastikan kau sendiri yang membawanya.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, Mentari menata dua potong cinnamon rolls yang masih mengepul di atas piring porselen putih berlis emas. Ia menambahkan secangkir kopi hitam tanpa gula—sesuai saran singkat Chef Giovanni mengenai selera sang Don—lalu meletakkannya dengan hati-hati di atas nampan kayu berukir.
"Semoga beruntung, Nona Mentari," bisik Chef Giovanni ramah saat membukakan pintu dapur untuknya.
Mentari meniti langkah demi langkah menyeberangi lorong bawah. Setiap kali melewati pengawal berjas hitam, ia bisa merasakan lirikan mata kaku mereka yang mengiringi gerak-gerikannya. Nampan kayu di tangannya terasa makin berat, seiring dengan makin dekatnya ia ke depan pintu ganda dari kayu ek tebal—ruang kerja pribadi Vincenzo Moretti.
Mentari menghentikan langkah di depan pintu itu. Ia menarik napas panjang, berjuang menenangkan debar jantungnya yang berkejaran tak menentu, lalu mengetuk kayu keras itu tiga kali dengan punggung jarinya.
"Masuk." Suara berat itu menggema dari dalam, terdengar tenang namun sarat kekuasaan.
Mentari mendorong pintu menggunakan siku lengannya, lalu melangkah masuk secara perlahan. Suasana ruang kerja itu masih sama seperti saat ia menggambar sketsa Volkov bersaudara pagi tadi: megah, temaram oleh pendar lampu meja bernuansa hangat, serta sarat aroma tembakau mahal dan kayu cendana.
Vincenzo sedang duduk di balik meja mahoninya yang megah. Pria itu telah mengenakan kembali jas abu-abu gelapnya. Kacamata berbingkai tipis bersandar di pangkal hidungnya yang mancung, mempertegas kesan cerdas sekaligus berbahaya pada paras rupawannya. Jemari tangannya yang panjang sedang membolak-balik lembaran dokumen tebal.
Ia tidak langsung mendongak sewaktu Mentari mendekat.
Mentari berjalan perlahan hingga berdiri di depan meja besar tersebut, lalu meletakkan nampan kayu dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan denting porselen yang bising.
"I-ini kue yang Anda minta, Tuan Vincenzo," cicit Mentari, suaranya halus dan tertahan di tenggorokan.
Vincenzo melepas kacamatanya dengan gerakan yang sangat teratur dan tenang, meletakkannya di atas tumpukan berkas. Mata abu-abu dinginnya beralih, menatap piring porselen di hadapannya sebelum akhirnya terkunci lurus pada wajah Mentari.
Tatapan itu menelusuri wajah Mentari secara menyeluruh—mulai dari mata bulatnya yang masih memancarkan rasa waspada, pipi tembamnya yang merona karena hawa panas dapur, hingga gaun krem yang terbungkus kardigan cokelat susu.
"Kau cepat juga," komentar Vincenzo datar. Pria itu meraih cangkir porselen berisi kopi hitamnya, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya kembali. "Duduklah."
Mentari tersentak pelan. "Saya ... saya rasa saya harus kembali ke dapur untuk membersihkan peralatan—"
"Aku tidak bertanya apakah kau punya pekerjaan lain, Mentari," potong Vincenzo, intonasinya tidak keras, namun cukup dingin untuk membuat Mentari seketika membungkam mulutnya. Pria itu menunjuk kursi berbusa empuk di depan mejanya dengan isyarat mata. "Duduk."
Mentari menggigit bibir bawahnya secara refleks. Dengan hati yang dirayapi rasa cemas, ia merapatkan kardigannya dan duduk perlahan di pinggir kursi. Tangannya meremas kain gaun krem di pangkuannya.
Vincenzo meraih garpu kecil dan memotong sudut cinnamon roll buatan Mentari. Pria itu memasukkannya ke dalam mulut, mengunyahnya secara perlahan dalam kesunyian ruangan yang mencekam.
Mentari menahan napasnya tanpa sadar. Selama menjadi pembuat kue rumahan, ia sudah menyajikan ribuan kue untuk berbagai orang. Namun, diposisikan sebagai juru masak yang sedang diuji oleh seorang Don mafia berdarah dingin seperti Vincenzo Moretti membuat tingkat ketegangannya melonjak sepuluh kali lipat.
Setelah beberapa detik yang terasa bagaikan siksaan lambat bagi Mentari, Vincenzo meletakkan garpunya kembali ke atas piring.
"Bagaimana ... rasanya?" tanya Mentari pelan, tak tahan lagi dijerat keheningan.
Vincenzo menatap kue itu sejenak sebelum beralih menatap Mentari. "Teksturnya lembut. Manisnya pas, dan rempahnya tidak menutupi rasa menteganya."
Mentari bernapas lega secara spontan. Sebuah garis senyum tipis yang tulus menyembul di bibirnya tanpa ia sadari. "Terima kasih ... Saya memang memakai resep kayu manis asli dari—"
"Tapi aku memanggilmu ke sini bukan untuk menilai kuemu, Mentari," sela Vincenzo dingin, seketika memadamkan binar lega di mata gadis itu.
Mentari membeku. Senyum tipisnya lenyap. "Lalu ... kenapa Anda menyuruh saya membawa kue ini sendiri?"
Vincenzo menyandarkan punggungnya pada kursi kulitnya. Pria itu menautkan kedua tangannya di atas meja, menatap Mentari dengan pandangan dominan yang seolah sanggup menguliti setiap sudut pikirannya.
"Ada aturan-aturan baru yang harus kau pahami selama hidup di mansion ini," kata Vincenzo dengan nada bicara yang teratur. "Dan aturan ini tidak akan disampaikan oleh Maria atau para pengawal. Kau harus mendengarnya langsung dariku."
Mentari meremas kain gaunnya makin erat. "Aturan apa?"
"Aturan pertama," ujar Vincenzo, mengangkat satu jarinya. "Kau diberi kebebasan mengakses sayap timur, perpustakaan, dan dapur. Namun, kau dilarang keras melangkah mendekati sayap barat mansion ini. Di sana adalah area operasional utama Moretti. Siapa pun orang luar yang mencoba menyusup ke sana—termasuk dirimu—akan dianggap sebagai ancaman keamanan yang harus ditindak secara langsung."
Mentari mengangguk pelan dengan cepat. "Saya tidak punya alasan untuk ke sana."
"Aturan kedua," lanjut Vincenzo, mata abu-abunya menyempit menajam. "Setiap kali ada mobil asing yang memasuki pekarangan mansion, atau saat aku menerima tamu organisasi di ruang utama, kau wajib segera kembali ke kamarmu di sayap timur dan mengunci pintu dari dalam. Kau tidak boleh menampakkan wajahmu pada siapa pun yang berkunjung ke tempat ini."
"Kenapa?" tanya Mentari polos tanpa pikir panjang.
Vincenzo menatapnya lurus. "Dunia luar menganggapmu sudah lenyap, Mentari. Jika ada satu saja sekutu atau musuhku yang melihat kehadiran seorang gadis asing di mansion utama ini, mereka akan mulai mencari tahu identitasmu. Dan saat mereka tahu siapa dirimu serta apa yang kau ingat ... kau tidak akan hanya menjadi saksi kunci, melainkan target pembunuhan nomor satu di kota ini."
Kata-kata Vincenzo meluncur kaku tanpa tedeng aling-aling. Mentari menelan ludahnya yang terasa pahit. Ancaman kematian itu kembali membendung dadanya dengan rasa sesak yang familiar.
"Aturan ketiga," sambung Vincenzo, suaranya kini merendah, menembus kesunyian ruang kerja itu dengan intensitas yang berbeda. "Jangan pernah mencoba membodohiku, membocorkan informasi, atau membuat rencana melarikan diri."
Mentari mendongak, memberanikan diri menatap mata abu-abu sang Don. "Bagaimana kalau saya tetap mencoba melarikan diri? Apa yang akan Anda lakukan pada saya? Membunuh saya seperti pria bernama Paolo itu?"
Ruangan itu mendadak hening total. Pertanyaan berani yang meluncur dari mulut Mentari membuat hembusan napas di antara mereka terasa berat.
Vincenzo tidak serta-merta marah. Pria itu justru mendorong kursinya ke belakang dan berdiri secara perlahan. Langkah kakinya yang tenang dan berbobot mengitari meja mahoni, mendekati tempat duduk Mentari.
Rasa intimidasi yang nyata merayapi tengkuk Mentari. Ia refleks hendak bangkit dari kursinya untuk mundur, namun sebelum ia sempat berdiri, kedua tangan Vincenzo sudah mendarat di masing-masing sandaran lengan kursi Mentari—mengurung gadis itu sepenuhnya di antara tubuh tegapnya.
Mentari tersentak, punggungnya menempel erat pada sandaran kursi. Wajah Vincenzo kini berjarak begitu dekat di atasnya. Mentari bisa mencium aroma maskulin tembakau mahal dan kayu cendana yang menyeruak kuat dari tubuh pria itu, merasakan hawa panas yang terpancar dari dadanya yang bidang.
"Kau ingin tahu apa yang akan terjadi jika kau mencoba melarikan diri, Mentari?" bisik Vincenzo. Suaranya rendah, serak, dan bergetar tepat di depan wajah Mentari.
Mentari tidak bisa menjawab. Tenggorokannya terkunci rapat. Mata bulatnya menatap gemetar pada rahang tegas dan bekas luka tipis di leher kiri pria itu.
"Aku tidak akan membunuhmu," kata Vincenzo, jemarinya mengusap pelan helai rambut bergelombang Mentari yang terjatuh di samping pelipisnya. Sentuhan itu tidak kasar, melainkan terikat rasa kepemilikan yang teramat kuat. "Tapi aku akan memastikan bahwa ruang gerakmu menyempit hingga ke titik terendah. Kau tidak akan lagi melihat dapur, tidak akan lagi melihat taman, dan kau hanya akan melihat dinding kamar serta diriku setiap hari."
Gadis itu menahan napasnya, dadanya yang berisi naik turun dengan cepat dalam jarak yang sangat dekat dengan kemeja Vincenzo. "A-Anda gila ...."
"Aku adalah seorang Don mafia, Mentari. Rasa kasihan dan kebaikan bukan bagian dari cara kerjaku," ujar Vincenzo, mata abu-abunya terkunci lurus pada bibir Mentari yang sedikit terbuka dan bergetar. "Aku memberimu kenyamanan di tempat ini karena kau berguna bagiku, dan karena aku menyukai ketenangan yang kau bawa. Tapi jangan pernah salah mengartikan kebaikanku sebagai kelemahan."
Mentari memandangi wajah tampan yang dingin di hadapannya. Di balik kekejaman dan aturan-aturan ketat yang ditetapkannya, ada sesuatu dalam tatapan mata Vincenzo yang membuat Mentari menyadari satu hal yang jauh lebih dalam: pria ini tidak hanya memancarkan dominasi, tetapi juga menunjukkan tingkat proteksi yang teramat obsesif padanya.
"Apakah ... apakah saya benar-benar cuma saksi bagi Anda?" tanyai Mentari dengan suara yang sangat pelan, hampir berupa bisikan tipis di antara mereka.
Vincenzo bergeming. Ibu jari tangannya bergerak perlahan, menyapu Pipi tembam Mentari yang terasa begitu hangat dan lembut di bawah kulit jarinya yang kasar. Sentuhan itu membuat napas Mentari makin terengah.
"Kau adalah milikku selama kau berada di bawah atap ini, Mentari Kirana," jawab Vincenzo tegas tanpa keraguan. "Dan apa yang sudah menjadi milik Moretti ... tidak akan pernah dibiarkan pergi atau disentuh oleh orang lain."
Vincenzo perlahan menegakkan kembali tubuhnya yang menjulang, melepaskan kurungannya pada kursi Mentari. Pria itu merapikan kancing jasnya dengan gerakan anggun seolah interaksi intens yang baru saja terjadi tidak menggoyahkan ketenangannya sedikit pun.
"Kau boleh kembali ke kamarmu sekarang," kata Vincenzo, beralih mengambil cangkir kopinya kembali. "Dan ingat seluruh aturan yang kubicarakan barusan."
Mentari berdiri dari kursi dengan kaki yang terasa lemas. Wajahnya memerah panas, dipenuhi perpaduan antara rasa amarah, kekecewaan, dan desiran aneh yang tak sanggup ia jelaskan. Ia tidak mengucap sepatah kata pun lagi. Dengan menundukkan kepala, ia berbalik dan melangkah cepat keluar dari ruang kerja tersebut.
Begitu pintu ek tebal itu tertutup di belakangnya, Mentari bersandar pada dinding koridor yang dingin. Tangannya terangkat memegang dadanya sendiri, merasakan jantungnya yang berdegup liar bagaikan gergaji mesin.
Aturan di balik pintu mahoni itu telah diumumkan secara sah. Ia tidak lagi sekadar tawanan yang menunggu kebebasan, melainkan seorang saksi yang telah dikunci dalam sangkar emas milik seorang iblis. Dan yang paling menakutkan bagi Mentari bukan saja ancaman kurungan yang dijanjikan Vincenzo, melainkan kenyataan bahwa setiap sentuhan dan tatapan mata pria itu perlahan-lahan mulai membelenggu jiwanya.
Share this novel